Tombak Langit Dan Naga Bumi

Tombak Langit Dan Naga Bumi
Latihan Tengah Malam


__ADS_3

Puncak gunung Long Hong yang biasanya dingin, malam ini terasa cukup hangat bagi Wang Tian Sin yang sudah menenggak satu guci arak peninggalan gurunya. Kepalanya sedikit berat dan matanya memerah karena mabuk.


Wang Tian Sin berdiri di halaman belakang rumahnya, matanya menatap bulan yang bersinar terang karena malam ini adalah puncak purnama. Dalam genggaman tangannya, badan tombak langit yang terasa dingin dengan ukiran-ukiran naga di badan tombak tersebut begitu familiar.


Mata Wang Tian Sin beralih menatap sebuah nisan dengan nama Yin Hua di atasnya, tak jauh dari nisan tersebut terdapat batu lain dengan ukiran nama Long Tian, dadanya kembali terasa sesak saat mengingat jika keluarganya hancur karena menjadi kambing hitam dari para penjahat serta gurunya yang mati entah karena alasan apa.


Tombak Langit yang awalnya hanya tergenggam dengan ujung tombak menancap tanah mulai diputar di atas kepala hingga terdengar deru angin serta beberapa daun kering yang tertinggal di tanah mulai beterbangan. Wang Tian Sin mengeluarkan sebagian besar tenaga dalamnya untuk melakukan ini.


Semakin lama pusaran angin semakin cepat, Wang Tian Sin menghentakan tombaknya ke tanah hingga terdengar debam serta tanah-tanah yang berhamburan akibat ledakan tenaga dalam.


Dengan menggertakan gigi dan seringai di wajahnya yang memerah, Wang Tian Sin melompat dan meliukan tubuhnya di udara. Sebuah kepala naga berwarna hitam muncul dari ujung tombak Wang Tian Sin, lama kelamaan kepala naga itu memanjang hingga tubuh dan ekornya kini lengkap.


Wang Tian Sin menatap sebuah batu besar tak jauh di bawahnya, tubuhnya yang masih meliuk di udara segera dilentingkan, tombaknya mengayun ke arah batu besar, yang terjadi selanjutnya adalah naga hitam sepanjang tiga meter itu melesat ke arah batu dan menghantamnya dengan keras.


Terdengar suara dentuman yang memekakkan telinga saat batu sebesar gajah dewasa itu retak akibat hantaman naga hitam milik Wang Tian Sin.


Bruk!


Wang Tian Sin ambruk, tombak di tangan kanannya menjadi tumpuan agar tubuhnya yang kehabisan tenaga tak ambruk ke tanah dingin puncak gunung Long Hong.


Tabib Yan sedang terlelap ketika mendengar dentuman keras dari arah luar rumah. Pria tua itu bergegas memeriksa keadaan dan menemukan Wang Tian Sin berlutut di tanah dengan pakaian yang basah karena keringat. Mulut pemuda itu membuka tutup seperti sedang mengatur napas, matanya merah dengan pandangan kosong ke bawah. Tombak Langit masih tergenggam erat di tangan kanannya sebagai tumpuan.

__ADS_1


Tak ada kata-kata yang dikeluarkan oleh Tabib Yan. Dia hanya memperhatikan Wang Tian Sin dari jarak jauh dan melihat apa yang akan pemuda itu lakukan selanjutnya. Menghela napas panjang, Tabib Yan duduk di sebuah kursi tua yang terdapat di balai belakang rumah Wang Tian Sin sembari memperhatikan gerak-gerik pemuda itu.


Entah berapa lama sudah Tabib Yan duduk dan menunggu reaksi Wang Tian Sin, tetapi pemuda itu masih tidak bergerak. Tabib Yan bangkit dan membalik badannya, hendak masuk ke dalam rumah karena angin malam membuat tubuhnya tak nyaman. Namun, baru selangkah ia berbalik, Tabib Yan melihat pundak Wang Tian Sin bergetar.


Tabib Yan menghentikan langkahnya dan kembali memperhatikan Wang Tian Sin. Isakan pelan mulai terdengar saat Tabib Yan melangkah mendekati Wang Tian Sin.


"Wang Tian Sin ...." panggil Tabib Yan. Wang Tian Sin masih tak menanggapi, tetapi isaka-isakan kecil mulai berubah menjadi tangisan yang membuat Tabib Yan bingung.


Tabib Yan menepuk pundak Wang Tian Sin, menariknya perlahan hingga dia bisa melihat wajah Wang Tian Sin yang sembab dan wajah yang basah oleh keringat serta air mata.


"Sin'er ... kau anak keluarga Wang. Ayah dan ibumu tidak akan senang melihatmu seperti ini," ucap Tabib Yan berusaha untuk menghibur sang pemuda.


Wang Tian Sin berjalan pelan menuju rumahnya. Pandangannya masih kosong, pikirannya melayang entah ke mana. Tabib Yan sendiri merasa bingung. Saat siang tadi mereka minum arak, Wang Tian Sin terlihat ceria dan bersemangat, tak terlihat jika pemuda itu sedang banyak pikiran.


Tungku penghangat kembali dinyalakan, api yang membara sesekali memunculkan lidah api yang menari-nari. Teko besi yang telah berisi air di panaskan di atas tungku.


Tabib Yan memasukan beberapa jenis teh ke dalam teko tanah kemudian menutup dan menggoyangkannya. Suara desis air mendidih mulai terdengar, uap panas yang kontras dengan hawa dingin akhir tahun bertabrakan hingga menimbulkan asap putih.


Teko tanah yang telah ditutup kembali dibuka, dengan perlahan tabib Yan menuangkan air panas ke teko dan menutupnya. Lagi-lagi Tabib Yan menggoyangkan teko tersebut beberapa kali dalam satu arah, aroma wangi teh yang berpadu dengan kuncup bunga melati mulai merebak di udara.


Tabib Yan membalik dua buah cangkir, mengisinya dengan teh panas hingga tiga perempat cangkir, teko tanah yang ia pegang diletakan di ujung meja. Tabib Yan menggeser satu cangkir ke depan Wang Tian Sin.

__ADS_1


"Ini adalah teh melati. Namun, aku mencampurnya dengan sedikit ginseng dan cengkeh, cocok untuk meredakan mabukmu. Ini juga cocok sebagai aroma terapi. Hiruplah, betapa harumnya aroma melati ini, sesaplah dengan perlahan dan rasakan hangatnya cengkeh di tenggorokan," jelas Tabib Yan.


Wang Tian Sin mengangkat cangkirnya, asap putih yang masih mengepul segera dihirup membuat hidung pemuda tersebut dimanjakan aroma wangi khas melati. Di saat yang bersamaan, aroma pedas dari cengkeh juga ikut tercium walau masih tersamarkan oleh aroma melati. Saat Wang Tian Sin menyesap teh tersebut dengan perlahan, rasa cengkeh yang sedikit pedas berhasil menjadi rasa pertama yang dikenali oleh pemuda itu. Dadanya yang terasa dingin mulai hangat.


"Tabib Yan, kenapa Anda belum tidur?" tanya Wang Tian Sin yang masih menghirup aroma tehnya.


Tabib Yan mendengkus kesal, "bagaimana bisa aku tidur nyenyak jika di luar sana ada debam dentuman seperti tanda-tanda gunung Long Hong akan meletus."


Wang Tian Sin menggaruk tengkuknya yang tak gatal, tak enak hati karena pelampiasan amarahnya malah mengganggu Tabib Yan. "Maaf Tabib Yan, aku tidak bermaksud mengganggu Anda. Tapi ... tapi aku tidak bisa tidur. Pikiranku terus berkelana dan tidak bisa tenang."


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Tabib Yan penasaran. Melihat Wang Tian Sin hanya diam, Tabib Yan mengarahkan telunjuknya, seperti hendak menunjukan kesadisan jari petir. "Sepertinya jari petir bisa membuatmu bicara."


Wang Tian Sin masih bungkam, Tabib Yan meneguk tehnya dan menaruh cangkirnya dengan keras ke atas meja. "Anak muda, masalahmu tidak akan selesai jika hanya dipendam. Sebaiknya katakan saja, mungkin aku bisa membantu."


Wang Tian Sin menggeleng, "Tidak, ini tidak sesederhana yang terlihat. Tabib Yan jangan khawatir, aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri."


Author Note:


Hari ini saya lembur, naskah baru selesai diketik, jika ada typo tolong komentar di bawah ya, terima kasih.


Rana Semitha

__ADS_1


__ADS_2