
Ketika Wang Tian Sin menggunakan jurus pedang pembelah gunung, sebagian besar lawan tak sempat bereaksi, atau lebih tepatnya menyepelekan kemampuan lawan. Saat hawa pedang melengkung yang memiliki jangkauan begitu panjang melesat, orang-orang itu hanya bisa melebarkan matanya, menunggu hawa pedang itu datang sebagai algojo langit.
Setelah melihat musuh-musuhnya tumbang, Wang Tian Sin mengembuskan napas lega.
Bug!
Wang Tian Sin menjatuhkan lututnya sebelum menggunakan pedang naga bumi untuk menopang tubuhnya. Napas pemuda itu terengah-engah sementara keringat membanjiri wajahnya.
Mengabaikan kondisinya yang cukup menyedihkan, Wanh Tian Sin memeriksa kondisi Xin Yue yang juga berlutut tak jauh darinya. "Xin Yue ... kau baik-baik saja?"
Xin Yue menggelengkan kepalanya perlahan, keningnya masih berkerut menahan sakit walau mulutnya sudah berhenti mengerang, "sepertinya tidak."
Wang Tian Sin menarik pedangnya, sebelum menghunuskannya ke arah Xin Yue mencoba untuk memotong anak panah yang menembus hingga punggungnya.
"Jangan ... aku bisa mati kehabisan darah. Bawa aku ke kota," ucap Xin Yue lemah.
Dengan menggunakan langkah raja naga, Wang Tian Sin tak kesulitan untuk sampai di gerbang kota dengan Xin Yue dalam gendongannya. Beberapa prajurit yang menjaga gerbang kota segera membuka gerbang karena melihat Xin Yue.
Sebelum kehilangan kesadaran, Xin Yue memberitahu letak balai Ji Feng di kota ini sehingga Wang Tian Sin bisa dengan mudah menemukannya. Beberapa tabib yang sedang berlalu lalang di dalam balai cukup terkejut saat melihat seseorang membawa Tuan Muda istana pedang yang terluka.
Xin Yue segera dibawa ke ruang perawatan, beberapa tabib senior segera menanganinya sementara Wang Tian Sin menunggu di depan ruangan Xin Yue dirawat. Tak lama berselang, seorang pria yang cukup Wang Tian Sin kenal menghampiri dengan niat membunuh. Tanpa mengucap salam atau kalimat basa-basi lainnya, pria tersebut langsung mencengkeram jubah Wang Tian Sin dan menariknya hingga tubuh mereka berdua menempel.
Napas pria tersebut menderu, matanya memerah dan wajahnya membesi, terlihat begitu marah pada Wang Tian Sin. "Apa yang kau lakukan pada putraku?"
Wang Tian Sin mencengkeram pergelangan tangan Xin Dong, memintanya untuk melepaskan cengkraman di jubahnya. "Senior, Anda salah paham."
Bruk!
__ADS_1
Xin Dong menghempas tubuh Wang Tian Sin dengan kasar hingga menabrak beberapa prabot di balai ji feng hingga hancur. Sakit langsung dirasakan oleh Wang Tian Sin, terutama punggungnya. Namun, Wang Tian Sin bersyukur karena tak ada tulang yang patah.
"Seharusnya aku membunuhmu saat itu!" teriak Xin Dong.
Melihat Xin Dong yang sedang di puncak amarah, Wang Tian Sin hanya diam, tak berusaha menjelaskan apa pun pada pria paruh baya di hadapannya.
Di sisi lain, Xin Dong semakin marah karena Wang Tian Sin tak mengatakan apa-apa. Dia langsung maju beberapa langkah, menghampiri Wang Tian Sin yang masih bersimpuh di tanah dan menendangnya sekuat tenaga.
Saat melihat Xin Dong menyapukan tendangan, Wang Tian Sin mengalirkan tenaga dalam ke lengannya dan menggunakannya untuk menahan tendangan tersebut.
Wang Tian Sin menggertakan giginya, berusaha menahan teriakannya sekuat tenaga. Pemud itu sangat yakin, walau tulangnya tidak patah, tetapi otot-otot tangannya pasti terluka akibat bentura yang begitu keras.
Saat Xin Dong berniat mengganjar Wang Tian Sin dengan satu pukulan tambahan, terlihat seorang pria tua yang mengenakan jubah coklat tua berlari ke arahnya.
"Tuan Xin Dong, hentikan!"
Tabib Yan berlari dengan wajah cemas menghampiri Wang Tian Sin yang terlihat pucat. Dari sudut bibirnya mengalir darah segar.
"Tian Sin!" Teriak Tabib Yan cemas. Dia merangkul tubuh lemas Wang Tian Sin yang sedang kesakitan.
Xin Dong mendengus kesal karena Tabib Yan mengahalanginya membunuh pemuda yang menyebabkan putranya terluka.
Tabib Yan menatap tajam Xin Dong, dengan nada dingin tabib itu berkata, "Tuan Xin, ada masalah apa hingga anda melukai cucuku?"
Tak hanya mengejutkan Xin Dong, perkataan tabib Yan juga berhasik mengejutkan Wang Tian Sin.
"Tabib Yan, apa yang anda katakan? Pemuda ini bermarga Tian, itu sudah membuktikan jika pemuda ini tak ada kaitannya dengan Anda," jawab Xin Dong.
__ADS_1
Tak membalas perkataan Xin Dong, Tabib Yan mengalihkan pandangan pada Wang Tian Sin. "Kau baik-baik saja?"
Wang Tian Sin mengangguk, "aku baik-baik saja, Hanya sedikit luka luar,"
"Baguslah jika begitu, kenapa tidak melawan? Walau tidak menang setidaknya kau bisa kabur," ucap Tabib Yan lagi.
"Tenagaku sudah habis, aku baru sampai dari kota Xiang setelah satu malam berlari," jawab Wang Tian Sin lemah.
Tabib Yan menghela napas pelan, merasa lega karena tak ada luka serius di tubuh Wang Tian Sin. Tabib Yan meminta seorang tabib muda untuk mengantar Wang Tian Sin istirahat.
Tabib Yan melirik Xin Dong, dengan sebuah anggukan kepala Tabib Yan meminta Xin Dong mengikutinya. Xin Dong juga berniat meminta penjelasan dari Tabib Yan tentang Wang Tian Sin.
***
Di ruang pribadi Tabib Yan, Pria tua itu duduk berhadapan dengan Xin Dong. Keduanya saling melemparkan tatapan tajam yang mengintimidasi. Namun, yang pertama mengakhirinya dan memulai pembicaraan adalah Xin Dong.
"Tabib Yan, aku tahu pemuda itu bukan cucumu, jangan membohongiku," ucap Xin Dong.
Tabib Yan tersenyum tipis saat mendengar ucapan Xin Dong. Menghela napas perlahan, Tabib Yan kemudian berkata, "jika kau mengetahui siapa orang tua pemuda itu maka kau tidak akan memiliki alasan untuk melukainya. Bahkan, kau bisa saja menganggapnya sebagai anak setelah mengetahui fakta ini. Seharusnya kau mengamati dengan baik dua senjata yang Tian Sin bawa, jika kau lebih teliti, maka tidak akan terjadi hal seperti ini." Tabib Yan menatap Xin Dong tajam, "Mungkin kau telah mengamati pedang naga bumi yang ada di tangan Wang Tian Sin. Sebagai seorang pendekar pedang yang pernah melawan pedang tersebut kau pasti sudah mengetahuinya dalam sekali lihat. Namun, sepertinya kau gagal mengenali tombak yang Tian Sin bawa. Kau tahu tombak apa itu?"
Xin Dong menggeleng, Tabib Yan melanjutkan kata-katanya, "Tombak langit."
Tombak Langit adalah tombak warisan keluarga Wang. Satu hal yang membuat Xin Dong seharusnya mengenali tombak tersebut adalah, karena Xin Dong memiliki hubungan baik dengan Wang Jiang. Namun, yang sebenarnya terjadi adalah Xin Dong kalah satu langkah dalam hal asmara dari Wang Jiang.
Sebelum bertemu dengan ibu Xin Yue, Xin Dong mencintai Yin Hua dan berniat menikahinya. Namun, saat Xin Dong berniat melamarnya, Long Tian mengatakan jika Wang Jiang sudah meminangnya terlebih dahulu.
Dalam hal ini Xin Dong hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri karena tak pernah menanggapi perasaannya lebih awal. Benar kata pepatah, penyesalan hanya ada di akhir, jika muncul di awal maka itu hanyalah pendaftaran.
__ADS_1
"Jadi pemuda itu anak Hua'er?"