Tombak Langit Dan Naga Bumi

Tombak Langit Dan Naga Bumi
Pangeran Tampan di Kubangan


__ADS_3

Matahai mulai terbit ketika Tabib Yao dan Long Tian berhsil megobati Qin Guan sekaligus Wang Tian Sin. Kedua pemuda itu kini berbaring di ruangan yang sama untuk memudahkan para tabib mengawasi mereka berdua.


"Tabib Yao, aku harap Anda memiliki penjelasan yang memuaskan tentang keadaan putraku." Qin Huang tak membiarkakn tabib Yao istirahat dan langsung mencecarnya dengan pertanyaan.


Long Tian yang melihat hal itu tersenyum sinis dan berniat memberikan penjelasan kepada Qin Huang, tetapi Long Tian merasa jika mereka berdua perlu berkenalan agar tak terjadi kecanggungan. "Tuan Qin, aku akan memberikan penjelasan yang memuaskan tentang Qin Guan kepada Anda. Tetapi, tolong biarkan tabib Yao istirahat untuk memulihkan tenaga."


Tabib Yao hendak angkat bicara dan membela Qin Huang, tetapi Long Tian segera mengibaskan tangan dan meminta tabib Yao untuk diam. Long Tian juga meminta tabib Yao agar membuat teh herbal untuk diminum bersama. Tabib Yao menurut dan meninggalkan ruangan tersebut.


"Namaku Long Tian. Aku guru Wang Tian Sin. Mungkin Anda sudah pernah bertemu dengan muridku beberapa tahun yang lalu," lanjut Long Tian.


Mata Qin Huang melebar ketika Long Tian memperkenalkan diri. Dalam ingatannya, Long Tian adalah seorang pertapa berjuluk naga langit dan tinggal di gunung Long Hong yang berada di Xiang Utara.


Qin Huang buru-buru memberi hormat kepada Long Tian karena bagaimana pun juga, status Long Tian dalam dunia persilatan jauh di atasnya. "Maafkan orang ini yang tidak behasil mengenali Tuan Long."


Long Tian tersenyum dan mengibaskan lengan jubahnya, meminta Qin Huang agar kembali berdiri. "Gubernur Qin, selain pejabat kau juga seorang prajurit. Bersikaplah selayaknya prajurit."


Mendengar kalimat Long Tian, bukannya berdiri Qin Huang malah mengganti posisinya dengan hormat ala militer, yaitu tangan mengepal di dada, dengan satu kaki berlutut.


"Aih ... sepertinya kau salah paham dengan ucapanku." Long Tian terlihat kecewa dan berlalu meninggalkan Qin Huang.


Qin Huang berdiri dan berlari mengejar Long Tian. "Tuan Long, maaf jika saya melakukan kesalahan."


Long Tian terus berjalan tanpa menoleh sedikt pun pada Qin Huang. Tampaknya Long Tian benar-benar kesal terhadap Qin Huang.


Melihat Long Tian mengacuhkan dirinya, Qin Guan menjadi panik karena takut menyinggung sosok penting sepertinya. "Tuan Long ... aku mohon katakan apa kesalahanku agar aku bisa memperbaikinya."

__ADS_1


Long Tian berhenti dan menatap Qin Huang. "Aku ingin bersantai dan minum teh herbal di ruangan tabib Yao. Jika kau ingin bergabung, silakan." Long Tiang kembali meneruskan kalimatnya. "Kau harus minta maaf kepada Tabib Yao."


Qin Huang mengangguk setuju. "Baik, Saya akan meminta maaf kepada Tabib Yao."


Long Tian mengangguk dan berjalan menuju ruangan Tabib Yao.


***


Saat badai es menerjang kota Shui, seorang gadis yang tinggal di dekat gunung tanpa batas sedang berjalan bersama ayahnya untuk membeli persediaan. Karena badai yang menerjang begitu ekstrim, kedua orang itu memutuskan untuk berlindung di goa kecil yang terdapat di bawah gunung tanpa batas.


Saat sedang duduk termenung menikmati udara dingin, gadis itu melihat seseorang tergeletak di bawah tebing, tepatnya di kubangan air yang mulai membeku.


"Ayah ... ada mayat!" teriak Gadis itu histeris.


"Xu Mei, tetap di sini," ucap pria itu pada putrinya. Lelaki paruh baya yang bernama Xu Xiao itu berlari keluar goa dan mendatangi sosok yang mengambang itu.


Walau mendengar perintah untuk tetap di tempat, rasa penasaran membuat Xu Mei tak mengindahkan perkataan sang ayah dan mengikutinya keluar.


Seorang pemuda berpakaian putih yang terluka dan tak sadarkan diri. Awalnya Xu Xiao berpikir jika pemuda itu telah mati, tapi sepertinya dia salah, karena saat ujung telunjuknya menempel di lubang hidung pemuda yang di temukannya, masih ada embusan angin yang menandakan pemuda itu masih hidup.


Tak kuat menggendong pemuda itu, Xu Xiao mengangkat tubuh bagian atas pemuda itu dan menyeretnya menuju goa. Xu Mei yang melihat ayahnya menyeret pemuda itu hanya diam menyaksikan karena tidak mampu membantu.


Di dalam goa, Xu Xiao meletakan tubuh pemuda itu dengan perlahan, tak ingin membuat luka yang diderita semakin parah. Xu Xiao menemukan plakat identitas dengan nama Lang Xiao.


"Ayah, apa yang akan kita lakukan?" tanya Xu Mei.

__ADS_1


Xu Xiao terlihat bingung dengan tindakan yang harus dilakukan, tetapi itu tak berlangsung lama karena akhirnya dia memilih untuk membawa pulang Xiao Lang.


"Kita tak jadi membeli persediaan?" tanya Xu Mei pada Xu Xiao.


Xu Xiao menggeleng, "tidak. Nyawa pemuda ini lebih penting. Kita bisa masih bisa membeli persediaan di lain waktu."


Xu Mei mengangguk, menurut dengan ucapan ayahnya.


Hari sudah mulai sore saat badai di kota Shui mereda. Xu Xiao memasukan Xiao Lang ke gerobak yang ia bawa untuk mengangkut persediaan dan membawanya pulang. Rumahnya terletak di pinggiran kota Shui, berbatasan langsung dengan gunung Tanpa Batas.


Xu Mei ikut mendorong gerobak yang mengangkut Xiao Lang agar beban yang ditarik ayahnya berkurang. Sepanjang perjalanan, gerobak yang mengangkut Xiao Lang menarik banyak perhatian warga yang melihatnya karena paras tampan Xiao Lang begitu asing bagi penduduk kota Shui.


Beberapa wanita yang melihat wajah tampan Xiao Lang langsung terpana dengan mulut yang terbuka, dikarenakan paras Xiao Lang yang seperti sarjana muda tampan dari kota kekaisaran. Jika mereka mengetahui pemuda tampan itu hanyalah seorang pelayan dari pertapa tua, pasti mereka akan berebut Xiao Lang untuk dijadikan majikan.


Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang karena banyak orang yang menghalangi, Xu Xiao berhasil membawa Xiao Lang sampai ke rumah. Isteri Xu Xiao yang bernama Ning Meng terkejut saat malihat suaminya pulang dengan membawa gerobak berisi pemuda tampan.


"Suamiku, apa yang terjadi? Kau pamit untuk membeli persediaan, kenapa kau malah pulang dengan pangeran tampan?" tanya Ning Meng begitu melihat suaminya yang membawa Xiao Lang.


"Xu Mei yang melihatnya. Jika tidak, pasti dia akan membeku di tengah badai," jawab Xu dengan datar. Ning Meng mengangguk paham dan menyiapkan selimut dan alas tidur sebagai tempat Xiao Lang berbaring.


Xu Xiao mengganti pakaian Xiao Lang sementara Ning Meng dan Xu Mei yang sudah selesai menyiapkan tempat tidur pergi menyiapkan air panas dan obat-obatan.


Di Luar kota Shui, seorang pemuda berjubah putih dengan tangan sudah membiru sedang memacu kudanya ke tenggara, yang tak lain adalah Kota Qin.


Semoga bisa Up lebih hari ini. Bab ini akan terasa membosankan seperti saya yang kebosanan saat mengetiknya. Salam.

__ADS_1


__ADS_2