Tombak Langit Dan Naga Bumi

Tombak Langit Dan Naga Bumi
Kesan Kenangan Kematian


__ADS_3

Kesan kenangan kematian


Benci dendam kehancuran


Hanya terdengar melodi kesedihan


Menggema di seluruh kediaman


Kediaman gubernur Qin begitu ramai hari ini. Seorang gubernur yang mendapat anugerah bangsawan tingkat dua dan memiliki 300.000 pasukan berkuda beberapa jam yang lalu mati dengan cara yang mengenaskan.


Tujuh orang putra putri keluarga Qin telah berkumpul semuanya. Wajah sembab dan mata merah terlihat jelas dari enam putri keluarga Qin, hanya Qin Guan yang terlihat sudah tenang. Mungkin air matanya sudah tak tersisa lagi untuk di keluarkan.


Tak jauh dari tempat Qin Guan bersimpuh, Wang Tian Sin sedang membakar Jinzhi (uang arwah) untuk mendiang ayah angkatnya. Setelah Wang Tian Sin selesai melakukan penghormatan, pemuda itu mendekati Qin Guan seperti ingin mengatakan sesuatu.


Qin Guan yang merasa jika Wang Tian Sin ingin berbicara dengannya, memberi kode kepada adiknya agar keluar dari ruang penghormatan. Wang Tian Sin berjalan beriringan dengan Qin Guan menuju halaman belakang kediaman Qin, masuk ke sebuah gazebo yang terlihat sederhana tetapi tetap memanjakan mata.


Berbanding terbalik dari suasana di aula utama, halaman belakang kediaman Qin begitu sepi karena letaknya jauh di bagian belakang kediaman dan tak sembarang orang bisa masuk ke wilayah ini.


Sebuah meja bundar yang terbuat dari batu dikelilingi empat kursi batu dituju oleh Qin Guan. Setelah pemuda itu mengisi salah satu kursi, Wang Tian Sin duduk di seberang Qin Guan.


Qin Guan menarik napas panjang, lalu mengeluarkan sebuah pertanyaan klasik yang keluar dari pikirannya. "Ada apa?"


"Ge ... aku akan ke gunung Long Hong hari ini juga. Aku harap Guan Gege tidak keberatan," ucap Wang Tian Sin.


Qin Guan kembali menghela napas hingga asap putih keluar dari mulutnya. Pemuda itu memalingkan wajah karena tidak ingin melihat tatapan memelas sang adik. "Itu sudah menjadi keputusanmu, melarang pun tidak akan berguna di saat seperti ini."


Wang Tian Sin tersenyum dan menakupkan kedua tangannya, memberi hormat kepada Qin Guan. "Terima kasih , Gege. Setelah melewati perkabungan selama tiga bulan, aku akan berkelana di dunia persilatan."


Qin Guan lagi-lagi hanya bisa mengangguk.


"Jika aku sebebas dirimu, pasti aku juga akan berkelana. Tetapi, Ayah meninggalkan setumpuk tugas yang harus aku selesaikan dan tidak mungkin berakhir dalam waktu dekat," ucap Qin Guan.

__ADS_1


Wang Tian Sin tersenyum, tangan kanannya merayap dan menggenggam tangan kiri Qin Guan yang terkepal di atas meja. "Jalan hidup kita berbeda, Gege. Ayah meninggalkan segudang tanggung jawab padamu karena Ayah percaya kau mampu."


Qin Guan mengangguk, hatinya kini lebih tenang dari sebelumnya. "Terima kasih, Xiao Tian. Sering-seringlah mengirim surat dan mampirlah jika ada waktu."


Kedua pemuda yang terikat hubungan saudara ini kembali ke aula utama setelah tidak ada hal lain untuk dibahas. Qin Guan memerintahkan dua lusin prajurit untuk mengawal adiknya ke gunung Long Hong. Sebelum pergi Wang Tian Sin menyempatkan bertemu ke enam saudarinya untuk menyapa dan mengucapkan selamat tinggal.


"Semoga Jie jie dan Gege diberi panjang umur," ucap Wang Tian Sin sebelum meninggalkan kediaman Qin.


"Semoga Xiao Di Di diberi panjang umur," jawab tujuh anak Qin bersamaan.


Wang Tian Sin meninggalkan kediaman Qin bersama dua lusin penjaga dan satu perwira muda bernama Di Min Jie. Mereka berjalan menuju arah barat, tepatnya gerbang kota Qin. Sepanjang jalan kota Qin dipenuhi dengan umbul-umbul kematian tanda berkabung. Warga-warga juga tidak banyak yang beraktivitas karena melaksanakan perkabungan.


Setengah jam kemudian mereka sudah keluar dari kota Qin dan mulai menyusuri jalan setapak di tengah padang rumput sebelum memasuki hutan yang rimbun.


Di Min Jie berkuda di samping Wang Tian Sin. Peti mati Long Tian dibawa menggunakan sebuah kereta yang dijaga ketat oleh selusin prajurit di kanan kirinya. Sejauh ini tak ada obrolan yang mereka lakukan hingga perjalanan terasa membosankan. Saat lewat tengah hari tetapi Wang Tian Sin belum memerintahkan untuk berhenti, Di Min Jie memutuskan untuk membuka obrolan. "Tuan Muda, petang nanti kita akan tiba di wilayah Qianzhou. Tetapi untuk masuk ke kota kita memerlukan waktu hingga larut malam."


"Ada saran?" tanya Wang Tian Sin tanpa melihat Di Ming Jie.


Di Min Jie mengangguk, "ada padang rumput yang cukup landai dan cocok untuk membangun tenda tak jauh dari Qianzhou, saat matahari terbenam nanti kita akan sampai di tempat itu jika tak ada hambatan."


"Baik, Tuan Muda." jawab Di Min Jie.


Tak ada hambatan yang berarti menghalangi perjalanan mereka. Seperti apa yang dikatakan oleh Di Min Jie, saat matahari terbenam rombongan mereka sudah sampai di padang rumput yang landai. Di Min Jie memilih sebuah tempat di tepi danau untuk mendirikan tenda dan Wang Tian Sin tidak memprotes karena melihat tempat itu cukup strategis.


Beberapa prajurit membangun tenda, yang lainnya menyiapkan api unggun dan memberi makan kuda serta memeriksa perbekalan.


Wang Tian Sin berdiri di tepi danau yang indah. Riak tenang air danau membuat suasana hatinya sedikit membaik tetapi tak mampu memunculkan senyum di bibirnya. Kepalanya mendongak ke atas, matanya terpejam menikmati angin dingin yang menerpa wajahnya. Beberapa helai rambutnya yang tak terkuncir ikut menari-nari ketika sang angin menggoyangnya.


Menghirup napas dalam, mengeluarkannya dengan perlahan, Wang Tian Sin merasa beban di hatinya sedikit terangkat. Butiran-butiran salju turun dari langit, beberapa di antaranya menempel pada jubah dan rambut Wang Tian Sin. Merasa hawa dingin mulai merambat dan menusuk tulang, Wang Tian Sin merapatkan mantel bulunya yang terbuka, membuat tubuhnya kini terasa lebih hangat.


"Tuan Muda." Sebuah suara terdengar dari samping Wang Tian Sin. Pemuda berzirah perak berdiri tegap seraya mengulas senyum tipis di bibirnya. Tangan kirinya tak lepas dari gagang pedang yang tersarung di pinggangnya.

__ADS_1


Wang Tian Sin menoleh, "ada apa?"


"Di luar udara begitu dingin, sebaiknya Tuan Muda beristirahat di dalam tenda," jawab Di Min Jie.


Wang Tian Sin menggeleng, "Aku masih ingin di sini. Pemandangan begitu bagus, cukup membuat hatiku tenang."


"Jika memang seperti itu, izinkan saya menemani Tuan Muda di sini." beberapa saat terdiam, Di Min Jie kembali bersuara. "Tuan Muda, boleh saya mengatakan sesuatu?"


Wang Tian Sin mengangguk, matanya masih menatap jauh ke depan. "katakan saja."


Di Min Jie beranjak dan kini berdiri di samping Wang Tian Sin. "Sebelum saya menjadi perwira muda, saya hanyalah seorang pencuri. Sepuluh tahun yang lalu, saya salah memilih target karena mencopet gubernur Qin yang sedang menyamar di pinggiran kota Qin. Apa anda tahu apa yang dilakukan oleh Gubernur Qin?"


Wang Tian Sin menggeleng. Di Min Jie kembali melanjutkan ceritanya. "Setelah aku tertangkap, Gubernur Qin tak menghukumku, dan malah memasukanku ke dalam kamp militernya."


Wang Tian Sin mengerutkan kening, "Ayah tidak menghukummu?"


Di Ming Jie menggeleng. Wang Tian Sin menatap dalam mata Di Ming Jie, dan dia menyadari jika ada kesedihan mendalam yang sedang dirasakan oleh pemuda itu. "Setelah mengetahui jika saya mencuri untuk menghidupi tiga orang adik, Gubernur Qin memberikan bantuan untuk adik-adik saya. Saat itu saya masih berusia 15 tahun, masuk ke dalam pelatihan keras untuk menjadi prajurit Qin. Awalnya saya berpikir jika Gubernur Qin ingin memanfaatkan saya, tetapi begitu saya lulus, beliau meminta saya untuk menjaga Qin yang begitu ia cintai, jangan pernah membiarkan Qin jatuh." Di Ming Jie menjeda kalimatnya, pemuda itu mengambil napas dan mengembuskan perlahan. "Dulu saya berjanji untuk menjaga Gubernur Qin dengan nyawa saya, tetapi sekarang saya bahkan tidak mendapat tugas untuk menjaga makamnya."


"Kau menyesal mengawalku ke gunung Long Hong?" tanya Wang Tian Sin.


Di Ming Jie yang menyadari jika kalimat terakhirnya mungkin menyinggung Wang Tian Sin langsung berlutut. "Tidak, sama sekali tidak, Tuan Muda."


"Kota Qin belum terlalu jauh. Jika kau berkuda tanpa henti, sebelum matahari terbit kau sudah sampai. Aku tak ingin memberikan beban kepada siapa pun," ucap Wang Tian Sin.


"Saya tidak berani! Saya pantas dihukum karena menyinggung Tuan Muda. Mohon Tuan Muda memberikan hukuman!" ucap Di Ming Jie.


Wang Tian Sin menggeleng. "Tidak perlu. Aku sedang tidak ingin melakukan apa-apa. Saat kau pulang dari gunung Long Hong nanti, aku akan mengirim surat kepada Guan Gege agar menugaskanmu menjaga makam ayah."


"Terima kasih, Tuan muda. Terima kasih!"


Tak tahan melihat Di Ming Jie yang terus berlutut, Wang Tian Sin membantu Di Ming Jie berdiri. Saat kedua tangan Wang Tian Sin memegang lengan Di Ming Jie, tiba-tiba pemuda itu merasakan dadanya begitu sakit seakan-akan jantung sedang diremas.

__ADS_1


Di Ming Jie melihat kedua alis Wang Tian Sin mengerutkan kening. "Tuan Muda, Anda baik-baik saja?"


"A-ku ... baik-baik sa-"


__ADS_2