Tombak Langit Dan Naga Bumi

Tombak Langit Dan Naga Bumi
Medan Perang 2


__ADS_3

Setelah menyelesaikan tugasnya melesatkan beberapa panah api, Jendral Huaihuang mengganti arah bidikannya pada sayap kanan pertahanan. Walau jarak antara dirinya dan sisi kanan pertahanan cukup jauh, tetapi dengan kemampuan memanahnya, setiap anak panah akan membunuh minimal satu prajurit musuh.


Dalam beberapa tarikan napas, keranjang anak panah yang awalnya terisi penuh, kini habis tak bersisa.


Jendral Huaihuang menyimpan busur panahnya lagi dan meraih tombak panjangnya sebelum menggunakan tenaga dalam dan melompat ke sisi kanan pertahanan. Dengan tombak di tangan dan pedang di pinggang, Jendral Huaihuang tampak gagah ketika berdiri menghadang lawan.


Beberapa batu mulai melesat ke tempat Jendral Huaihuang berada. Dengan kemampuannya saat ini, Jendral Huaihuang dengan berani menghampiri batu tersebut dan menghantamnya menggunakan tenaga dalam.


Satu batu berhasil ditangani dan ini membutuhkan banyak tenaga dalam. Jendral Huaihuang menggelengkan kepala, paham dengan batas kekuatannya. Kekuatannya tidak akan cukup untuk menghalau seluruh batu. Yang bisa ia lakukan saat ini adalah bersiap menghadang gelombang pasukan yang menerjang.


Saat dua batu besar menerjang satu retakan besar yang tercipta oleh benturan sebelumnya, maka yang terjadi selanjutnya adalah puing-puing tembok mulai berguguran di susul dengan runtuhnya tembok pertahanan bagian kanan.


Sebelum prajuritnya menghambur keluar menghadang pasukan lawan, Jendral Huaihuang dengan gagah berdiri di barisan terdepan, menjadi tameng bagi para prajuritnya.


"Jangan biarkan begundal ini memasuki negeri kita yang agung! Walau tembok ini hancur berkeping-keping, walau tubuh kita akan hancur seperti lumpur, dengan nyawa rakyat yang hidup di balik tembok kota ini, kita harus menang!"


"Menang!"

__ADS_1


"Menang!"


"Menang!"


"SERANG!"


Pasukan lawan mulai menyerang, Jendral Huaihuang yang berdiri di barisan terdepan dengan ganas menghunuskan tombaknya menembus tubuh lawan hingga nyawa melayang, menariknya dengan kasar sebelum mencari mangsa lain. Tak perlu dicari, mangsa tersebut datang dengan sendirinya bahkan dengan jumlah yang semakin banyak setiap waktunya.


Jendral Huaihuang melemparkan tombaknya dengan kekuatan penuh hingga menembus tiga tubuh lawannya seperti sate.


Klang!


"Ingin membunuhku dengan pedang ini? Hanya bisa dilakukan jika kau menggorok leherku."


Yang terjadi selanjutnya adalah Jendral Huaihuang menarik pedangnya dan menggorok leher lawan.


Setelah membereskan satu mangsanya, dengan kasar Jendral Huaihuang menarik tombaknya yang masih menancap di tubuh lawan. Dari ujung tombak yang tajam hingga badan tombak kuat, semuanya berwarna merah karena darah lawan.

__ADS_1


Dengan menggunakan kain yang ia simpan di bagian lengan baju besinya, Jendral Huaihuang menyempatkan diri untuk menyeka darah di badan tombaknya agar tak licin.


Buk!


Walau matanya tak melihat arah belakang, tetapi insting bertarung yang ia latih puluhan tahun lamanya sangat membantu. Saat mengetahui ada prajurit lawan yang menyerang dari bagian belakang maka dengan sigap kakinya melesat dan membuat penyerang terpental.


"Pengganggu!"


Kembali menyimpan kain tersebut, Jendral Huaihuang kemudian menggenggam erat tombaknya dan menyerang prajurit musuh.


Tumpukan mayat mulai menggunung, sungai darah telah tercipta. Bau anyir mulai tercium dan membuat nyali prajurit Song Utara sedikit menciut. Dengan Jendral Huaihuang seorang diri berhasil membunuh sebanyak itu mampu menggoyahkan mental prajurit song utara.


Siulan angin terdengar dari jauh, semakin lama semakin mendekat disusul oleh hujan anak panah buta yang membunuh lawan mau pun kawan. Jendral Huaihuang dengan pedangnya menangkis setiap panah yang melesat ke arahnya.


"Awas!"


Klang!

__ADS_1


Jendral Huaihuang melihat Liu Qing yang berada tak jauh darinya dalam bahaya ketika sebuah tombak melesat dengan cepat ke arahnya. Tombak tersebut jatuh dengan keras ketika Jendral Huaihuang menangkisnya dengan kasar. Namun, satu hal yang tak dipikirkan oleh Jendral Huaihuang adalah, momen ini sudah ditunggu oleh pihak lawan, sehingga begitu Jendral Huaihuang lengah, sebuah anak panah menembus punggungnya.


Panah yang begitu cepat, bahkan insting bertarungnya yang terlatih tak bisa mengarahkan tubuhnya untuk menghindar.


__ADS_2