
Dua pria dengan perbedaan usia tak terlalu jauh saling berhadapan. Jarak masih memisahkan mereka, tetapi bukan jarak yang jauh walau tak dapat dikatakan dekat. Empat tombak. Mereka terpisah empat tombak satu sama lain.
Mata kedua pemuda itu saling memandang, kedua kaki mereka melebar, melakukan kuda-kuda yang mirip dengan kedua tangan yang menyilang di depan dada.
Wu Kai, pemuda yang menantang Wang Tian Sin melebarkan mata ketika melihat pemuda di hadapannya menirukan awalan jurus gagak emas. Namun, pemuda itu berhasil menguasai dirinya setelah beberapa saat.
Dengan lantang pemuda itu berkata, "Wu Kai, Partai Perguruan Istana Pedang!"
Wang Tian Sin mengangkat pedangnya dan menjawab dengan suara tak kalah lantang. "Tian Sin, pengembara yang mencari pengalaman."
Setelah saling mengenalkan diri, keduanya terlihat bersiap untuk memulai pertarunya.
Wu Kai maju dengan langkah panjang, memangkas jarak dari Wang Tian Sin sebanyak satu tombak sebelum melompat dan melakukan sapuan pedang saat jarak antara dirinya dan Wang Tian Sim tersisa satu tombak.
Melihat lawan dengan gerakan cepat, Wang Tian Sin menyeringai. Masih seperti sebelumnya, Wang Tian Sin masih berdiri teguh sekokoh gunung dengan pedang yang tergenggam erat di tangan. Saat Wu Kai datang dengan sapuan pedangnya, Wang Tian Sin belum juga bereaksi. Hanya saat pedang itu berjarak satu jengkal dari kepalanya, Wang Tian Sin melipat pinggangnya ke belakang seperti busur besi yang ditarik.
Pedang di tangan kanan Wang Tian Sin menusuk tanah bertugas sebagai pilar yang menumpu seluruh beban tubuh. Kedua kaki Wang Tian Sin terangkat, menyerang dada Wu Kai yang terbuka seperti anak panah yang lepas dari busur. Benar-benar cepat!
Wu Kai melihat Wang Tian Sin berhasil menghindari tebasan pedangnya, kemudian mengayunkan pedangnya sekali lagi ke arah dada Wang Tian Sin. Namun, ia merasakan angin meluncur ke arah dada.
Dua kaki Wang Tian Sin menghantam dada Wu Kai telak. Tak ada kesempatan bagi Wu Kai untuk melindungi dadanya sehingga dia harus menerima serangan tersebut. Tubuh tegapnya terpentak tiga meter dari jarak awal.
Wu Kai bangkit dan menerjang Wang Tian Sin. Kali ini Wang Tian Sin tak menghindar, tetapi menangkis setiap serangan yang datang.
Orang-orang yang menonton dari pinggir lapangan hanya bisa menahan napas saat Wu Kai menyerang Wang Tian Sin dengan ganas. Namun, Wang Tian Sin terlihat bisa mengendalikan situasi dan tak terpancing emosi, membuat beberapa orang kagum padanya.
Berkali-kali jatuh, sebanyak itulah Wu Kai kembali bangkit. Wang Tian Sin menggelengkan kepala pelan, tak mengerti kenapa orang ini begitu keras kepala padahal sudah berkali-kali jatuh.
__ADS_1
"Aku akan serius!" teriak Wang Tian Sin sebelum maju dengan langkah panjang.
Wang Tian Sin melompat dan menyabetkan pedangnya secara menyilang. Wu Kai berhasil menangkis serangannya walau keningnya terlihat berkerut.
Wu Kai walau berhasil menangkis serangan Wang Tian Sin, tetapi raut wajahnya tak bagus karena sadar perbedaan kekuatan antara dirinya dan lawan cukup jauh. Dia bisa mengetahuinya karena tangannya terasa kebas saat menangkis serangan barusan.
Dalam tiga serangan, pedang dalam genggaman Wu Kai terlepas, Wang Tian Sin mengarahkan pedangnya ke leher Wu Kai.
"Menyerahlah."
Wu Kai mengangguk, "benar-benar hebat! Tenaga dalam yang luar biasa!"
Setelah melakukan pertukaran serangan dengan Wang Tian Sin, Wu Kai menyadari beberapa kelemahan yang selama ini sedang ia cari. Dengan kata lain, Wang Tian Sin berhasil memperluas wawasannya dalam ilmu pedang.
Wang Tian Sin menurunkan pedangnya, "gerakan yang bagus, hanya perlu beberapa perubahan saja."
"Aku harap kita bisa bertukar gerakan di lain waktu," ucap Wu Kai.
Orang-orang yang awalnya meremehkan Wang Tian Sin kini memandang pemuda tersebut dengan tatapan berbeda.
Lu Yuan yang sempat pergi, saat ini kembali sebelum mendekati Wang Tian Sin dan mengatakan jika Xin Yue sudah pulang. Selain itu, Xin Dong juga memanggilnya untuk menemuinya saat ini juga.
Wang Tian Sin menemui Xin Dong di kediamannya bersama Lu Yuan. Sebuah pondok sederhana yang lebih besar dari pondok lainnya di pemukiman istana pedang.
Seperti biasa, Xin Dong memasang wajah dingin saat menemui Wang Tian Sin. Pria itu duduk di kursi utama sementara Wang Tian Sin berada tak jauh darinya.
"Tian Sin ... aku sudah mendengar semuanya dari Xin Yue." Xin Dong menatap Wang Tian Sin penuh selidik, berusaha menyelami pikiran pemuda yang tampak tenang itu. "Kau ingin belajar gerakan bulan air?"
__ADS_1
Wang Tian Sin cukup terkejut saat Xin Dong berhasil mengetahui niatannya. Namun, pemuda itu bisa menguasai dirinya dengan cepat.
"Benar," jawab Wang Tian Sin lugas.
"Apa ilmu dari gurumu tak cukup?" tanya Xin Dong.
"Di dunia ini, tidak ada yang namanya cukup, apalagi jika hukum rimba tetap berlaku." Wang Tian Sin mengatakannya tanpa keraguan.
Xin Dong mengangguk puas. Dirinya memang tertarik dengan bakat yang dimiliki Wang Tian Sin. Namun, identitas Long Tian sebagai gurunya membuat Xin Dong ragu untuk merekrut pemuda ini. Tetapi nasib baik memihaknya, Wang Tian Sin datang tanpa perlu dia undang.
"Anak muda, jika kau ingin menjadi bagian dari istana pedang, setidaknya kau harus jujur kepadaku tentang identitasmu."
Wang Tian Sin menghela napas panjang, terdiam cukup lama karena pertanyaan ini cukup sulit. Dia selalu khawatir jika identitasnya terungkap pada orang yang salah.
Namun, ia sudah memutuskan untuk mempelajari gerakan bulan air, dengan kata lain dia akan menjadi murid Xin Dong. Maka, yang harus ia lakukan saat ini adalah jujur pada Xin Dong.
Setelah memastikan tidak ada orang di sekitarnya yang bisa mendengar pembicaraannya, Wang Tian Sin mulai bercerita.
"Sejujurnya aku tidak pernah mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Aku hanya mengetahui identitas orang tuaku hanya dari surat peninggalan. Tapi ... menurut surat yang aku baca, aku adalah anak dari murid guruku, seharusnya aku memanggilnya dengan kakek atau kakek guru. Namun, ibu meninggal beberapa hari setelah mengantarku ke gunung Long Hong. Sementara Ayah, dia mendiang Jendral Pemberani Wang Jiang."
Xin Dong kembali mengangguk. Aliran hangat dalam hatinya mulai bergejolak saat anak dari orang yang sangat ia cintai sedang duduk di hadapannya. Tanpa sadar, matanya memerah dan berkaca-kaca.
Xin Dong menghela napas panjang dan mengangguk, "anak muda. Kau sungguh berani mengatakan hal seperti ini padaku. Apa kau tidak takut aku akan membunuhmu karena lahir dari darah pengkhianat?"
"Anda tidak akan melakukannya, Tuan Xin."
"Kau terlalu percaya diri, tetapi aku suka."
__ADS_1
Wang Tian Sin tersenyum bangga, dia kemudian berlutut sebanyak tiga kali di hadapan Xin Dong sebelum mengucap sumpah.
"Murid Wang Tian Sin bersumpah mengambil Xin Dong sebagai guru hari ini, selamanya akan mematuhi perintahnya, sampai mati tetap menjadi muridnya!"