
Meninggalkan teh berharga yang belum habis, Tabib Yao, Long Tian dan Qin Huang pergi ke ruangan tempat Wang Tian Sin dan Qin Guan dirawat.
Di ruangan tersebut, beberapa tabib muda yang ditugaskan untuk menjaga Qin Guan dan Wang Tian Sin sedang melakukan pemeriksaan kepada dua pemuda itu.
Walau masih terlihat pucat dan lemah, Wang Tian Sin dan Qin Guan sudah saling melempar senyum satu sama lain. Bahkan tak jarang juga mereka berdua saling mengejek.
"Guan gege, kenapa kau terluka?" tanya Wang Tian Sin penasaran karena melihat Qin Guan tak sadarkan diri dan berbaring di sampingnya.
Qin Guan tersenyum tipis, "Aku terluka di gunung tanpa batas. Biasa ... masalah petualang."
Wang Tian Sin hanya mengangguk pelan tak mendebat ucapan Qin Guan.
Pintu ruangan yang awalnya tertutup rapat, digeser dari luar hingga terbuka dan menampilkan empat orang dibaliknya. Empat orang itu adalah si penjaga, Qin Huang, Long Tian dan juga Tabib Yao.
Wang Tian Sin dan Qin Guan yang sedang mengobrol langsung mengalihkan perhatian kepada ke empat orang tersebut.
Melihat dua pasien khususnya sudah sadar dan sekarang dalam posisi duduk, Tabib Yao berjalan tergesa untuk memeriksa Wang Tian Sin sementara Qin Huang menghampiri Qin Guan.
"Guan'er, bagaimana kondisimu? Apa masih sakit?" tanya Qin Huang cemas.
Dari tujuh anak yang dimiliki Qin Huang, hanya Qin Guan yang merupakan putra dan selalu bisa diandalkan dalam segala hal, dengan kata lain, Qin Guan adalah masa depan bagi provinsi Qin. Jika Qin Guan dalam bahaya, maka masa depan provinsi Qin juga terancam.
Qin Guan mengangguk dengan senyum tipis menyungging di wajahnya. "Ayah, Guan'er baik-baik saja. Tabib Yao pasti sudah melakukan yang terbaik."
Qin Huang mengangguk dan terlihat lega saat mendengar dari mulut putranya sendiri bahwa kondisinya sudah membaik.
Tabib Yao yang sudah selesai memriksa Wang Tian Sin kini beranjak mendekati Qin Guan dan hendak memeriksanya. Qin Huang segera menyingkir dan membiarkan Tabib Yao untuk memeriksa Qin Guan.
__ADS_1
Long Tian hanya berdiri di samping Wang Tian Sin yang sedang mengedarkan pandangannya seperti sedang mencari sesuatu. Long Tian yang menyadari hal itu langsung menegur muridnya. "Sin'er, apa yang sedang kau cari? Tombakmu aman di ruanganku."
Wang Tian Sin menggeleng, "Tidak, Guru. Biasanya Lang gege selalu mengikuti ke mana pun guru pergi, tetapi kenapa kali ini guru sendirian?"
Long Tian menghela napas berat, pria yang tak lagi muda itu kemudian duduk di samping Wang TIan Sin dan menatap pemuda itu saksama.
"Aku tidak tahu keberadaan Xiao Lang untuk saat ini. Yang jelas jika dirinya masih hidup pasti akan kembali ke gunung Long Hong."
Wang Tian SIn terkejut mendengar penuturan gurunya. "Apa ... apa maksud guru? Kenapa guru mengatakan jika selamat? Apa Lang gege dalam bahaya?"
"Kau tidak perlu cemas seperti itu. Xiao Lang anak yang cerdas. Kepandaiannya juga tidak rendahan apalagi ilmu meringankan tubuhnya. Aku sampai memanggilnya anak kucing, kau tahu penyebabnya?" ucap Long Tian panjang.
Wang Tian Sin mengangguk, "Karena ilmu meringankan tubuhnya bagus dan gerakannya yang gesit seperti kucing, kan?"
Long Tian mengangguk membenarkan, "Tapi ... tak hanya karena alasan itu, satu hal lagi yang membuatku memanggilnya seperti itu adalah karena dia berkali-kali lolos dari kematian, seperti memiliki banyak nyawa layaknya kucing yang dirumorkan memiliki sembilan nyawa."
Tabib Yao masih fokus memeriksa Qin Guan sehingga mengabaikan pertanyaan Long Tian. Qin Guan yang merasa tak enak hati karena Tabib Yao, segera menanggapi ucapan Long Tian. "Tuan Long, Anda tidak perlu sungkan kepadaku. Jika Anda ingin menanyakan tentang Xiao Lang maka akan saya jelaskan nanti."
Long Tian hanya mengangguk dan pergi meninggalkan ruangan itu. Tabib Yao yang sudah selesai memeriksa kondisi Qin Guan menatap kepergian Long Tian dengan penuh tanda tanya.
"Tuan Muda Qin, racun kelabang es dalam tubuh Anda sudah berhasil dinetralkan, sementara pemuda Wang ..."
"Panggil saja Xiao Sin, Sin'er atau Xiao Tian," ucap Wang Tian Sin saat Tabib Yao terlihat kebingungan memanggil namanya
"Baiklah, untuk Xiao Tian, semua racun dalam tubuhmu sudah berhasil dinetralkan, tetapi luka di perutmu masih belum sembuh. Panah itu menancap terlalu dalam dan Tuan Long hanya mengobati bagian luarnya saja, tetapi itu dimaklumi karena Tuan Long bukanlah seorang tabib," ujar Tabib Yao.
Seperti yang sudah Wang Tian Sin duga sebelumnya jika luka itu cukup parah dan sampai saat ini belum sembuh. "Tabib Yao, terima kasih karena telah merawatku dengan baik. Aku yakin jika guru yang mengurusku maka akan berakhir lain."
__ADS_1
"Tidak perlu sungkan seperti itu. Sudah tugas seorang tabib untuk menyembuhkan pasiennya, tetapi yang berjuang banyak kali ini adalah Tuan Muda Qin Guan." Tabib Yao menunjuk Qin Guan yang langsung melotot marah pada tabib tua itu.
Bagi Qin Guan, ini adalah kewajibannya sebagai seorang kakak walau Wang Tian Sin hanyalah adik angkat. "Tidak ... anggap saja ini balasan karena tiga tahun lalu Xiao Tian menyelamatkan aku."
"Guan Gege, kenapa kau tidak mengatakannya?" tanya Wang Tian Sin.
"Kelabang malam bisa diobati dengan kelabang es. Tuan Muda Qin Guan pergi ke gunung tanpa batas dan digigit oleh kelabang es dan Saat di hutan luar kota Qin, tuan muda pingsan dan ditemukan orang tua. Untung saja orang itu pernah melihat Tuan Muda Qin di dalam kota dan melapor ke penjaga. Jika Tuan Muda Qin tidak ditangani dalam waktu tiga hari, maka dipastikan nyawanya melayang." Tabib Yao menjelaskan semuanya dengan rinci.
Qin Guan hanya tertunduk tak dapat berkata apa-apa lagi, sementara Wang Tian Sin menatap Qin Guan dengan marah. "Guan gege, kenapa kau membahayakan nyawamu? Bagaimana jika kau mati? Apa kau pernah berpikir bagaimana perasaan paman Qin jika kau mati?"
"Xiao Tian, kau jangan marah dulu, aku sudah memikirkan semuanya. Ayah memiliki tujuh anak, kehilangan satu tidak akan jadi masalah baginya," ucap Qin Guan yang membuat Wang Tian Sin menunjuknya dengan amarah.
"Guan Gege ... kau? Kau pikir nyawamu tidak berharga? Mau tujuh mau sepuluh, jika kehilangan ya kehilangan. Paham?" tegas Wang Tian Sin.
Qin Guan mendengkus, tak setuju dengan ucapan Wang Tian Sin. "Kami terlahir sebagai ksatria. Belasan tahun aku dalam dunia militer, ratusan pertemuan, ratusan perpisahan dan ratusan pengorbanan sudah kulalui. Apalagi ayah? Puluhan tahun dia menjadi prajurit pasti menemukan lebih banyak kesakitan dari diriku. Menambah satu rasa sakit tidak akan jadi masalah untuknya."
"Kau tidak memikirkan perasaanku? Bagaimana aku bisa menjalani hidup jika tahu kau mati karena berusaha menolongku?" ucap Wang Tian Sin.
Qin Guan terkekeh dan tersenyum mengejek, "Mungkin tabib Yao belum mengatakannya kepadamu, tetapi jika aku tidak kembali hingga hari ini kemungkinanmu untuk hidup hampir tidak ada. Jadi ... berhentilah berdebat untuk masalah yang sudah berlalu, lebih baik sekarang pikirkan cara agar cepat sembuh."
Tabib Yao hanya terkekeh melihat pertengkaran antara Wang Tian Sin dan Qin Guan. Entah apa yang dipikirkan orang itu hingga berkata, "Tuan Besar Qin, aku pikir Tuan Muda Qin dan Wang Tian Sin hanya saudara angkat, tetapi kenapa mereka sangat cocok jika menjadi saudara kandung?"
Hari ini saya lembur kerja, jadi naskah baru ditulis setelah selesai kerja. Jika ada typo saya minta maaf, tapi mungkin akan telat rilis karena jam 12 malam naskah baru selesai.
Terima kasih, selamat membaca
Rana Semitha
__ADS_1