
Siluet pria berbaju putih, memiliki tubuh kekar nan jangkung melompat dari atas tembok kediaman dan mendarat di samping Wang Tian Sin. Qin Guan dengan wajah membesi berdiri di samping Wang Tian Sin, tangan kirinya terus memegang gagang pedang siap mencabutnya sewaktu-waktu.
Tak jauh dari Qin Guan, Qu Bo berlutut dan memegang kaki kanannya yang terpanah hingga menembus bagian belakang pahanya. Keringat dingin membasahi dahinya yang tampak pucat karena menahan sakit dari lukanya.
Qin Guan berjalan mendekati Qu Bo yang tak bisa berkutik lagi. Menyingkirkan kain hitam yang menutup wajah lawannya, Qin Guan menampar pipi tersebut dengan keras. "Tak hanya menyerang kediaman bangsawan tingkat dua, berani sekali kau mengatakan omong kosong tentang panglima besar Wang!"
Qu Bo tak terlihat takut dengan ucapan Qin Guan, malah mengambil sesuatu dari balik lengan bajunya dan hendak memasukan benda itu ke mulut. Qin Guan dengan sigap menepak tangan Qu Bo, menyebabkan sebuah pil yang ada di tangannya jatuh entah ke mana. Qin Guan mencengkeram dagu Qu Bo dengan tangan kanannya, menekannya keras-keras hingga mulut Qu Bi terbuka lebar. "Kau berusaha bunuh diri? Tidak semudah itu!"
Qin Guan melihat sebuah benda menempel di gigi geraham Qu Bo merasa curiga. Dia mencoba melepaskan benda tersebut dari gigi Qu Bo, tetapi karena merasa jijik, Qin Guan menampar pria di hadapannya hingga tiga giginya terlepas. Sebuah benda berwarna hijau ikut melompat bersama gigi-gigi Qu Bo yang terlepas.
Dari gerbang kediaman Qin Guan kembali muncul sosok pria tinggi ramping dengan zirah perak yang melindungi tubuhnya, memegang tombak di tangan kiri. Pria itu melompat mendekati Qin Guan. "Tuan,"
Qin Guan mencengkram bahu Qu Bo dan menghempaskannya ke bawah kaki Ning Lei. "Ikat pria ini dengan rantai yang disertai pemberat, minta penjaga tingkat tinggi yang mengawalnya untuk berhati-hati. Walau terluka dia tetap ular berbisa yang mematikan dan aku tidak ingin prajuritku menjadi korbannya. Kurung di ruang bawah tanah."
Ning Lei membungkuk hormat, "Baik, Tuan." Dengan rantai yang sudah ia siapkan Ning Lei mengikat Qu Bo dan membawanya pergi ke ruang bawah tanah kediaman Qin Guan. Panah yang menembus kaki Qu Bo sudah dipotong dan dicabut oleh Ning Lei.
Qin Guan yang sibuk mengurus tahanannya tidak menyadari jika Wang Tian Sin menyelinap pergi membantu Long Tian yang kini bertarung di halaman belakang kediaman Qin Guan.
Beberapa bangunan sudah hancur karena benturan tenaga dalam baik yang dikeluarkan Long Tian mau pun lawannya. Dua pria itu saling berhadapan menampilkan busana yang begitu kontras, di mana Long Tian mengenakan pakaian putih sementara lawannya berjubah hitam.
Tawa angkuh mengudara, diikuti ambruknya Long Tian di atas tanah berselimut es. "Long Tian ... sebaiknya kau menyerah dan mati dengan mudah. Tidak perlu berusaha seperti ini."
__ADS_1
"Sampai mati pun aku tidak akan menyerah padamu, Ouyang Mu!" Long Tian memuntahkan dua teguk darah yang mengotori jubah putihnya, terluka setelah beradu tenaga dalam dengan Ouyang Mu. Long Tian bersila dan kembali memuntahkan darah beberapa saat setelah memejamkan mata.
Ouyang Mu merupakan pendekar terkuat nomer empat di dunia persilatan, sedangkan Long Tian menempati urutan kelima. Walau hanya kalah satu peringkat, tetapi Ouyang Mu adalah ahli racun dan hal itu membuat jarak mereka berdua begitu jauh.
Wang Tian Sin mendekati guru yang sudah ia anggap sebagai kakeknya, perasaan cemas langsung memenuhi hatinya karena tak pernah melihat gurunya seperti ini. "Guru ...."
"Anak muda, menyingkirlah. Ini adalah urusan antara aku dan gurumu. Jangan ikut campur atau kau akan menyesalinya," ucap Ouyang Mu.
Wang Tian Sin mengabaikan perkataan Ouyang Mu, membuat pria tua itu marah. "Kurang ajar! Kau tidak mendengarkan aku? Gurumu saja tak berani melakukan itu, nyalimu besar juga anak muda."
"Lalu aku harus bagaimana, orang tua?! Aku tidak mau menyingkir, jadi kau saja yang pergi!" ucap Wang Tian Sin.
Long Tian terus memejamkan matanya dengan posisi tubuh berlutut, tak merespon panggilan-panggilan Wang Tian Sin. Wang Tian Sin memeriksa nadi di pergelangan tangan gurunya dan tak dapat merasakannya.
Wang Tian Sin semakin panik, kedua tangannya mulai mengguncang tubuh Long Tian dengan keras, mulutnya tak berhenti meneriakan kata "guru" sementara air mata mulai mengalir deras di pipinya.
Merasa Long Tian tak meresponnya, Wang Tian Sin bangkit dan menatap Ouyang Mu penuh amarah. "Apa yang kau lakukan pada guru!"
Ouyang Mu terkekeh, merasa lucu dengan tindakan Wang Tian Sin. "Anak muda, mungkin karena berduka otakmu mulai melamban. Kau tahu jika gurumu tewas, maka yang aku lakukan berarti membunuhnya. Betul, bukan?"
"Aku tidak akan melepasmu!" teriak Wang Tian Sin lagi.
__ADS_1
Tawa Ouyang Mu semakin keras ketika kalimat itu terucap dari mulut Wang Tian Sin. "Anak muda ... aku harap kau sadar diri. Gurumu saja bisa dengan mudah aku singkirkan, apalagi hanya kau? Tangan kiriku saja sudah cukup untuk membunuhmu."
Wang Tian Sin yang dikuasai amarah menyerang Ouyang Mu dengan tombaknya. Ouyang Mu yang tak ingin meladeni pertarungan ini hanya menghindar dan perlahan mengambil jarak dari Wang Tian Sin. Saat Ouyang Mu sudah berdiri di tembok kediaman Qin Guan, kumpulan anak panah melesat menghujani Ouyang Mu yang dengan sigap mengibaskan kedua tangannya, panah-panah itu pun jatuh seperti besi yang ditarik medan magnet.
Setelah menjatuhkan panah-panah itu, Ouyang Mu melempar beberapa senjata rahasia berupa jarum yang telah diolesi racun ke arah pemanah. Dalam beberapa tarikan nafas, selusin pemanah yang bersembunyi di atas tembok jatuh dengan sukma yang telah meninggalkan raga. Para pemanah sudah jatuh, Ouyang Mu bergegas pergi menggunakan ilmu meringankan tubuhnya meninggalkan mereka semua. Tak ada satu pun orang di tempat tersebut yang berniat mengejar Ouyang Mu, bahkan Wang Tian Sin sekali pun karena merasa tak mampu menghadapi pria tua itu.
Qin Guan muncul dengan mata melotot, terkejut melihat Long Tian yang duduk dengan wajah tertunduk dan kulit berwarna hijau. Pemuda itu mendekati Long Tian dan memegang bahu guru dari adiknya, mengguncangnya perlahan sebelum menyadari jika Long Tian sudah mati. "Ti-tidak ... ini tidak mungkin."
Qin Guan kembali mengguncang bahu Long Tian, tetapi kali ini lebih keras dibanding sebelumnya. "Tuan ... Tuan Long!" teriak Qin Guan panik. "Xiao Tian!"
Tak ada yang bisa Qin Guan lakukan selain memanggil adiknya. Wang Tian Sin yang sudah tahu mengenai kondisi sang guru, hanya bisa tertunduk lesu dengan air mata yang belum kering. "Guru ... guru meninggal."
Tubuh Wang Tian Sin bergetar, menahan emosi yang bergolak memenuhi hatinya. Ingatan-ingatan masa lalu saat dirinya bersama dengan sang guru kembali melintas memenuhi pikirannya. Saat dirinya dihukum, berlatih ilmu baru, berburu, dan kerap kali menjahili gurunya kembali terlintas.
"Ini tidak mungkin," ucap Qin Guan masih tak percaya. Pemuda itu berlari menuju ke ruang obat yang sudah hancur sebagian, menyisakan setengah ruangan yang sangat berantakan.
Qin Guan tak menghiraukan kondisi tersebut dan mencari orang yang kemungkinan bisa membantunya. Namun, langit sangat suka melihatnya kecewa. Orang yang ia cari dan sedang sangat ia butuhkan entah ada di mana saat ini.
Saat Qin Guan membuka kamar tabib Yao, pemuda itu kembali melotot, "Tidak! Tabib Yao!"
Maaf saya tidak menepati tulisan di catatan sebelumnya, hari ini baru bisa update dan semoga besok masih dilancarkan.
__ADS_1