
Seorang pelayan mengetuk kamar Wang Tian Sin dan mengantar bak air hangat untuk Wang Tian Sin mencuci muka. Tak lama berselang, kamar Wang Tian Sin kembali diketuk dan seorang pelayan masuk membawa teh panas serta sarapan.
Wang Tian Sin mengambil kantung uang yang tersimpan di balik jubahnya dan melemparkan satu tael perak untuk pelayan tersebut. "Katakan pada Jiu Tang, jika tak ada hal yang mendesak, maka tidak ada yang boleh masuk ke ruanganku. Mengerti?"
Pelayang itu membungkuk, "Mengerti, Tuan Muda."
Wang Tian Sin mengibaskan tangannya, meminta pelayan itu segera meninggalkan kamarnya. Pintu telah ditutup rapat, Wang Tian Sin membasuh wajahnya dengan air hangat yang sudah disediakan. Setelah merapikan rambut dan pakaiannya, Wang Tian Sin membuka jendela kamarnya, membiarkan udara segar musim semi masuk.
Menghirup napas dalam-dalam, Wang Tian Sin mengembuskannya secara perlahan. Ini adalah kenikmatan dunia yang sesungguhnya, ketika kau merasakan kebebasan tanpa ada beban di pundakmu, maka hal kecil seperti menghirup udara segar di musim semi merupakan kenikmatan tiada tara.
"Aih ... Andai Guan gege tidak harus menjalankan pemerintahan Provinsi Qin dan ratusan ribu prajurit, maka aku akan mengajaknya berkelana menikmati hidup yang sesungguhnya."
Wang Tian Sin kemudian berpikir, masih terlalu pagi untuk berkeliling menikmati kota Xiang yang indah. Apalagi kota ini lebih hidup ketika malam menjelang. Berlatih adalah satu hal yang paling tepat dalam kondisi seperti ini.
Mengedarkan pandangan sesaat, Wang Tian Sin berhasil menemukan satu sudut yang tepat untuknya berlatih tenaga dalam. Pemuda itu duduk bersila dan memejamkan mata, memulai meditasi dan memfokuskan pikirannya untuk mengelola tenaga dalam di tubuhnya untuk menempa tulang, seperti yang tertulis dalam kitab naga bumi.
Tenaga dalam yang terasa hangat mulai menjalar ke setiap inchi tulang di tubuh Wang Tian Sin. Setiap beberapa waktu, Wang Tian Sin akan merasa jika tulangnya bertambah kuat hingga di titik senjata tanpa aliran tenaga dalam tidak mampu memotongnya.
Entah berapa lama Wang Tian Sin bermeditasi, karena jendela yang terbuka memungkinkan suara dari luar terdengar di telinga Wang Tian Sin. Pemuda itu bisa menangkap suara yang tak asing baginya, suara yang membangunkannya pagi ini. Dengan cepat Wang Tian Sin mengakhiri sesi latihannya dan membuka mata. Memburu ke arah jendela, Wang Tian Sin mencari sumber suara yang ternyata ada di depan penginapan.
Terlihat jika Ji Hua sedang adu mulut dengan seorang gadis yang dikawal dua pria muda. Dua pemuda itu terus bersiaga karena tangannya tak lepas dari gagang pedang.
__ADS_1
Setelah mengamati situasinya beberapa saat, Wang Tian Sin merasa jika dirinya tidak perlu ikut campur urusan orang, apalagi orang itu menyimpan kebencian padanya, tidak menguntungkan sama sekali.
Saat Wang Tian Sin membalikan badannya dan hendak melanjutkan latihan, terdengar jeritan dari arah bawah, tepatnya di tempat Ji Hua berada. Wang Tian Sin kembali melihatnya dan mendapati Ji Hua mencengkram leher seorang wanita yang menjadi lawan pertengkarannya.
Khawatir dengan kondisi wanita dalam cengkeraman Ji Hua, Wang Tian Sin melompat dari lantai 3 penginapan dan mendarat di samping Ji Hua. Beberapa orang yang awalnya acuh, sempat terpana saat melihat Wang Tian Sin melompat dari ketinggian dan mendarat dengan mulus. Namun, itu tak berlangsung lama karena merasa masalah besar akan terjadi tak lama lagi. Orang-orang berusaha kabur secepat mungkin, atau setidaknya bersembunyi dari masalah.
"Ji Hua, apa yang kau lakukan?" pekik Wang Tian Sin.
Ji Hua melirik Wang Tian Sin tajam, seolah mempertanyakan panggilan Wang Tian Sin padanya. Tadi pagi kau memanggilku dengan sebutan Nona Ji, kenapa sekarang hanya memanggil nama seolah kita adalah teman lama.
Tak menghiraukan pekikan sekaligus peringatan yang Wang Tian Sin berikan, Ji Hua berkata dengan keji, "Permintaan maaf tidak cukup untuk orang yang berani menyinggungku."
Tak ada pilihan lain, Wang Tian Sin menepak tangan Ji Hua menggunakan sedikit tenaga dalam, membuat Ji Hua yang tak menyangka dengan gerakan pemuda itu melepas cengkeramannya begitu saja.
Wanita yang terlepas dari cengkeraman Ji Hua segera memegang lehernya yang memerah, diliriknya dua pemuda yang berdiri di belakangnya, "Kalian berdua tidak berguna! Sungguh tidak berguna!"
"No-nona, maaf. Kami tidak bisa melawannya, kemampuannya jauh di atas kami berdua," ucap seorang pemuda yang terlihat lebih tua.
"Pengecut! Bagaimana kalian menjadi pengawal Zhen Dong jika sifat kalian seperti ini?!" teriak wanita itu marah.
Wang Tian Sin yang awalnya berniat menolong wanita itu juga mengurungkan niatnya saat wanita itu menatapnya tajam. "Kau, hubungan apa yang kau miliki dengan gadis ini? Kau kekasihnya? Jika iya, kau harus mendidiknya dengan benar atau mengikatnya agar tak melukai orang. Ingat, aku Zhen Dong memperingatkan kau dan wanitamu agar tidak macam-macam atau menerima hukuman berat dari ayahku,"
__ADS_1
Wanita memang tak dapat ditebak dan merasa selalu benar. Itulah yang sekiranya di pikiran Wang Tian Sin.
Pemuda itu akhirnya mengalah dan membungkuk memberikan hormat pada Zhen Dong. "Baiklah, Nona Dong. Maaf jika kekasihku menyakiti Anda. Aku tidak akan membiarkannya jauh-jauh dariku saat di kota Xiang."
Ji Hua yang mendengar perkataan Wang Tian Sin melotot tajam pada pemuda itu, tetapi tak membantah apa yang Wang Tian Sin katakan.
Beberapa orang mulai berbisik membicarakan Wang Tian Sin dan Ji Hua. "Bagaimana seorang Tuan Muda yang baik mendapat gadis seperti siluman rubah?"
"Malangnya nasib Tuan Muda itu."
"Betapa beruntungnya gadis itu mendapat lelaki tampan dan pengertian seperti itu,"
Tanpa Ji Hua sadari, pipinya memerah saat mendengar bisikan-bisikan orang yang ada di sekitarnya.
Zhen Dong pergi bersama dua pemuda pengawalnya dengan wajah tak bersahabat. Melihat lawannya pergi, Ji Hua hendak melemparkan sumpah serapah tetapi gagal karena Wang Tian Sin dengan cepat menutup mulutnya, "kenapa senang sekali membuat masalah?"
Wang Tian Sin menarik Ji Hua masuk ke dalam penginapan dan membawanya ke kamar.
Saat tiba di kamar, Wang Tian Sin meminta Ji Hua duduk.
Ji Hua yang biasanya tak suka diperintah merasa aneh karena tubuhnya menuruti ucapan Wang Tian Sin tanpa membantah. Kini Ji Hua dan Wang Tian Sin duduk berhadapan, saling melemparkan tatapan tajam satu sama lain.
__ADS_1
Suasana menjadi hening, kecanggungan pun terjadi. Wang Tian Sin tak menyukai suasana seperti ini, berusaha mencairkannya. "Nona Ji, kenapa kau membuat masalah dengan anak Tuan Kota?"
Bukannya menjawab Wang Tian Sin, Ji Hua malah mendengus keras, "Saat pagi memanggilku Nona Ji, di hadapan semua orang kau memanggilku nama, apa saat nanti bertemu dengan tuan kota kau akan memanggilku Hua'er?"