Tombak Langit Dan Naga Bumi

Tombak Langit Dan Naga Bumi
Biro Pengobatan Quanyu


__ADS_3

Berita tentang kematian Gubernur Qin Huang menyebar dengan cepat ke penjuru Provinsi Qin termasuk juga Kota Shui yang masih masuk ke dalam Provinsi Qin. Xiao Lang yang baru tersadar saat matahari mulai naik terkejut saat mendengar berita tersebut. Pemuda itu berniat untuk segera bangkit, tetapi berhasil dicegah oleh Xu Mei.


"Nona Xu, biarkan aku bangun," ucap Xiao Lang dengan wajah memelas. Xu Mei tidak menggubris permintaan Xiao Lang dan memasang wajah dingin.


"Nona ... kumohon. Aku harus segera pergi," pinta Xiao Lang lagi.


Xu Mei mendengus dan memalingkan wajah. Gadis cantik itu beranjak dari samping Xiao Lang dan keluar, tetapi tak lama setelahnya Xu Mei kembali dengan mangkuk obat di tangannya.


Xu Mei menyerahkan mangkuk yang berisi ramuan panas itu kepada Xiao Lang. "Minum ini. Kau boleh pergi jika mampu."


Xiao Lang mengangguk, kemudian menerima cangkir tersebut dengan tangan kirinya karena tangan kanannya tak bisa digerakkan. Saat Xiao Lang meminum obat tersebut, alisnya berkerut. "Kenapa begitu pahit?"


"Itu hanyalah air biasa. Jika ini saja tidak bisa kau minum bagaimana kau bisa sembuh?" ucap Xu Mei.


Xiao Lang hanya meringis, dalam satu tarikan napas berikutnya Xiao Lang meneguk obat tersebut dalam satu teguk.


"Uhh..." Xiao Lang memberikan mangkok yang sudah kosong kepada Xu Mei. Gadis itu kembali pergi meninggalkan Xiao Lang sendirian.


Xu Xiao sedang meminum teh di ruang keluarganya saat melihat Xu Mei berjalan dengan wajah gusar, ekspresi yang sangat jarang ditunjukan oleh anak perempuannya itu.


"Mei'er, ada apa? Wajahmu kenapa ditekuk begitu?" tanya Xiao Lang.


Xu Mei meletakan mangkok yang ia pegang di atas meja, kemudian duduk di hadapan ayahnya. "Ayah, Lang Gege mengatakan jika dia harus pergi saat ini. Aku begitu kesal mendengarnya."


Xu Xiao terkekeh saat mendengar jawaban yang diucapkan oleh putrinya. Sepertinya putrinya yang terkenal bersifat dingin mulai tertarik dengan pemuda yang ditolongnya. Namun, Xu Xiao tak ingin mematahkan rasa yang sedang dibangun oleh putrinya. "Apa yang membuat Xiao Lang ingin pergi?"


Xu Mei memonyongkan bibirnya, melipat kedua tangan di depan dada dan memalingkan wajah. "Tidak tahu. Begitu mendengar kabar kematian gubernur Qin dia ingin segera pergi. "

__ADS_1


"Kabar kematian Gubernur Qin?" tanya Xu Xiao memastikan. Xu Mei mengangguk mantap menjawab pertanyaan Xu Xiao.


Xu Xiao mengalihkan pandangan ke luar jendela, menatap butiran-butiran salju yang sedang turun.


"Aku pernah mendengar jika anak gubernur Qin selalu menggunakan pakaian putih. Jika dilihat dari usia, sepertinya sama. Apa ... Xiao Lang ada hubungannya dengan gubernur Qin?" gumam Xu Xiao.


Xu Mei kembali melirik ayahnya. "Ayah! Apa ayah lupa, jika Jendral Muda Qin bertubuh kekar? Bagaimana Lang Gege yang berpenampilan seperti sarjana dikatakan berhubungan dengan gubernur Qin?


Xu Xiao menatap gadis kecilnya, sebuah senyum tipis muncul di bibirnya yang mulai keriput. "Mei'er, sejak kapan ayah mengatakan jika Xiao Lang adalah Jendral Muda?"


Wajah Xu Mei merah seketika karena sadar telah berpikir terlalu jauh. Gadis itu beranjak dari tempat duduk tanpa mengatakan apa-apa kepada Xu Xiao. Xu Xiao yang melihat itu hanya bisa terkekeh karena sifat putrinya yang tak biasa.


Setelah menghabiskan teh di cangkir, Xu Xiao menemui Xiao Lang yang berbaring di kamar tamu. Xu Xiao dapat melihat wajah gelisah yang ditampilkan pemuda yang diselamatkannya merasa semakin penasaran.


Xiao Lang menyadari kehadiran Xu Xiao di ruangannya, berusaha duduk untuk memberi hormat kepada penyelamatnya. Sebelum Xiao Lang bisa duduk, Xu Xiao memaksa Xiao Lang agar tidak banyak bergerak. Xiao Lang mengangguk dan mengucapkan terima kasih kepada Xu Xiao karena telah menolongnya.


"Jika Mei'er tidak melihatmu, mungkin kau sudah menjadi patung es di dalam kubangan," jawab Xu Xiao asal. Xu Xiao membetulkan selimut yang menutupi tubuh Xiao Lang, "Xiao Lang, apa hubunganmu dengan Gubernur Qin?"


Xu Xiao menatap Xiao Lang saksama, kembali mengajukan pertanyaan yang sama kepada Xiao Lang. "Apa hubunganmu dengan Gubernur Qin? Saat mendengar berita kematian gubernur Qin kau langsung panik."


Xiao Lang menundukan wajahnya, raut kesedihan terlihat jelas di wajah Xiao Lang. Xu Xiao melihat jika Xiao Lang seperti terpukul memilih diam tak mendesaknya untuk memberi jawaban.


"Aku tidak akan memaksa untuk menjawab pertanyaan tadi. Jika kau ingin pergi, setidaknya butuh sepuluh hari untuk menyambung tulang tangan yang patah," ucap Xu Xiao.


Xiao Lang mengangguk, "Terima kasih, Tuan Xu. Sepertinya saya merepotkan Anda untuk beberapa waktu ke depan."


Xu Xiao tersenyum dan mengangguk pelan.

__ADS_1


***


Seekor kuda dengan dua penumpang membelah jalanan bersalju dengan kecepatan tinggi. Mereka adalah Di Min Jie yang sedang membawa Wang Tian Sin ke kota Qian karena Wang Tian Sin membutuhkan tabin dan perawatan.


Wang Tian Sin jatuh pingsan setelah mengeluh sakit di dadanya membuat Di Ming Jie panik dan membawa Wang Tian Sin ke kota Qian. Tiga orang prajurit berkuda menyusul Di Min Jie untuk mengawal sementara sisanya tetap di tenda dan menjaga peti mati Long Tian.


Saat malam mulai larut, Di Min Jie berhasil sampai di kota Qian dan membawa Wang Tian Sin ke tempat tabib Yan untuk mendapat perawatan. Di Min Jie menggunakan identitas Wang Tian Sin sebagai anak angkat Qin Huang untuk mempermudah akses.


Tabib Yan memimpin sehuah biro pengobatan yang bernama Quanyu, salah satu biro pengobatan yang memiliki cabang di seluruh kekaisaran Yin dan beberapa di kekaisaran Song. Tabin Yan tidak pernah menetap di satu tempat xalam waktu lama dan terus berpindah ke seluruh balai pengobatannya.


Seorang tabin muda membawa Wang Tian Sin ke sebuah ruangan, kemudian meminta Di Min Jie untuk keluar dari ruangan tersebut. Di Min Jie menurut dan keluar, menunggu di teras ruangan dengan wajah cemas.


Di Min Jie beberapa kali mencoba untuk mengintip, tetapi selalu diurungkan. "Tabib meminta untuk menunggu di luar. Sebagai seorang lelaki aku harus mematuhinya karena sudah mengiyakan."


Saat Di Min Jie berjalan mondar-mandir di teras ruangan, seorang lelaki tua menggunakan jubah berwarna coklat tua menghampirinya. Kulit lelaki tua itu kuning langsat, rambut, alis serta jenggotnya putih seutuhnya. Dengan ramah lelaki tua itu menepuk pundak Di Min Jie dan bertanya. "Ada apa, anak muda?"


Di Min Jie terkejut saat seseorang menepuk bahunya. Pemuda itu segera menoleh dan mendapati seorang pria yang dikenalnya walau sebelumnya baru bertemu satu kali. Di Min Jie membungkuk dengan dua tangan saling tertaut. "Salam, Tabib Yan."


"Kau perwira muda pengawal Qin Guan?" tanya Tabib Yan.


Di Min Jie tersenyum lembut dan mengangguk. Tabib Yan melongok ke dalam ruangan, tetapi pemuda yang ada di pikirannya tidak ada di dalam ruangan.


Di Min Jie menyadari jika Tabib Yan sedang mencari Qin Guan, langsung mengatakan yang sebenarnya. "Tabib Yan, Tuan Muda Qin baik-baik saja. Yang di dalam adalah adik angkatnya, Tuan Muda Wang Tian Sin."


"Dia adik yang pernah diceritakan oleh Tuan Muda Qin?" tanya Tabib Yan. Di Min Jie mengangguk.


Tabib Yan masuk ke dalam ruangan dan turun tangan memeriksa Wang Tian Sin. Di Min Jie yang penasaran menerobos masuk, mengingkari kalimat yang diucapkannya sendiri beberapa saat lalu.

__ADS_1


Wajah Tabib Yan memucat saat memeriksa nadi Wang Tian Sin membuat Di Min Jie cemas. "Bagaimana kondisinya, Tabib Yan?"


Tabib Yan menghela napas panjang, menggelengkan kepalanya perlahan membuat Di Min Jie semakin panik. "Tidak bagus."


__ADS_2