Tombak Langit Dan Naga Bumi

Tombak Langit Dan Naga Bumi
Pedang Kembar Chen


__ADS_3

Angin dingin berembus menerpa wajah Wang Tian Sin yang sedang melongok keluar jendela penginapan. Kota Qian yang beberapa jam lalu begitu ramai, kini seolah ditinggal kehidupan, sepi dengan temaram lentera yang tergantung di depan rumah.


Wang Tian Sin menutup jendela dan berbalik menuju sebuah meja kecil. Diambilnya selembar kertas dari dalam laci, tak lupa dengan batu tinta, bak tinta dan kuas. Sebuah lentera dinyalakan, kemudian ditaruh di tepian meja sebagai penerang tambahan saat menulis nanti.


Wang Tian Sin menggelar kertas tersebut dan mulai menorehkan karakter demi karakter di atas kertas. Tulisan tangan Wang Tian Sin terlihat begitu tegas di setiap sapuan, membuat tulisan tangannya begitu berkarakter dan mudah diingat oleh orang yang melihatnya.


Setelah memenuhi satu lembar kertas tersebut, Wang Tian Sin memasukannya ke dalam amplop dan menyegelnya. "Surat untuk Kakak Qin Guan." Begitulah tulisan yang ditorehkan oleh Wang Tian Sin di bagian luar amplop. Pemuda itu keluar dari kamarnya dan memerintahkan seorang pelayan untuk mengirim surat tersebut ke kota Qin.


Setelah diberi upah beberapa tael perak, pelayan tersebut bergegas pergi menuju jasa pengiriman surat terdekat. Wang Tian Sin kembali menuju ke kamarnya dan beristirahat.


Saat Wang Tian Sin mengantarkan Xuanyuan Wentian ke penginapan, ia bertanya kepada pelayan apakah masih ada kamar kosong atau telah penuh seluruhnya. Nasib baik sedang memihak Wang Tian Sin karena pemuda itu mendapat sebuah kamar walau tak terlalu mewah, tetapi itu sudah cukup untuk dirinya berisitirahat.


Awalnya pemuda itu ingin kembali ke Biro Pengobatan Quanyu, tetapi setelah dipikir kembali, sepertinya istirahat di penginapan lebih nyaman dan juga tidak terganggu oleh aroma herbal.


Pikiran Wang Tian Sin terus berkelana, pemuda itu memiringkan tubuhnya ke kanan, terasa tak nyaman, pemuda itu kembali bergerak dan memiringkan tubuhnya ke kiri, dan setelah itu, tak ada pergerakan lagi karena Wang Tian Sin terjebak di alam mimpi.


Ketika pagi menjelang dan matahari menelisik dari balik bilik, Wang Tian Sin menyadari jika hari sudah beranjak siang. Sepertinya dia terlalu banyak minum arak sehingga tidur begitu pulas.

__ADS_1


Setelah membasuh wajah dengan air hangat, Wang Tian Sin keluar dari penginapan dengan tombak langit yang sudah ia bungkus dengan kain hitam. Xuanyuan Wentian dan Xuanyuan Qixuan sudah meninggalkan Qian terlebih dahulu menuju kota Qin, mereka meninggalkan surat untuk Wang Tian Sin melalui pelayan. Wang Tian Sin tidak mempermasalahkan hal tersebut dan berkuda menuju ke utara untuk menghadang rombongan yang membawa tubuh gurunya agar nanti bisa sampai di Gunung Long Hong bersamaan.


Wang Tian Sin tidak banyak berhenti saat siang hari sehingga saat senja mulai datang, dirinya sudah sampai di kota kecil perbatasan antara Kota Chang dan kota Yundong, Kota tersebut bernama kota Lusai.


Wang Tian Sin kembali mencari penginapan untuk berisitirahat dan mencari makanan. Sehari penuh perutnya belum di isi dan dirinya ingin memakan sesuatu yang hangat. Untung saja Wang Tian Sin menemukan sebuah kedai saat memasuki kota Lusai, sehingga tak perlu pusing mencari makanan lagi.


"Tuan, berikan aku oseng daging paprika, Terong goreng dan juga daging kecap. Aku mau seguci arak juga." Begitu memasuki kedai, Wang Tian Sin memesan banyak makanan untuk disantap karena dirinya sangat kelaparan. Si pelayan yang mendengar pesanan Wang Tian Sin dengan senyum lebar di bibirnya langsung mengangguk mantap dan pergi menyiapkan pesanan.


Wang Tian Sin mengedarkan pandangannya, menatap satu persatu orang yang ada di dalam kedai. Sepertinya mayoritas penduduk kota Lusai adalah manusia biasa, bukan pendekar seperti dirinya karena selain dia, tak ada satu pun pengunjung yang membawa senjata.


Beberapa lama menunggu, satu persatu makanan mulai dikeluarkan. Tanpa menunggu semua makanannya lengkap, Wang Tian Sin mengambil sumpit dan menyantap hidangan di depannya dengan lahap. Tampilannya memang biasa saja, tetapi setiap makanan yang terhidang memiliki citarasa yang sangat enak.


Orang-orang di dalam ruangan masih belum panik, mungkin mereka belum menyadari jika di luar sana sedang ada yang bertarung hebat.


"Aih ... kenapa mereka datang saat aku sedang makan? Kenapa tidak saat aku tidur saja," gerutu Wang Tian Sin. Pemuda itu memandang jauh ke luar melalui kendela. Matahari yang sudah benar-benar tenggelam membuatnya kesulitan untuk dapat memastikan siapa yang sedang bertarung, apakah dia mengenalnya atau tidak.


Sesuai dengan dugaan Wang Tian Sin, dua orang pria yang awalnya bertarung jauh dari kedai, kini sudah berada di halaman kedai dan masih saling kejar. Orang-orang yang panik berhamburan keluar karena kejadian seperti ini sangat jarang terjadi.

__ADS_1


"A-apa yang terjadi?" ucap Si Pelayan tergagap saat menyadari orang-orang yang tadi sedang makan kini berhamburan entah ke mana dan tersisa seorang pemuda yang datang paling akhir. Pemuda itu masih asik makan walau matanya sesekali melirik ke arah pertarungan.


Brak!


Tembok kedai yang terbuat dari kayu jebol ketika seorang petarung terpental dan menabrak kedai. Tiga orang oelayan di kedai tersebut ketakutan dan bersembunyi di dapur.


Wang Tian Sin melihat ada dua pemuda yang adu keahlian di depannya terpancing emosi. "Kalian dua pemuda tidak berguna dan suka mengacau!"


Wang Tian Sin menghentakan tangan kanannya hingga sepasang sumpit yang sedang ia pegang patah menjadi beberapa bagian.


Perarung yang mendengar jika Wang Tian Sin mengatakan dirinya sebagai pemuda tidak berguna merasa murka. Pemuda itu berdiri dan berlari menuju Wang Tian Sin yang masih diam di tempatnya.


"Kau tidak tahu siapa pedang kembar Chen!" teriak pemuda itu saat menyerang Wang Tian Sin.


Wang Tian Sin menyeringai, dengan dingin oemuda itu membalas, "Aku tidak peduli pedang kembar, pedang tunggal, pedang prematur, bahkan pedang sungsang sekali pun, yang jelas KAU MENGGANGGU WAKTU MAKANKU!"


Wang Tian Sin melihat dirinya diserang masih diam dan membiarkan orang yang mengaku sebagai pedang kembar mwnyerangnya. Dia hanya memiringkan badannya ke kiri saat bahu kanannya ditebas.

__ADS_1


Melihat lawannya berhasil mengelak, satu orang yang mengaku oedang kembar tak berhenti dan menarik pedangnya, kemudian diayunkan ke arah kepala Wang Tian Sin. Wang Tian Sin mengelak dengan posisi tubuh kayang dan membiarkan pedang itu lewat di depan mukanya.


Pedang sudah ditarik, Wang Tian Sin duduk seperti posisi semula dan menendang kursi di depannya hingga menghantam tubuh pemuda yang melawannya.


__ADS_2