
Kota Xiang yang dipimpin oleh pendekar besar membuat beberapa pendekar yang sedang berkelana sering bersinggah di tempat ini. Para pedagang dari Yin maupun Song juga tak jarang terlihat di kota ini, membuat banyak penginapan tersedia di kota Xiang.
Setelah berjalan beberapa saat, Wang Tian Sin berpapasan dengan beberapa orang yang membawa pedang, sikap mereka tetapi tak seperti bandit gunung menandakan jika mereka adalah pendekar yang sedang berkelana, sama sepertinya. Para pendekar itu keluar dari sebuah bangunan dengan papan nama "Penginapan 1001 malam", Wang Tian Sin tertarik dengan tempat tersebut dan memutuskan untuk mendatanginya.
Ketika Wang Tian Sin melangkahkan kaki memasuki penginapan seorang gadis pelayan menyambutnya dan membungkuk hormat, dengan senyum hangat yang terukir di bibir, gadis itu berkata, "Tuan Muda, selamat datang di penginapan 1001 malam. Kami memiliki fasilitas kamar biasa hingga kamar termewah yang bisa Tuan Muda pilih."
"Berapa tarif yang termurah dan termahal?" tanya Wang Tian Sin.
"Untuk yang termurah Anda bisa mendapatkannya dengan 20 koin perak permalam, sedangkan yang termahal adalah 3 tael perak permalam," jelas gadis itu ramah.
Wang Tian Sin mengangguk dan meminta kamar kelas menengah yang memiliki tarif 1 tael perak permalam. Gadis itu mengangguk dan menunjuk seorang pria untuk mengantar Wang Tian Sin ke kamar yang dipesannya. Pria tersebut menjelaskan apa saja fasilitas yang didapat oleh Wang Tian Sin mulai dari kamar, ruang belajar yang kedap suara, makan malam dan sarapan, juga pemandian air panas. Wang Tian Sin merasa puas dengan penjelasan pria tersebut, melemparkan satu tael perak sebagai bonus.
"Siapa namamu?" tanya Wang Tian Sin.
Pria yang masih kegirangan itu tersadar dan segera membungkuk hormat, "Hamba Jiu Tang, Tuan Muda."
"Paman Jiu, terima kasih, aku akan memanggilmu jika memerlukan sesuatu. Kau boleh pergi," ucap Wang Tian Sin ramah. Jiu Tang mengangguk dan memberi hormat sebelum pergi meninggalkan Wang Tian Sin.
Saat pertama kali Wang Tian Sin memasuki kamar, hal pertama yang ia lihat adalah lukisan naga yang mengelilingi pedang, hatinya mencelos saat mengingat jika ini adalah simbol pedang naga bumi yang ia bawa. "Apa hubungan mereka dengan guru?"
__ADS_1
Wang Tian Sin mencoba mengingat tentang gurunya, siapa saja relasinya yang ia tahu, tetapi penginapan 1001 malam tidak ada dalam daftar yang ia ketahui. Saat Wang Tian Sin sedang duduk termenung sambil mengingat, terdengar langkah kaki mendekat yang membuat Wang Tian Sin bersiaga.
Tak lama berselang, Wang Tian Sin mendengar pintu kamarnya diketuk dari luar. Wang Tian Sin mengintip dari celah kecil dan mendapati Jiu Tang berdiri di depan kamarnya dengan nampan makanan di tangannya.
Wang Tian Sin membuka pintu dan memasang senyum hangat, menurunkan kewaspadaannya dan membiarkan Jiu Tang masuk.
Jiu Tang meletakan nampan di atas meja, "maaf Tuan Muda, anda datang saat jam makan malam, jadi saya datang mengantar makanan untuk anda,"
"Terima kasih, Paman Jiu. Aku ingin membersihkan diri terlebih dahulu," ucap Wang Tian Sin.
Sebelum Jiu Tang pergi, pria itu mengatakan jika letak pemandian air panas ada di bagian belakang penginapan. Tidak banyak orang yang bisa menikmati fasilitas tersebut sehingga Jiu Tang berani memastikan jika tempat itu saat ini sedang kosong.
Tentu saja Wang Tian Sin mengambil langkah ke kanan sesuai dengan jenis kelaminnya, sebelum Wang Tian Sin melangkah lebih jauh, seorang wanita dengan jubah putih pucat keluar dari lorong sebelah kiri. Pandangan wanita itu tak lepas dari Wang Tian Sin, tetapi Wang Tian Sin mengabaikannya karena merasa tidak pernah melihatnya.
Terus melangkah, Wang Tian Sin mendapati sebuah pintu, pemuda itu menggesernya dan dapat merasakan angin hangat menerpa wajahnya. Wang Tian Sin tak sabar untuk berendam di air panas, rasanya pasti sangat menyenangkan.
Sensasi hangat dan aroma wewangian yang menenangkan, membuat tubuh Wang Tian Sin terbuai dalam segala kenyamanan. Sebuah kenikmatan yang sangat jarang pemuda itu rasakan, hingga membuat matanya terpejam saking menikmatinya.
Wang Tian Sin melupakan satu dasar pendekar saat berkelana, yaitu siaga setiap saat bahkan di dalam tidurnya. Ketika tingkat kesiagaannya sedang dalam posisi terendah, sebuah senjata rahasia melesat ke arahnya. Desing dari senjata mematikan itu menyadarkan Wang Tian Sin hingga pemuda itu dapat menghindar dengan cepat.
__ADS_1
Meraih jubah hitam yang tergantung di dekatnya, Wang Tian Sin bergegas mengenakannya dan berlari keluar berniat mengejar orang yang berusaha melukainya.
Sembari berlari, Wang Tian Sin merapikan jubahnya. Ekor matanya menangkap sebuah siluet berwarna putih melesat dari arah kanan, Wang Tian Sin menoleh dan mendapati seorang wanita sedang melesat ke arahnya dengan sebuah pedang terhunus di tangannya.
"Sial!" Wang Tian Sin mengumpat seraya menghindari tusukan pedang gadis tersebut. Dengan langkah raja naga yang sudah dikuasainya Wang Tian Sin dengan mudah menghindari setiap tebasan yang dilakukan gadis itu.
Setiap serangan yang dilakukan si gadis mengandung hawa pembunuh yang kuat, matanya memerah seperti menahan marah, gerakannya lincah tetapi amarah yang menguasainya membuat gerakannya menjadi tak teratur dan bisa ditebak dengan mudah oleh Wang Tian Sin.
Beberapa kali menghindar, saat melihat lawannya mulai kelelahan, Wang Tian Sin maju dan menangkap pergelangan tangan kanan wanita tersebut, mencengkeramnya dengan erat hingga terdengar suara gemertak suara tulang patah. Pedang telah terjatuh, wanita tersebut tak lagi memiliki pertahanan apalagi kesempatan untuk menyerang. Wang Tian Sin memutar gadis yang sudah tak berdaya itu dan mengunci lehernya.
"Kau ingin membunuhku? Terlalu cepat dua puluh tahun, nona manis," desis Wang Tian Sin di samping telinga si wanita, membuat tubuh si wanita bergetar ketakutan. Rasa sakit di tangannya seolah tak terasa karena rasa takut yang Wang Tian Sin sebabkan.
Wang Tian Sin menotok beberapa titik di punggung wanita itu membuat si wanita tak sadarkan diri. Menyarungkan pedang yang tergeletak di lantai Wang Tian Sin memandang wajah gadis itu sejenak. Dengan dua lengan kekarnya, Wang Tian Sin segera menggendong si wanita dan membawanya ke kamar.
author Note:
Tadi saya ketiduran sampe jam 14.30, jadi tidak up saat sahur. Maaf Ya.
Rana Semitha
__ADS_1