
Semburat jingga mulai merayap di ujung barat, di balai pengobatan Quanyu kota Nan, Xin Yue telah sadar. Xin Dong duduk di samping putranya menatapnya cemas.
Saat melihat putranya membuka mata, Xin Dong segera menghampirinya, "Yue'er ... kau sudah bangun?"
"Ayah ...." Xin Yue masih terlihat lemah. Bahunya dibalut dengan kain putih, terlihat bercak darah di bagian yang terluka.
Wang Tian Sin memasuki ruangan dengan langkah lemas, menatap Xin Yue hangat. Saat melihat kedatangan Wang Tian Sin, Xin Yue berusaha bangun tetapi Xin Donh mencegahnya.
"Jangan banyak bergerak, lukamu belum pulih sepenuhnya," ucap Xin Dong seraya menahan tubuh Xin Yue agar tetap berbaring.
"Xin Yue ... jangan memaksakan diri."
Xin Yue mengangguk pelan dan kembali berbaring dengan tenang. Pemuda itu menatap Wang Tian Sin dengan tatapan penuh terima kasih, pandangannya kini beralih pada Xin Dong. "Ayah, jika tidak ada Tian Sin, ayah tidak bisa melihatku dalam kondisi bernyawa,"
"Ayah tahu," jawab Xin Dong singkat.
Xin Yue menghela napas lega. Ia begitu khawatir ayahnya sudah menghajar penyelamatnya hingga mati. Melihat Wang Tian Sin baik-baik saja, Xin Yue merasa sedikit tenang. "Aku takut ayah akan menghajar Tian Sin."
__ADS_1
Xin Dong tersedak napasnya sendiri ketika mendengar penuturan putranya. Jika Xin Yue tahu Dia telah menghajar Wang Tian Sin, sudah dapat dipastikan jika Xin Yue akan marah padanya.
Wang Tian Sin meringis mendengar perkataan Xin Yue. Namun, dia tak ingin membuat tegangan hubungan antara ayah dan anak tersebut.
"Xin Yue ... karena kau sudah sadar, aku berniat untuk mencari penginapan di Kota Nan. Setelah kau sembuh, kau bisa mencariku di penginapan terdekat." Setelah mengatakannya, Wang Tian Sin membalikan badan, hendak pergi meninggalkan ruangan.
"Tunggu!" Xin Dong bangkit sebelum berjalan mendekati Wang Tian Sin. "Kau bisa menginap di istana pedang. Anggap saja ucapan terima kasih karena menolong Xin Yue."
Xin Dong mendekatkan dirinya dan berbisik pada Wang Tian Sin, "dan juga permintaan maafku."
"Apa tidak masalah?" tanya Wang Tian Sin ragu.
Akhirnya dua pemuda itu meninggalkan balai pengobatan Quanyu menuju istana pedang.
Di pinggir kota Nan, terdapat sebuah bukit yang menjadi tempat berdirinya oartai perguruan istana pedang. Di kaki bukit terdapat sebuah gapura dengan atap melengkung seperti badan pedang, dan tertulis karakter "Istana Pedang".
Di dekat gapura tersebut, terdapat sebuah pos kecil yang dijaga oleh dua orang murid istana pedang yang akan berganti selama delapan jam sekali.
__ADS_1
Melihat padatnya pepohonan di samping kiri kanan jalan menuju istana Pedang, Wang Tian Sin terpana. Vegetasi di tempat ini benar-benar di jaga oleh para anggota istana pedang.
Ketika tiba di puncak bukit, Wang Tian Sin melihat banyak bangunan sederhana seperti pemukiman pada umumnya.
Ada sebuah bangunan yang terlihat paling besar di antara bangunan-bangunan lain, itu adalah tempat pertemuan perguruan. Di sekeliling ruang pertemuan, terdapat beberapa ruangan penting seperti ruangan ketua perguruan dan para tetua.
Memasuki tempat ini lebih jauh, Wang Tian Sin bisa melihat beberapa lapangan yang bisa digunakan untuk berlatih, serta tumpukan pedang kayu yang menggunung di bagian pojok lapangan.
Wang Tian Sin diantarkan ke sebuah kediaman sederhana oleh pemuda yang bernama Lu Yuan.
"Terima kasih."
Wang Tian Sin memasuki kediaman yang benar-benar sederhana. Sebuah kediaman dengan dua kamar dan satu matras kecil untuk tidur. Karena malam sudah cukup larut, Wang Tian Sin menyalakan lentera sebagai penerangan.
"Huh ... untung saja benda ini tak begitu hancur."
Author Note:
__ADS_1
Bab ini sangat pendek karena waktu yang begitu mepet. Maaf Ya. Saya hari ini ada acara keluarga. Semoga senior semua dapat memahami.