
Angin lembut menyapu wajah, mengusik segala ketenangan yang Wang Tian Sin rasakan. Membuka mata perlahan, terasa sebuah tangan mengapit perutnya dari arah samping. Mengalihkan pandangan ke bawah, sebuah jubah putih pucat yang membalut tangan secerah giok menempel di perutnya. Wang Tian Sin tersenyum tipis saat mendapati Ji Hua tidur di sampingnya, menjadikan tangan kanannya sebagai bantal.
Sebuah ide jahil terlintas dalam pikiran Wang Tian Sin. Pria itu menahan tawanya, "argh!"
Wang Tian Sin mengerang sembari mencoba menarik tangan kanannya. Ji Hua tersentak dan melebarkan matanya saat mendengar erangan Wang Tian Sin. Tubuhnya terguncang saat tangan yang ia jadikan bantal ditarik dengan paksa.
"Tian Sin!" teriak Ji Hua panik. Gadis itu menarik tangan kanan Wang Tian Sin, menggulung lengan jubahnya dan memeriksanya, takut ada luka yang terlewat dari pandangannya.
Wang Tian Sin melihat wajah menggemaskan Ji Hua yang sedang khawatir, tak dapat menahan tawanya.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di dada Wang Tian Sin.
"Rasakan!"
Ji Hua yang kesal setengah mati turun dari ranjang dan merapikan penampilannya. Wang Tian Sin masih belum bisa menghentikan tawanya saat melihat kekesalan gadis itu.
"Uhuk!" Wang Tian Sin terbatuk dan mulai merasakan tenggorokannya tidak enak. Pemuda itu baru ingat jika semalam dia sempat menghirup sedikit bubuk racun tetapi belum sempat meminum penawar atau membersihkannya dengan tenaga dalam.
"Rasakan!"
Batuk Wang Tian Sin tak kunjung reda hingga bercak darah keluar dari mulutnya. Ji Hua yang masih kesal pada Wang Tian Sin melemparkan sebuah botol kecil. "Minum itu, seharusnya tak ada masalah."
Tanpa memastikannya terlebih dahulu, Wang Tian Sin segera meneguk cairan dalam botol tersebut. Rasa hangat mulai menjalar dari mulut hingga perut begitu cairan tersebut mengalir.
"Terima kasih," ucap Wang Tian Sin.
"Tidak masalah. Itu hanya penawar tingkat rendah."
Wang Tian Sin merasa heran, kenapa Ji Hua memberikan ramuan itu saat sadar, bukan saat Wang Tian Sin sedang pingsan. Namun, apa pun alasannya, Wang Tian Sin tetap berterima kasih.
Ji Hua sepertinya sudah berhenti kesal, gadis itu meraih handuk hangat dan memberikannya pada Wang Tian Sin. Wang Tian Sin menerimanya dan tersenyum tipis.
"Bagaimana kondisi Tuan Zhen?" tanya Wang Tian Sin sembari menyeka wajahnya dengan handuk hangat.
"Dia hanya perlu istirahat. Mungkin satu atau dua bulan sebelum dia sembuh," jawab Ji Hua. Gadis itu mengambil handuk hangat yang sudah selesai dari tangan Wang Tian Sin. "Aku harus segera pulang. Paman akan mencariku jika terlalu lama pergi."
Wang Tian Sin menarik tangan Ji Hua, membawa gadis itu dalam pangkuannya hingga wajah mereka berdua hampir menempel. Keduanya bisa merasakan hembusan napas satu sama lain, membuat jantung masing-masing dari mereka berdebar lebih cepat.
"Apa kita bisa bertemu lagi?" lirih Wang Tian Sin.
__ADS_1
Ji Hua mengangguk pelan, "tentu saja. Walau kami organisasi pembunuh, kami tidak menolak tamu yang tak berniat jahat. Datanglah ke markas tangan setan jika kau merindukanku ... Tian Sin gege."
Wang Tian Sin mengangguk pelan, kedua tangannya meraih tangan kanan Ji Hua dan menggenggamnya erat, seperti enggan berpisah dengan gadis itu.
"Kapan kau pergi?" tanya Wang Tian Sin berat.
Sebelum menjawab pertanyaan Wang Tian Sin, Ji Hua menghela napas panjang, seolah gadis itu merasakan apa yang sedang Wang Tian Sin rasakan. "Aku akan pergi sekarang juga. Sebelum ada anggota Tangan Setan yang memasuki kota, aku harus segera pergi."
"Kalau begitu biar aku mengantarmu hingga luar kota," ucap Wang Tian Sin. Ji Hua menggeleng pelan, menolak tawaran Wang Tian Sin karena itu akan membahayakan nyawa pemuda itu.
"Kenapa?" tanya Wang Tian Sin meminta kejelasan.
"Aku takut mereka akan mencelakaimu," ucap Ji Hua.
Wang Tian Sin berdecak kesal sebelum memasang ekspresi cemberut di wajahnya, "kau meragukanku? Apa mereka lebih kuat dari ayah atau pamanmu? Sekuat itu mereka?"
"Bukan begitu."
"Lalu? Jika mereka tak sekuat ayah atau pamanmu, maka aku bisa melindungi diri jika diperlukan."
"Baiklah, aku tak bisa menolak walau mau." Ji Hua pasrah dan menerima tawaran Wang Tian Sin.
Wang Tian Sin mengambil pedang yang selama ini ia sembunyikan di ruang belajar, sementara Ji Hua juga membawa pedang dan menggantungnya di pinggang.
"Aku akan ke sana nanti, Paman Jiu. Satu lagi ... nanti malam aku akan makan di luar, jangan mengantar makan malam," ucap Wang Tian Sin.
Jiu Tang mengangguk paham lalu mempersilakan Wang Tian Sin untuk melanjutkan perjalanan.
***
Bunga persik merah bermekaran di jalan menuju gerbang selatan kota Xiang. Beberapa kelopak bunga nan indah itu menari-nari di udara, terlepas dari sang mahkota karena angin yang menerpa.
Ji Hua berhenti di bawah pohon persik, menikmati keindahan fana itu beberapa saat, sebelum menoleh dan mendapati Wang Tian Sin sedang mengambil beberapa kelopak persik merah yang jatuh ke rambutnya.
Dengan lembut Wang Tian Sin membuka telapak tangannya, memperlihatkan kelopak halus dari persik merah yang terlepas.
Ji Hua tersenyum dan mengambil satu kelopak bunga dari tangan Wang Tian Sin, menggenggamnya dengan mata terpejam dan senyum manis di bibirnya, seakan menggenggam sesuatu yang begitu berarti baginya. Beberapa saat berlalu, kembali membuka telapak tangannya yang menggenggam kelopak bunga, dengan lembut Ji Hua meniupnya hingga kelopak bunga itu kembali terbang.
"Sangat indah," ucap Ji Hua manis. Wang Tian Sin mengangguk pelan.
Ji Hua memandang Wang Tian Sin dengan pandangan sayu, lalu mengalihkan pandangannya ke gerbang kota, "saatnya aku pergi, Tian Sin."
__ADS_1
"Ji Hua ..." ucap Wang Tian Sin pelan, "Hati-hati," lanjutnya.
Ji Hua mengangguk dan berbalik, meninggalkan Wang Tian Sin yang menatapnya sedih.
Begitu Ji Hua keluar dari kota Xiang, Wang Tian Sin berbalik dan menggunakan langkah raja naga menuju kediaman Zhen Ping. Tak butuh waktu lama untuk Wang Tian Sin sampai di kediaman Zhen Ping. Dua orang penjaga kediaman mencegat Wang Tian Sin dan meminta kartu kunjungan.
"Aku belum menulis permohonan kunjungan, tetapi Tuan Zhen yang mengundangku. Katakan saja, Tian Sin datang memenuhi undangan Tuan Zhen," ucap Wang Tian Sin penuh percaya diri.
Dua penjaga segera mempersilakan Wang Tian Sin masuk setelah mengetahui identitasnya. Sepertinya Zhen Ping sudah mengabarkan kedatangannya pada para penjaga.
Sebuah kediaman yang luas, begitu masuk akan disuguhi dengan taman bunga persik yang sedang bermekaran. Seorang pelayan membawa Wang Tian Sin menuju griya dalam, tempat Zhen Ping berada.
Zhen Ping yang sedang duduk di ruang utama segera berdiri dan menyambut tamu istimewanya. Wajahnya masih sedikit pucat, napasnya juga sedikit lemah akibat racun yang melukai paru-paru.
"Tian Sin menyapa Tuan Zhen," ucap Wang Tian Sin seraya membungkuk dengan dua tangan menakup.
Zhen Ping memegang kedua lengan Wang Tian Sin, meminta pemuda itu segera berdiri, "jangan banyak adat jika hanya berdua."
"Tuan Zhen, Anda masih begitu lemah, kenapa tidak menggunakan waktu untuk memulihkan diri malah mengundang saya kemari?" tanya Wang Tian Sin.
"Aku baik-baik saja, Tuan Tian."
Wang Tian Sin merasa aneh ketika Zhen Ping memanggilnya Tuan. Jika orang-orang biasanya memanggil Wang Tian Sin dengan sebutan Tuan Muda dia tidak protes, maka dia tak bisa diam saja ketika Zhen Ping memanggilnya Tuan.
"Tuan Zhen, anda cukup memanggilku Tian Sin, bagaimana pun juga, Anda adalah senior. Pertarungan semalam hanyalah kebetulan dan keberuntungan."
"Baiklah ... Tian Sin. Aku memanggilmu ke sini untuk membahas seseorang."
"Seseorang?"
Zhen Ping mengangguk, "pernah mendengar Bulan air dan gagak emas?"
"Maksud Anda bulan air dan gagak emas Xin Dong?"
Zhen Ping kembali mengangguk, saat Zhen Ping membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu, terdengar suara keras dari griya luar.
"Zhen Ping! Keluar kau sekarang juga!"
Wajah Zhen Ping semakin pucat ketika mendengar teriakan tersebut, seolah malaikat maut sudah di depan mata.
author Note:
__ADS_1
Sebelum badai menerjang, ada saat tenang.
Rana Semitha