Tombak Langit Dan Naga Bumi

Tombak Langit Dan Naga Bumi
Saling Melengkapi


__ADS_3

Seperti biasa, gerbang kota Qin di jaga oleh setidaknya dua lusin penjaga bersenjata lengkap. Mereka akan memeriksa setiap orang yang masuk ke kota Qin dan meminta tanda pengenal bagi mereka yang bukan penduduk asli Qin.


Malam itu, antrian pendatang kota Qin tak sepadat biasanya. Mungkin itu disebabkan oleh badai es beberapa hari belakangan ini.


Seorang pria tua dengan mantel bulu domba mendatangi seorang penjaga dengan tergesa. Wajahnya menunjukkan kepanikan dan di tangannya terdapat sebuah lencana yang pasti dikenali oleh sebagian penduduk kota Qin dan seluruh prajurit Kota Qin.


"Penjaga, namaku Huang Lei, aku butuh pertolonganmu," ucap Pria tua itu kepada seorang penjaga.


"Ada apa? Jika tidak penting sebaiknya menyingkir." Penjaga itu menatap sinis pria tua karena dianggap mengganggunya.


Pria tua itu menyerahkan sebuah lencana kepada penjaga itu, membuat si penjaga langsung melebarkan matanya. "Darimana kau mendapat benda ini?"


Huang Lei menunjuk ke sebuah hutan yang tidak jauh dari gerbang kota Qin. "Seorang pemuda tak sadarkan diri di dalam hutan. Aku beberapa kali melihatnya di kota Qin, tetapi aku tidak mengenalinya."


Prajurit itu mendatangi beberapa temannya yang berada di atas tembok kota dan menyerahkan lencana itu. "Seorang pria mengantar lencana ini dan mengatakan ada pria tak sadarkan diri di hutan. Kita harus pergi memeriksanya."


Beberapa orang prajurit itu terkejut melihat lencana milik Qin Guan. Mereka meminta izin kepada Ho Nai Wong untuk memeriksa keadaan. Setelah Ho Nai Wong sudah memeberikan izin, mereka turun dan meminta Lao Huang (orang tua Huang) sebagai penunjuk jalan.


Akhirnya lima orang prajurit Qin pergi meninggalkan kota bersama seorang pria tua dan memasuki hutan.


Benar saja. Tak lama setelah mereka berjalan, terlihat seorang pria berpakaian putih tergeletak di pinggir jalan dengan kondisi tak sadarkan diri.


Para prajurit itu segera mendatangi pria itu dan langsung bisa mengenali sosoknya dalam sekali lihat. "Ini Tuan Muda Qin!"


"Kita harus segera membawanya pulang." Para prajurit penjaga itu mengangguk dan salah satu penjaga itu mengajukan diri untuk menggendong Qin Guan. Di antara lima orang itu, dia yang memiliki postur paling besar walau masih jauh dari Qin Guan.


Setelah Qin Guan dalam gendongan, prajurit itu berlari sekuat tenaga menuju gerbang kota. Postur Qin Guan yang jauh lebih tinggi dari prajurit itu, membuatnya kesulitan melangkah.


"Bertahanlah, Tuan," lirih Gao Wei, prajurit yang menggendong Qin Guan.


Empat prajurit penjaga ikut berlari di belakang Gao Wei, berjaga jika sewaktu-waktu Qin Guan terjatuh.

__ADS_1


Beberapa saat setelah mereka berlari, gerbang kota sudah terlihat. Beberapa prajurit menyambut mereka dengan rasa penasaran yang diakhiri dengan keterkejutan.


Walau mereka sudah tahu jika lencana yang Huang Lei bawa adalah milik Qin Guan, tetapi mereka tidak pernah menyangka jika Qin Guan akan pulang dengan digendong oleh kawan mereka.


Ho Nai Wong, perwira yang sedang memimpin penjagaan segera menggunakan kuda untuk membawa Qin Guan pulang ke kediamannya. Beberapa prajurit ikut mengawal dari belakang.


Ho Nai Wong yang merasakan tubuh Qin Guan begitu dingin, mengira jika pimpinannya itu sudah tak bernyawa. Tetapi, saat Ho Nai Wong memeriksa jika napas Qin Guan masih berdesah membuatnya merasa lega.


Prajurit penjaga kediaman Qin Guan terkejut saat melihat Ho Nai Wong datang membawa Qin Guan yang pingsan.


"Buka gerbangnya!" teriak seorang penjaga. Dua pintu yang terlihat kokoh itu dibuka dari dalam. Kuda yang membawa Qin Guan dan Ho Nai Wong berjalan cepat dan berhenti di halaman kediaman.


Seorang penjaga mendatangi tabib Yao dan mengatakan jika Qin Guan pulang dalam kondisi tak sadarkan diri. Pria tua itu bergegas mendatangi ruangan Qin Guan.


"Pindahkan Tuan Muda Qin ke ruangan lain!" ucap Tabib Yao.


Pengawal pribadi Qin Guan mengangguk dan memindahkan tubuh Qin Guan ke ruangan lain. Tabib Yao mengarahkan orang-orang itu ke tempat Wang Tiang Sin dirawat.


Long Tian sedang duduk di samping Wang Tian Sin ketika seorang penjaga masuk dan memberi kabar jika Qin Guan sudah kembali. Long Tian tersenyum karena harapan Wang Tian Sin untuk hidup kembali terbuka.


Beberapa saat kemudian, beberapa orang prajurit masuk dengan membawa Qin Guan yang tidak sadarkan diri.


Long Tian mendekati Tabib Yao yang terlihat begitu cemas.


"Aku selalu berharap agar bukan Tuan Muda Qin yang berkorban," ucap Tabib Yao lesu.


Long Tian tersenyum dan mnenepuk pundak tabib Yao."Roda kehidupan selalu berjalan. Keseimbangan alam harus tetap terjaga. Terlalu berharap hal manis, maka hanya kepahitan yang kita dapat."


Tabib Yao menggeleng tipis. "Perkataan Anda benar tetapi tidak sepenuhnya benar, Tuan Long."


Tabib Yao meninggalkan Long Tian dan mendekati Qin Guan. Beberapa prajurit yang tadi membawa Qin Guan sudah kembali ke pos masing-masing.

__ADS_1


Qin Guan dan Wang Tian Sin berbaring dalam satu ranjang. Tabib Yao melihat tangan kiri Qin Guan berwarna biru dan kaku, menyimpulkan jika bagian itu adalah tempat gigitan kelabang es.


Tabib Yao melepas mantel yang melapisi tubuh Qin Guan dan membuka baju pemuda itu. Ternyata racun kelabang es sudah menyebar hampir ke seluruh tubuh Qin Guan. "Sepertinya perhitungan Anda salah, Tuan Long. Racun ini sudah menyebar terlalu luas."


Long Tian yang menyadari hal itu mengangguk. "Sepertinya telah terjadi hal buruk pada Xiao Lang. Aku yakin jika Xiao Lang baik-baik saja, dia akan membawa Qin Guan kemari dalam satu hari perjalanan."


Kali ini tabib Yao yang mengangguk.


Tabib Yao memberikan ramuan hati panda kepada Wang tian Sin agar racun dari tapak lima racun di tubuh Wang Tian Sin dapat dinetralkan.


Setelah ramuan hati panda masuk ke tubuh Wang tian Sin, garis-garis hijau di wajah Wang Tian Sin berangsur hilang, meninggalkan bercak hitam dari racun kelabang malam.


Sebuah bak berukuran besar dibawa masuk ke ruangan itu dan diisi dengan air panas. Berbagai macam rempah dimasukkan. Setelah air di bak itu berubah warna menjadi merah kecoklatan, Wang Tian Sin dan Qin Guan dimasukkan dalam bak itu.


Long Tian menyalurkan tenaga dalam kepada Wang Tian Sin, sementara Tabib yao menyalurkan tenaga dalam kepada Qin Guan.


Setelah beberapa saat, Warna air rendaman berubah kehitaman. Beberapa tabib yang bertugas membantu tabib Yao memasukkan beberapa macam ramuan herbal. Air itu kembali berubah menjadi merah kecoklatan.


Bulir keringat mulai terlihat di dahi Tabib Yao. Pria tua itu mulai kelelahan karena menyalurkan tenaga dalam dengan jumlah besar kepada Qin Guan.


Saat proses itu masih berlangsung, pintu ruangan terbuka. Seorang pria yang memakai jubah berwarna coklat tua datang dengan wajah gelisah.


Di pipi pria itu, terdapat garis bekas luka yang menonjol keluar. Tubuhnya yang tegap di usia yang tak muda lagi menandakan jika pria itu bukan orang biasa. Orang itu adalah Qin Huang, ayah Qin Guan.


"Apa yang terjadi pada Guan'er?" tanya pria itu. Tabib Yao tetap diam dan fokus menyalurkan tenaga dalamnya kepada Qin Guan.


Ho Nai Wong mendekati Qin Huang, memintanya agar tenang dan tidak mengganggu Tabib Yao. "Tuan, Tabib Yao sedang memberikan yang terbaik. Saya mohon Anda tenang agar Tabib Yao fokus mengerjakan tugasnya."


Qin Huang mendengkus tetapi pria itu tetap menuruti perkataan Ho Nai Wong dan duduk di sudut ruangan sembari memperhatikan putranya yang tak sadarkan diri.


"Jika sesuatu yang buruk terjadi kepada Guan'er, aku tidak akan tinggal diam."

__ADS_1


Kalau ada typo bisa tandai di paragraf atau kolom komentar, nanti saya perbaiki. Saya masih Flu, maaf kalau isi babnya pendek.


__ADS_2