Tombak Langit Dan Naga Bumi

Tombak Langit Dan Naga Bumi
Permintaan Tak Sulit


__ADS_3

Musim semi sedang berada dalam puncaknya, membuat angin yang bertiup terasa hangat. Di dalam pondoknya, Wang Tian Sin mengingat kembali perkataan Xin Dong tentang pedang naga langit.


Jika pedang naga bumi lebih cocok digunakan oleh laki-laki, maka pedang naga langit sangat cocok digunakan oleh perempuan. Bentuknya yang indah dan mewah, bilah pedang yang ramping dan ringan membuatnya cocok untuk teknik pedang yang bertumpu pada kecepatan dan kelenturan.


"Apa aku berikan saja pedang ini pada guru? Tapi ... pedang yang selama ini guru bawa tak terlihat lebih buruk dari segi kualitas, apalagi pedang itu telah menemaninya selama bertahun-tahun melewati banyak pertempuran hidup dan mati, pasti guru tidak akan mau." Wang Tian Sin terus memutar otaknya untuk mencari tuan pedang yang dirasa pas.


"Guru mengatakan jika pedang naga langit dan naga bumi jika disatukan akan memberikan efek serangan yang dahsyat, tetapi jika aku mendalami ilmu pedang ganda, bagaimana dengan tombak?"


Saat pusing memikirkannya, terbersit sebuah ide gila yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya.


"Kakak pertama jenius dalam medan perang, tombak ini menemani keturunan Wang di medan perang selama beberapa generasi, lebih baik aku menyerahkan tombak langit saat kami bertemu. Mungkin, senjata itu akan berguna di tanannya."


Satu masalah telah selesai, kini muncul masalah lain. Di mana dia harus mencari dan menemukan kakaknya? Sementara dia tidak tahu rupa kedua kakaknya. Jika kedua kakaknya tahu Wang Tian Sin saat ini tetapi tetap menyembunyikan identitas mereka juga Wang Tian Sin tak bisa melakukan apa-apa.


"Sepertinya aku akan menghabiskan banyak tael perak saat berkunjung ke paviliun langit nanti." Wang Tian Sin tertawa ketika akhirnya dia menemukan solusi akan permasalahannya. Bukan rahasia lagi jika paviliun langit merupakan organisasi yang misterius. Hampir tidak ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab, hanya masalah si penanya mampu membayar atau tidak.


Terdengar suara langkah mendekat, langkah pelan yang terkesan berat seperti yang mempunyai kaki enggan berjalan.


"Xin Yue?"


Wang Tian Sin beranjak membuka pintu, hal pertama yang ia lihat adalah senyum penuh maksud yang tersimpul di bibir Xin Yue.


"Masuklah." Wang Tian Sin mempersilakan Xin Yue masuk sebelum dirinya menutup pintu dan menyusul Xin Yue masuk.


Wang Tian Sin menatap Xin Yue tajam, seolah tak suka dengan kedatangan pemuda itu. Namun, sepertinya Xin Yue tak peduli dengan tatapan Wang Tian Sin.


"Jika kau ingin pergi ke paviliun langit, aku ikut." Xin Yue berkata dengan lugas, membuat tatapan tajam Wang Tian Sin berubah menjadi pandangan tak percaya.

__ADS_1


"Maksudmu?" tanya Wang Tian Sin.


"Aku tahu kau pasti akan pergi ke paviliun langit walau waktunya aku tak tahu. Aku ingin ikut melihat dunia persilatan," ucap Xin Yue.


Wang Tian Sin mendesah pelan saat mendengar penjelasan Xin Yue. Kadang berdua lebih baik, tetapi untuk orang seperti Wang Tian Sin yang suka mencampuri urusan orang lain maka akan membahayakan kawan seperjalanannya.


"Aku tidak janji."


Senyuman di wajah Xin Yue menghilang, ekspresinya saat ini dipenuhi tanda tanya.


"Kenapa?"


Wang Tian Sin menatap Xin Yue tajam, "jika dirimu seindah namamu, mungkin aku bisa dengan senang hati mengajakmu ke paviliun langit untuk melihat pemandangan indah di puncak gunung. Tetapi, sayang. Kadang realita tak seindah ekspektasi."


Xin Yue mendengus kesal, "siallan. Kau pikir aku lelaki seperti apa?"


Keduanya saling bertatapan tajam, tetapi tak lama setelah itu keduanya tertawa terbahak-bahak hingga Xin Yue memegang dadanya yang kembali sakit.


"Kau yang membuatku terus tertawa."


"Baiklah-baiklah ... tapi aku memang benar-benar tak bisa berjanji membawa ke paviliun langit. Setelah pertemuan musim gugur nanti aku langsung menuju paviliun langit. Sebelum musim dingin tiba aku harus tiba di paviliun langit." Wang Tian Sin berusaha menolak halus permintaan Xin Yue yang sebenarnya tidak sulit, hanya saja terasa berat untuk dilakukan.


"Jika begitu aku akan memohon pada ayah untuk ikut ke Huishan (gunung Hui)."


Wang Tian Sin menggelengkan kepala pelan, "Xin Yue, kesehatanmu lebih penting. Aku tidak ingin menjadi daging cincang jika terjadi sesuatu padamu. Kau tahu, saat dirimu terluka aku seperti isian bakpao (daging giling) karena ayahmu."


"Aku akan memohon pada ayah, kalau perlu, aku akan membawa beberapa elite istana pedang untuk melakukan pengawalan dan memastikan keselamatan kita." Xin Yue terus memaksa Wang Tian Sin.

__ADS_1


"Bagaimana jika seperti ini, kita akan melakukan perjalanan mengelilingi benua Xiang yang luas ini setelah aku menyelesaikan urusan di Paviliun langit? Aku benar-benar tidak bisa menunda perjalanan, tapi jika kau ingin berpetualang bersamaku maka hanya bisa dilakukan setelah urusanku selesai," ucap Wang Tian Sin.


"Setuju!"


Wang Tian Sin terlihat lega saat Xin Yue setuju dengan pilihan kedua.


"Ngomong-ngomong ... ada perlu apa kau datang kemari? Tidak mungkin hanya meminta hal seperti ini," ucap Wang Tian Sin.


Xin Yue mengangguk, kemudian menjelaskan jika Xin Dong meminta Wang Tian Sin datang saat matahari tenggelam nanti.


"Aku akan datang sesuai perintah guru. Saat ini kau istirahatlah, sepertinya kondisimu belum benar-benar pulih."


"Jika kau tidak keberatan, aku ingin istirahat di sini. Kita akan pergi bersama nanti sore," ucap Xin Yue.


Wang Tian Sin mengangguk dan mengantar Xin Yue ke kamar untuk istirahat. Saat Xin Yue menggunakan kamar Wang Tian Sin untuk istirahat, si empunya kamar memilih berlatih tenaga dalam di ruang utama.


***


Perbatasan timur terlihat tenang seperti embusan angin di musim semi. Begitu tenang hingga membuat sebagian orang terbuai dengan ketenangannya, tak terkecuali jendral Chen.


Usianya yang tak lagi muda dan kondisi tubuhnya yang tak setangguh dulu membuat sang jendral terpaksa berdiam diri di tenda untuk waktu yang lama. Segala bentuk pergerakan musuh yang masuk dalam pantauan prajurit Qin akan dilaporkan padanya yang berada di kota Lan melalui kedua putranya.


Saat surat yang ditulis oleh Ning Lei sampai padanya, raut tenang yang selama ini selalu ditampilkan oleh Jendral Chen hilang seperti tak pernah ada.


"Aku benar-benar tidak menyadarinya. Bagaimana Qin Guan yang jauh di kota Qin malah tahu?" ucap Jendral Chen setelah membaca surat dari Ning Lei.


Dalam surat tersebut tertulis jika Qin Guan merasa ada yang tidak beres dengan kondisi tenang beberapa waktu ini. Qin Guan juga meminta seluruh prajurit Qin yang berada di kota Lang untuk waspada karena kemungkinan besar prajurit Ji Feng yang lokasinya paling dekat dengan mereka tak sadar dengan kondisi ini. Qin Guan akan mengirim bantuan beberapa ribu prajurit yang akan tiba dalam dua puluh hari.

__ADS_1


Jendral Chen bisa bernapas lega karena seluruh pengaturan yang dibuat oleh Qin Guan.


"Walau rakyat tidak semakmur saat mendiang Qin Huang memimpin, setidaknya rakyat akan aman dari penjajahan."


__ADS_2