Tombak Langit Dan Naga Bumi

Tombak Langit Dan Naga Bumi
Penempaan paling Menyakitkan


__ADS_3

Malam damai berubah mencekam ketika titik-titik darah mulai menyiprat di atas salju yang putih. Aroma anyir darah merebak bersama angin dingin yang berembus bersama salju putih yang sedang turun dengan lebat.


Kediaman Qin Guan mulai sepi karena pejabat yang diundang oleh Qin Huang sudah pulang seluruhnya. Qin Huang juga meninggalkan kediaman putranya beberapa saat yang lalu dan dalam perjalanan ke rumahnya menggunakan kereta.


Jalanan yang lengang serta gelapnya malam membuat para penjaga yang mengawal Qin Huang lengah, tak menyadari jika beberapa orang berpakaian hitam sedang mengawasi mereka dari atap rumah penduduk di sekitarnya. Qin Huang terlalu banyak minum sehingga indranya melemah, tak menyadari kehadiran orang-orang itu.


Beberapa pisau kecil melesat, menghujam leher setiap penjaga Qin Huang hingga selusin orang yang mengawal tuan kota itu tak bersisa. Tak ada teriakan peringatan, hanya lenguhan kematian dan tubuh yang menggelepar menandakan para pembunuh itu bekerja cepat.


Qin Huang yang menghirup aroma anyir membuka matanya lebar-lebar. Kereta memang tak berhenti, tetapi berjalan tak beraturan seperti kusir yang amatir membuat Qin Huang curiga.


Dibukanya tirai yang menutup kereta hingga terlihat pemandangan mengerikan di mana si kusir kereta ambruk tanpa kepala. Tanpa berpikir panjang, Qin Huang menyalakan suar hingga kembang api meledak di langit, menandakan dirinya dalam kesulitan dan meminta bantuan.


Tak lama berselang, lawan seperti tak sabar hingga pihak lawan melesatkan beberapa anak panah yang menancap di dinding kereta tanpa menembus penumpangnya.


Sebagai seorang pendekar, Qin Huang tak merasa gentar tetapi sebagai seorang gubernur ada tanggung jawab yang harus ia selesaikan membuatnya tak boleh mati sia-sia. Dengan penuh pertimbangan, Qin Huang memilih bertahan di kereta menunggu bantuan terdekat dari kediaman Qin Guan walau ia tak yakin masih hidup saat para prajurit itu tiba.


Di kediaman Qin Guan, kepala penjaga yang melihat kembang api peringatan menyala, segera mengirim dua lusin prajurit untuk menyelamatkan Qin Huang.


Qin Guan yang baru saja terlelap harus membuka matanya lagi karena seorang penjaga dengan lancang menggedor pintunya. Dengan wajah malas dia beranjak dari tempat tidurnya.


"Ada apa?" tanya Qin Guan tak senang.


Penjaga tersebut memberi hormat pada Qin Guan, "Gubernur Qin mengirim pesan darurat. Sepertinya Gubernur Qin dalam bahaya!"


"Kalian sudah mengirim bantuan?" tanya Qin Guan.


"Dua lusin prajurit sedang bergerak menuju lokasi Gubernur Qin. Pasukan tombak Ning Lei juga menuju lokasi!" jawab Penjaga tersebut.


Qin Guan mengangguk dan meminta penjaga tersebut pergi. Qin Guan segera mengenakan jubah kebesarannya dan meraih pedang yang ada di samping tempat tidurnya, lalu pergi meninggalkan kamarnya untuk menyelamatkan sang ayah.


Walau ia mendengar jika pasukan tombak menuju lokasi, tapi perkemahan itu jauh dari rumah ayahnya dan memerlukan waktu untuk sampai dan membuat Qin Guan cemas.


Wang Tian Sin yang mendengar keributan di halaman kediaman segera memeriksa keadaan. Banyak prajurit berlarian keluar dari kediaman Qin Guan setelah sebuah ledakan mengudara di langit kota Qin. Ia juga melihat Qin Guan yang menggunakan pakaian perang berlari melewati kamarnya. Rasa penasaran yang memenuhi hati membuat Wang Tian Sin mencegat Qin Guan.


"Guan gege, ada apa?" tanya Qin Guan.


"Ayah dalam bahaya. Aku harus pergi sekarang," jawab Qin Guan. Setelah mengatakan kalimat itu, Qin Guan kembali melangkah tetapi Wang Tian Sin kembali menariknya.

__ADS_1


"Aku ikut!" ucap Wang Tian Sin. Qin Guan mengangguk dan kembali berlari.


Dua ekor kuda berwarna hitam dan putih meninggalkan kediaman Qin Guan menyusul para prajurit yang sudah lebih dulu berangkat. Derap langkah kuda memecah keheningan di kota Qin, membuat banyak penduduk yang sudah terlelap terpaksa membuka matanya dan terjaga. Rasa penasaran yang muncul harus mereka kubur dalam-dalam ketika ringkikan kuda dan suara denting pedang mulai terdengar.


Qin Guan yang mendengar suara-suara kematian mempercepat laju kudanya karena rasa cemas membakar dada. Wang Tian Sin tak kalah cemas dari Qin Guan karena bagaimana pun Ayahnya sedang dalam bahaya.


Denting pedang semakin jelas terdengar, teriakan kematian tak terhindarkan membuat pandangan Wang Tian Sin menajam menatap potongan tubuh yang berserakan serta salju yang tak lagi putih melainkan merah tercemar darah.


Saat Wang Tian Sin dan Qin Guan sampai, adu senjata sudah berhenti menyisakan angin kematian yang mencekam, memaksa dua pemuda itu menerima kenyataan jika seluruh prajurit mati mengenaskan.


Gemertak gigi yang beradu segera terdengar. Panas membakar dada, amarah mengguncang jiwa ketika Wang Tian Sin melihat Qin Huang terbaring dengan panah menancap dada.


Qin Guan tak jauh berbeda. Pemuda yang selalu dingin dalam menghadapi pertempuran tiba-tiba merasa mentalnya goyah, melihat orang yang membesarkannya terbaring tanpa tahu masih hidup atau tidak.


"Ayah!" teriak Qin Guan.


Beberapa orang berpakaian hitam yang mengepung Qin Huang mengalihkan perhatian kepada dua orang pemuda yang menatap mereka dengan amarah dan kebencian. Walau wajah mereka tertutup kain, tapi terlihat jelas jika mereka sedang mengejek dua pemuda itu karena sudut mata yg menyipit.


Tanpa basa-basi, tiga orang dengan pedang berlumuran darah menyerang Qin Guan dan Wang Tian Sin yang masih menunggang kuda.


Qin Guan dan Wang Tian Sin yang melihat orang-orang itu maju, melompat dari kuda dan mempersempit jarak. Qin Guan menarik pedangnya, menangkis sebuah pedang yang hendak menebas kepalanya dan menusuk dada lawannya hingga menembus punggung. Orang itu tewas seketika.


Beberapa orang yang awalnya hanya berdiri dan menyaksikan, melangkah maju menyerang Wang Tian Sin.


'Formasi sembilan bulan,' batin Wang Tian Sin saat melihat sembilan orang penyerang mengepungnya dalam sebuah formasi.


Formasi sembilan bulan adalah sebuah formasi yang mengepung lawannya dari delapan titik dan mengunci pergerakan lawannya di satu titik agar seorang yang berada di luar formasi bisa leluasa melemparkan serangan rahasia.


Qin Guan yang juga menyadari formasi ini merapat ke Wang Tian Sin agar bisa memecahkan formasi rumit ini bersama.


"Bagaimana ini?" bisik Qin Guan. Wang Tian Sin kuat, tetapi pemuda itu masih terluka hingga tak dapat mengeluarkan kekuatan sepenuhnya.


Saat dua pemuda itu kebingungan karena belum menemukan celah untuk memecahkan formasi, derap langkah kuda terdengar dari dua arah yang berbeda. Para penyerang yang menyadari jika bala bantuan di pihak musuh sudah tiba, melarikan diri dengan melompat ke atap rumah penduduk dan berpencar.


Wang Tian Sin berniat mengejar, tetapi Qin Guan mencegahnya mengingat kondisi adiknya yang belum pulih.


Qin Guan tersadar saat melihat ayahnya mengulurkan tangan, meminta Qin Guan mendekat.

__ADS_1


"Ayah!"


Dia langsung berlari dan merengkuh tubuh ayahnya yang mulai melemah diikuti Wang Tian Sin yang langsung menggenggam tangan ayah angkatnya.


"Ayah ... bertahanlah. Aku ... aku akan membawamu pada tabib Yao!" ucap Qin Guan cemas. Pemuda itu hendak mengangkat tubuh sang Ayah, tetapi Qin Huang segera menolaknya.


Qin Huang tersenyum pada dua putranya yang terlihat tak seperti prajurit karena menitikkan air mata. "Guan'er ... Sin'er ... "


"Kami di sini, Ayah!" jawab Qin Guan dan Wang Tian Sin bersamaan.


Qin Huang mengusap wajah Qin Guan yang basah karena darah dan air mata, dengan napas yang melemah Qin Huang berbisik pada Qin Guan. "Guan'er, ingat perkataanmu yang dulu?"


Qin Guan mengangguk dan mengusap air matanya. "Iya ... Ayah. Kesedihan tak harus dibuktikan dengan airmata, rasa sakit harus diredam dengan akal sehat."


Qin Huang mengangguk. Mulutnya terbuka, tetapi kalimat yang ingin ia ucapkan tak kunjung keluar karena darah yang memenuhi kerongkongannya. Wang Tian Sin menggenggam erat tangan Qin Huang, menciuminya dengan penuh kasih sayang.


"Ayah..." terdengar suara serak Wang Tian Sin, Qin Huang tersenyum kepada anak angkatnya itu dan mengusap wajah Wang Tian Sin. Air mata mengalir di pipinya, tapi hanya kebahagiaan dan kelegaan yang tergambar di wajah Qin Huang.


"Sin'er ... Ayah sangat menyayangimu. Berbaktilah kepada ka-kakakmu ...."


Qin Guan merasakan tubuh ayahnya melemas dan genggaman tangan yang terlepas, kemudian memeriksa nadi dan napas sang ayah hingga menemukan sebuah fakta jika ayahnya meninggal di pangkuannya.


Raungan amarah bercampur kesedihan menggema dari mulut dua pemuda yang dilanda duka.


Prajurit berkuda yang baru saja sampai segera turun dan bersujud setelah menebak apa yang terjadi hingga membuat pemuda sedingin Qin Guan berteriak penuh amarah. Tak ada yang lebih menyakitkan dari kematian.


Tak ada air mata untuk menggambar duka


Keceriaan dengan mudah tenggelam oleh kepedihan


Amarah dan kutukan tak lagi berguna


Bunga-bunga es membekukan jiwa


Api amarah menghancurkan sukma


Ketenangan hanyalah fatamorgana

__ADS_1


Lingkaran dendam mulai tercipta


Rana Semitha


__ADS_2