
Tembok kokoh kota Qin terlihat megah ketika dipandang dari jarak 1 li (0,55km). Salju-salju yang menumpuk di atas dinding, prajurit yang berlalu lalang di tembok kota, serta hamparan salju di sekitar tembok kota menampakkan pemandangan yang sungguh indah.
Seorang penunggang kuda dengan bendera kerajaan Yin memacu kudanya dengan cepat, teriakan-teriakan peringatan keluar dari mulutnya membuat para penjaga kota membuka gerbang lebar-lebar.
"Pasukan Song menyerang, Pangeran Rui (gelar pangeran tua Yin Xie) meminta bantuan!" teriak pembawa pesan tersebut seraya memacu kudanya menuju balai kota menemui gubernur Qin.
Di pusat kota Qin, terdapat sebuah balai kota megah, berdampingan dengan kantor gubernur Propinsi Qin yang mewah. Para pejabat berlalu lalang di sekitar kantor gubernur dengan tangan tertaut dan tertutup lengan jubah yang lebar. Dari banyak pejabat yang berlalu lalang, sebagian besarnya membawa laporan-laporan penting menuju ruangan gubernur Qin saat ini, Qin Huang.
Provinsi Qin adalah salah satu provinsi makmur di kekaisaran Yin berkat kerja keras para pejabat serta pemimpinnya, sehingga korup dan penyelewengan jabatan jarang terjadi. Rakyat makmur dan terlihat bahagia, mereka juga merasa aman karena dijaga oleh 300.000 pasukan Qin yang tangguh.
Di depan kantor gubernur, seorang pemuda bertubuh ramping dan jangkung, sepasang mata elang yang tajam, alis yang tebal dan rambut hitam legam turun dari kudanya. Seorang penjaga mendatangi pemuda tersebut, kemudian membawa kudanya ke istal.
Tubuh tegap, langkah mantap dan tatapan tajamnya yang mengintimidasi membuat pemuda itu memiliki aura penguasa yang membuat banyak orang segan saat menatapnya. Pemuda itu berjalan menuju sebuah ruangan yang terletak di pusat Kantor Gubernur. Beberapa penjaga yang berpapasan dengan pemuda tersebut membungkuk hormat, sedangkan pemuda itu hanya membalas dengan anggukan kepala.
Berjalan beberapa saat, pemuda nan gagah itu sudah sampai di sebuah bangunan klasik yang terbuat dari kayu-kayu kokoh membuatnya tampak megah. Pintu ruangan sudah terbuka, dua penjaga yang berdiri di depan pintu membungkuk hormat, "Tuan Muda Kedua, Tuan Besar Qin telah menunggu Anda."
Pemuda yang dipanggil Tuan Muda kedua mengangguk dan masuk ke dalam ruangan tersebut. Aroma wangi dari dupa yang dibakar tercium saat memasuki ruangan tersebut, sebuah aroma penenang jiwa bagi para penghirupnya.
Di dalam ruangan tersebut, terlihat seorang pria yang berusia empat puluhan tahun sedang duduk dan membaca kertas laporan. Wajahnya serius hingga menciptakan beberapa kerutan di dahinya.
__ADS_1
"Salam, Ayahanda. Qin Guan memberi hormat kepada Ayahanda." Qin Guan, pemuda tersebut membungkuk hormat kepada orang yang dipanggil Ayahanda. Untuk beberapa saat Qin Guan masih di posisi yang sama hingga Qin Huang memintanya untuk bangkit.
"Hm ... bangunlah, Nak," ucap Qin Huang. Qin Guan kembali berdiri tegap di hadapan Qin Huang.
Qin Huang bangkit dan berjalan menuju meja tempatnya biasa minum teh. Sebuah meja kecil yang terletak di dekat jendela, tepat di samping meja tersebut ada sebuah tungku kecil yang sering digunakan untuk mendidihkan air.
Terdapat dua tempat duduk yang saling berhadapan mengapit meja kecil tersebut. Qin Huang duduk di salah satu tempat duduk itu dan mempersilakan putranya untuk duduk di satu tempat lagi.
Qin Huang melihat teko air di atas tungku. Terdapat buih-buih kecil menandakan jika air di dalam teko tersebut sudah mendidih. Mengambil sejumput teh, Qin Huang memasukan teh tersebut ke sebuah teko yang berukuran lebih kecil, berwarna putih dan dikelilingi oleh empat buah cangkir kosong.
Suara besi panas yang beradu dengan air menimbulkan sebuah suara begitu khas menyebabkan siapa saja pasti menengoknya saat mendengar suara tersebut. Teko dengan teh dan air panas ditutup, digoyangkan perlahan dalam satu arah, selanjutnya Qin Huang menuangkan teh tersebut dengan perlahan ke dalam cangkir kosong di hadapannya. Tak lupa Qin Huang juga mengisi cangkir milik putranya yang masih kosong.
Qin Guan yang awalnya tertunduk, mengangkat wajahnya dan menatap Qin Huang kebingungan. "Maaf, Ayahanda. Sedari pagi anak bermain di hutan, belum mendengar berita apa-apa."
Qin Huang mengangguk perlahan, setelah mendengar jawaban Qin Guan, Qin Huang menyesap tehnya perlahan, menikmati sensasi pahit dan wangi dalam satu waktu. Qin Huang meletakan cangkir tehnya perlahan dan mengambil sebuah amplop dengan cap kekaisaran Yin melekat di segel amplop tersebut. Qin Guan menerima amplop tersebut dengan kedua tangan, setelah mendapat kode dengan anggukan ringan dari ayahnya, Qin Guan membuka amplop tersebut dan membacanya dengan saksama.
'Prajurit Song mendirikan tenda di perbatasan utara Qin, jumlah mereka sekitar 100.000 orang.
Yin Xie'
__ADS_1
Qin Guan melipat kertas tersebut dan kembali memasukannya ke amplop. Qin Huang menerima amplop tersebut tetapi meletakannya di atas meja, tak menyimpan di lengan jubahnya.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Qin Huang.
Qin Guan terlihat berpikir sejenak, lalu mulai mengungkapkan ide-ide dalam otaknya. "Ayahanda, perbatasan utara Qinzhou (Provinsi Qin) merupakan tanah yang landai, memiliki benteng pertahanan yang begitu kokoh dan dijaga oleh 70.000 pasukan Ji Feng. Dua bulan lalu saat anak bermain ke tempat itu bersama jendral Zhao, jendral besar Huaihuang (panglima perbatasan) sedang menata ulang garis pertahanan tersebut. Melihat jumlah pasukan lawan yang begitu besar, setidaknya kita mengirimkan 100.000 prajurit agar pasukan Ji Feng memulihkan kondisi sejenak. Jika pertahanan kita bisa ditembus, maka akan sangat berbahaya."
Qin Huang mengangguk puas mendengar penjabaran singkat dari putranya. "Baiklah, Ayah akan meminta Jendral Zhao untuk maju ke garis depan membawa 100.000 pasukan."
Qin Guan menakupkan kedua tangannya, menunduk hormat kepada Qin Huang untuk meminta izin ikut dalam pertempuran. Qin Huang menyetujui permintaan putranya karena merasa pertempuran ini sudah terlihat jelas bagaimana hasil akhirnya. Apalagi Qin Huang mengutus satu jendral senior kepercayaannya, Jendral Zhao Yun.
"Ayah meminta satu hal darimu. Tetap hidup."
Qin Guan mengangguk dan memberi hormat sebelum pergi meninggalkan ruangan tersebut. Qin Huang menulis beberapa surat perintah lalu meminta kurir untuk mengirimnya secepat mungkin.
Begitu keluar dari kantor gubernur, Qin Guan memacu kudanya ke kamp utama prajurit Qin yang terletak di utara kota Qin untuk menemui Jendral Zhao.
Dari 300.000 prajurit Qin, hanya 75.000 yang tinggal di kota Qin karena 225.000 lainnya disebar di seluruh Qinzhou dan bertugas mengamankan wilayah masing-masing. Kota Qin sebagai pusat administrasi memiliki paling banyak prajurit, dan yang terbanyak kedua adalah Kota Lan yang terletak di utara Qinzhou, memiliki 60.000 prajurit dengan 15 jendral besar.
Teriakan-teriakan kemenangan mengudara di sepanjang kota yang dilewati oleh para prajurit. Saat sebuah panah melesat dan menghujam dada Qin Guan, pemuda itu terkejut karena tak merasa sakit.
__ADS_1
"Hah ... hanya mimpi rupanya."