
Sebuah bayangan hitam bergerak dengan kecepatan yang sulit diikuti oleh mata manusia biasa. Apalagi gelapnya malam dan rimbunnya hutan semakin menyamarkannya. Bayangan tersebut berkelebat dari bagian barat kota Xiang menuju selatan.
Setelah melewati tembok kota Xiang, Wang Tian Sin memutuskan untuk menggunakan langkah raja naga dan bergerak ke selatan, arah letak kota Nan berada.
Tombak langit selalu menggantung di punggung sementara pedang naga bumi ada di pinggangnya.
Saat melintasi hutan di selatan Xiang, Wang Tian Sin beberapa kali melihat api unggun serta beberapa orang yang mengelilinginya. Enggan menarik perhatian, Wang Tian Sin memilih untuk menghindar.
Berlari semalam membuat tubuh Wang Tian Sin basah karena keringat. Namun, perjuangannya berlari semalaman membuahkan hasil karena saat fajar menjelang, Wang Tian Sin berhasil melihat tembok kota Nan. Pemuda itu berhenti di bawah pohon persik yang rimbun. Terdapat beberapa buah persik yang mulai ranum, ada juga yang sudah matang dan siap petik.
Perut Wang Tian Sin terakhir diisi kemarin siang dan saat ini benar-benar lapar, meminta untuk diisi. Tanpa basa-basi, dia melompat ke arah buah persik matang, menggapai dan memetiknya. Senyuman tipis terbit di bibir Wang Tian Sin, hatinya begitu senang karena di tengah rasa laparnya dia dapat menemukan makanan, rasa senangnya dapat digambarkan seolah-olah dia mendapat air dingin di tengah gurun pasir.
Wang Tian Sin mendarat di tanah dengan selamat, senyuman tak kunjung memudar ketika dirinya melihat buah dalam genggamannya. Pemuda itu melihat tanah landai di sekitar pohon, berniat untuk beristirahat di sana.
"Wah ... segar." Wang Tian Sin duduk menyandar di batang pohon persik sebelum memakan buah di tangannya. Saat dia sedang asik menikmati buah tersebut, seorang pemuda berpakaian hitam menghampirinya. Di pinggangnya tersarung sebuah pedang yang tak biasa.
Pemuda itu tertarik pada Wang Tian Sin karena pedang dan tombak yang ia bawa. Seorang pendekar membawa satu pusaka tingkat tinggi memang hal biasa, tetapi jika itu dua dan memiliki kualitas yang mengagumkan, maka itu hal yang cukup aneh.
Di sisi lain, Wang Tian Sin terlihat waspada, tangan kanannya dengan sigap meraih gagang pedang.
Melihat reaksi Wang Tian Sin, pemuda itu menakupkan tinjunya dan membungkuk hormat. "Perkenalkan, nama saya Xin Yue, saya dari kota Nan." Melihat Wang Tian Sin tak menanggapinya, pemuda itu tersenyum tipis. "Sepertinya saudara bukan berasal dari kota Nan."
Dalam pikiran Wang Tian Sin, pemuda itu sedang berpikir, apakah pemuda di hadapannya memiliki hubungan dengan Xin Dong? Untuk memastikannya, Wang Tian Sin menurunkan kewaspadaannya, tangan kanannya sudah melepas gagang pedang yang sebelumnya ia genggam.
"Xin. Apa saudara memiliki hubungan dengan Tuan Xin Dong?" tanya Wang Tian Sin.
Senyum pemuda itu semakin lebar, dia tak mengiyakan tetapi kepalanya mengangguk samar. "Apa saudara mengenal ayah?"
"Hm ... tidak. Kami memang pernah bertemu satu kali, tetapi saat itu kondisi tak terlalu baik dan aku ingin memperbaikinya."
__ADS_1
Xin Yue kembali mengangguk, sedikit memahami situasi Wang Tian Sin saat ini.
"Ah ... saudara sudah memperkenalkan diri. Perkenalkan, aku Tian Sin," ucap Wang Tian Sin.
"Tian yang mana dan Sin yang mana?" tanya Xin Yue penasaran.
Wang Tian Sin tersenyum tipis sebelum menjawab, "Tian yang langit dan Sin yang dosa,"
Xin Yue terkejut saat mendengar jawaban Wang Tian Sin. Tapi, nama adalah pemberian orang tua, ada kemungkinan jika itu merupakan warisan leluhur. Wang Tian Sin menatap Xin Yue, "dan saudara? Xin yang mana dan Yue yang mana?"
"Xin dari baja dan Yue dari bulan," jawab Xin Yue yang membuat Wang Tian Sin tersenyum.
Mungkin karena gerakan bulan air menginspirasi Xin Dong saat memberi nama putranya. Namun, Wang Tian Sin tak berniat untuk membahasnya lebih jauh.
"Apa aku bisa memanggilmu saudara Tian?" tanya Xin Yue.
Xin Yue mengangguk dan terlihat setuju.
Karena mereka berdua memiliki tujuan yang sama yaitu kota Nan, Xin Yue menyarankan untuk meneruskan perjalanan bersama, apalagi Xin Yue mengetahui Wang Tian Sin memiliki niat berkunjung ke partai perguruan ayahnya.
Keduanya berjalan dan mengobrol ringan, seperti teman lama yang dipertemukan.
Walau tembok kota sudah terlihat, tetapi itu hanyalah tembok, sementara untuk masuk kota mereka harus lewat salah satu gerbang di empat penjuru kota agar tak dianggap penyusup. Dengan statusnya di kota Nan, Xin Yue tidak akan mendapat masalah besar jika melakukan hal tersebut. Tetapi, Wang Tian Sin tidak akan sama, dia pasti akan mendapat masalah walau melakukannya bersama Xin Yue.
Saat mereka berdua sedang bertanya satu sama lain, terdengar siulan pembelah angin, seperti suatu benda yang bergerak dengan begitu cepat.
Wang Tian Sin menarik pedangnya dan menangkis sebuah anak panah yang mengincar leher Xin Yue, sementara yang mempunyai leher malah telat bereaksi.
"Terima kasih, Tian Sin."
__ADS_1
Wang Tian Sin mengangguk pelan, matanya yang tajam menelisik setiap pohon untuk mencari pemanah yang bersembunyi. Jika dilihat dari kecepatan dan akurasi, maka pemanah itu bukanlah pemanah biasa.
Akhirnya setelah beberapa tarikan napas mengamati, Wang Tian Sin merasakan sebuah gerakan kecil dari sebuah pohon yang jauhnya hampir satu Lie (setengah kilometer).
Wang Tian Sin memiringkan kepalanya sejenak, meminta Xin Yue mengikutinya. Dua pemuda itu bergerak dengan kecepatan tinggi, menuju sebuah pohon yang diyakini sebagai tempat bersembunyi si pemanah.
Dalam beberapa tarikan napas, keduanya sudah berada di pohon itu. Wang Tian Sin menghampiri pemanah yang sadang bersembunyi, meraih bahunya sebelum menarik dan membiarkannya jatuh dari ketinggian.
Xin Yue menarik pedangnya dan menghunuskannya ke leher orang tersebut yang saat ini sedang meringis kesakitan karena jatuh dari tempat yang cukup tinggi.
Sret!
Tanpa basa-basi, Xin Yue menggorok leher pria tersebut tanpa mencari sedikit pun informasi darinya. Wang Tian Sin awalnya ingin protes, tetapi kembali ia urungkan karena percuma, nyawa pria tersebut sudah melayang.
Ketika Xin Yue berniat menyarungkan lagi pedangnya, terdengar lesatan panah dari berbagai arah yang membuat kedua pemuda itu kuwalahan.
"Jebakan!" teriak Xin Yue.
Wang Tian Sin menangkis sebuah anak panah yang hampir menembus punggung kawannya, kemudian dia berdiri saling membelakangi dengan Xin Yue dan saling melindungi.
Berkali-kali ditangkis, tetap saja serangan hujan panah itu tak kunjung berhenti.
Sebuah anak panah berhasil ditangkap oleh sebelah tangan Wang Tian Sin, setelah mengalirkan tenaga dalam ke tangannya, Wang Tian Sin mengincar seorang pemanah dan melemparkan anak panah tersebut. Hasilnya adalah, panah tersebut menembus dahi satu lawan yang membuatnya jatuh seketika.
Saat Wang Tian Sin sedang menangkap beberapa anak oanah lain, telinganya menangkap bunyi robekan yang diikuti oleh erangan yang keluar dari mulut Xin Yue.
"Xin Yue!" Wang Tian Sin panik saat melihat sebuah anak panah menembus bahu Xin Yue hingga punggungnya.
Wang Tian Sin menarik pedangnya, mengalirkan sebagian besar tenaga dalamnya kemudian mengayunkan pedangnya mendatar ke arah lawan bersembunyi. "Pedang pembelah gunung!"
__ADS_1