
Memasuki puncak musim dingin yang membekukan tulang, apalagi Gunung Long Hong adalah wilayah utara sehingga membuat musim dingin di sini lebih dingin dari tempat lainnya.
Aroma harum dari arak yang sudah dipanaskan berpadu dengan daging asap yang berminyak menguar di ruang utama tempat Wang Tian Sin berada. Tabib Yan yang tidak menyukai arak pun sampai hilang kendali saat guci arak yang awalnya tertutup rapat perlahan dibuka oleh Wang Tian Sin.
"Arak yang sangat harum," ucap Tabib Yan saat Wang Tian Sin menuang arak tersebut ke cangkir miliknya.
Wajah putih Tabib Yan bersemu merah setelah meneguk arak tersebut, Wang Tian Sin tersenyum dibuatnya. "Tabib Yan, bukankah orang militer sangat menyukai alkohol? Kenapa muka Anda merah di cangkir pertama?"
"Hais ... aku bukanlah prajurit, aku hanyalah seorang tabib yang direkrut ayahmu untuk membantunya di medan perang selama beberapa kali. Setelah ayahmu tiada, aku hampir tidak pernah pergi ke medan perang lagi," jelas Tabib Yan.
Wang Tian Sin mengangguk satu kali, tangannya kembali meraih guci arak dan mengisi cangkirnya yang sudah kosong, juga milik Tabib Yan.
"Tabib Yan, Anda pasti mengenal beberapa teman ayah, bukan?" tanya Wang Tian Sin. Tabib Yan mengangguk pelan, tetapi tidak mengiyakannya. "Apa masih ada teman atau sahabat ayah yang masih hidup?"
Mendengar pertanyaan Wang Tian Sin, dalam pikiran Tabib Yan langsung terabsen nama-nama orang yang ia ketahui akrab dengan Wang Jiang.
"Jendral Lin Shijie, satu dari tiga jendral yang mati bersama ayahmu saat kejadian itu, memiliki seorang anak yang sekarang tinggal di Paviliun Langit. Jendral Lin sangat dekat dengan Ayahmu, anaknya juga sangat dekat dengan Ayahmu saat masih kecil, usianya empat tahun lebih tua dari Tian Di, jadi usianya saat ini sekitar tiga puluh tujuh tahun. Temuilah dia, mungkin dia bisa membantumu."
Wang Tian Sin terkejut saat mendengar nama Paviliun Langit disebut. Paviliun Langit adalah tempat di mana kau bisa mendapat jawaban dari setiap pertanyaan yang kau ajukian asal memiliki uang untuk membayarnya. Namun, yang membuat Wang Tian Sin terkejut bukan karena Paviliun Langit itu sendiri, melainkan ia mengingat memiliki seorang teman di tempat tersebut.
"Marga Lin, apa dia ada kaitannya dengan tuan muda Paviliun Langit Lin Shen?" tanya Wang Tian Sin.
Kini giliran Tabib Yan yang merasa terkejut dengan ucapan Wang Tian Sin. Cangkir arak yang sudah menempel di bibir kembali ia turunkan dan ia taruh begitu saja di meja. "Kau mengenal Lin Shen?
__ADS_1
Wang Tian Sin mengangguk. Tabib Yan menggulung lengan jubahnya dan meraih cangkir yang sebelumnya ia letakan lalu meneguk arak di dalamnya.
Kembali meletakan cangkir arak yang telah kosong, Tabib Yan kembali berkata. "Aku baru ingat, kau besar di dunia persilatan, PAviliun Langit bukan tempat biasa hingga siapa saja di dunia ini tahu. Bagaimana mungkin kau tidak tahu Tuan Muda Lin Shen. Benar kan?"
"Aku beberapa kali bertemu dengan Lin Shen dan cukup akrab dengannya. Dua tahun yang lalu bahkan aku tinggal di Paviliun Langit selama dua bulan," jelas Wang Tian Sin.
"Bagaimana pendapatmu tentang Tuan Muda Lin?" tanya Tabib Yan. Muka Wang Tian Sin memasam ketika mendengar pertanyaan ini. Dalam ingatannya, Lin Shen adalah pria dewasa yang masih belum menikah, bertingkah selayaknya orang dunia persilatan, tidak mencerminkan sosok seorang Tuan Muda dari Paviliun Langit. Lin Shen juga sosok yang sangat usil sehingga mereka berdua kerap kali berkelahi.
"Pendapatku tentang Lin Shen? Entahlah, dia baik dan tidak perhitungan saat menolongku, tapi di sisi lain dia juga sangat usil dan sering membuatku dalam kesulitan," jawab Wang TIan Sin masam.
Tabib Yan tertawa kecil saat mendengar jawaban Wang Tian Sin yang lebih terdengar seperti keluhan. "Jika dia bersikap seperti itu padamu, itu artinya dia benar-benar menganggapmu sebagai kawannya," Tabib Yan mengedarkan pandangannya hingga menemukan sebuah tombak yang berdiri di sudut ruangan, "Apa dia melihat tombak langit?"
"Dia sempat meminjamnya beberapa kali. Katanya dia berasa nostalgia setiap melihat tombak tersebut," jawab Wang Tian Sin.
***
Seekor elang putih terbang dengan kecepatan tinggi dari arah utara dan memasuki wilayah provinsi Qin setelah beberapa waktu terbang melewati banyak kota. Elang tersebut berhenti dan kini bertengger di sebuah kediaman mewah yang ada di pusat kota Qin. Seorang penjaga yang melihat sebuah surat yang melingkar di kaki elang tersebut dengan hati-hati mengambilnya.
Tidak ada tanda dari mana elang itu berasal sehingga sang penjaga memutuskan langsung menyerahkan surat tersebut ke si tuan rumah.
"Tuan, seekor elang berwarna putih datang dari utara dan membawa surat ini. Tidak ada tanda identitas si pengirim di elang tersebut." Penjaga dengan baju zirah berwarna perak berlutut di hadapan seorang pemuda berpakaian putih, dia adalah Qin Guan.
Qin Guan menerima surat tersebut, "kau boleh pergi,"
__ADS_1
"Baik!" jawab Penjaga tersebut.
Qin Guan masuk ke dalam ruang pribadinya dan menutup pintu rapat-rapat. Setelah memastikan tidak ada orang yang kemungkinan masuk dengan tiba-tiba, Qin Guan mengeluarkan gulungan surat dari dalam pipa dan membukanya. Hanya ada beberapa kata yang tertulis dalam surat tersebut, tetapi bebrapa kata itu berhasil membuat Qin Guan terguncang.
"Gawat! Aku harus memberitahu Pangeran Tua Rui." Qin Guan memasukan surat tersebut ke dalam jubahnya dan bergegas menuju Paviliun Timur, tempat Pangeran Tua Rui dan beberapa orang kepercayaannya tinggal.
Melihat tuannya berjalan dengan tergesa, bebrapa prajurit membungkuk hormat dan memberi salam tetapi tak ada yang berani menanyakan penyebab Qin Guan terburu-buru seperti itu.
Dua orang penjaga Paviliun timur yang melihat kedatangan Qiunh Guan segera memberi kabar kedatangan tersebut pada Pangeran Tua Rui.
"Apa Pangeran sedang di dalam?" tanya Qin Guan.
Penjaga yang memberi kabar kedatangan Qin Guan pada Pangeran Tua Rui telah kembali dan mempersilakan Qin Guan untuk masuk. Walau paviliun timur adalah bagian dari kediaman Qin Guan, tetapi status Pangeran Tua Rui membuatnya toidak bisa berlaku seperti Tuan rumah yang bisa keluar masuk sesuka hati.
Setelah penjaga mempersilakan, Qin Guan masuk tetapi langkahnya lebih tenang dan berwibawa.
Pangeran Tua Rui ternyata sudah menunggu Qin Guan di ruang tamu. Pria tersebut duduk di samping tungku penghangat sembari membaca buku militer dari kediaman Qin.
Melihat Qin Guan masuk dengan wajah tegang, Pangeran Tua Rui menutup bukunya dan menyimpannya lagi.
"Apa yang membuatmu begitu cemas?" tanya Pangeran Tua Rui.
Qin Guan mengeluarkan sebuah gulungan kertas dari balik jubahnya dan menyerahkannya pada Pangeran Tua Rui. "Paman, kekaisaran sedang dalam bahaya."
__ADS_1