Tombak Langit Dan Naga Bumi

Tombak Langit Dan Naga Bumi
Perjalanan Baru


__ADS_3

Sebuah kereta berwarna coklat membelah jalanan kota Qian. Plakat nama Biro Pengobatan Quanyu tergantung di bagian depan kereta tersebut, menandakan jika kereta itu milik Biro Pengobatan Quanyu. Kerata terus bergerak ke selatan hingga terlihat tembok kota yang kokoh dengan banyak penjaga disekitarnya.


Meninggalkan hiruk pikuk kota Qian yang megah, kereta berjalan di padang rumput bergerak ke tenggara tempat kota Qin berada. Tirai penutup kereta melambai-lambai, memperlihatkan sosok tua burjubah cokelat yang sedang termangu di dalam kereta. Pandangannya menerobos ke luar jendela, mengamati hari yang beranjak senja.


Langit dengan cepat menggelap, rombongan berhenti untuk berisitirahat sejenak sebelum melanjutkannya lagi. Tabib Yan terlihat gusar saat kereta berhenti karena ingin segera tiba di Kota Qin.


Kekhawatirannya kepada Qin Guan, memaksa Tabib Yan untuk tiba di Kota Qin secepat mungkin untuk memulihkan kondisi pemuda itu. Jika saja tabin Yao masih hidup, tentu dia tidak akan merasa khawatir seperti ini. Dalam surat yang ditulis oleh tabib Yao, Qin Guan terkena racun kelabang es sehingga rentan terhadap hawa dingin. Tabib Yan harus memberikan ginseng darah yang sudah ia bawa agar kondisi tubuh Qin Guan pulih seperti sedia kala.


Sebenernya di masa lalu hubungan antara Tabib Yan dan Qin Guan tidak terlalu dekat. Tetapi semenjak kejadian sebelas tahun lalu ketika Qin Guan mendapat hukuman berat karena ceroboh membuat mereka berdua cukup akrab.


Saat itu Qin Guan harus berbaring hingga sepuluh hari lamanya karena beberapa tulangnya patah, tetapi dengan sikap keras kepalanya, di hari ketiga pemuda itu sudah tidak betah berbaring dan mulai bergerak. Akhirnya Qin Huang mengundang Tabib Yan untuk merawat Qin Guan karena beberapa tabib menyerah saat Qin Guan mengancam mereka.


Awalnya Qin Guan juga berlaku sama kepadanya, tetapi dengan jurus yang sama seperti yang dia lakukan kepada Wang Tian Sin, Qin Guan tunduk dalam satu serangan.


Larut dalam kenangan, Tabib Yan tersentak saat menyadari kereta kembali berjalan.


Di sisi lain, Wang Tian Sin membuka matanya ketika matahari terbenam. Tubuhnya terasa begitu segar seperti sebelum dia terluka, menyebabkan senyum tipis menyungging di wajahnya.

__ADS_1


Wang Tian Sin menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya hingga sebatas dada, kemudian babgkit dan berjalan menuju jendela barat untuk melihat pemandangan. Hari ini salju tidak turun, tetapi ketika Wang Tian Sin membuka jendela, angin dingin langsung menerpa wajahnya dengan kasar. Wang Tian Sin memalingkan wajah dan kembali menutup jendela dengan perlahan.


Kembali berjalan, Wang Tian Sin menuju sebuah kursi di samoing ranjangnya. Di sentuhnya tombak langit yang tergeletak di dekat ranjang. Kembali mengenang masa lalu, ketika Long Tian mengatakan jika tombak ini adalah peninggalan dari ayahnya dan harus ia jaga seperti saudara. Tak hanya itu, Long Tian juga berpesan agar seminimal mungkin menunjukkan badan tombak itu di muka umum karena bisa menimbulkan masalah. Wang Tian Sin selalu menurut dan membungkus tombak itu dengan kain hitam jika sedang bepergian ke mana saja. Hanya saja, kali ini Wang Tian Sin tidak melakukannya. Tombak itu tak terbungkus kain seperti biasanya, membuat siapa saja petinggi militer yang melihat tombak ini langsung tahu jika ini adalah pusaka keluarga Wang, senjata kesayangan Jendral Wang Jiang yang membantunya memenangkan banyak pertempuran.


Wang Tian Sin tidak pernah menyelidiki asal-usul dari orang tuanya, kenapa dia tinggal di gunung Long Hong bersama dengan Long Tian, dan apa yang menyebabkan kedua orang tuanya tewas, dia tidak pernah memikirkan tentang hal itu karena merasa kasih sayang yang diberikan Long Tian saat membesarkannya begitu besar. Long Tian mengatakan untuk mengikis dendam dan kebencian di hati, maka Wang Tian Sin melakukan hal itu. Dia tidak membenci orang-orang yang ingin mencelakakannya atau menjebaknya, dia hanya berusaha untuk menahan diri dan tetap bersabar.


Wang Tian Sin masih mengelus tombak langit, tetapi tangannya bergetar menahan gejolak di hatinya. Matanya memerah dan urat-urat di tubuhnya menegang. "Kakek, aku tidak menaruh kebencian di hatiku untuk mereka, aku hanya ingin tahu, kenapa Ouyang Mu membunuhmu, kenapa aku dibesarkan olehmu, kenapa ketika aku mengatakan namaku Wang Tian Sin, banyak yang menatapku sinis."


Wang Tian Sin mendengar langkah seseorang mendekati ruangannya. Dengan cepat ia menghapus air mata yang menetes dan mengendalikan emosinya agar tidak mencurigakan.


"Tuan Muda Wang, guru berpesan jika kau ingin pergi bisa melakukannya esok hari saat matahari terbit. Untuk saat ini sebaiknya anda beristirahat di sini satu malam lagi, tidak hanya itu, Guru juga menitipkan surat ini padamu dan berpesan membukanya saat sampai di gunung Long Hong." Pria itu menyerahkan sebuah amplop kepada Wang Tian Sin. Wang Tian Sin menerimanya dan mengucapkan terima kasih.


Tabib Yan sudah berpesan jika surat itu hanya boleh dibuka saat ads di gunung Long Hong, maka Wang Tian Sin meletakkan surat tersebut di samping tombak langit.


Wang Tian Sin kembali menatap tabib di hadapannya, "Tuan Tabib, apa masih ada obat yang harus saya minum?"


Tabib di hadapannya menggeleng pelan, "Tuan Muda Wang bisa memanggil saya Yao Feng, kondisi Tuan Muda Wang begitu baik, tidak perlu minum obat lagi dan hanya membutuhkan banyak makan untuk memulihkan tenaga. Itu saja, saya ingin melanjutkan pekerjaan."

__ADS_1


Wang Tian Sin tersenyum dan mengangguk, "Terima kasih Tabib Feng."


Yao Feng pergi meninggalkan Wang Tian Sin dengan wajah berkerut. Puluhan tahun menjadi tabib, dia baru kali ini dipanggil dengan sebutan tabib Feng oleh pasiennya. Yao Feng tidak tahu, jika Wang Tian Sin akan merasa sakit hati jika memanggilnya dengan sebutan tabib Yao, karena menurutnya Tabib Yao identik dengan Yao Quanyu, tabib kediaman Qin yang meninggal bersama guru dan ayah angkatnya.


Setelah cukuo lama terdiam, Wang Tian Sin akhirnya memutuskan untuk menggunakan pakaian luarnya, sebuah jubah berwarna hitam dengan mantel bulu abu-abu. Setelah menggunakan pakaiannya, Wang Tian Sin berjalan keluar mencari Yao Feng yang ternyata sedang di tempat percikan obat.


Wang Tian Sin pamit kepada Yao Feng untuk pergi mencari makanan dan akan beristirahat di penginapan saja. Yao Feng tak menahan Wang Tian Sin karena tahu pemuda itu kurang nyaman jika beristirahat di tempat dengan aroma herbal yang sangat dominan.


Dengan tombak langit di tangan, Wang Tian Sin menjadi perhatian orang-orang di kota Qian tetapi Wang Tian Sin terlihat tak peduli.


Suasana dingin dengan hati yang panas, hanya satu tempat menyenangkan yang dapat Wang Tian Sin pikirkan saat ini, yaitu kedai arak bunga.


Rana Notes:


Saya sakit gigi lagi, baru sembuh beberapa hari udah kambuh lagi. Pasti akan ada banyak typo yang ditemukan. Hari ini satu bab dulu, terima kasih.


Rana Semitha

__ADS_1


__ADS_2