
Angin musim semi menerpa wajah sendu Wang Tian Sin yang tengah merenung di halaman belakang pondoknya. Kata-kata Xin Yue tadi siang masih terngiang-ngiang di kepalanya. Apa mungkin semua kejadian ini daling berlaitan? Dan juga ... saat dirinya masih berada di kota Xiang, Xin Dong datang mengajak Zhen Ping berduel, pasti ada sebabnya dan itu membuat Wang Tian Sin semakin penasaran.
"Zhou Qinghou ... Tabib Yan ... Xin Dong ... apa ayah memang sehebat itu?" gumam Wang Tian Sin.
Lupakan identitas mereka saat ini karena pukuhan tahun lalu mereka bukanlah apa-apa. Bahkan, tuan muda Paviliun langit di masa itu juga berhasil menjadi temannya.
Wang Tian Sin berpikir, kemampuan ayahnya dalam memilah teman dan menjalin sebuah persahabatan sangat baik, karena banyak tokoh perkasa di dunia persilatan merupakan temannya.
"Biasanya orang dalam dunia persilatan menghindari orang-orang yang berhubungan dengan pemerintah, jika mengingat dan mengaitkan semuanya, benar-benar memusingkan."
Wang Tian Sin terlihat frustasi. Memikirkan itu semua membuat kulit kepalanya seperti mati rasa.
Dalam gelapnya malam tanpa bulan, Wang Tian Sin dapat merasakan kehadiran sosok yang tak asing baginya, pemuda itu menoleh dan menatap sebuah tempat sebelum berkata, "Guru ... Anda tidak perlu bersembunyi."
Terdengar dengusan pelan sebelum sosok pria berjubah hitam dengan sorot mata dingin memperlihatkan kehadirannya.
Pria itu mendekati Wang Tian Sin dengan dingin, "Tian Sin, kau sudah tahu semuanya. Apa kau tidak menyimpan kebencian padaku?"
Wang Tian Sin menunduk seulas senyum timbuk dari bibirnya. Alisnya yang terlukis bagaikan pedang bergetar, terdengar tawa pelan dari mulutnya, "Paman ... bunga yang indah akan dihinggapi banyak kumbang. Ibuku pasti sangat menawan seperti namanya. Mungkin jika aku lahir bukan dari rahimnya dan hidup di generasi yang sama, bisa jadi aku menjadi salah satu kumbang itu,"
Sorot dingin dari mata Xin Dong meredup, digantikan dengan kehangatan yang luar biasa. Dia kembali teringat kepada teman lamanya, Wang Jiang. Sepertinya satu sifat yang baru saja pemuda ini perlihatkan merupakan warisan darinya.
__ADS_1
"Baguslah jika begitu. Seringkali aku merasa ketakutan saat memikirkannya," ucap Xin Dong jujur.
Wang Tian Sin tertawa ringan menanggapi celoteh gurunya. "Guru ... ibu dan bibi guru sudah lama meninggal, kenapa guru tidak mencari seorang pengganti?"
"Kau berani menggodaku?" ucap Xin Dong dingin.
"Aku tidak pernah menggodamu, Guru. Aku hanya bertanya. Setiap pertanyaan tidak harus mendapat jawaban."
Terdengar dengusan pelan dari Xin Dong. Wajah dingin Xin Dong sedikit memerah karena mengingat masa mudanya lagi. Namun, itu tak bertahan lama.
"Berhentilah menggodaku. Lebih baik gunakan waktu untuk memperdalam ilmu daripada membicarakan hal tidak penting seperti ini," ucap Xin Dong sebelum melesat pergi meninggalkan Wang Tian Sin.
Saat kemarin Xin Dong memberi beberapa pukulan, walau tak terlalu serius tapi Wang Tian Sin merasa perlu meningkatkan ilmunya agar tak menghadapi situasi serupa di masa depan. Maka dari itu, setelah masuk ke dalam pondok, Wang Tian Sin segera mengambil posisi lotus dan bermeditasi, mengerahkan tenaga dalam untuk menempa raganya.
Saat fajar menjelang, Wang Tian Sin membuka matanya, sebelum membuang napas kotor dari mulutnya. Wajah Wang Tian Sin tampak muram saat ilmu dari kitab naga bumi belum mengalami perkembangan.
***
Pagi ini Wang Tian Sin sudah mendapat panggilan dari Xin Dong agar menemuinya di halaman belakang pondom tempat Xin Dong tinggal. Tak ingin gurunya menunggu lama, Wang Tian Sin segera bergegas menuju tempat tersebut dan menemui Xin Dong.
"Murid memberi salam pada guru," ucap Wang Tian Sin. Kedua tangannya terkepal dengan sebilah pedang terselip di antara dua tangannya, memberi hormat mendalam pada gurunya. Xin Domg hanya mengangguk, Wang Tian Sin kembali menegakan pinggangnya hingga selurus tombak. Tangan kanannya menggenggam sarung pedang dengan erat.
__ADS_1
"Seperti yang sudah aku katakan, mulai hari ini tak ada waktu untuk bersantai," ucap Xin Dong lugas.
Wang Tian Sin mengangguk paham, terlihat siap memulai latihan perdananya.
"Aku akan mengajarkanmu teknik langkah bayangan, tahap pertama gerakan bulan air. Teknik ini menggunakan kecepatan dan keyakinan, tanpa keraguan sedikitpun saat melakukannya. Namun ingat, kecepatan tetap menjadi point penting saat melakukannya." Xin Dong mulai menjelaskan, untuk menguasai langkah bayangan, Wang Tian Sin harus mampu bergerak jauh di atas kecepatan orang lain, dengan ilmu langkah raja naga seharusnya Wang Tian Sin tak lagi repot memikirkannya.
"Serang aku dengan kecepatan tertinggi yang kau bisa," perintah Xin Dong.
Wang Tian Sin mencabut pedang dari sarung, sebuah pedang sepanjang tiga kaki dangan gagang seperti kepala naga. Pedang yang luar biasa karena tanpa Wang Tian Sin gunakan pun, pedang itu sudah memiliki aura intimidasi. Wang Tian Sin menarik napas dalam kemudian mengalirkan tenaga dalam ke kakinya sebelum melesat untuk menyerang Xin Dong.
Trang!
Pedang di tangan Wang Tian Sin terlepas, Wang Tian Sin terkejut karena ia tak melihat Xin Dong mengeluarkan pedangnya, bahkan bergerak dari tempatnya pun tidak. Kapan dia telah menangkis serangannya?
Tangan Wang Tian Sin bergetar karena perbedaan tenaga dalam. Walau menggunakan kecepatan penuh, tetapi Wang Tian Sin masih menahan sebagian tenaga dalamnya. Terdengar dengusan kesal keluar dari mulur Xin Dong sebelum disusul sebuah kalimat yang terdengar mengejutkan bagai petir yang menyambar, "Kau meremehkanku."
Wang Tian Sin tersenyum getir, sepertinya dia telah melakukan sesuatu yang menyinggung gurunya. Tanpa menunggu perintah dari Xin Dong, Wang Tian Sin mengambil pedangnya yang tergeletak di tanah.
Setelah Xin Dong memberi isyarat menyerang, Wang Tian Sin segera bergerak, tetapu lagi-lagi pedangnya terlempar.
"Kecepatanmu masih menyedihkan walau menggunakan ilmu raja naga sekalipun. Sepertinya aku harus bekerja keras melatihmu," Xin Dong berbalik meninggalkan Wang Tian Sin yang menatapnya bingung, "kembalilah nanti malam."
__ADS_1