
Dengan napas terengah dan keringat yang membasahi wajah serta punggungnya, Qin Guan turun dari tempat tidur dan menyalakan lentera. Ingatan perang di perbatasan belasan tahun lalu hadir dalam mimpinya.
Raungan kemenangan yang diteriakkan oleh para prajuritnya serta erangan kematian dari mulut para lawannya membaur menjadi satu dalam ingatan kelam tersebut. Ketika tombak panjangnya dengan ganas menghujam tubuh lawan, pedang putihnya yang menghilangkan nyawa dalam setiap tebasan yang ia lakukan.
Wajah Qin Guan memburuk serta perasaannya menjadi tak karuan. Karena mengingat terakhir kali dia bermimpi di medan perang, perbatasan selatan dan timur diserang dalam satu waktu dan menewaskan banyak prajurit Ji Feng di perbatasan.
Dalam hal ini, Qin Guan lebih mengkhawatirkan perbatasan timur karena situasi beberapa bulan terakhir menjadi lebih tenang, seolah masa tenang sebelum badai menerjang.
Saat Qin Guan sedang menggelar perkamen panjang untuk menulis surat, jendela kamarnya diketuk dari luar sebanyak tujuh ketukan. Qin Guan berpaling ke arah jendela dan berucap pelan, "masuklah."
Tak lama kemudian jendela yang tak dikunci itu dibuka dari luar. Terlihat seseorang yang mengunakan jubah bertudung warna hitam menyelinap masuk dari jendela. Wajahnya tak terlihat, hanya siluet mulut serta janggut bercambang yang menandakan jika sosok tersebut merupakan laki-laki.
"Hal penting apa yang kau bawa?" Qin Guan bertanya dengan pelan, matanya menatap tajam pria tersebut. Tanpa menjawab sepatah kata pun dari pertanyaan Qin Guan, tangannya menyelinap ke balik jubah dan mengeluarkan sebuah amplop berwarna putih dengan leres merah, tertulis sebuah kalimat, "Lin menyapa Di gege."
Qin Guan membuka amplop tersebut dan membacanya. Surat tersebut ditulis oleh tuan muda kedua paviliun langit, Lin Tian.
"Xiao Sin mengalahkan Zhou Qinghou di kota Xiang, Zhen Ping terluka. Nona organisasi tangan setan memendam rasa pada Xiao Tian. Xin Dong menantang Zhen Ping adu pedang tetapi Xiao Tian menggagalkannya. Saat ini adik kita menjadi anggota istana pedang di kota Nan. Dia akan baik-baik saja.
__ADS_1
Tetap waspada
Tian Lin"
Setelah membaca surat tersebut, Qin Guan segera membakarnya. Qin Guan meraih kuas dan bak tinta kemudian menorehkan karakter demi karakter di atas perkamen.
Satu lembar perkamen yang sangat lebar itu penuh dengan tulisan. Qin Guan mengangkat perkamen tersebut dan meniupnya untuk mengeringkan tinta yang masih basah. Setelah beberapa saat, dia melipat perkamen tersebut dan memasukannya ke dalam amplop yang sama dan menyegelnya dengan lilin.
"Sampaikan salamku untuk tuan muda kedua. Hati-hati." Qin Guan menyerahkan amplop tersebut dan dalan beberapa tarikan napas pria yang tadi duduk di hadapan Qin Guan telah menghilang.
Qin Guan hanya bisa menghela napas pelan, malam masih panjang tetapi matanya tak lagi mengantuk. Meraih pakaian luarnya, Qin Guan keluar kamar dan menuju taman untuk menikmati angin malam.
"Ayah ... apa aku harus mengungkapkan semuanya?" gumam Qin Guan. Kembali teringat sosok Wang Jiang dalam pikirannya, sosok pria yang sedang memainkan tombak dengan ganas bagai angin puyuh, meliuk-liuk bagaikan ular dan gesit bagai macan kelaparan.
Gerakan tombak keluarga Wang, teknik turun temurun yang dikuasai keluarga Wang. Namun, saat ini hanya beberapa orang yang menguasainya, salah satunya adalah Qin Guan karena sebelum Ayahnya mati, dia sudah menguasai seluruhnya.
Saat Qin Guan larut dalam pikirannya, terdengar suara langkah mendekat.
__ADS_1
"Kenapa kau masih di sini?"
Qin Guan memalingkan wajahnya ke belakang, menatap pria yang baru datang.
"Tuan ... Anda belum tidur?" ucap Ning Lei.
Terdengar dengusan pelan dari mulut Qin Guan, seperti tak suka dengan jawaban Ning Lei. "Sejak kapan pertanyaan dijawab dengan pertanyaan?"
Ning Lei menggaruk alisnya yang tak gatal, "Tuan, hari ini saya memang piket malam hari. Kebetulan saya lewat sini dan melihat Anda sendirian."
"Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran Anda, Tuan?" tanya Ning Lei.
Qin Guan mengangguk pelan, tangannya menepuk tempat duduk di sampingnya, meminta Ning Lei duduk di tempat itu. Ning Lei mengangguk dan duduk di samping Qin Guan yang terlihat gelisah.
"Aku mengalami mimpi buruk. Terakhir aku memimpikan hal ini, perbatasan utara kita diserang, menewaskan banyak pasukan Ji Feng dan beberapa ribu pasukan Qin. Di utara terlihat terlalu tenang belakangan ini, tetapi sebenarnya badai akan segera datang."
Pupil mata Ning Lei melebar ketika mendengar penuturan Qin Guan yang tak pernah disangkanya. Namun, sejauh yang Ning Lei ketahui adalah, intuisi dari atasannya ini jarang meleset.
__ADS_1
"Jika demikian, Saya akan mengirim peringatan pada Jendral Chen agar waspada."