Tombak Langit Dan Naga Bumi

Tombak Langit Dan Naga Bumi
Amarah Ji Hua


__ADS_3

Beberapa pelayan yang melihat aksi Wang Tian Sin tak dapat berkata apa-apa karena mereka melihat si wanitalah yang menyerangnya duluan. Jiu Tang yang mendengar jika Tuan Muda yang ia layani sedang berkelahi bergegas mencarinya. Tetapi, ketika Jiu Tang melihat Wang Tian Sin menggendong wanita yang tak sadarkan diri membuat pria tua itu menatapnya penuh ketakutan.


Wang Tian Sin yang melihat Jiu Tang, berjalan menghampirinya dan berkata, "Dia sangat marah padaku karena lama tak berjumpa. Katakan pada para pelayan agar tak perlu cemas, dia wanitaku."


Jiu Tang mengangguk cepat dan bergegas pergi untuk menutup mulut kawan-kawannya. Wang Tian Sin dengan santai berjalan menuju kamarnya.


Brak!


Dengan satu kakinya, Wang Tian Sin menendang pintu kamar hingga terbuka lebar. Setelah merebahkan wanita yang menyerangnya, Wang Tian Sin membetulkan posisi tulang pergelangan tangan kanan si wanita yang bergeser karena genggamannya.


"Gadis cantik sepertimu kenapa malah jadi pembunuh?" gumam Wang Tian Sin saat menatap wajah manis wanita yang terbaring di depannya. Bibir tipis berwarna merah muda, wajah seputih giok dan alis bagaikan bulan sabit, wajahnya yang mungil terlihat sangat menggemaskan.


Wang Tian Sin mengembuskan napas panjang, kalimat yang ia katakan pada Jiu Tang sebelumnya hanyalah bualan belaka. Bagaimana mungkin dia memiliki gadis kejam sebagai kekasih? Itu tidak akan terjadi dalam hidupnya. Ia melakukan hal itu karena tidak ingin orang-orang di penginapan merasa was-was dengan kehadiran orang yang menyerangnya.


Saat memeriksa lengan jubah wanita di depannya, Wang Tian Sin menemukan plakat identitas bertuliskan Ji Hua.


"Hmm ... Ji Hua ... apa ada kaitannya dengan pembunuh bayaran itu? Mereka Ji Lang dan Ji Tu, apa mungkin dia ada hubungannya?" gumam Wang Tian Sin.


Setelah memeriksa tak ada lagi senjata rahasia yang Ji Hua simpan, Wang Tian Sin menikmati makan malamnya, juga makanan yang ia beli di jalan saat dalam perjalanan kemari.

__ADS_1


Perut kenyang dan tubuh yang kelelahan membuat Wang Tian Sin mengantuk. Ia menyembunyikan Tombak Langit dan Pedang naga bumi di tempat aman agar tidak menjadi senjata makan tuan. Setelah itu, dia merebahkan diri di samping Ji Hua yang masih tak sadarkan diri.


Senyum nakal terukir di bibir Wang Tian Sin ketika memandang Ji Hua, terbersit sebuah ide nakal di kepalanya tetapi segera ia tepis pikiran tersebut.


Pemuda itu segera memejamkan matanya dan terlelap.


***


Entah berapa lama Wang Tian Sin terlelap hingga sebuah jeritan membawanya kembali sadar. Jeritan seorang wanita yang seolah berada di samping telinganya berhasil membangunkan Wang Tian Sin. Tidak! Bukan seolah di samping telinganya karena wanita itu memang ada di sampingnya.


Wang Tian Sin membuka sebelah matanya dan merasa jika tangannya sedang memeluk sesuatu yang terasa kenyal. Saat menyadari jika tangannya memeluk sesuatu di dada Ji Hua, Wang Tian Sin buru-buru menarik tangannya dan membuka kedua matanya lebar-lebar.


Sebelum wanita itu berbalik dan berjalan menuju pintu, Wang Tian Sin menarik tangan Ji Hua hingga terduduk di pangkuannya. "Kenapa kau berteriak seperti itu? Seperti kiamat di depan mata saja,"


Ji Hua menunjuk Wang Tian Sin geram, tak habis pikir dengan santainya pemuda itu dalam bersikap. "Kiamat katamu? Ini semua lebih dari kiamat!"


"Ayolah ... kau benar-benar berlebihan," ucap Wang Tian Sin, "Lalu ... apa yang membuatmu menyerangku? Kau memiliki kemampuan dalam bersilat, tapi untuk bersilat lidah, aku tidak akan kalah darimu."


Ji Hua memandang wajah Wang Tian Sin, matanya memerah menahan amarah serta air mata yang membuncah, dengan tangan gemetar dan suara yang tertekan, Ji Hua berkata pada Wang Tian Sin, "Bagaimana aku bisa diam saja melihat pembunuh ayahku?"

__ADS_1


Wang Tian Sin mengerutkan kening, sepertinya gadis di depannya sudah salah paham. "Kau anak dari orang yang berusaha membunuhku di desa Jiang? Kalau iya, maka kau salah paham."


"Salah paham bagaimana? Setelah Ayah pergi untuk menghabisimu, dia tidak pernah kembali! Dia tidak pernah kembali hingga ibuku pergi menyusulnya." Ji Hua berteriak dengan tangis menyertai setiap kata yang terucap. Wang Tian Sin bisa merasakan jika terkandung amarah dan kesedihan mendalam di setiap kata yang terucap. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Walau dia mau, dia tidak akan bisa mengembalikan nyawa orang tua Ji Hua.


Maka dari itu, satu jalan yang bisa Wang Tian Sin tempuh kali ini adalah menjelaskan apa yang terjadi kepada wanita di depannya, berharap dia bisa mengerti.


"Nona, apa yang dilakukan oleh ayahmu bukan sepenuhnya hal baik. Dia ingin membunuhku, guruku melindungiku agar tidak terbunuh dan membuat ayahmu mati. Aku sama sekali tidak membunuh ayahmu. Percayalah. Kau bisa bertanya pada ketua Ji Lang apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin, sifat pemarahmu yang membuat pamanmu tidak ingin mengatakan kebenarannya padamu," jelas Wang Tian Sin.


Seperti ada petir yang menyambarnya, hati Ji Hua tergoncang. Selama ini dia memang dikenal keras kepala dan suka membantah, tetapi dia tetap gadis manja yang menyayangi orang tuanya. Saat tahu ayahnya mati saja dia sudah murka, dia tidak pernah menerima penjelasan yang pamannya berikan padanya karena semua itu terdengar seperti omong kosong.


"Nona ...." ucap Wang Tian Sin saat melihat Ji Hua melamun. Ji Hua tersadar dan segera bangkit dari pangkuan Wang Tian Sin.


Wanita itu menoleh dan menunjuk Wang Tian Sin, "Sampai kapanpun, aku tidak akan membiarkan orang yang membunuh ayahku hidup tenang,"


Wang Tian Sin berlari mendahului Ji Hua dan menutup jalan keluar, tatapan hangat yang dari tadi ia perlihatkan, tergantikan dengan tatapan dingin, "sampai kapan pun aku tidak akan mengakui telah membunuh ayahmu, Ingat itu. membunuh pembunuh tak akan mengurangi jumlah pembunuh di dunia ini. Dendamu tak berdasar, lebih baik lupakan itu semua dan lanjutkan hidupmu dengan baik."


Setelah mengatakan kalimat itu, Wang Tian Sin membuka pintu dan mengangkat satu tangannya, "kau boleh pergi, Nona Ji."


Menelan segala dendam dan kebencian, Ji Hua meninggalkan kamar Wang Tian Sin dengan wajah gusar. Di lain sisi, wajah Wang Tian Sin tak kalah buruk. Darahnya terasa panas, jantungnya berdegup kencang dan wajahnya memerah, muncul sebuah penasaran yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Namun, pemuda itu segera menepis segala sesuatu yang muncul dalam pikirannya. "Mungkin aku hanya merasa kasihan padanya,"

__ADS_1


__ADS_2