Tombak Langit Dan Naga Bumi

Tombak Langit Dan Naga Bumi
Kuat Saja Tidak Cukup


__ADS_3

Gelap masih menyelimuti propinsi Qin, jalanan lengang dan udara dingin belum juga tergantikan. Dua orang pria dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh melewati jalanan kota Qin menuju ke barat daya. Melompat dari satu atap ke atap lain, dari satu dahan ke dahan lain.


Saat matahari mulai muncul, mereka berdua sudah keluar dari kota Qin. Sinar matahari membuat wajah dua orang pria itu terlihat. Mereka berdua sama-sama menggunakan pakaian putih dengan mantel bulu tebal melapisi tubuh. Walau pakaian mirip tetapi secara postur dan wajah mereka berbeda.


Seorang pria membawa pedang di pinggang, tubuhnya yang tegap dan tingginya yang hampir dua meter membuatnya terlihat sangat gagah. Apalagi rahangnya yang tegas dan alis tebal semakin menambah ketampanan pria itu. Dia adalah Qin Guan.


Sementara di depannya, pria dengan postur lebih kecil namun tak kalah tampan terus bergerak dengan lincah tak peduli dengan Qin Guan yang sulit mengikuti kecepatannya. Dia adalah Xiao Lang si serigala putih.


Walau status Xiao Lang adalah pelayan Long Tian, tetapi pemuda itu juga mempelajari ilmu tingkat tinggi, sama seperti Wang Tian Sin. Hanya saja Long Tian tidak mau mengangkatnya sebagai murid entah apa alasannya.


Napas Qin Guan mulai tak teratur karena tidak biasa menggunakan ilmu meringankan tubuh dengan intensitas tinggi dan waktu yang lama.


Mendengar deru napas Qin Guan yang tidak stabil, Xiao Lang menoleh dan mengingatkan Qin Guan. "Tetap di belakangku. Jangan sampai tertinggal jauh."


Qin Guan mengangguk pelan. Hawa dingin membuatnya mengeluarkan lebih banyak energi. Kakinya terasa kesemutan karena beberapa kali terperosok pada kubangan salju setengah membeku.


Setelah keluar dari kota Qin, Xiao Lang dan Qin Guan memilih jalan hutan untuk memangkas jarak walau medan yang dilewati lebih sulit.


Xiao Lang kembali menoleh pada Qin Guan, melihat jarak antara mereka berdua. "Jika kita terus berlari seperti ini, sebelum matahari terbenam kita akan sampai di kaki gunung."


"Berapa jauh lagi?" tanya Qin Guan dengan napas tersengal.


Xiao Lang tersenyum melihat Qin Guan yang begitu kelelahan. "Qin Guan Bai Pao! Kau sangat lemah!"


"Enak saja! Bukannya aku yang lemah. Kau yang terlalu kuat, Xiao Lang!" Qin Guan tak tinggal diam saat Xiao Lang mengatakan dirinya lemah. Sekuat tenaga Qin Guan mengejar Xiao Lang dan berusaha mendahuluinya.


Xiao Lang menyeringai kemudian mempercepat langkahnya tak ingin Qin Guan berhasil. Aksi saling kejar pun terjadi hingga mereka berdua tiba di atas bukit.


Matahari tepat di atas kepala mereka tetapi udara tetap terasa dingin. Qin Guan berhenti dan membungkuk karena kelelahan. Pemuda itu berusaha mengatur napasnya. Xiao Lang hanya terkekeh melihat stamina Qin Guan yang menurutnya payah. "Sepertinya kau harus menempa tubuhmu lagi, Guan Gege."

__ADS_1


Qin Guan tersenyum dan mengangguk tak menyangkal ucapan Xiao Lang.


"Di antara Xiao Lang dan Xiao Tian, mana yang lebih kuat?" tanya Qin Guan masih dengan napas tersengal.


"Tuan muda Wang belum memiliki tandingan pada generasinya. Aku hanya hebat ilmu meringankan tubuh karena harus bisa bergerak cepat." Xiao Lang memutuskan duduk di samping Qin Guan. Rasanya tidak akan jadi masalah jika perjalanan ditunda sebentar untuk memulihkan tenaga yang terkuras.


"Jadi ... menurutmu Xiao Tian sangat hebat?" tanya Qin Guan lagi. Xiao Lang kembali mengangguk.


"Tuan Long melatih Tuan muda Wang dengan keras. Saat masih kecil Tuan Muda Wang pernah menerima hukuman karena melindungiku. Dia harus rela berendam di air es sehari semalam tanpa makanan. Selain hebat dia juga berjiwa besar."


Qin Guan semakin kagum dengan adiknya. Mereka baru bertemu sekali saat Qin Guan terluka. Walau menghabiskan dua minggu bersama, tetapi saat itu Qin Guan terluka parah membuat mereka tidak bisa melakukan banyak hal.


"Sepertinya aku akan ikut kalian beberapa waktu ke depan. Banyak hal yang tidak aku pahami selama ini. Walau aku belum terkalahkan di antara prajurit Qin, tapi jika prajurit musuh lebih hebat aku akan kerepotan." Qin Guan menghela napas panjang. Rasa lelah yang menggelayut lenyap tak bersisa saat mendengar ucapan Xiao Lang tadi.


Qin Guan kembali mengingat Wang Tian Sin yang terluka dan membutuhkan obat, membuat pemuda itu bangkit dan mengajak Xiao Lang melanjutkan perjalanan. "Kita harus segera mendapatkan obatnya."


"Apa kau pernah ke sana?" tanya Qin Guan. Xiao Lang menggeleng pelan. Gunung Tanpa Batas adalah tempat yang berbahaya sehingga Long Tian tidak pernah mengizinkan Xiao Lang mengunjungi tempat itu.


Sepanjang hidup Xiao Lang, sudah banyak halang rintang yang dilewati. Berbagai macam bahaya pernah ia hadapi, bahkan masa-masa sekarat pernah ia rasakan. Namun, itu semua bisa ia hadapi karena bersama Long Tian.


"Walau ini pengalaman pertama, tapi aku yakin ini bukan pengalaman terakhir."


Setelah mengatakan kalimat itu, Xiao Lang kembali berlari menerobos lebatnya hutan. Sesekali ia berpijak pada tanah yang terlapisi salju dan meninggalkan jejak tipis menandakan ilmu meringankan tubuhnya yang sangat bagus.


Berbeda dengan Xiao Lang, setiap jejak yang ditinggalkan Qin Guan akan dalam, melebihi mata kaki manusia dewasa.


Walau mereka melihat gunung tanpa batas dengan jelas, tetapi jarak yang harus mereka tempuh masih cukup jauh untuk sampai di kaki gunung.


Salju yang kembali turun membuat mereka kesulitan karena hawa dingin menusuk tulang. Xiao Lang yang memiliki tenaga dalam lebih besar bisa mengatasi kesulitannya dengan cepat, dengan cara menyalurkan tenaga dalamnya ke seluruh tubuh agar tetap hangat. Tapi tidak dengan Qin Guan, dia hanya fokus menyalurkan tenaga dalam ke kakinya agar tidak membeku.

__ADS_1


Bruk!


Qin Guan terjatuh saat menginjak lempengan es yang rapuh hingga hancur. Tajamnya pecahan es itu mampu merobek sepatu yang dikenakan Qin Guan sekaligus telapak kakinya. Darah mulai mengalir dari kaki Qin Guan.


"Dasar lemah! Kenapa bisa sangat ceroboh?!" Qin Guan memaki dirinya yang begitu ceroboh dalam kondisi genting seperti ini. Kaki yang terluka tentu akan menghambat jalan mereka kedepannya.


Saat mendengar debam dari belakangnya, Xiao Lang langsung berhenti dan menoleh. Melihat Qin Guan yang terjatuh di salju membuat Xiao Lang berlari mendekati Qin Guan dengan khawatir.


"Guan gege, kau tidak apa?" tanya Xiao Lang cemas.


Qin Guan mengangguk dan menunjukkan kakinya yang terluka. Kondisi fisiknya mungkin baik-baik saja tetapi wajahnya mengisyaratkan jika hatinya tidak baik.


Xiao Lang dengan hati-hati melepas sepatu yang dikenakan oleh Qin Guan. Pemuda itu melihat tempat yang membuat Qin Guan terjatuh, ternyata genangan air yang mulai membeku dan ada ruang kosong sehingga pecah saat Qin Guan menginjaknya.


"Kita istirahat lagi sebentar," ucap Xiao Lang.


Qin Guan menggeleng, menolak untuk beristirahat. "Aku tidak selemah itu. Hanya luka kecil tidak akan menghentikanku."


Xiao Lang mendengus, menatap Qin Guan dengan tajam. "Jangankan luka kecil. Jika Guan Gaga kehilangan kaki juga aku tetap akan berjalan. Masalahnya aku lelah dan ingin istirahat. Jika Guan Gege mau jalan sendiri silakan. Tapi jika tersesat jangan menangis."


"Kau lelah?" tanya Qin Guan. Xiao Lang mengangguk.


"Kita berlari seharian. Perlu makan dan minum. Guan Gege enak karena hanya membawa sebuah pedang. Sedangkan aku? Aku harus membawa perbekalan." Xiao Lang memonyongkan bibirnya.


Qin Guan tersenyum melihat Xiao Lang ternyata memiliki sifat kekanakan. "Baiklah. Kita istirahat. Tapi ... jangan terlalu lama. Xiao Tian menunggu kita."


Salam Kenal semuanya. Saya Rana Semitha merasa sangat senang karena tanggapan kawan-kawan semua. ini adalah novel Wuxia pertama saya, jadi jika ada saran bisa tinggalkan di kolom komentar atau dm ig saya, Rana Semitha.


Ini adalah bonus capter karena beberapa hari lalu ada yang memberi tips. Terima Kasih

__ADS_1


__ADS_2