
Aroma teh herbal yang begitu kuat menguar di sebuah ruangan yang diisi oleh tiga orang pria yang tak lagi muda. Mereka adalah Tabib Yao, Qin Huang dan juga Long Tian yang sedang berkumpul untuk menikmati teh kesehatan milik Tabib Yao.
Sebelum mereka bicara dengan akur seperti sekarang, terjadi kecanggungan yang disebabkan oleh Qin Huang yang enggan meminta maaf kepada Tabib Yao padahal dia sudah berjanji.
Namun, ketegangan itu segera berakhir karena Qin Huang berhasil menekan egonya dan meminta maaf kepada Tabib Yao.
"Tabib Yao, bisa kau jelaskan musibah yang menimpa putraku?" tanya Qin Huang setelah meneguk teh dari cangkirnya.
Tabib Yao tersenyum tipis dan mengangguk, menyanggupi permintaan Qin Huang. "Pemuda Wang datang ke kota Qin bersama dengan Tuan Long dan satu orang lainnya bernama Xiao Lang. Pemuda Wang terkena racun kelabang malam sehingga kritis dan Tuan Muda Qin ingin menolong pemuda Wang..."
Tabib Yao menceritakan semuanya tanpa menutupi satu apa pun dan membuat Qin Huang mengangguk paham. Namun, sesaat setelah Qin Huang mengangguk paham, orang itu kembali mengerutkan kening ketika mengingat jika Qin Guan pergi ke gunung tanpa batas bersama dengan Xiao Lang tetapi dia tidak melihat pemuda bernama Xiao Lang ini di kediamannya.
Melihat ekspresi bingung Qing Huang, Long Tian berhasil menebaknya dan menjawab kebingungan Qin Huang. "Sepertinya telah terjadi sesuatu pada Xiao Lang. Tapi aku percaya jika pemuda itu akan kembali ketika waktunya tiba."
Qin Huang mengangguk paham dan kembali meneguk teh dari cangkir yang telah diisi oleh tabib Yao. Qin Huang kembali merenung seperti memikirkan sesuatu. Kali ini Long Tian tak dapat menebaknya hingga Qin Huang mengutarakan pemikirannya sendiri. "Tuan Long, ada beberapa pertanyaan yang berputar di kepala saya, tetapi ada satu yang benar-benar ingin saya ketahui."
Walau dilanda rasa penasaran, Long Tian tetap terlihat tenang seperti tak terjadi apa-apa sebelumnya. "Katakan."
Qin Huang menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan, terlihat siap dengan kalimat yang akan keluar dari mulutnya.
"Aku memiliki rekan seperjuangan dengan Marga Wang, kalau tidak salah dia menikah dengan seorang wanita yang dikabarkan adalah murid Tuan Long. Apakah ... Wang Tian Sin adalah pemuda itu? Apa dia adalah anak dari murid Anda?" Qin Huang mengatakan kalimat itu perlahan seperti takut akan membuat Long Tian marah.
__ADS_1
Kali ini giliran Long Tian yang menghela napas. "Apa hubunganmu dengan Wang Jiang?"
"Kami rekan seperjuangan saat dalam medan perang," jawab Qin Huang cepat.
Long Tian tak percaya begitu saja kepada Qin Huang. Bahkan, sekarang Long Tian menatap Qin Huang dengan tatapan tajam. "Selain itu? Aku dengar ada beberapa orang yang ikut dihukum mati bersama Wang Jiang."
Qin Huang menggeleng perlahan, wajahnya tertunduk dan bening kristal muncul di matanya. Tak hanya itu, napas Qin Huang juga menderu diiringi dengan tubuh yang bergetar serta tangan yang terkepal kuat.
"Semua orang yang berhubungan dengan saudara Wang mati, kecuali aku karena Jiang gege menyelamatkanku." Qin Huang mengingat kejadian dua puluh lima tahun lalu ketika Wang Jiang dan teman-temannya melindungi Qin Huang. Hal itu memang seperti kejadian tak sengaja, tetapi Wang Jiang yang sudah mendapat firasat buruk meninggalkannya di kamp dengan alasan Qin Huang sedang terluka.
Memang benar jika saat itu Qin Huang sedang terluka tetapi sebenarnya tidak terlalu parah dan sanggup mengikuti pertempuran jika saja Wang Jiang tak memaksanya mundur.
'Aku memiliki tiga orang putra yang masih kecil dan membutuhkan perlindungan seorang ayah, jagalah mereka jika aku mendapat jasa kehormatan tingkat satu.'
Kehormatan tingkat satu adalah kehormatan tertinggi yang akan diberikan kepada seorang prajurit yang melakukan satu tugas besar dan hanya dapat dilakukan sekali sepanjang hidupnya, yaitu MATI DI MEDAN PERANG.
Wang Jiang dengan gagah memimpin pasukan ke perbatasan bagian selatan kekaisaran Yin, tepatnya sebuah gurun tak berpenghuni. Mata-mata mengatakan jika musuh yang datang adalah gerombolan pemberontak yang ingin menghancurkan kota Wudong dan menjadikan tempat itu markas mereka.
Setelah mendapat kabar itu, Wang Jiang melakukan kesalahan dengan langsung menyerang dengan kekuatan penuh tanpa menyelidiki lebih jauh.
Kemenangan memang diraih dengan mudah oleh pasukan Wang Jiang, tetapi itu semua hanya kemenangan kosong karena setelah pertempuran selesai dan Wang Jiang beserta seluruh pasukannya pulang ke ibukota, tersiar kabar jika sekelompok pemberontak dari kekaisaran Yin telah membunuh utusan agung Kekaisaran Song dengan begitu keji.
__ADS_1
Tak lama setelah kabar tersebut tersiar, seratus ribu prajurit tombak pedang kekaisaran Song mendatangi perbatasan Kekaisaran Yin dan meminta pertanggungjawaban dari kaisar Yin Shi yang saat itu belum lama menjabat.
Kaisar Yin Shi yang saat itu belum memiliki fondasi yang kuat dan penyokong yang kuat membuatnya terpaksa menyerahkan Wang Jiang beserta beberapa perwira tinggi miliknya.
Ternyata itu semua tidak cukup untuk meredam amarah kaisar Song. Mereka meminta seluruh keluarga prajurit yang terlibat turut dimusnahkan.
Wang Jiang yang tidak setuju dengan hal itu segera melakukan perlawanan bersama teman-teman seperjuangannya.
"TIDAK PEDULI DENGAN NYAWA KAMI YANG HANYA SATU INI, ASAL NEGERI DAMAI TANPA PERANG KAMI RELA! TAPI JIKA ITU SUDAH MENYANGKUT TENTANG KELUARGA, SAMPAI MATI AKU TIDAK RELA!"
Long Tian melihat air mata mengalir di pipi Qin Huang yang mulai keriput. Dia baru tahu tahu masalah yang menimpa Wang Jiang dengan sangat jelas. Sebelumnya dia telah melakukan penyelidikan tetapi kasus ini seperti ditimbun dalam-dalam hingga tak menyisakan jejak.
"Aku berterima kasih padamu, Gubernur Qin. Bertahun-tahun lamanya aku menyelidiki kasus ini tanpa mendapat hasil yang memuaskan. Wang Tian Sin adalah anak dari muridku dan sudah aku anggap sebagai cucuku sendiri." Terlihat setitik kebahagiaan yang memancar di mata Long Tian. Akhirnya sebuah teka-teki yang selama ini terus membuatnya mimpi buruk mulai terungkap.
Qin Huang menangis hingga tubuhnya bergetar, tetapi bukan kesedihan yang ia rasakan melainkan sebuah kebahagiaan yang begitu mendalam. Beberapa kali dia berusaha untuk mencari Yin Hua atau pun anaknya yang saat itu masih bayi tetapi tak dapat menemukannya.
"Lalu ... di mana saudari Yin saat ini? Aku sangat ingin bertemu dengannya. Apa dia masih hidup?" tanya Qin Huang setelah mengingat istri dari Wang Jiang.
Long Tian menggeleng dengan raut muka yang memburuk. Matanya memerah dengan air sebening kristal yang menggenang di sana. Amarah kembali memenuhi hatinya, tetapi dengan cepat dia bisa mengendalikannya mengingat jika Yin Hua tak akan pernah kembali. "Hua'er meninggal tak lama setelah dia menitipkan Wang Tian Sin kepadaku. Makamnya ada di gunung Long Hong, di taman bunga yang menjadi tempat kesukaannya."
Qin Huang terlihat semakin sedih, tetapi dia juga tak dapat melakukan apa-apa. Saat Qin Huang membuka mulutnya hendak berkata, seorang tabib muda mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan. "Tabib Yao, Tuan Long, Gubernur Qin, maaf jika saya lancang, tetapi Tuan Muda Qin dan Tuan muda Wang sudah sadar."
__ADS_1