Tombak Langit Dan Naga Bumi

Tombak Langit Dan Naga Bumi
Sehelai Kain Putih


__ADS_3

Sosok berjubah cokelat tua terbaring di lantai dengan luka gorok di leher membuat Qin Guan berlari dan mendekapnya. Qin Guan memeriksa napas dan nadi orang tersebut yang ternyata tabib Yao. Mata Qin Guan memerah, kedua tangannya bergetar hebat karena emosi yang meluap setelah mengetahui jika Tabib Yao meninggal.


Entah berapa banyak air mata yang sudah keluar malam ini, yang jelas jumlahnya terlalu banyak untuk dihitung. Qin Guan meletakan tubuh Tabib Yao perlahan, mulai berpikir siapa dalang di balik semua ini.


Pembunuhan ayahnya, Long Tian, bahkan Tabib Yao tak luput dari tragedi ini menyebabkan banyak pertanyaan muncul di benak Qin Guan. Saat Qin Guan tengah serius berpikir, terdengar langkah beberapa orang mendekat sehingga Qin Guan menoleh ke sumber suara.


Seorang pria berzirah perak menakupkan kedua tangannya seraya membungkuk hormat kepada Qin Guan. "Lin Chen menghadap Tuan Muda Qin. Tubuh Tuan Besar Qin sudah tiba di rumah duka, beberapa puluh penjaga sudah diperintahkan untuk mengabari seluruh Nyonya Muda tentang hal ini. Tubuh Tuan Long juga akan dipindahkan ke rumah duka atas permintaan Tuan Muda Wang. Tetapi ..."


"Tetapi apa?" sergah Qin Guan.


Lin Chen menunduk dan kembali melanjutkan laporannya, "Saat saya bertanya pada Tuan Muda Wang, beliau meminta agar tubuh Tuan Long dimakamkan di gunung Long Hong seperti keinginan Tuan Long,"


Qin Guan mengembuskan napas perlahan, kemudiam mengangguk setuju. "Jika memang seperti itu, siapkan untuk pengantaran ke Gunung Long Hong. Aku mempercayakan tugas ini kepadamu, Lin Chen."


Lin Chen mengangguk, "Baik, Tuan Muda. Saya akan melakukan yang terbaik."


Qin Guan mengangguk puas dan meminta Lin Chen untuk pergi menyiapkan segalanya. Namun, saat Lin Chen baru melangkah keluar, Qin Guan memanggilnya lagi. "Siapkan satu tempat lagi untuk tabib Yao di pemakaman keluarga Qin. Aku tidak pernah tahu latar belakang tabib Yao, tetapi memberikan tempat terbaik adalah kewajibanku."


Lin Chen kembali mengangguk dan pergi meninggalkan Qin Guan. Beberapa prajurit masuk dengan tandu dan kain putih, kemudian memindahkan tubuh Tabib Yao ke atas tandu untuk dibawa ke kediaman Gubernur. Setelah orang-orang itu keluar dan menyisakan dirinya seorang diri, Qin Guan terisak, menumpahkan segala rasa yang ia pendam sejak awal.


"Ayah ... Kau selalu baik kepadaku, tetapi kenapa aku tak bisa membalas kebaikanmu? Kau yang membawa dan menyelamatkanku dari kematian, tetapi aku tak dapat membalasnya!"

__ADS_1


Qin Guan duduk di sudut ruangan, menyandarkan punggungnya yang terasa semakin berat. Kehilangan orang yang selalu menjadi panutan, kehilangan sosok kakek, kehilangan banyak anggota, serta tanggung jawab besar yang menanti di masa depan membuat Qin Guan benar-benar rapuh.


Melipat kedua tangan di atas lutut, Qin Guan menenggelamkan wajahnya di kolam kesedihan. Dua puluh lima tahun sudah berlalu, tetapi rasanya seperti luka lama yang kembali terbuka dan ditaburi garam, benar-benar perih.


"Ge ... kau tidak sendiri." Entah sejak kapan Wang Tian Sin masuk, Qin Guan tak dapat merasakan kehadiran pemuda itu karena terlalu larut dalam kesedihan.


Terlihat senyum yang sangat dipaksakan menyungging di bibir Wang Tian Sin. Pemuda itu duduk di samping kakaknya, merangkul bahu saudara angkat yang begitu ia sayang. "Masih ada aku,"


Qin Guan menatap Wang Tian Sin, "Jika tak sanggup tersenyum tak usah dipaksa. Itu hanya melunturkan ketampanan."


Wang Tian Sin menggeleng pelan dengan senyum tipis yang terlihat tulus muncul di bibirnya. Kesedihan tak harus diungkap dengan airmata, itu adalah satu hal yang terus ia pikirkan beberapa waktu ini untuk menguasai jiwanya.


Wang Tian Sin menatap Qin Guan dengan wajah sendu. "Ge ... Guru pernah berkata, dendam seperti arang di atas sekam. Jika kau tidak bisa mengendalikan hati dari dendam, maka akan berakhir menjadi seonggok abu."


Qin Guan mengangguk, tetapi raut wajahnya masih tak berubah. "Terima kasih, Xiao Tian. Aku akan berusaha menghilangkan dendam ini. Namun, aku tak bisa melepasnya begitu saja. Aku harus menyelidiki semuanya dan memberi hukuman yang pantas. Ayah, Tabib Yao, prajurit Qin, bahkan Tuan Long, mereka harus diberikan keadilan atas kematian mereka."


"Aku pasti mendukung Guan Gege," ucap Wang Tian Sin. Pemuda itu menatap langit jingga di bagian timur, mengembuskan napas perlahan dan bangkit. "Sebentar lagi matahari terbit, kita ke kediaman Qin sekarang."


Qin Guan berdiri dan merapikan jubahnya yang berantakan. "Aku akan berganti pakaian terlebih dahulu."


Qin Guan pergi meninggalkan Wang Tian Sin. Pemuda itu berjalan menuju sebuah bangunan yang masih utuh tak rubuh seperti bangunan-bangunan lain di kediamannya. Menuju sebuah kamar, Qin Guan masuk ke kamar tersebut yang tak lain adalah kamarnya.

__ADS_1


Diambilnya sebuah jubah katun berwarna putih polos yang terlihat sangat sederhana, tak lupa juga sebuah mantel bulu berwarna abu-abu. Dia sedang menjalani masa berkabung hingga tiga bulan ke depan dan Qin Guan tak bisa memakai pakaian mencolok. Pada dasarnya pakaian yang dikenakan Qin Guan sehari-hari dominan berwarna putih, sehingga masa-masa seperti ini tidak terlalu mempengaruhi penampilannya.


Tak lama berselang, Qin Guan sudah selesai bersiap dan keluar menemui Wang Tian Sin di halaman rumah. Alis Qin Guan berkerut karena melihat adiknya mengenakan jubah berwarna hitam. "Apa yang kau lakukan?"


Wang Tian Sin yang sudah menduga dengan hal ini memasang wajah bersalah sebelum amarah kakaknya meledak. "Ge, Aku tidak memiliki pakaian putih selain pakaian dalam. Kau tentu tidak akan memaksaku, kan?"


Qin Guan tak tak dapat berkata-kata dan hanya mengeluarkan kata "Ng" untuk mewakili hati dan pikirannya.


"Gege ... kenapa kau diam saja?" tanya Wang Tian Sin. Qin Guan hanya menggeleng perlahan seperti tak ada apa-apa.


"Kita ke kediaman Ayah, di sana akan ada orang yang mengurus masalah ini."


Wang Tian Sin hanya bisa menurut dan berjalan di belakang Qin Guan. Mereka berdua menggunakan kuda menuju kediaman Qin yang terletak di pusat kota, tak jauh dari balai kota Qin.


Umbul-umbul kematian sudah terpasang di sepanjang jalan menuju balai kota, dan banyak warga berpakaian putih berjalan menuju kediaman Qin untuk melakukan penghormatan. Pada saat ini, Qin Guan kembali tak bisa menahan emosinya dan membuatnya menangis lagi. Wang Tian Sin yang berkuda di belakang Qin Guan tak menyadari jika kakaknya sedang menangis.


Kediaman Qin sudah terlihat, banyak prajurit yang berjaga untuk menertibkan para pelayat. Di lengan para prajurit yang berjaga terikat sehelai kain berwarna putih sebagai tanda berkabung. Saat Qin Guan datang, dua orang penjaga menghampirinya untuk membawa kuda milik Qin Guan ke istal.


Saat Qin Guan dan Wang Tian Sin berjalan memasuki kediaman, dari arah belakang terdengar tangis pilu yang begitu menyayat hati.


"Ayah ...."

__ADS_1


__ADS_2