
Pusat kota Qian selalu ramai ketika matahari tenggelam, apalagi hari ini salju tidak turun, banyak orang yang pergi ke pusat kota untuk mencari hiburan.
Sebuah bangunan dua lantai yang terlihat sederhana tetapi dipadati oleh pengunjung cukup menarik perhatian bagi para pendatang di kota Qian, Wang Tian Sin salah satunya. Di depan bangunan tersebut tergantung sebuah papan nama yang tak terlalu besar bertuliskan "Kedai Arak Bunga"
Wang Tian Sin memasuki kedai tersebut dan berjalan menuju lantai dua, mencari meja yang letaknya dekat dengan jendela agar bisa menikmati pemandangan malam kota Qian. Seorang pelayan mendatanginya dan menanyakan pesanan Wang Tian Sin.
Wang Tian Sin tak memandang pelayan tersebut, matanya masih fokus melihat luar kedai. "Seguci arak patah hati, itu saja."
Pelayan itu mengangguk dan pergi meninggalkan Wang Tian Sin untuk mengambil pesanan. Beberapa saat berlalu, pelayan itu sudah kembali dengan sebuah nampan dengan seguci arak di atasnya.
"Silakan, Tuan Muda," ucap pelayan tersebut ramah ketika meletakan guci arak di atas meja Wang Tian Sin.
Wang Tian Sin membalasnya dengan anggukan dan melempar dua tael perak sebagai upah karena merasa pelayan itu sopan. Pelayan tersebut menerima dua tael perak dengan wajah ceria, setelah mengucapkan terima kasih serta membungkuk hormat, pelayan itu pergi meninggalkan Wang Tian Sin.
Wang Tian Sin mengambil sebuah cangkir kosong, menuangkan arak ke dalam cangkir dengan perlahan dan berhenti ketika cangkir tersebut hampir penuh. Diangkatnya cangkir arak tersebut, Wang Tian Sin menghirup aroma wangi dari arak patah hati.
"Tuan, masalah apa yang membuat pemuda setampan dirimu meminum arak patah hati?" Sebelum Wang Tian Sin meneguk araknya, terdengar suara wanita dari hadapannya. Wang Tian Sin mendongak dan mendapati seorang gadis cantik berdiri di hadapannya. Dengan pakaian sutra berwarna ungu yang kontras dengan kulit putih si gadis membuatnya terlihat begitu cantik.
"Namaku Xuanyuan Qixuan, jika anda berkenan, saya ingin menemani anda minum." Tanpa menunggu jawaban dari Wang Tian Sin, gadis yang bernama Xuanyuan Qixuan langsung duduk di kursi depan Wang Tian Sin.
Wang Tian Sin yang melihat itu hanya menghela napas panjang. Awalnya dia ingin menolak, tetapi ketika seorang gadis sudah memiliki keinginan, penolakan adalah hal yang menyakitkan, apalagi Xuanyuan Qixuan juga cantik membuat Wang Tian Sin tak kuasa menolaknya.
"Pelayan! Ambilkan arak beras kuning dan daging asap!" teriak Xuanyuan Qixuan kepada pelayan. Xuanyuan Qixuan juga menyingkirkan arak patah hati dari meja dan merebut cangkir di tangan Wang Tian Sin, tak membiarkan pemuda itu meminumnya.
"Di mana ada Qixuan, di situ ada keceriaan. Arak patah hati sangat tidak cocok, lebih baik meminum arak beras kuning saja." Celotehan Xuanyuan Qixuan mampu membuat senyum tipis terbit di bibir Wang Tian Sin.
"Wah, ternyata kau lebih tampan saat tersenyum," puji Xuanyuan Qixuan saat melihat senyuman Wang Tian Sin.
Wang Tian Sin hanya membuang muka karena tak ingin gadis di hadapannya melihat pipinya yang merona.
"Lihatlah, pipimu juga merah!" ejek Xuanyuan Qixuan.
Kali ini Wang Tian Sin tidak hanya diam, pemuda itu membalas ucapan Xuanyuan Qixuan. "Kalau merah memang kenapa? Kau tidak suka? Lagi pula Nona, aku tidak memintamu untuk menemanimu di sini. Siapa kau sebenarnya?"
Xuanyuan Qixuan memonyongkan bibirnya dan memalingkan muka, tangannya juga melipat di depan dadanya. "Tampan tapi tuli."
__ADS_1
Wang Tian Sin mengerutkan kening ketika Xuanyuan Qixuan menganggapnya tuli. "Nona jangan asal bicara."
"Asal bicara? Sudah jelas aku memperkenalkan diri. Namaku Xuanyuan Qixuan, tapi Tuan malah masih bertanya aku siapa," gerutu Xuanyuan Qixuan.
Wang Tian Sin menghela napas pelan, berurusan dengan wanita memang selalu merepotkan. Kecanggungan terjadi selama beberapa saat, di antara keduanya tidak ada yang memulai percakapan terlebih dahulu hingga seorang pelayan mengantar arak dan daging asap.
"Terima kasih," ucap Wang Tian Sin. Pelayan itu membungkuk dan pergi meninggalkan meja mereka berdua.
Wang Tian Sin merasa tak enak hati ketika melihat Xuanyuan Qixuan merengut di hadapannya. Pemuda itu menuangkan arak ke dalam cangkir dan memberikannya pada Xuanyuan Qixuan. "Di mana ada Qixuan, di situ ada keceriaan. Sepertinya itu hanya omong kosong belaka."
"Enak saja!" Xuanyuan Qixuan meraih cangkir arak tersebut dan menghabiskannya dalam satu tegukan. Wang Tian Sin tersenyum melihat kelakuan Xuanyuan Qixuan.
Kecanggungan ini mulai mencair, Wang Tian Sin menuangkan arak untuk dirinya dan meneguknya perlahan. Saat dia melihat Xuanyuan Qixuan sudah tidak marah, Wang Tian Sin kembali mengajaknya bicara. "Nona, sepertinya kita tidak pernah bertemu sebelumnya, kenapa kau mau menemaniku minum?"
Xuanyuan Qixuan meletakan sumpitnya di atas mangkok, gadis itu menatap Wang Tian Sin dengan senyuman. "Aku lihat Tuan baru keluar dari balai pengobatan Quanyu. Kebetulan aku lewat dan lapar, saat melihat Tuan masuk ke tempat ini aku ikut saja, siapa tahu saya bisa menghibur."
Wang Tian Sin mengerutkan keningnya, "Menghibur?"
Xuanyuan Qixuan mengangguk, "Iya, menghibur. Tuan baru keluar dari pengobatan Quanyu dan langsung ke kedai arak, apalagi yang anda pesan adalah arak patah hati, siapa tahu anda terkena penyakit serius dan mau mati, jadi saya harus ingin menghibur anda."
"Saya Qixuan, Sin gege bisa memanggilku Qi'er atau Xuan'er," balas Xuanyuan Qixuan.
Wang Tian Sin mengangguk, "Baiklah, Nona Qi, anda dari keluarga Xuanyuan di gunung Hui?"
Xuanyuan Qixuan tersenyum dan mengangguk membenarkan tebakan Wang Tian Sin. "Pengetahuan Sin Gege begitu luas. Tidak perlu memanggilku Nona, jika dilihat dari tombak yang Sin gege bawa, Anda pasti memiliki latar belakang yang tidak biasa. Apa saya benar?"
Wang Tian Sin kembali tertawa. "Pengetahuan luas? Siapakah orang yang tidak tahu tentang keluarga Xuanyuan? Dan juga masalah latar belakang, itu tidak penting. Tetapi ada yang ingin saya tanyakan kepada Anda."
"Apa itu?" tanya Xuanyuan Qixuan.
"Di kota yang jauh dari gunung Hui ini, apa Nona sendirian?" tanya Wang Tian Sin.
"Aku bersama dengan kakakku, sebentar lagi dia akan menyusul." Baru saja Xuanyuan Qixuan mengatakan kalimat tersebut, seorang pemuda menggunakan pakaian bangsawan berwarna biru muda berjalan mendekati mereka berdua. Rambutnya yang panjang dan tak dikuncir melambai-lambai ketika tersapu angin. Pemuda itu menujukan senyum hangat kepada Wang Tian Sin, seperti kawan lama yang berjumpa.
Wang Tian Sin melihat kedatangan pemuda itu langsung berdiri dan memberi salam, "Xiao Sin memberi hormat kepada Tian Gege."
__ADS_1
Xuanyuan Qixuan berdiri dan berjalan menuju pemuda tersebut. "Mei-mei memberi salam."
Wang Tian Sin terkejut mendengar ucapan Xuanyuan Qixuan. Pemuda yang baru datang adalah Xuanyuan Wentian, kawan lamanya. Walau sama-sama dari keluarga Xuanyuan, tetapi Wang Tian Sin tidak tahu jika mereka berdua saudara.
"Tian Ge ... ini?" tanya Wang Tian Sin kebingungan.
"Qi'er adalah adik bungsuku. Xiao Mei, dia adalah Sin'er, kau sudah berkenalan?" tanya Xuanyuan Wentian.
Xuanyuan Qixuan mengangguk dan tersenyum nakal. "Dia bodoh seperti apa yang Da Ge katakan. Aku bersandiwara sedikit dia langsung percaya. Pendekar bodoh."
"Qi'er ...." Xuanyuan Wentian hanya bisa menggeleng pelan saat mendengar ucapan adiknya. Wang Tian Sin juga hanya ternganga saat mendengar seorang gadis mengatakannya bodoh.
Xuanyuan Wentian menatap Wang Tian Sin, "Sin'er, aku harap kamu tidak marah. Dia masih muda, bicaranya asal."
Wang Tian Sin mengangguk pelan dan mempersilakan Xuanyuan bersaudara itu untuk duduk.
"Qi'er, walau Sin'er tidak pandai bersiasat seperti sarjana, tetapi dia memiliki bakat yang bagus di dunia persilatan. Dua tahun yang lalu kakakmu bahkan tidak bisa bertahan lebih dari 50 jurus, apalagi sekarang?" ucap Xuanyuan Wentian.
"Tian Da Ge terlalu memuji," ucap Wang Tian Sin.
"Benar, terlalu memuji. Aku lihat dia keluar dari balai pengobatan Quanyu, bagaimana pendekar hebat bisa masuk sana?" celoteh Xuanyuan Qixuan lagi.
"Qi'er ...."
Wang Tian Sin yang melihat kakak beradik itu ribut tak enak hati, "Sudahlah Tian Da Ge, aku tidak apa, memang kemarin aku harus dirawat oleh Tabib Yan selama beberapa hari, ucapan Xiao Qi tidak salah."
"Benar kan ucapanku," timpal Xuanyuan Qixuan.
Xuanyuan Wentian hanya bisa menghela napas dan mengabaikan ucapan adik bungsunya. Pandangannya kembali fokus kepada Wang Tian Sin yang terlihat tak seceria terakhir mereka bertemu.
"Sin'er, apa yang membuatmu berada di kota ini? Di tempat ini tidak banyak pendekar yang bisa menghiburmu," ucap Xuanyuan Wentian penasaran.
Wang Tian Sin memandang wajah Xuanyuan Wentian sebentar, lalu kembali teralih dengan pemandangan malam kota Qian yang terlihat dari jendela.
"Aku ...."
__ADS_1