
Perdebatan demi perdebatan terus terjadi di antara Wang Tian Sin dan Ji Hua. Tidak ada yang mau mengalah, baik itu Wang Tian Sin mau pun Ji Hua sama-sama keras kepala. Perdebatan itu akhirnya berhenti ketika Jiu Tang memberanikan diri mengetuk pintu kamar dan mengatakan jika hari mulai petang.
"Tuan Muda, Nona, saat-saat terindah untuk menikmati kota Xiang adalah senja di musim semi. Apa Anda berdua ingin melewatkan momen ini untuk terus berdebat?" Jiu Tang terlihat tenang ketika mengatakannya, padahal dalam hatinya dia ketakutan setengah mati karena satu gamparan Ji Hua bisa membuatnya mati. Namun, ada Wang Tian Sin di ruangan itu membuat Jiu Tang sedikit lega walau ada kemungkinan pemuda itu sama murkanya dengan si gadis.
Wang Tian Sin memandang langit jingga di luar sana, menandakan senja telah datang dan malam sebentar lagi tiba. Mengangguk paham, Wang Tian Sin kemudian mengucapkan terima kasih karena Jiu Tang sudah mengingatkannya.
Saat Wang Tian Sin hendak menutup pintu, Jiu Tang mencegahnya dan meminta Wang Tian Sin mendengarkannya sekali lagi. Dengan sabar Wang Tian Sin mengangguk dan membiarkan pria paruh baya itu mengatakan sesuatu, "Malam ini festival musim semi dimulai, banyak pameran yang menjajakan kerajinan tangan. Mungkin anda bisa mengajak Nona ke sana untuk menyenangkan hatinya."
Mendengar penjelasan Jiu Tang, Wang Tian Sin hanya bisa tersenyum dan mengangguk pelan. Sepertinya dia berhasil mengelabui Jiu Tang tentang hubungannya dengan Ji Hua. Lagi-lagi pemuda itu hanya bisa tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
Jiu Tang pergi dengan senyum tersimpul di bibirnya. Entah kenapa dia merasa sangat senang setelah Wang Tian Sin berkali-kali mengucapkan terima kasih padanya.
Di dalam kamar, Wang Tian Sin mengajak Ji Hua untuk melihat festival musim semi.
"Kau ingin mengajaku pergi dengan pakaian seperti ini?" ucap Ji Hua dengan pandangan rendah pada Wang Tian Sin.
Wang Tian Sin baru sadar, dirinya hanya menggunakan jubah hitam yang sangat sederhana, terbuat dari katun dan biasa digunakan oleh rakyat jelata. Berbanding terbalik dengan Ji Hua yang berpenampilan anggun di balik senjata-senjata rahasia di pakaiannya.
"Jika kau malu, kita bisa membeli pakaian yang pantas untukku lalu pergi ke festival musim semi. Bagaimana?" ucap Wang Tian Sin.
"Tidak mau."
Wang Tian Sin duduk di depan Ji Hua, menggosokan kedua telapak tangannya, memasang tatapan memelas, "ayolah, Nona Ji. Kumohon pergilah denganku."
Melirik pemuda di hadapannya sekilas, dengan dingin Ji Hua berkata, "tidak."
Wang Tian Sin terus memohon, tak ingin menyerah begitu saja. Lama-kelamaan Ji Hua mulai risih dengan sikap Wang Tian Sin yang seperti ini, tak seperti kesan awal mereka bertemu, yaitu pemuda gagah pembunuh ayahnya.
"Kalau aku ikut, apa keuntungan yang aku dapat?" ucap Ji Hua.
Mengelus dagu mulusnya beberapa saat, Wang Tian Sin menggeleng, "tidak ada. Kau hanya akan mendapat kesenangan jika menikmati festivalnya. Mungkin yang akan mendapatkan sesuatu adalah aku."
__ADS_1
"Bagaimana bisa?" sergah Ji Hua.
"Jika kau membuat keributan, maka aku yang akan mendapat masalah," jawab Wang Tian Sin santai, membuat Ji Hua langsung menatap Wang Tian Sin dengan tatapan membunuh.
Walau begitu, pada akhirnya Ji Hua setuju untuk pergi ke festival musim semi bersama Wang Tian Sin.
***
Lentera-lentera menyala di sepanjang jalan besar kota Xiang. Wang Tian Sin menatap itu semua dengan pandangan kagum karena jarang mendapati pemandangan seperti ini sebelumnya. Ji Hua menatap aneh Wang Tian Sin karena menurutnya sikap pemuda itu aneh dan kampungan. Selain paras tampan dan banyak uang, tak ada hal lain yang menarik dari Wang Tian Sin, menurutnya.
Wang Tian Sin melihat toko pakaian, karena tertarik pemuda itu langsung menarik lengan Ji Hua dan mengajaknya masuk.
Seorang pria langsung menyambut kedatangan kedua muda-mudi itu begitu mereka memasuki toko. "Selamat datang, Tuan muda, Nona, ada yang bisa saya bantu?"
Wang Tian Sin tersenyum hangat kepada pelayan itu, sementara Ji Hua tak menanggapi pelayan itu dan langsung mengedarkan pandangan, melihat beberapa pakaian yang dipajang di toko tersebut.
Beberapa orang yang sedang berkunjung memperhatikan pasangan Wang Tian Sin dan Ji Hua, tetapi fokus utama mereka tetap Ji Hua yang mereka pandang dengan tatapan ketakutan.
Wang Tian Sin berjalan mendekati jubah itu diikuti Ji Hua di belakangnya. Pelayan yang tadi menyambutnya tersenyum penuh kemenangan ketika melihat tamunya tertarik dengan pakaian paling mahal di toko ini.
"Aku mau ini," ucap Ji Hua seraya menunjuk jubah hitam tersebut. Pelayan itu langsung mengangguk dan melepas pakaian tersebut dari patung pajangan. Wang Tian Sin meminta pelayan itu agar tak mengemas pakaiannya karena dia ingin langsung mengenakannya.
Wajah rupawan Wang Tian Sin bertambah beberapa kali lipat saat tubuhnya yang gagah dibalut dengan pakaian pilihan Ji Hua. Senyum tak pernah padam dari bibirnya, sementara Ji Hua merasa aliran darahnya berdesir lebih cepat, wajahnya memanas dan jantungnya berdetak kencang. Perasaan asing mulai timbul dalam hatinya namun buru-buru ia tepis.
Setelah membayar pakaian tersebut, Wang Tian Sin mengajak Ji Hua keluar dari toko dan menyusuri jalan yang cukup ramai. Di sisi kiri dan kanan jalan terdapat orang yang menjajakan makanan dari cemilan hingga makanan berat. Wang Tian Sin melihat wanita tua yang sama dengan kemarin malam.
"Nenek, aku kembali," ucap Wang Tian Sin ramah. Nenek itu tersenyum lebar dan membuka penutup kukusannya, terlihat hakau yang putih mengkilap, di dalamnya ada beberapa serat hijau dari daun kucai yang digunakan sebagai isian hakau.
"Kenapa ada lebih banyak hakau, nek?" tanya Wang Tian Sin heran. Semalam jumlah hakau yang nenek itu bawa hanya setengah dari malam ini. Wang Tian Sin yakin akan hal itu.
"Panggil saja nenek Ming," ucap nenek Ming ramah. Wang Tian Sin mengangguk pelan. Nenek Ming mengambil beberapa hakau ke dalam mangkok dan menyerahkannya pada Wang Tian Sin sambil berkata, "Tuan Muda terlihat sangat menyukai hakau, nenek yakin Tuan Muda akan kembali malam ini."
__ADS_1
Ji Hua hanya diam di samping Wang Tian Sin, enggan menanggapi percakapan keduanya. Nenek Ming mengambil mangkok lagi dan mengisinya dengan beberapa hakau. Awalnya Ji Hua menolaknya, tetapi Wang Tian Sin menatapnya tajam seakan memaksa Ji Hua untuk menerimanya. "Terima kasih,"
Terdapat kursi panjang tak jauh dari tempat Nenek Ming berjualan. Wang Tian Sin mengajak Ji Hua untuk duduk di tempat itu, sementara Nenek Ming membereskan beberapa hal sebelum mendekati Wang Tian Sin.
"Apa Tuan Muda ingin melihat festival musim semi?" tanya Nenek Ming.
"Iya, Nek. Aku jarang menikmati dunia luar, tak ingin melewatkan kesempatan ini," jawab Wang Tian Sin.
"Puncak festival musim semi adalah tiga hari lagi, malam itu ribuan lentera akan di terbangkan, tempat yang paling cocok untuk pasangan muda seperti kalian menikmatinya adalah di danau impian, jika sempat, maka datanglah," ucap Nenek Ming.
Wang Tian Sin mengangguk pelan. Saat dia hendak memasukan hakau terakhir ke mulutnya, pandangannya menangkap sesosok yang cukup familiar baginya, gadis yang siang ini ia lihat dalam cengkeraman Ji Hua. Tak hanya Wang Tian Sin, Ji Hua juga menyadari keberadaan gadis itu, membuatnya memalingkan wajah karena merasa sebentar lagi masalah akan datang.
"Jangan cemas. Selama kau tidak maju dulu, aku tidak akan membiarkannya menempatkanmu dalam masalah," bisik Wang Tian Sin saat mengetahui kecemasan gadis yang duduk di sampingnya.
Lama kelamaan bayangan Zhen Dong semakin dekat hingga akhirnya gadis itu berdiri beberapa langkah dari Wang Tian Sin. Nenek Ming mengenali Zhen Dong, segera membungkuk hormat dan pergi karena sepertinya ada masalah di antara mereka bertiga yang harus diselesaikan.
Wang Tian Sin meletakan sumpit di atas mangkok, pandangannya mengarah pada Zhen Dong yang menatapnya tajam. "Nona Zhen, ada yang bisa saya bantu?"
"Setelah membuat masalah denganku, kau masih berani tinggal di kita Xiang?" ucap Zhen Dong ketus.
Wang Tian Sin mengerutkan kening, "apa semua orang yang mempunyai masalah dengan Anda tak memiliki hak untuk tinggal di kota ini?"
"Tentu saja. Kau lihat, tidak ada seorangpun di kota ini yang berani menantangku."
Wang Tian Sin tersenyum kecil, menatap Ji Hua yang sedang dilanda kebosanan, lalu kembali memandang Zhen Dong. "Nona, dunia ini luas, jika Anda menerapkan hal itu di kota Xiang, apa Nona tidak pernah berpikir jika di masa depan akan mengalami hal seperti itu?"
"Tidak mungkin! Tidak ada yang berani melawan ayahku!" bantah Zhen Dong yang mulai mencatut nama ayahnya.
Wang Tian Sin mengangguk, lalu memberikan mangkoknya yang sudah kosong pada Ji Hua. "Jika tidak salah, Nona Zhen adalah putri dari Tuan Zhen Ping, salah satu ahli pedang yang masuk dalam 10 pendekar tingkat tinggi dalam urutan paviliun langit tahun ini, menempati posisi sembilan. Tidak buruk,"
Wang Tian Sin berani mengatakan posisi sembilan dalam urutan tertinggi dunia persilatan tidak buruk, tentunya karena dia memiliki latar belakang yang tidak biasa.
__ADS_1
Saat Zhen Dong ingin membantah ucapan Wang Tian Sin, terdengar suara dari arah belakangnya, "Dongdong."