Tombak Langit Dan Naga Bumi

Tombak Langit Dan Naga Bumi
Pedang Naga Langit


__ADS_3

Ketika Wang Tian Sin sedang meratapi nasibnya, seorang pemuda yang tadi ikut menjahilinya menunjuk sebuah pohon persik yang berbuah lebat dan di antaranya sudah ada yang masak. Senyum Wang Tian Sin tentu saja tak dapat ditahan untuk tidak muncul karena dirinya begitu senang.


"Terima kasih, aku akan mengambilnya," ucap Wang Tian Sin seraya bangkit dan berjalan mendekati pohon tersebut.


"Kau tidak ingin aku petikkan saja?" tanya seorang pemuda, tetapi dibalas gelengan kepala oleh Wang Tian Sin.


Seorang temannya memukul bagian belakang kepala pemuda tersebut cukup keras hingga membuatnya mengaduh kesakitan. "Ada apa denganmu?"


"Ada apa denganku? Seharusnya aku yang bertanya, ada apa denganmu? Sudah jelas ketua sudah memperingatkan kita untuk membantunya," ucap pemuda yang memukul. Namanya Xiao Zhan, satu anggota muda yang bergabung dengan istana pedang sejak usia belia.


"Ah ... aku baru ingat sekarang." Mungkin pukulan tersebut membantu menyadarkannya. Dia adalah Li Ming, anggota istana pedang yang belum lama bergabung, baru sekitar empat tahun tetapi namanya dikenal oleh masyarakan Nan oarena sering berbuat ulah.


Tak menghiraukan perdebatan keduanya, Wang Tian Sin kemudian mulai memanjat pohon persik dan memetik beberapa buah yang sudah ranum atau pun matang.


"Kalian mau?" Wang Tian Sin menyerahkan dua buah tersebut tetapi hanya dibalas dengan gelengan kepala.


Xiao Zhan yang tak enak hati dengan ekspresi Wang Tian Sin setelah mereka menolak segera menjelaskan. "Kami bukannya tidak mau, tetapi lebih baik buah itu untuk kau simpan saja. Kami bisa makan makanan enak ketika kami lapar tetapi berbeda denganmu."


"Kalau begitu aku tak akan memaksa." Wang Tian Sin kembali menggigit di tangannya.


Terdengar alunan seruling dengan nada sendu dari arah istana pedang. Xiao Zhan dan lainnya memandang sejenak ke arah istana pedang berada. Setelah memastikan jenis irama dari suara tersebut, Xiao Zhan mengajak kawan-kawannya kembali. "Itu adalah irama panggilan. Kita harus kembali sekarang juga."


Wang Tian Sin tak pernah mendengar irama ini sebelumnya, tetapi mendengar keseriusan dari para pemuda itu, Wang Tian Sin juga ikut bergegas kembali ke istana pedang meski mulutnya terus mengunyah buah persik.


Orang-orang sudah lebih dulu bergerak cepat meninggalkan Wang Tian Sin. Pemuda itu tidak bisa bergerak secepat biasanya karena tubuhnya yang lelah dan beban berat.


Saat tiba di istana pedang, ratusan anggota istana pedang dari tua hingga muda baik laki-laki mau pun perempuan sudah berkumpul di aula utama.


Wang Tian Sin yang datang terakhir dengan pakaian basah kuyup serta penampilannya yang berantakan menjadi pusat perhatian orang-orang.

__ADS_1


Dari jauh, Xin Dong memicingkan matanya ketika Wang Tian Sin datang. Entah apa yang dia pikirkan, tetapi matanya bukanlah mengarah ke badan maupun wajah muridnya, tetapi pedang berwarna emas yang ada di tangan pemuda itu.


Walau Wang Tian Sin merupakan anggota baru partai perguruan istana pedang, tetapi posisinya sebagai murid langsung Xin Dong membuatnya berdiri di dekat Xin Dong dan Xin Yue berada.


Melihat semua anggota yang ada sudah berkumpul, Xin Dong maju beberapa langkah dari tempatnya berdiri. Setelah itu dia mengalirkan tenaga dalamnya ketika berbicara membuat semua orang bisa mendengarnya dengan jelas.


"Karena semuanya sudah berkumpul, aku hanya ingin mengatakan jika pertemuan musim gugur tahun ini aku akan membawa dua anggota dengan kontribusi tertinggi. Sebelumnya aku tidak pernah menerapkan aturan ini karena Xin Yue selalu menemaniku dalam setiap pertemuan. Namun, kali ini berbeda. Dirinya sedang terluka dan membutuhkan waktu setengah tahun untuk pulih. Jika kalian berminat, maka dalam waktu satu bulan naikkan poin kontribusi kalian." Setelah mengucapkan hal tersebut, Xin Dong mundur dan berdiri di samping Xin Yue.


Aula menjadi gaduh seketika. Poin kontribusi bisa didapat dengan duel, bisa juga dengan mengurus perguruan istana pedang seperti membetulkan fasilitas yang rusak mau pun mengurus perpustakaan membantu pustakawan.


Sebagai pendekar, seringkali mereka memilih jalan yang terlihat keren, yaitu pertarungan. Namun, untuk mereka yang tak memiliki kemampuan terlalu bagus maka mereka akan membantu mengurus partai untuk meraih kontribusi.


Wang Tian Sin maju satu langkah dan memberi salam hormat pada Xin Dong. "Guru, murid memiliki pertanyaan."


Xin Dong mengangguk mempersilakan Wang Tian Sin untuk bertanya.


Wang Tian Sin mengangguk pelan sebelum berkata, "Murid memiliki undangan tersebut yang diberikan secara langsung oleh Tuan Muda Xuanyuan beberapa bulan lalu dan satu lagi undangan perwakilan Gunung Long Hong mewakili mendiang guru Long Tian. Dalam wasiatnya, Guru Long meminta murid datang sebagai perwakilan dari gunung Long Hong. Murid harap guru bisa memahami situasi murid."


"Terima kasih, Guru."


Xin Dong hanya mengangguk.


Aula kembali gaduh, karena beberapa pertanyaan muncul di pikiran mereka.


"Apa hanya tersisa satu tempat?"


"Apa dengan ikutnya pemuda itu tak mempengaruhi yang lain?"


"Sungguh pemuda yang beruntung, mendapat dua undangan sekaligus."

__ADS_1


Mendengar bisikan-bisikan yang terdengar seperti ribuan lebah itu membuat Xin Dong marah hingga matanya merah.


"Diam!" Akhirnya Xin Dong tak dapat menahan teriakannya lagi, membuat semuanya langsung menutup mulut rapat-rapat.


"Masih ada dua tempat untuk anggota partai istana pedang. Jika kalian ingin bersaing, maka bersainglah secara sehat."


Xin Dong meninggalkan aula pertemuan, meninggalkan sejumlah insan yang masih bertanya-tanya.


Xin Yue juga melangkah meninggalkan aula, tetapi ketika pemuda itu melewati Wang Tian Sin, tangannya memberikan kode untuk Wang Tian Sin ikut.


Tanpa bertanya apa-apa, Wang Tian Sin mengekori Xin Yue menuju pondok kediaman Xin Dong yang letaknya tak jauh dari aula.


Xin Dong berdiri di serambi pondok dengan tangan terlipat di pinggang. Tatapan pria itu dingin dan tajam, bahkan saat Wang Tian Sin mengucap salam, Xin Dong tak membalasnya dan terus menelusuri setiap inci dari tubuh muridnya serta menyelami pikirannya.


"Tian Sin."


"Murid menyapa guru," ucap Wang Tian Sin.


Wang Tian Sin berlutut sebelum mengangkat kedua tangannya, menyerahkan pedang berwarna emas dengan ukiran naga yang sangat indah. Xin Dong tak lekas menerimanya, tetapi malah menatap dalam pada muridnya yang sedang berlutut.


Xin Dong menghela napas pelan sebelum memalingkan wajah ke arah cakrawala biru di atad sana. "Tian Sin, kau tahu benda apa yang sedang kau pegang?"


Wang Tian Sin mengangguk, "Murid sedang memegang pedang, guru."


Xin Dong ingin mengumpat tetapi ia tahan. "Aku tahu. Maksudku adalah ... apa kau tahu pedang macam apa yang sedang kau pegang?"


Wang Tian Sin menggeleng pelan.


Xin Dong mengangguk, "Aku akan menjelaskannya padamu. Pedang ini bernama pedang langit, salah satu benda pusaka yang dijaga oleh hewan mematikan. Entah bagaimana kau mendapat pedang ini aku tidak peduli tetapi aku harus mengingatkanmu agar berhati-hati. Banyak orang yang mengincar pedang ini, bahkan pedang naga bumi dan tombak langit yang biasanya kau bawa."

__ADS_1


Author Note:


Selamat menyambut hari kemenangan


__ADS_2