
Musim dingin belum berlalu ... angin dingin masih menerjang, hening melahap perasaan dan ramai tak kunjung menguar. Gelap menggurita tak ada bulan yang bersinar.
Dua jam telah berlalu, belum ada tanda-tanda kehadiran Tabib Yao setelah pamit membuat obat untuk Wang Tian Sin. Tampaknya orang itu membutuhkan waktu lebih lama dari yang di ucapkan.
Qin Guan meminta para prajurit memperketat penjagaan karena tak ingin ada yang menyusup di kediamannya. Walau ada Long Tian yang sanggup menumpas orang-orang itu, tetapi Qin Guan tak ingin merepotkan tamunya.
Di ruangan tempat Wang Tian Sin berbaring, Xiao Lang, Long Tian dan Qin Guan belum beranjak pergi. Di sudut ruangan, Long Tian terlihat memejamkan mata. Entah dia sedang meditasi atau tidur, Xiao Lang tak dapat merasakannya.
Xiao Lang masih terjaga di samping Long Tian, mengamati keadaan di sekeliling kediaman, di mana banyak prajurit yang berlalu lalang menjaga kediaman tersebut, memastikan tak ada penyusup.
Terlalu ramai. Pikir Xiao Lang yang tak nyaman berada di tempat seperti ini. Belasan tahun hidup di gunung Long Hong membuatnya suka dengan ketenangan.
Banyak orang mengira, ketika hidup di tempat sepi maka kesepian akan melanda. Namun, sepi dan kesepian adalah dua hal berbeda dengan garis pembatas tak terkira. Di tempat ramai pun orang bisa merasakan kesepian, tetapi orang hidup di tempat sepi banyak juga yang tak kesepian.
Di lain sisi, Qin Guan masih setia menemani Wang Tian Sin yang tak kunjung sadar. Pemuda itu merasakan kekhawatiran mendalam ketika melihat wajah Wang Tian Sin kian menghitam seiring berjalannya waktu.
Terdengar langkah kaki mendekati ruangan. Tak lama berselang, suara pintu yang digeser pun terdengar. Aroma kuat dari ramuan herbal merebak memenuhi ruangan setelah pintu terbuka.
Qin Guan dan Xiao Lang yang masih terjaga segera mengalihkan perhatian. Long Tian turut membuka matanya dan melirik ke arah pintu. Terlihat Tabib Yao datang bersama dengan dua orang tabib wanita yang masih muda. Salah satu dari wanita itu membawa sebuah nampan yang berisi beberapa mangkuk herbal.
Qin Guan mendatangi tabib Yao dengan penasaran. Segala pertanyaan yang muncul di pikirannya ingin ia tanyakan, tetapi hanya satu kalimat yang berhasil keluar. "Tabib Yao, apa obatnya sudah siap?"
Tabib Yao mengangguk tetapi wajahnya terlihat tidak baik. "Tuan muda, seperti yang diketahui, racun kelabang malam sulit untuk diobati. Perlu paru beruang untuk mengobatinya, tetapi ada hal yang tak terduga.
Kening Qin Guan berkerut, tak mengerti maksud Tabib Yao. "Maksud Tabib Yao?"
Tabib Yao terlihat ragu. Pandangannya menunduk tak berani menatap Qin Guan. "Saya tidak bisa menjamin kesembuhan Pemuda Wang."
Qin Guan melebarkan matanya, terkejut sekaligus marah. "Apa maksudmu, Tabib Yao? Bukankah tadi Anda bilang bisa?"
__ADS_1
Menghela napas perlahan, Tabib Yao merasa berat untuk menjelaskan faktanya pada Qin Guan. Sebagai tabib, dia ingin memberikan yang terbaik pada pasiennya, tapi hal buruk masih mungkin terjadi. "Racun kelabang malam di tubuh pemuda Wang terkontaminasi tapak lima racun. Itu sudah menjadi masalah rumit."
"Racun kelabang malam bisa diobati dengan Paru beruang, sedangkan tapak lima racun memerlukan hati panda untuk ramuannya. Masalahnya adalah, hati Panda dan Paru beruang tidak bisa dicampur karena akan berdampak buruk," lanjut Tabib Yao.
Tapak lima racun? Salah satu ilmu tapak mematikan dari kelompok tangan setan? Qin Guan merasa harapannya hancur. Pemuda yang biasanya tegas dan berwibawa itu kini ambruk dengan pandangan kosong. Entah apa yang Qin Guan pikirkan, tetapi air mata mulai menetes dan mengalir di pipinya. Pemuda itu kembali menatap Tabib Yao.
"Apa ... apa tidak ada cara lain?" tanya Qin Guan penuh harap.
Tabib Yao menggeleng perlahan. Terlihat jelas jika orang itu tertekan saat ini. "Untuk sementara ini tidak, Tuan muda."
Qin Guan memejamkan matanya. Ingin rasanya dia menghancurkan barang-barang di sekitarnya untuk meluapkan emosi, tapi itu tidak bisa dia lakukan karena Xiao Lang dan Long Tian.
Tabib Yao melirik dan membungkuk hormat pada Long Tian.
"Tuan Long ...." Long Tian berdiri dan berjalan mendekati Tabib Yao.
"Tabib Yao tahu masih ada satu cara walau keberhasilannya sangat tipis, kan?" ucap Long Tian yang sekarang berdiri di hadapan Tabib Yao.
Long Tian mengangguk dan tersenyum karena Tabib Yao jujur. Long Tian melihat Qin Guan yang masih termenung seperti memikirkan sesuatu.
"Qin Guan, bagaimana aku harus memanggilmu?"
"Anda bebas memanggilku," jawab Qin Guan cepat. Long Tian lagi-lagi mengangguk dan mengelus jenggotnya yang memutih.
"Guan'er, bagaimana? Apa kau keberatan?"
Qin Guan menggeleng pelan, tak merasa keberatan dengan panggilan yang diberikan oleh Long Tian.
"Baiklah. Aku akan memanggilmu Guan'er. Kau ingin menolong Sin'er, 'kan? Namun hal ini membahayakan nyawamu."
__ADS_1
"Jika aku bisa melakukannya, akan aku lakukan. Xiao Tian menyelamatkanku saat itu dan aku belum membalas kebaikannya. Jika hari ini Xiao Tian mati dan aku belum berusaha, maka aku akan sangat menyesal," jawab Qin Guan yakin.
Long Tian merasa puas dengan jawaban Qin Guan. Pria itu merasa jika Qin Guan mampu membantu muridnya yang sedang sekarat. Merasa tak masalah, Long Tian menjelaskan apa yang dia ketahui pada Qin Guan. "Racun kelabang malam bisa dinetralkan dengan kelabang es di puncak gunung tanpa batas. Perjalanan dari tempat ini hingga gunung tanpa batas bisa ditempuh dalam dua hari berkuda atau sehari dengan ilmu meringankan tubuh pendekar sekelasmu. Sin'er bisa bertahan hingga empat hari ke depan. Namun, saat matahari terbenam di hari ke empat belum bertemu penawar, maka Sin'er akan mati."
Secerca harapan menyala di hati Qin Guan setelah mendengar penjelasan Long Tian. Bagaimana pun hasilnya, dia harus berusaha. "Aku akan berangkat malam ini juga."
Long Tian menggeleng tak setuju dengan ide Qin Guan. "Untuk malam ini istirahatlah. Saat matahari terbit pergi bersama Xiao Lang agar kalian bisa saling membantu."
"Tapi bukankah lebih cepat lebih bagus?" ujar Qin Guan.
"Guan'er, jangan hanya mengandalkan perasaan. Sore ini kau minum banyak, tenaga dalammu kacau. Tak baik jika harus pergi dalam kondisi seperti itu. Gunakan logikamu karena kau adalah laki-laki dan seorang pemimpin."
Ucapan Long Tian bersifat mutlak, tak ada satu pun yang membantah karena semua itu adalah kenyataan. Qin Guan hanya bisa menghela napas pelan dan kembali duduk di samping Wang Tian Sin.
Jika Long Tian tidak mencegahnya, sudah pasti Qin Guan akan pergi saat itu juga tanpa memikirkan keselamatannya. Setelah memastikan adiknya baik-baik saja, Qin Guan pamit beristirahat. Tabib Yao turut keluar setelah Qin Guan pergi.
Long Tian juga meminta Xiao Lang beristirahat dan menyiapkan perbekalan untuk esok, sementara dirinya akan menjaga Wang Tian Sin. Xiao Lang menuruti perkataan Long Tian dan beristirahat di sebuah kamar yang disediakan Qin Guan.
Di ruangan tempat Qin Guan istirahat, Tabib Yao datang menemuinya dan meminta Qin Guan membatalkan niatnya karena hal itu sangat berbahaya.
Gunung Tanpa batas adalah salah satu gunung tertinggi di benua Xiang. Sudah banyak orang mati di gunung itu. Baik itu mati kedinginan mau pun tergigit kelabang es. Tabib Yao tidak ingin hal buruk menimpa Qin Guan.
"Tabib Yao, Anda pasti ingat kejadian tiga tahun lalu, 'kan? Sat aku pulang dengan luka parah. Jika Xiao Tian mau, saat itu dia bisa meninggalkanku di jalan dan membiarkan aku mati membeku di luar sana. Jika Xiao Tian mau, dia bisa membunuh semua penjaga yang berusaha menangkapnya. Tapi ... ia tidak melakukan hal itu juga, 'kan? Dia adikku dan aku harus menolongnya."
Tabib Yao tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Jika dirinya menjadi Qin Guan, dia akan melakukan hal yang sama. "Saya berharap Tuan Muda Qin kembali dengan selamat dan bisa menyelamatkan pemuda Wang."
"Racun kelabang malam dan kelabang es saling menyembuhkan. Jika anda terkena gigitan kelabang es, segeralah pulang tanpa perlu membawa binatang itu lagi."
Tabib Yao pergi setelah mengatakan hal tersebut. Qin Guan berpikir jika Tabib Yao ingin dia menyerah saat terkena kelabang malam. Tapi malah dia berpikir sebaliknya.
__ADS_1
"Apa pun yang terjadi, aku akan membawa binatang itu kemari."