Tombak Langit Dan Naga Bumi

Tombak Langit Dan Naga Bumi
Paviliun Langit


__ADS_3

Paviliun Langit berada di bagian Tenggara benua Xiang, sebuah gunung tanpa tuan karena tidak dalam naungan kekaisaran mana pun. Di puncak gunung yang tertutup kabut, berdiri sebuah bangunan yang terlihat sederhana tetapi menyimpan banyak rahasia.


Di depan rumah tersebut, terdapat halaman yang cukup luas hingga mampu menampung tujuh rak besar dengan masing-masing seratus laci di tiap rak. Rak tersebut bernama Rak Pengetahuan karena apa pun yang kau tanyakan, maka akan ada jawaban asal mampu membayarnya.


Sistemnya mudah, datanglah ke Paviliun langit dan ajukan satu pertanyaan, setelah pihak Paviliun langit menentukan harga untuk sebuah jawaban, kau boleh membayarnya dan mendapat jawaban yang diinginkan. Jika dirasa terlalu mahal atau tak memiliki uang, maka cukup pulang dan lupakan pernah datang ke Paviliun Langit.


Alunan melodi dari petikan kecapi mengisi hari sejuk di puncak Gunung Langit, melodi menenangkan, tapi tak jarang juga berubah menjadi menegangkan atau kesedihan yang mendalam. Suara seruling yang mendamaikan hati perlahan mengikuti irama kesedihan dari petikan kecapi, seolah seorang pria sedang menenangkan wanitanya, atau seorang kakak sedang merengkuh adiknya yang dirundung duka.


Dua melodi yang menyatu semakin lama semakin menghanyutkan, membawa kepedihan bagi para pendengarnya. Beberapa orang menitikan air mata ketika puncak dua melodi itu begitu menggetarkan jiwa.


Siapakah dua seniman kurang ajar yang membuat banyak pria menangis di siang hari? Tentu saja mereka adalah dua tuan muda Paviliun Langit, Lin Shen dan Lin Tian. Keduanya sedang duduk di halaman kediaman mereka yang merupakan tebing tanpa batas, menghabiskan waktu bersama seperti hari-hari biasanya.


Dua orang pria yang memiliki selisih usia tujuh tahun ini memang seringkali bertukar wawasan bersama layaknya saudara pada umumnya.


Suasan mendadak hening ketika jemari lentik Lin Tian menjauh dari dawai, sementara seruling giok milik Lin Shen tak lagi menempel di bibir. "Lin Tian ... semakin lama permainanmu semakin bagus. Aku yakin, Lao Huang sedang menangis dan mengutuk kita berdua."


Pemuda yang dipanggil Lin Tian tersenyum tipis mendengar pujian dari pria yang terlihat lebih tua darinya. "Gege ... sepertinya Lao Huang hanya mengutuk Anda seorang. Bagaimana mungkin permainan kecapiku berubah menyedihkan kalau Gege tidak ikut meniup seruling giok tersebut?"


Lin Shen mencebik saat Lin Tian malah menyalahkannya, "Ais ... melodimu selalu berubah-ubah, dari hal yang terdengar begitu manis seperti sedang kasmaran, menantang seperti genderang perang, hingga menenangkan seperti di tepian danau. Tapi ... aku paling suka dengan melodi kesedihan yang kau mainkan, sakura terakhir di musim gugur ... melodi itu terdengar seperti seorang pria yang ditolak sebelum menyatakan cinta."


Tawa Lin Shen meledak saat dia melontarkan kalimat terakhir, berbanding terbalik dengan Lin Tian yang mendengkus kesal dan muka memerah. "Menyebalkan!"


Lin Tian mengangkat kecapi tua kesayangannya dan berjalan meninggalkan Lin Shen yang masih tertawa, berjalan menuju ruang sederhana tempatnya istirahat.


Sebelum Lin Tian melangkahkan kaki ke dalam ruangan, Lin Shen melemparkan kipas kesayangannya mengarah ke punggung Lin Tian. Dengan sigap Lin Tian menangkap kipas tersebut dengan tangan kirinya.


Pria dengan rambut hitam terurai dan jubah biru muda yang membalut tubuhnya berjalan dengan elegan menyusul Lin Tian yang memasang wajah tak senang.

__ADS_1


"Aku hanya bercanda, kenapa kau begitu serius? Atau kata-kataku adalah fakta? Kau ... ditolak? Aiya! Gadis mana yang menolak Tuan Muda kedua Paviliun Langit?" goda Lin Shen lagi.


Lin Tian melemparkan kipas milik Lin Shen dengan kasar ke wajah pemiliknya, karena sudah sangat kesal. "Ingat, Ge! Aku akan mengadukanmu pada Ayah!"


"Mengadu tentang apa?" jawab Lin Shen cepat.


Lin Tian menyeringai melihat wajah Lin Shen yang berubah panik, "Rumput es abadi ... sepertinya ayah akan menyuruhmu berendam di kolam naga es untuk menjernihkan pikiran."


"Kau berani mengancamku?" teriak Lin Shen. Lin Tian berlalu tak menanggapi Lin Shen. Dengan wajah panik Lin Shen mengejar Lin Tian yang sudah masuk kamar.


Rumput Es Abadi adalah tanaman herbal yang biasa digunakan untuk menekan racun dingin dalam tubuh seseorang. Lin Shen adalah salah satu pemuda yang kurang beruntung karena saat dia berusia dua puluh tahun, dirinya terkena racun dingin hingga hampir membekukan jantung. Untung saja dia adalah Tuan Muda dari Paviliun Langit, organisasi terbesar di dunia persilatan. Tabib Xu menggunakan Rumput es abadi untuk menekan racun dingin dalam tubuh Lin Shen. Akibatnya adalah tenaga dalam Lin Shen tidak dapat berkembang dan semakin lama semakin berkurang.


Seharusnya Lin Shen mengkonsumsi Rumput es abadi setiap 100 hari, tetapi beberapa waktu lalu Lin Shen tidak mengkonsumsinya karena tenaga dalamnya yang hampir hilang. Lin Shen tak ingin kehilangan tenaga dalamnya untuk sepenuhnya sehingga tak lagi mengkonsumsi rumput es abadi. Jika Ayahnya sampai tahu tentang hal ini, maka dia tak akan lolos dari hukuman berat.


Hari itu Lin Shen sibuk membujuk Lin Tian agar tutup mulut, tak membocorkan apa-apa kepada Lin Chen-ayahnya-karena selain tak ingin dihukum, Lin Shen juga tidak ingin menambah beban pikiran.


Di hadapannya, dua orang pemuda yang tak lain adalah Lin Shen dan Lin Tian sedang saling lirik. Lin Shen menatap adiknya dengan tatapan tajam dan mengancam, sementara Lin Tian membalasnya dengan tatapan mengejek.


"Apa yang sedang kalian ributkan?" Lin Shen dan Lin Tian terkejut saat Lin Chen tiba-tiba bertanya.


"Ti-tidak, ayah. Tidak ada," jawan Lin Shen buru-buru.


"Baikkah, jika tidak ada. Mari kita makan." Lin Chen menutup buku dan meletakannya di atas meja yang terletak tak jauh di belakangnya.


Tangan kanannya meraih sepasang sumpit, tangan kirinya mengangkat sebuah mangkuk yang berisi nasi putih. Lin Shen dan Lin Tian yang melihat ayah mereka mulai makan, tak lagi saling melirik dan ikut makan.


Hening melahap suasana. Tak ada satu pun dari tiga orang laki-laki itu yang bersuara ketika makan. Bahkan suara sumpit dan mangkok yang saling beradu hampir tak terdengar.

__ADS_1


Saat mereka sudah selesai dengan makan malam dan semuanya sudah dibereskan oleh pelayan, Lin Chen tiba-tiba meraih tangan kanan Lin Shen dan memeriksa denyut nadi putra pertamanya itu.


Wajah tenang Lin Shen berubah panik saat melihat ayahnya mengerutkan keningnya yang dipenuhi keriput. Tak ada senyum yang terulas, wajah damai Lin Chen berubah menyeramkan.


"Anak nakal!"


"A-ayah ... aku ...." Lin Shen tak dapat melanjutkan kata-katanya. Lin Tian yang duduk di samping Lin Shen hanya diam dan bersiap menerima amukan dari pria yang selalu ia anggap sebagai Ayah.


"Lin Tian," ucap Lin Chen menatap Lin Tian tajam.


"Iya, Ayah," jawab Lin Tian.


"Kau tahu tentang ini?" tanya Lin Chen dingin.


Lin Tian bukan anak yang bodoh hingga tak memahami maksud dari perkataan ayahnya, tetapi untuk memastikannya, Lin Tian memberanikan diri untuk bertanya. "Tentang apa, Ayah?"


"Rumput es abadi."


Lin Tian diam tak berani menjawab pertanyaan Lin Chen. Lin Chen tahu jika Lin Tian pasti tahu tetapi enggan menjawab.


"Bagus, kalian berdua begitu kompak. Yang satu tak ingin berumur panjang, yang satu ingin saudaranya cepat mati. Hebat! Aku tidak pernah menemukan saudara sekompak kalian. Bahkan aku dan Lin Shijie tak pernah sekompak ini saat dia masih hidup." Walau diucapkannya dengan datar, tetapi terdengar nada kekecewaan dari kalimat itu.


"Ayah, kami tak bermaksud seperti-" sebelum Lin Shen menyelesaikan kalimatnya, Lin Chen memotongnya dengan cepat.


"Tidak apa?"


"Kami tidak bermaksud membohongi Ayah," jawab Lin Shen cepat.

__ADS_1


"Aku tidak peduli bagaimana kau membohongi diriku. Kau selalu memanggilku ayah dan aku juga menganggapmu sebagai anak, aku selalu menyayangi kalian berdua tetapi kalian tidak menyayangi diri kalian." Menarik napas sejenak, Lin Chen kembali melanjutkan kalimatnya, "Shen'er, kau tahu, Ayah selalu berharap racun itu berpindah pada tubuh tuaku dan kau bisa hidup panjang tanpa rasa sakit, aku berharap kau bisa menjadi pembimbing bagi adikmu. Aku selalu berharap kau bisa membantu adik-adikmu mengungkap kebenaran, tapi kenapa kau begitu mengecewakanku?"


__ADS_2