
Danau impian terletak di kota Xiang, salah satu danau yang sering dikunjungi para pasangan untuk menikmati liburan atau pun bulan madu. Semenjak peristiwa penyerangan yang dilakukan Zhou Qinghou seminggu yang lalu, Danau Impian sempat ditutup karena mengalami kerusakan cukup parah dan harus melakukan perbaikan.
Hari ini, di hari ke delapan setelah penyerangan, Zhen Ping yang sudah lebih sehat melanjutkan festival musim semi di mana malam ini merupakan malam puncak. Warga-warga berkumpul di tepi danau, bahkan banyak di antaranya menyewa sampan untuk menikmati malam lentera dari tengah danau. Semua orang terlihat bersuka cita dan menikmati malam ini tanpa kekhawatiran, seakan melupakan kejadian seminggu yang lalu saat festival musim semi di mulai.
Wang Tian Sin menggunakan sebuah samoan kecil dan mendayung hingga tepi danau. Jauh di daratan sana, orang-orang bersuka ria dan mulai menyalakan lentera masing-masing. Titik Cahaya berwarna jingga yang berasal dari lentera-lentera yang mulai diterbangkan, menciptakan suatu keindahan yang luar biasa. Pekatnya malam tanpa bulan dan hanya bertabur bintang, mulai diterangi oleh lentera yang mulai membumbung tinggi di langit kota Xiang.
Wang Tian Sin mendongakkan kepalanya ke atas, mengamati titik cahaya di atas sana. Senyum pahit terulas di bibir pemuda itu, karena ingatannya malah kembali ke masa lalu.
'Jangan menjadi bintang, karena cahayanya redup dan tak akan dikenal kecuali kau membentum rasi bintang,"
__ADS_1
Mengingat kembali kata-kata mendiang gurunya, dada Wang Tian Sin terasa sesak, tetapi sejenak kemudian perasaan lega juga mulai timbul saat dia menyadari masih ada dua saudaranya di negeri ini.
"Ge ... aku yakin kita akan bertemu lagi, aku yakin itu. Semoga saat nanti kita berjumpa, kita memiliki tujuan yang sama," gumam Wang Tian Sin.
Diambilnya sebuah giok dari lengan jubahnya, giok berukuran ibu jari orang dewasa yang terlihat biasa saja tetapi begitu berarti bagi Wang Tian Sin. Tatapan pemuda itu beralih ke bagian dasar samoan, di mana dia meletakam pedang dan tombaknya di sana. Dia sudah mengambil keputusan, bahwa malam ini juga dia akan meninggalkan kota Xiang tanpa memberitahu siapa pun. Bahkan, Zhen Ping masih tidak mengetahui dengan rencananya ini.
Di dunia ini, khususnya di dunia persilatan, belajar berbagai macam akiran dianggap tabu karena orang-orang berpikir semakin banyak yang ia pelajari, waktu untuk menekuninya semakin terbatas. Namun, Wang Tian Sin yang gila ilmu berusaha untuk belajar dengan keras dan muncul di depan para naga dan phoenix (para penguasa) dengan kekuatan yang tak terbayangkan.
Melihat gerakan bulan air dan gagak emas, gerakan itu mungkin tidak cocok dengan jurus-jurus yang dikuasai Wang Tian Sin saat ini, tetapi bukan berarti tidak berguna di masa depan. Maka dari itu, melihat hubungan Xin Dong dan mendiang gurunya tidak buruk, terlintas dalam benak Wang Tian Sin untuk pergi ke istana pedang dan belajar hingga pertemuan musim gugur nanti.
__ADS_1
Walau Xin Dong bukan orang yang terlihat baik, tetapi berhasil menjadi pemimpin partai belasan tahun lamanya dan menyandang gelar pendekar pedang terbaik bukan hal yang bisa dilakukan oleh orang bodoh.
Author Note:
Salam semuanya, saya mau nulis kalau saya sedang kelelahan. Menulis bukanlah pekerjaan utama saya, bukan juga sumber pendapatan saya (karena selain jadi GW, saya belum dapet uang dari nulis). Jadi ... menulis adalah hobi yang membuat saya senang, tetapi ketika tubuh kelelahan dan meminta untuk istirahat, kerap kali saya mengabaikannya karena nulis.
Beberapa hari ini, mungkin satu minggu ini, dalam sehari saya tidur sekitar 3-4 jam, kondisi ini memaksa saya memeras otak lebih keras saat menulis karena kurang fokus. Jadi ... jika ada banyak sampah berhamburan, saya minta maaf. Saya tetap update setiap hari.
Rana Semitha
__ADS_1