Tombak Langit Dan Naga Bumi

Tombak Langit Dan Naga Bumi
Akhir Peperangan


__ADS_3

Rasa dingin dan panas yang bercampur menjadi satu, ketika panah yang tajam itu berhasil menembus perisai baja yang melindunginya. Cairan manis mulai memenuhi tenggorokannya, jendral Huaihuang berusaha keras untuk menelan kembali cairan tersebut tetapi setiap kali ada seteguk yang berhasil dia telan, jumlah yang berkali-kali lebih banyak melonjak dari perutnya, memaksa Jendral Huaihuang untuk menyemburkannya.


"urh!"


Gelora semangat yang terpancar di wajah Jendral Huaihuang sedikit tertutup oleh rona pucat yang mulai timbul.


Liu Qing berkali-kali mengayunkan pedangnya, menebas siapa saja prajurit musuh yang menghalangi langkahnya. Setelah tiga tarikan napas berlalu, Liu Qing berhasil tiba di tempat Jendral Huaihuang berada.


"Jendral!"


Liu Qing dengan panik memapah Jendral Huaihuang untuk melipir dari medan pertempuran, setiap langkahnya diikuti dengan tetesan darah dari punggung Jendral Huaihuang dan juga cipratan darah prajurit lawan.


Jendral Huaihuang menghentikan langkahnya dan menatap Liu Qing dengan tatapan sayu. Liu Qing juga menatapnya dengan penuh tanda tanya, Jendral Huaihuang menarik napas panjang sebelum menjelaskan semuanya.


"Kita tidak bisa kembali, Qing. Prajurit lawan terlalu banyak, Pasukan Ji Feng tidak bisa bertahan tanpa kehadiran kita."


Liu Qing menggeleng pelan, matanya menatap dalam Jendral Huaihuang. "Saya akan meminta beberapa prajurit membawa Anda ke barak. jangan khawatir, saya bisa menanganinya."


Jendral Huaihuang menggeleng keras, tangannya menampik tangan Liu Qing yang sedang memapahnya. Walau sedang terluka, Jendral Huaihuang tetaplah Jendral Huaihuang. Kemampuannya tak bisa dianggap remeh.


ketika Liu Qing berusaha meraih Jendral Huaihuang lagi, Jendral Huaihuang menatapnya tajam, "Jangan berpikir bisa menyingkirkanku dari medan perang!"


Jendral Huaihuang mengungkapkan kebulatan tekadnya dari cahaya matanya yang menyala. Dia sudah menghadapi ratusan pertempuran, beberapa kali mengalami kekalahan dan ratusan kali menang. Jika hari ini dia harus mati, maka dia tidak boleh mati tanpa perlawanan.


Luka yang ada di punggungnya terasa panas dan dirinya merasakan api seolah-olah menjalari punggungnya. Ini adalah tanda-tanda dari racun. Jika dirinya pergi sekarang, maka dia tidak pernah mendapat kesempatan untuk kembali dan menang.


Tombak besi di tangan jendral Huaihuang yang sudah merah oleh darah musuh tak pernah lelah untuk menyerang dengan ganas.


Liu Qing yang melihat keganasan Jendralnya, kembali bersemangat. Tanpa sadar Liu Qing terus bertarung di dekat Jendral Huaihuang, membuat Jendral Huaihuang merasa curiga. "Kenapa kau selalu di sini? Pergi dan bantu yang lain!"

__ADS_1


"Aku sedang menjaga Jendralku. Selain itu aku juga sedang menjaga negeri ini dari para sampah-sampah ini."


Saat ini, Jendral Huaihuang berdiri tepat di depan tembok yang runtuh. Dengan kata lain, Jendral Huaihuang menggunakan dirinya untuk menghambat prajurit musuh yang ingin menerobos. Liu Qing yang bertempur di dekat Jendral Huaihuang tentu saja memberikan kontribusi yang besar.


Liu Qing tak segan menggorok leher lawannya hingga hampir putus, zirah besinya merah karena darah, baik darah dari dirinya maupun prajurit musuh yang tewas di tangannya. Dua bukit kecil yang tercipta dari tumpukan tubuh prajurit baik dari Song mau pun Yin menutup celah tembok yang runtuh.


Setelah melihat banyaknya prajurit yang mati di tangan Jendral Huaihuang dan Liu Qing, prajurit garis depan tentara Song Utara mulai ragu untuk mendekat.


Jendral Huaihuang berdiri tegap di antara tumpukan mayat tersebut, menatap tajam prajurit Song utara yang terlihat ketakutan.


Jendral Huaihuang menatap para prajuritnya, hampir setengah yang terluka, yang gugur juga tak sedikit, membuat hati Jendral Huaihuang terasa sakit.


Wajah kasar Jendral Huaihuang tertutupi darah lawan, membuat banyak orang yang tak menyadari jika pria paruh baya itu sangat pucat. Walau dia berdiri kokoh dan terlihat tak tergoyahkan seperti gunung, tetapi di saat yang sama Liu Qing menyadari jika Jendralnya sedang berusaha untuk tetap terlihat kuat.


Saat Liu Qing sedang dilanda kebingungan dengan apa yang akan dia lakukan selanjutnya, derap langkah kuda yang diikuti dengan debu yang membumbung tinggi terlihat dari timur medan pertempuran. Panji-panji pasukan Qin terlihat berkibar di sana, membuat Liu Qing tidak bisa menahan senyumannya.


"Kenapa pasukan Qin bisa begitu cepat? selain itu,kenapa jumlahnya bisa begitu banyak?" ucap Jendral Song Utara. Ahli strategi perang di pihaknya sudah memastikan jika bantuan paling cepat akan datang dalam tiga hari, tetapi kenapa bantuan datang begitu cepat? Bahkan, jumlahnya jauh lebih besar dari prediksi awal.


Tak memiliki pilihan lain, para jendral Song utara segera menarik pasukan dan memerintahkan untuk mundur.


Pasukan berkuda yang muncul dari wilayah timur segera masuk ke medan pertempuran dan membersihkan sisa pasukan yang terlambat kabur.


Terlihat Jendral Chen dan pedang kembar Chen yang memimpin bala bantuan. Setelah tidak ada lagi prajurit song yang tersisa, Jendral Chen dan dua anaknya mendekati Liu Qing.


"Jendral Chen," ucap Liu Qing seraya membungkuk hormat.


Jendral Chen hanya mengangguk pelan, tatapannya terkunci pada Jendral Huaihuang yang masih berdiri di atas bukit mayat padahal perang telah berakhir.


Saat Jendral Chen mendekati Jendral Huaihuang dan menepuk pundaknya, Jendral Huaihuang terjatuh tetapi Jendral Chen dengan sigap langsung menangkapnya. Anak panah yang masih menancap di punggung jendral Huaihuang segera ia cabut.

__ADS_1


"Uhuk!"


"Chen gege ... terima kasih," lirih Jendral Huaihuang yang berada dalam pelukan Jendral Chen.


"Xiao Xu ... buka matamu!" teriak Jendral Chen. Tangannya tak berhenti menepuk Pipi Jendral Huaihuang yang berlumuran darah sementara mulutnya terus meneriakan nama Jendral Huaihuang-Xu Hao.


"Terima kasih ... terima kasih sudah datang. Aku adalah putra dari pasukan Ji Feng. Mengorbankan nyawa demi negara adalah hal yang patut."


"Apa yang kau katakan?!"


Jendral Chen menggeleng dengan keras, "Kau lebih mudah dariku, kau mendapat lebih banyak dariku, kau juga harus hidup lebih lama dariku!" teriak Jendral Chen dengan suara gemetar. Wibawanya yang selama ini ia jaga, sirna ketika menghadapi situasi seperti ini.


"Ge ... Wang Gege kesepian di akhirat. Tidak ada yang cukup berani menemaninya di akhirat. Jangan ... jangan khawatir, aku akan menyampaikan salammu untuk Wang gege walau kau tidak ... tidak mengatakannya."


Jendral Huaihuang mengembuskan napas terakhirnya di pangkuan Jendral Chen. Jendral Chen terisak hingga tubuhnya gemetar. Liu Qing yang melihat ini, roboh, tak pernah menyangka jika Jendral yang selama ini ia kagumi akan pergi meninggalkannya begitu cepat. Seluruh prajurit Ji Feng berlutut menghadap tubuh Jendral Huaihuang, sementara Prajurit Qin berbaris dengan kudanya, memberikan penghormatan terakhir dengan menundukkan kepala.


Hari ini prajurit Ji Feng memenangkan pertempuran dan berhasil menjaga kedaulatan negeri Yin yang agung, tetapi kemenangan ini terasa kosong karena mereka membayarnya dengan nyawa jendral mereka.


Jendral Huaihuang adalah salah satu Jendral yang memiliki darah bangsawan di tubuhnya, pamannya adalah perdana menteri saat ini-Xu Shan Shui. Tubuh Jendral Huaihuang akan dibawa ke ibukota, tempat makam keluarga Xu berada.


Seminggu setelah kematian Jendral Huaihuang, Kaisar Yin membaca sebuah surat yang membuatnya menangis.


Kami tidak bisa melindungi Jendral Besar kami sehingga menyebabkan kemalangan ini terjadi.


Liu Qing-komandan lapangan Pasukan Ji Feng.


Kaisar Yin menutup surat tersebut dan memandang perdana menterinya dengan tatapan muram. "Kapan tubuh Jendral Huaihuang tiba di ibukota?"


Perdana Menteri membungkukkan badannya, "Paling lambat tujuh hari, Yang Mulia."

__ADS_1


__ADS_2