Tombak Langit Dan Naga Bumi

Tombak Langit Dan Naga Bumi
Persiapan


__ADS_3

Pangeran Tua Rui membawa dua lusin orang bersama Qin Guan untuk menyusul Pangeran Yun dan memastikan keselamatan putra mahkota dari Song Selatan itu. Walau belum selesai melakukan perkabungan, tetapi tugas ini begitu penting sehingga Qin Guan meninggalkan provinsi Qin.


Ning Lei berniat ikut mengawal Qin Guan, tetapi segera dilarang karena Qin Guan butuh orang yang dapat ia percaya untuk memimpin pasukannya. Tugas-tugas Gubernur yang beberapa hari ini ia tanggung dilimpahkan pada beberapa orang yang menjadi kepercayaan Qin Huang bertahun-tahun lamanya.


Kepergian Qin Guan ke kota Weida tak hanya memastikan keselamatan Pangeran Yun, tetapi juga untuk meminta posisi Gubernur Qin kepada Kaisar Yin. Walau ia tahu akan kehilangan posisi jendral muda, tetapi itu lebih baik dari pada menyerahkan posisi gubernur pada Qin Yang.


***


Kaisar Yin menerima sebuah surat yang menyatakan jika Pangeran Yun sedang dalam perjalanan Weida dan akan tiba dalam waktu delapan hari. Kaisar Yin melirik ke arah Gao Chen yang berdiri di sampingnya.


Gao Chen yang paham jika Kaisar Yin sedang memperhatikannya, mengangkat wajahnya dan tersenyum, "Yang mulia, Gao Chen siap menerima perintah."


Kaisar Yin mengangguk pelan dan mengusap dagunya yang tak gatal, "Panggil Pangeran Hao Ran dan Yuanshi."


"Baik, Yang mulia!" jawab Gao Chen. Kasim tua itu keluar ruangan dan memerintah kasim yang berjaga di luar agar melaksanakan perintah kaisar. Gao Chen kembali ke sisi Kaisar Yin dan membungkuk seperti posisi semula.


Kaisar Yin kembali membaca laporan dan memijat keningnya yang terasa sakit.


Tak lama setelah beberapa kasim junior pergi, Pangeran Hao Ran datang bersama dengan Pangeran Yuanshi.


Pangeran Hao Ran adalah putra pertama kaisar Yin . Dalam waktu dekat dia akan dinobatkan menjadi putra mahkota dan menempati balai utara (istana yang khusus untuk Putra Mahkota). Sementara Pangeran Yuanshi adalah putra pertama Pangeran Tua Long. Di antara semua Pangeran generasi ini, Pangeran Yuanshi adalah yang terpintar setelah Pangeran Hao Ran. Bahkan, adik-adik Hao Ran tidak sepandai Yuanshi.


Mendalami sastra dan hidup dalam lingkungan politik yang kental membuat Pangeran Yuanshi tumbuh menjadi pria yang licin dan pandai bicara, sebagian mentri juga lebih menyukainya daripada Pangeran Hao Ran yang berpikiran lurus.


Kasim yang berjaga segera mengumumkan kedatangan dua Pangeran itu. Terlihat dua orang pemuda yang memasuki ruangan.


Pemuda pertama yang terlihat menggunakan jubah merah dengan bordir naga lima cakar di punggungnya, memiliki mata yang jernih dan alis yang tajam, bibirnya yang tipis menunjukan senyum ramah yang menenangkan hati orang yang melihatnya. Dia adalah Pangeran Hao Ran.


Sedangkan di belakangnya, seorang pemuda yang terlihat seumuran, menggunakan jubah berwarna perak dengan bordir naga tiga cakar di dadanya.

__ADS_1


Pandangannya tajam, tatapannya dalam, membuat orang-orang yang memandangnya tenggelam dalam aura misteri yang menyelimuti pemuda itu. Senyuman angkuh yang ditunjukan pemuda itu membuat orang-orang segan untuk mengabaikannya. Dia adalah Pangeran Yuanshi, keponakan kaisar saat ini sekaligus putra pertama Pangeran Tua Long.


"Hao Ran memberi salam pada Ayahanda."


"Yuanshi memberi salam pada Yang Mulia."


Dua pemuda itu berlutut dan menakupkan kedua tangannya, kedua tangan itu lalu menyentuh lantai dilanjutkan dengan dahi yang menempel di lantai.


"Bangunlah," ucap Kaisar Yin.


"Terima kasih, Ayahanda."


"Terima kasih, Yang Mulia."


Pangeran Hao Ran dan Pangeran Yuanshi berdiri tegap dan menunggu Kaisar Yin memberi perintah. Keduanya sudah mendengar tentang kedatangan Pangeran Yun, jadi sudah menebak jika dengan dipanggilnya mereka berdua adalah tentang hal ini.


Pangeran Hao Ran dan Pangeran Yuanshi membungkuk bersamaan, "Kami siap menerima perintah Yang Mulia."


"Dalam waktu delapan hari Pangeran Mahkota Song selatan akan tiba di ibukota. Aku menugaskan kalian untuk mengatur pertemuan dan jamuan untuk mereka selama tinggal di Weida," pandangan Kaisar Yin yang awalnya lurus, kini terfokus pada Pangeran Hao Ran, "Hao Ran ... saat ini kau menyandang gelar Pangeran Agung, maka aku memintamu untuk mewakili kekaisaran Yin dalam pertemuan ini."


"Baik, Ayahanda. Hao Ran siap menjalankan perintah."


"Yuanshi siap melaksanakan perintah."


Kaisar Yin mengangguk puas dengan jawaban dua pangeran. Dia memang tidak salah memilih orang untuk melakukan tugas ini.


"Salinan surat akan dikirimkan ke kediaman kalian. Kalian boleh pergi," ucap Kaisar Yin.


Pangeran Hao Ran dan Pangeran Yuanshi membungkuk hormat dan pamit undur diri.

__ADS_1


Kaisar Yin kembali menatap Gao Chen, "Panggilkan Xun Qing (bawahan Xun) kemari."


"Baik, Yang Mulia."


Gao Chen kembali berjalan ke luar ruangan dan kembali bersama dengan seorang pria berusia empat puluhan tahun yang menggunakan zirah berwarna merah.


"Xun Qiu memberi hormat pada Yang Mulia!" ucap Xun Qiu lantang seraya berlutut dengan satu kaki dan tangan kanan mengepal di dada kirinya.


"Xun Qing ... bagaimana kabar tentang Provinsi Qin?" tanya Kaisar Yin.


"Pagi ini hamba menerima surat yang dikirim oleh Pangeran Tua Rui. Beliau dalam perjalanan kembali ke ibukota bersama dengan jendral muda Qin. Mereka akan tiba dalam tiga hari," ucap Xun Qiu jelas.


Kaisar Yin mengangguk beberapa kali, rasa penasaran sekaligus curiga mulai tumbuh saat mengetahui jika adiknya sedang menuju ibukota. "Apa mereka sudah menyelesaikan penyelidikan tentang Qin Huang?"


Xun Qiu menundukan kepalanya, "Mohon maaf, Yang Mulia. Pangeran Tua Rui tidak menuliskan tentang penyelidikan Gubernur Qin. Tetapi sepertinya Pangeran Tua Rui belum melakukan penyelidikan,"


" Xun Qing, kau tahu benar bagaimana watak Yin Xie. Kau sudah bersama dengannya belasan tahun lamanya, kau pasti tahu jika Yin Xie bukan orang yang suka menunda pekerjaan. Apa kau tahu kenapa Yin Xie sangat ingin pulang?" tanya Kaisar Yin curiga.


Xun Qiu tetap tenang saat Kaisar Yin mencecarnya dengan pertanyaan. Dengan sopan dia menjawab "sepertinya ada hal yang mendesak, tetapi Pangeran Tua Rui tidak bisa menyampaikannya dengan surat dan harus turun tangan sendiri."


Kaisar Yim tersenyum puas mendengar jawaban Xun Qiu. Seperti yang diharapkan dari seorang pemimpin pasukan pengawal kerajaan, Xun Qiu selalu setia dan mengatakan apa pun yang ia ketahui selama Kaisar Yin mau bertanya. Satu hal yang pasti adalah, kesetiaan Xun Qiu untuk Kaisar lebih besar dari nyawa Xun Qiu sendiri.


"Baiklah, aku percaya padamu," ucap Kaisar Yin. "Dan satu lagi, perketat penjagaan istana saat orang-orang dari Song selatan datang. Jangan sampai kita terlihat lemah. Walau mereka berkata datang membawa perdamaian, tetapi kita harus waspada. Jangan sampai kejadian dua puluh lima tahun lalu terulang kembali."


Xun Qiu tersentak saat mendengar Kaisar Yin mengungkit kejadian lampau. Hatinya terasa sakit seperti tertusuk duri dan panas seolah ada bara api yang menempel. Aliran darahnya berdesir lebih cepat, tetapi itu semua tak mengubah wajah tenang Xun Qiu.


Author Note:


Kaisar Yin Shi memanggil Xun Qiu dengan tambahan Qing menandakan bahwa Xun Qiu adalah bawahannya.

__ADS_1


__ADS_2