Tombak Langit Dan Naga Bumi

Tombak Langit Dan Naga Bumi
Perjalanan Guru dan Murid


__ADS_3

Sebuah bayangan berwarna hitam melesat dari satu titik ke titik lainnya, disusul dengan kilatan petir berwarna perak yang terus melesat bagai bayangan.


Trang!


Terdengar suara yang menusuk telinga mulai bergema ketika satu siluet hitam lainnya muncul dengan kilatan oerak berwarna perak juga. Kecepatan dua bayangan itu begitu cepat sehingga mata biasa tak bisa menangkapnya


Trang!


Trang!


Benturan demi benturan kembali terdengar dan memekakkan telinga. Setelah beberapa saat, tak lagi terdengar benturan dan gerakan-gerakan cepat, yang ada hanyalah dua orang yang mengenakan jubah hitam dan memegang pedang saling berhadapan dengan tatapan tajam, menusuk satu sama lain.


Seorang pemuda yang berusia tak lebih dari tiga puluh tahun, wajahnya yang tampan dengan garis wajah tegas, alisnya berbentuk pedang dan matanya cerah bagaikan bintang.


Di hadapannya, pria paruh baya dengan kumis tipis dan janggut pendeknya, tatapan matanya yang berlumpur mengeluarkan aura pembunuhan yang kental. Dia adalah Xin Dong.


"Bagus! Sangat bagus! Hanya dalam dua bulan kau sudah menguasai gagak emas dan bulan air!"


Tatapan dingin yang Xin Dong tampilkan sebelumnya berangsur hilang digantikan dengan tatapan senang, senyum hangat juga terulas dibibirnya.


Wang Tian Sin menyarungkan pedang naga langit sebelum membungkuk hormat pada Xin Dong. "Semua berkat guru."


Xin Dong menggeleng perlahan, "Aku hanya memberitahumu beberapa gerakan, tetapi pemahamanmu dalam seni beladiri sungguh mengerikan. Jika terus seperti ini, dalam sepuluh tahun kau bisa melampauiku dalam segala aspek."


"Guru terlalu memuji."


Wang Tian Sin berjalan mendekati Xin Dong, di pinggir lapangan beladiri juga berdiri Xin Yue dan Lu Yuan yang sedang menyaksikan sesi latihan ini.


Sebagai anak tunggal dari ketua partai Istana Pedang, Xin Yue memiliki kesombongan dari lahir dan kali ini semuanya sudah dihancurkan oleh Wang Tian Sin. Teknik yang selama ini ia tekuni belasan tahun lamanya bahkan belum sempurna, dikalahkan oleh Wang Tian Sin yang menghabiskan waktu hanya tiga bulan.


"Wang Tian Sin ... kau benar-benar sesuatu." Xin Yue tak bisa untuk tidak tersenyum.


"Yue'er ... kekhawatiranku selama ini terbukti. Sepertinya aku tidak mendidikmu dengan benar selama ini." Seringai dingin keluar dari bibir Xin Dong, membuat Xin Yue bergidik ngeri. Siapa yang tak tahu bagaimana kerasnya pelatihan yang diberikan oleh Xin Dong selama ini? Jika Xin Dong menganggapnya sepele maka dia benar-benar gila.


"Setelah aku kembali dari pertemuan nanti, aku akan memberimu pelatihan yang benar. Jangan coba-coba kabur atau sebagai gantinya aku mematahkan beberapa tulang Tian Sin?"

__ADS_1


Wang Tian Sin yang ikut disebut oleh Xin Dong terkejut, "Guru, kenapa aku dibawa-bawa? Tak masalah jika guru memintaku menemani latih tanding Xin Yue, tetapi jika kau mematahkan beberapa tulangku, bukankah itu tidak adil?"


Mendengar celoteh muridnya, Xin Dong tersenyum tipis, "Yue'er, jika kamu tidak ingin Tian Sin terluka, selama aku melakukan perjalanan berlatihlah dengan keras. Jika tidak ada kemajuan, maka aku tidak akan menarik ucapanku yang tadi."


"A-ayah! aih ...."


Xin Dong berpaling dan meninggalkan Xin Yue dan Wang Tian Sin yang sedang dilanda kecemasan. Baru beberapa langkah dia berjalan, Xin Dong berbalik dan berkata," Tian Sin, istirahat lebih awal. Besok kita akan melakukan perjalanan panjang."


"Baik, Guru."


Waktu berjalan begitu cepat, ketika matahari terbit keesokan harinya, Wang Tian Sin membawa tombak yang terkalung di punggung serta pedang naga langit dan bumi di pinggangnya. Jika ada orang dari dunia persilatan yang melihat hal ini, mereka pasti merasakan iri dan cemburu karena senjata-senjata yang dimiliki pemuda ini memiliki nilai yang sangat tinggi.


Wang Tian Sin berjalan menuju kediaman Xin Dong, di sepanjang perjalanan banyak saudara seperguruan yang menyapanya. Status sebagai murid langsung serta bakat alaminya yang mengerikan membuat anggota partai istana pedang menghormati Wang Tian Sin.


Setelah berjalan beberapa waktu, Wang Tian Sin sudah tiba di kediaman Xin Dong. Pemuda itu menunggu di serambi rumah gurunya, tak masuk walau pintu rumah terbuka. Tak berapa lama kemudian, terdengar langkah kaki dari dalam, Wang Tian Sin segera berdiri dan menyapa dua orang yang baru saja keluar.


"Guru ... Xin Yue ...."


"Kau sudah siap?" tanya Xin Dong.


Xin Dong mengangguk tipis, tatapannya kini mengarah ke putranya yang berdiri di sampingnya. "Jaga tempat ini dengan baik, berlatihlah dengan keras karena ayah percaya padamu."


"Tentu saja, Ayah. Aku tidak akan membuatmu kecewa. Hati-hati."


Xin Dong berjalan meninggalkan kediamannya bersama Wang Tian Sin. Saat mereka tiba di gerbang, terlihat dua ekor kuda yang gagah dengan Lu Yuan yang mengendalikan tali kekangnya. Xin Dong dan Wang Tian Sin melompat ke masing-masing kuda dan menungganginya.


"Lu Yuan, bantu Xin Yue menyelesaikan tugasnya."


"Baik, Ketua."


Suara pecut kuda mulai menggema diikuti hentakan kaki kuda yang mulai berlari menuruni gunung.


Kesibukan pagi hari kota Nan langsung menyambut Wang Tian Sin dan Xin Dong ketika mereka sampai di pusat kota. Mereka terus memacukan kuda hingga tiba di gerbang selatan. Mungkin ada orang yang tak mengenali keluarga Tuan Kota Nan, tetapi tak ada satu pun warga yang tak mengenali Xin Dong. Ketika melihat Xin Dong memacu kudanya dengan kecepatan tinggi, orang-orang segera memberi jalan, tak berani menghalanginya sedikit pun.


Begitu mereka sampai di gerbang selatan, mereka langsung keluar tanpa menunjukkan identitas.

__ADS_1


"Sepertinya mereka begitu menghormati guru," ucap Wang Tian Sin.


"Kau akan mendapatkannya jika sudah mengukir namamu sendiri, anak muda!" jawab Xin Dong setengah berteriak.


"Suatu hari aku pasti akan mengalahkan ketenaranmu, Guru!"


"Hahaha! Bagus! Aku akan menantikan hari itu tiba."


Di sepanjang jalan yang mereka lewati, debu-debu terus membumbung tinggi. Musim gugur telah tiba, daun-daun kering berserakan, meninggalkan batang yang mulai kering.


Angin musim gugur menerpa wajah putih Wang Tian Sin yang terlihat kelam. Banyak orang mungkin tidak tahu, tetapi pemuda itu begitu yakin jika kejadian setahun lalu, berkaitan erat dengan kejadian dua puluh enam tahun lalu, ketika ayahnya menjadi korban ketidakberdayaan kaisar.


Xin Dong menyadari perubahan ekspresi muridnya hanya diam, tak ingin menimbulkan kecanggungan.


Ketika matahari tenggelam di ufuk barat, Xin Dong mengajak Wang Tian Sin untuk beristirahat di bawah pohon prem merah yang telah gundul. Kuda telah ditambatkan, Wang Tian Sin membuat api unggun dan memanaskan daging kering yang ia bawa sebagai perbekalan sementara Xin Dong mengeluarkan satu guci arak.


"Tian Sin ... kemarilah."


Wang Tian Sin mengangguk dan duduk di samping Xin Dong, menunggu pria paruh baya itu mengeluarkan suara.


"Sudah 26 tahun ... kau tidak ingin membalas dendam?" tanya Xin Dong.


"Membalas dendam? Sepertinya tidak."


Xin Dong menghela napas pelan, tak menyangka jika pertanyaannya akan dijawab dengan seperti itu.


"Kenapa? Kenapa tidak membalas dendam? Apa kau ingat, Ibu, Ayah, seluruh keluarga Wang hancur pada saat itu." Walau ekspresi Xin Dong biasa saja, tetapi matanya berkaca-kaca seperti menahan beban tak terkira.


"Guru ... guru Long pernah berkata, sebagai manusia, aku harus mengikis dendam dan kebencian demi mendapat ketenangan hati," jawab Wang Tian Sin tenang.


"Apa kau pernah membaca sebuah buku kuno yang bernama Pewaris Dewa Penciptaan?" tanya Xin Dong. Wang Tian Sin menggeleng.


"Dalam buku tersebut, Penguasa langit dan bumi (Di Tian) pernah berpesan pada orang jauh dengan nama keluarga Semitha, nama yang sangat asing karena asalnya jauh di luar benua Xiang. Sebagai manusia, bagus jika kau bisa mengurangi kebencian. Dendam adalah dendam, membalas dendam tentu boleh dilakukan dalam batas kewajaran."


"Apa benar ada yang seperti itu?"

__ADS_1


Xin Dong mengangguk, "Yang guru tahu, Buku itu ditulis oleh seorang maestro bernama Ye Shen. Melalui buku kuno tersebut, banyak orang tercerahkan, banyak juga yang kehilangan. Ada banyak yang merasa mendapat anugrah, ada juga yang merasa kurang. Buku Kuno itu menimbulkan banyak konflik."


__ADS_2