Tombak Langit Dan Naga Bumi

Tombak Langit Dan Naga Bumi
Dia pergi


__ADS_3

Festival lentera pada festival musim semi di kota Xiang merupakan ajang tahunan yang rutin dilaksanakan. Orang-orang akan bersuka cita dan menerbangkan lentera dalam kemeriahannya. Hiruk pikuk terjadi, sebagian besar orang di Kota Xiang pergi ke danau impian untuk bersenang-senang.


Tak ada gangguan yang terjadi seperti saat festival musim semi dibuka. Zhen Ping sebagai tuan kota merasa lega karena malam ini bisa dilalui dengan baik. Namun, saat dia menyuruh seseorang untuk mengundang Wang Tian Sin makan malam di rumahnya, raut kebahagiannya tergantikan dengan keterkejutan.


Sebuah surat yang ditemukan oleh Jiu Tang di dalam kamar penginapan yang ditempati Wang Tian Sin. Setelah membaca surat tersebut, Zhen Ping meremasnya hingga menjadi bola kertas sebelum melemparnya ke arang yang membara.


"Pemuda itu benar-benar ...."


Ada sedikit rasa kehilangan di hati Zhen Ping. Namun, satu yang sangat ia pikirkan adalah perasaan Zhen Dong putrinya. Sebelum malam lentera, dirinya menjanjikan sesuatu kepada Zhen Dong, yaitu sebuah hubungan dengan Wang Tian Sin.


Sebuah langkah lembut tertangkap oleh indera pendengaran Zhen Ping, langkah yang benar-benar ia tahu milik siapa. Jantungnya berdebar, keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Zhen Ping tak pernah segugup ini saat menghadapi putrinya.

__ADS_1


Pintu ruangan di geser dari luar, siluet seorang gadis mulai tampak, satu tarikan napas selanjutnya adalah terlihat seorang gadis berwajah putih, alisnya seperti daun willow dan matanya bagaikan buah aprikot.


Sebuah hiasan kecil dari giok terjepit di rambutnya yang hitam legam bagai langit tanpa rembulan. Senyum tipis terulas di bibir tipis gadis itu. Dia adalah Zhen Dong.


"Dongdong menyapa Ayah," ucap Zhen Dong seraya mengendikkan pinggang dan menekuk lututnya.


"Dongdong ... kau sudah datang?" Terlihat kegugupan dalam kalimat yang dikeluarkan Zhen Ping karena suaranya bergetar. Zhen Dong mengerutkan keningnya, merasa penasaran karena Zhen Ping hampir tak pernah bersikap demikian.


"Tidak apa-apa. Karena kau sudah datang, mari kita ke ruang makan, ibumu pasti sudah menunggu," ucap Zhen Ping.


Zhen Dong mengangguk dan mengangkat tangannya, mempersilakan Zhen Ping untuk memimpin jalan.

__ADS_1


Sepasang ayah dan anak ini berjalan beriringan menuju sebuah ruangan yang terletak di bangunan utama kediaman Zhen. Setiap penjaga dan pelayan yang berpapasan dengan mereka akan membungkuk hormat, sementara Zhen Ping dan Zhen Dong hanya mengangguk saat membalasnya. Setelah berjalan beberapa saat, keduanya telah sampai di ruang makan.


Sebuah ruangan yang cukup besar dengan satu meja bundar di tengahnya. Yang cukup unik dari meja ini adalah, meja ini terbagi menjadi tiga tingkat dan dua di antaranya bisa diputar.


Di dua tingkat teratas, ada berbagai macam hidangan seperti hakau, gyoza, suikiau, oseng kulit b4abi, sop iga b4bi dan daging b4bi asap.


Di tingkat terbawah, ada lima mangkuk nasi yang masih mengepul, diletakan terpisah.


Seorang wanita yang terlihat berusia empat puluh tahunan, menggunakan gaun berwarna hijau muda , di kepalanya ada hiasan kepala yang terbuat dari giok langka.


Wajah wanita tersebut beti cantik untuk wanita seusianya, wajahnya juga menampakkan raut keibuan yang meneduhkan. Saat melihat dua orang terkasihnya memasuki ruangan, di bibir wanita tersebut terulas senyum tipis sebelum ia memerintahkan dua orang yang baru masuk untuk duduk.

__ADS_1


"Ping gege, Dong'er, makanan sudah siap, duduklah ..." ucapnya.


__ADS_2