
Zhen Ping melihat bercak darah di tangan Wang Tian Sin yang membuatnya cukup khawatir. Walau dia melihat sendiri bagaimana pertarungan tersebut berjalan dan yakin jika tusukan tersebut tidak dalam, tetapi rasa bersalah terus memenuhi hatinya.
"Tuan Zhen, anda tidak perlu khawatir ... hanya jubahku saja yang rusak. Ini hanya lecet dan sembuh tanpa perawatan sekali pun." Wang Tian Sin memegang tangan Zhen Ping berusaha menenangkannya.
Zhen Ping menyadari jika reaksinya berlebihan, segera meminta maaf pada Wang Tian Sin, sedangkan pemuda itu merasa aneh. "Tuan Zhen, kita sesama manusia harus saling tolong. Anggap saja ini adalah rasa terima kasihku karena Tuan Zhen tidak memperpanjang masalah kemarin,"
"Tapi ...." sebelum Zhen Ping mengajukan protes, Wang Tian Sin terlebih dahulu menggelengkan kepalanya. "Baiklah kalau begitu, aku tidak akan memikirkannya lagi,"
"Sepertinya aku harus mencari orang untuk memperbaiki jubah ini," gumam Wang Tian Sin pelan. Walau itu sangat pelan hingga hampir tak terdengar, tetapi Zhen Ping yang berjarak beberapa langkah darinya dapat mendengarnya dengan jelas.
"Dongdong mungkin tidak manis, tetapi dia calon ibu rumah tangga yang baik, dia pandai memasak dan menjahit," ucap Zhen Ping.
"Benar ... pinggulnya yang besar pasti akan membuatnya mudah melahirkan anak," gumam Wang Tian Sin yang membuat Zhen Ping tersedak oleh napasnya sendiri.
"Apa katamu?" tanya Zhen Ping memastikan dirinya tidak salah dengar. Wang Tian Sin menyadari kesalahannya dan menggeleng cepat.
Dalam pikiran Zhen Ping, terlintas pemikiran jika Wang Tian Sin tertarik oada putrinya. Namun, saat mengingat jika pemuda di hadapannya memiliki gadis yang tak kalah cantik sebagai pasangan membuatnya bergumam, "jika tak menjadi yang pertama, kedua pun tidak masalah."
Kali ini giliran Wang Tian Sin yang tersedak napas.
"Jika Nona Dong bisa membantu, mungkin aku akan sedikit merepotkannya," ucap Wang Tian Sin malu-malu.
Zhen Ping segera meminta pelayan untuk memanggil Zhen Dong ke ruangannya. Sementara itu, dirinya dan Wang Tian Sin minum teh bersama.
Sebenarnya ada beberapa arak bagus di kediaman Zhen Ping. Namun, kondisi Zhen Ping saat ini tak memungkinkan untuk minum arak.
Sebuah guci porselen buatan pengrajin dari tanah Lingnan yang terkenal dikeluarkan, kemudian diisi dengan dua macam teh yang berbeda.
Teh pertama adalah teh dari pucuk daun teh yang memiliki rasa kuat, kemudian teh yang kedua merupakan teh dengan aroma wangi yang nikmat. Porselen tersebut kemudian di tutup. Zhen Ping mengangkatnya dan menggoyangkan porselen tersebut beberapa kali.
Membuka kembali tutup porselen tersebut, Zhen Ping kemudian menghirup aromanya sesaat sebelum tersenyum tipis dan meraih satu teko tanpa tutup.
__ADS_1
Sebuah ketel tembaga berisi air yang dipanaskan di atas bara api yang membara telah mengeluarkan desingan pelan, menandakan air di dalam ketel tersebut telah mendidih. Zhen Ping menuangkan air tersebut ke dalam porselen hingga terisi tiga perempatnya.
Menutup porselen tersebut dengan rapat, asap putih mengepul dari bagian mulut porselen. Zhen Ping menggoyang teko tersebut beberapa kali, sama seperti sebelumnya, sebelum teko tersebut diletakan dalam posisi terbalik ke dalam teko tanpa tutup.
Wang Tian Sin yang tak pernah melihat cara ini, memperhatikannya dengan saksama.
"Rasa dan aromanya akan berpadu dengan sempurna jika kau menuangnya dalam teko lain, memisahkan dengan ampas dari dua teh tersebut." Zhen Ping mengatakan hal tersebut seolah mengetahui isi pemikiran Wang Tian Sin.
"Sebelumnya aku pernah melihat beberapa teknik menyeduh teh, tapi yang ini baru pertama kali melihatnya," ucap Wang Tian Sin polos.
"Benarkah?" tanya Zhen Ping hampir tak percaya.
Untuk kalangan bangsawan atau pejabat lainnya, teknik menyeduh teh seperti ini merupakan hal yang biasa, bukan sesuatu yang istimewa. Jika Wang Tian Sin baru pertama kali melihatnya, itu hanya ada dua kemungkinan yaitu, Wang Tian Sin tak pernah berurusan dengan orang-orang pemerintah atau Wang Tian Sin baru melihat dunia.
"Benar. Ini pertama kali aku melihatnya ... lebih tepatnya ini pertama kali aku berkunjung ke tempat orang pemerintah," Wang Tian Sin memandang Zhen Ping dengan rasa penasaran, "Tuan Zhen, biasanya orang dunia persilatan dan pemerintahan tidak mau mencampuri urusan satu sama lain. Anda adalah pendekar papan atas, kenapa Anda mau repot menjaga dan mengurus kita Xiang?"
Zhen Ping tertawa oelan saat mendengar pertanyaan Wang Tian Sin. Ini bukan pertama kalinya dia mendapat pertanyaan seperti ini, tetapi untuk ukuran orang yang baru saling kenal, Wang Tian Sin adalah yang pertama.
Xiang adalah kota pertama, bisa juga disebut kota tertua di benua Xiang. Maka dari itu, dua tempat ini memiliki nama dan makna yang sama.
"Tian Sin, kau masih muda, mungkin ini akan menjadi pelajaran untukmu di masa depan. Bagai mana pun dingin dan tidak adilnya tanah ini terhadap kita, tetapi kita hidup dan tumbuh besar di tanah ini. Tugas kita adalah menjaganya agar anak cucu kita nanti bisa tinggal dengan nyaman di tanah ini," ucap Zhen Ping seraya menuangkan teh ke dalam cangkir, kemudian menggeser cangkir tersebut ke sisi Wang Tian Sin. "Jika aku mati, aku akan mati dengan tenang karena mengabdikan separuh hidupku untuk tanah ini."
"Mengapa separuh? Orang biasanya akan mengatakan seluruh hidup," sela Wang Tian Sin.
"Bagaimana aku bisa mengatakannya seumur hidup? Aku hidup, berlatih, makan, dan istirahat di tanah ini. Aku mencari kesenangan juga di tanah ini. Bagaimana itu bisa dihitung sebagai pengabdian selagi tujuannya adalah untuk pribadi?"
Akhirnya Wang Tian Sin mengangguk, sedikit memahami perkataan Zhen Ping.
Zhen Ping mengangkat cangkirnya, menghirup aromanya beberapa saat sebelum mulai menyesapnya dengan perlahan. Wangi dan pahitnya teh tersebut bersatu di dalam mulut, menciptakan sensasi yang menenangkan jiwa.
Wang Tian Sin melakukan hal serupa, bedanya adalah pemuda itu memejamkan matanya ketika aroma teh mulai menyeruak ke hidungnya.
__ADS_1
Saat Wang Tian Sin hendak menyesap tehnya, terdengar langkah mendekat. Tak lama kemudian, seorang gadis dengan gaun berwarna biru muda masuk ke dalam ruangan.
"Dongdong menyapa Ayah dan Tuan Muda Tian," ucap Zhen Dong lembut.
Zhen Ping mengangguk dan meminta putrinya untuk duduk.
"Dongdong, Tian Sin sudah membantu kita keluar dari beberapa masalah, saat dia bertarung dengan senior Xin jubahnya rusak. Bantu kami memperbaikinya," ucap Zhen Ping.
Zhen Dong memiliki beberapa pertanyaan dalam benaknya, tapi yang paling mengganggunya adalah, sejak kapan ayahnya begitu akrab dengan pemuda yang sudah menolongnya? Tetapi gadis itu tak mau pusing dan langsung mengangguk setuju.
Zhen Dong meminta pelayan untuk mengambil alat jahit di kamarnya.
"Berikan jubahmu." Zhen Dong mengulurkan tangannya pada Wang Tian Sin.
Wang Tian Sin membuka jubahnya, menyisakan pakaian putih tipis yang membalut tubuhnya. Karena tak diikat dengan benar, maka ketika Wang Tian Sin melepas jubahnya, pakaian tersebut sedikit terbuka, memperlihatkan banyak bekas luka di tubuhnya.
"Kau masih muda, kenapa begitu banyak luka? Dan juga ... luka tersebut seperti bekas racun," ucap Zhen Ping saat tak sengaja melihat luka di dada Wang Tian Sin.
Zhen Dong melirik sejenak, tetapi kembali memalingkan wajahnya.
"Oh ... ini. Saat itu aku terkena panah racun kelabang malam, sepertinya memang melelehkan beberapa jaringan," jawab Wang Tian Sin.
Wang Tian Sin kemudian memberikan jubah hitamnya pada Zhen Dong yang masih terkejut saat mendengar racun kelabang malam. Namun, yang bereaksi pertama adalah Zhen Ping.
"Bukankah racun kelabang malam sangat mematikan?"
"Aku juga tidak tahu bagaimana aku bisa selamat. Yang jelas, saat itu aku memiliki banyak orang yang mau berjuang dan berkorban."
***
Istana pedang adalah sebuah partai beladiri yang berfokus pada satu senjata, yaitu pedang. Orang-orang yang bernaung di istana pedang berasal dari berbagai latar belakang tetapi mereka bersatu dalam satu jalan yaitu jalan pedang.
__ADS_1
Xin Dong merupakan pemimpin dari istana pedang selama belasan tahun terakhir, menggantikan ayahnya yang merupakan ahli beladiri yang pernah masuk dalam sepuluh ahli beladiri terbaik Paviliun langit. Dia juga yang menciptakan teknik Bulan air dan gagak emas, membuat orang-orang mulai tertarik dengan istana pedang.