
Tembok kediaman Qin Guan yang tinggi kini sebagai tempat pemanah bersembunyi. Walau tindakan mereka bisa dibilang sebagai pecundang, tetapi menghalau bencana bukanlah hal salah.
Di tengah kediaman Qin Guan, pertarungan sengit antara Long Tian dan Wang Tian Sin yang melawan beberapa orang berpakaian serba hitam, merusak beberapa bangunan bahkan menghancurkannya. Para pemanah dari pasukan Qin kesulitan mengikuti tempo pertarungan Long Tian yang begitu cepat hingga tidak ada tindakan yang mereka lakukan.
Qin Guan turut mengintai pertarungan tersebut bersama Ning Lei, duduk di atas gerbang kediaman. Tubuh Qin Huang terpaksa di pindahkan ke kediamannya oleh sebagian prajurit berkuda sementara sisa prajurit yang tidak mengantar berjaga di sekitar kediaman.
"Tuan, beberapa perwira sudah datang. Jika kita memaksa masuk, kemungkinan besar kita akan menang," bisik Ning Lei.
Qin Guan menggeleng perlahan, tak setuju dengan usulan Ning Lei. "Sepertinya musuh mereka orang dari dunia persilatan. Kita tidak bisa mengganggu mereka karena akan mempermalukan nama baik Tuan Long. Kecuali ... mereka membutuhkan bantuan kita,"
"Tuan benar, maaf karena kebodohanku," ucap Ning Lei menyadari kesalahannya.
***
Wang Tian Sin menghadapi tiga orang berpakaian hitam yang terus memojokannya. Wang Tian Sin terpaksa menjauh dari Long Tian karena dampak pertarungan dari gurunya mengganggu konsentrasi.
Tiga orang yang menyerang Wang Tian Sin mengepung dari tiga sisi dan terus menyerang dengan serangan-serangan pendek dan rapat, membuat Wang Tian Sin kerepotan.
"Tarian pedang bayangan!" teriak seorang penyerang.
Tiga orang tersebut berlari memutari Wang Tian Sin dan sesekali memberikan tebasan acak. Salah! Bukan tebakan acak, melainkan tebakan mendadak yang sulit diduga oleh Wang Tian Sin. Kini yang dilihat oleh Wang Tian Sin adalah sekelompok orang yang berlari mengelilinginya, bukan tiga orang lagi.
Wang Tian Sin merasakan angin dingin di tengkuknya, pemuda itu menunduk dan berbalik, seorang penyerang ternyata menebas tempat kepalanya berada beberapa saat yang lalu.
Wang Tian Sin menatap sinis lawannya, "Membunuhku tak akan mudah."
Wang Tian Sin menusukkan tombaknya ke depan, memaksa lawan yang tadi menebasnya mundur dan menghancurkan formasi.
"Tongkat sakti dewa kera!" teriak Wang Tian Sin, diikuti pemuda itu memutar tombaknya dan menghantamkan badan tombak langit ke tanah.
Melihat Wang Tian Sin ingin menyerangnya dengan ilmu setingkat jurus tongkat sakti dewa kera membuat Qu Bo jeri dan berusaha membuat jarak sejauh mungkin untuk mengurangi benturan energi.
Tetapi, ternyata hal itu tak berhasil, karena ledakan tenaga dalam terjadi akibat jurus tongkat sakti dewa kera, membuat Qu Bi terpental menabrak gazebo Qin Guan hingga hancur.
Qu Bo memegangi dadanya yang sakit karena benturan tersebut dan menyadari jika darah mengalir di sudut bibirnya.
__ADS_1
Sring!
Trang!
Wang Tian Sin merasakan ada sesuatu yang melesat ke arahnya, langsung menoleh ke arah belakang. Sebuah pisau kecil melesat mengarah ke tubuhnya yang tak berperisai. Wang Tian Sin langsung menangkis pisau tersebut dengan tombaknya.
"Kurang ajar!" pekik Wang Tian Sin.
Rupanya pisau kecil itu dilemparkan oleh dua orang yang tadi bertarung melawannya. Dia segera melesat dan menusukan tombaknya ke salah satu lawan, tetapi lawan berhasil menghindar.
"Tarian sepasang walet!"
Wang Tian Sin melihat lawannya memasang kuda-kuda, kemudian menarik pedang hingga sejajar kepala dan melakukan sebuah gerakan unik yang lebih cocok disebut sebagai tarian.
Tubuh mereka berputar dan meliuk seperti sepasang walet yang sedang menari di angkasa, sangat indah!
Gerakan mereka lembut, tetapi tajam. Saling menutupi dan menyerang membuat jurus ini akan menyulitkan lawan. Wang Tian Sin bersiaga, waspada terhadap kemungkinan serangan dadakan yang dua orang itu lakukan.
Benar saja. Beberapa tarikan napas kemudian, seorang penyerang melempar kawannya ke arah Wang Tian Sin sembari menghunuskan pedang ke arah dada oemuda tersebut.
Wang Tian Sin melihat lawannya bergerk cepat ke arahnya, mengeratkan pegangan di badan tombak langit, kemudian melemparkan tombak itu sekuat tenaga ke dada lawan yang melesat. Walau wajah orang tersebut tertutup kain, tetapi terlihat jelas jika orang itu terkejut dengan tindakan Wang Tian Sin yang tak terduga.
Jlep!
"Argh!"
Dua orang yang menyerang Wang Tian Sin tewas dengan posisi tombak yang menancap di dada mereka.
"Hiat!"
Terdengar teriakan dari arah belakang Wang Tian Sin, ternyata Qu Bo sudah bangkit dan menyerang Wang Tian Sin dengan pedang. Qu Bo berlari dan menebas kepala Wang Tian Sin.
Wang Tian Sin menunduk, lalu menghantam kaki Qu Bo dengan sapuan, tetapi Qu Bo berhasil menghindar dengan melompat dan kembali menebaskan pedang ke tubuh Wang Tian Sin. Wang Tian Sin bergulung ke samping, kemudian meraih pedang lawan yang telah tewas dan menahan serangan Qu Bo yang mengarah ke kepala.
Wang Tian Sin menghentakkan pedangnya, membuat Qu Bo mundur dua langkah karena perbedaan tenaga dalam. Terlihat retak di pedang yang ditangan Qu Bo, menandakan perbedaan tenaga dalam yang besar.
__ADS_1
"Sungguh pemuda luar biasa, penguasa tombak juga hebat dalam penggunaan pedang. Sayang ... dia anak pengkhianat." Suara berat itu keluar dari mulut Qu Bo, membuat Wang Tian Sin berpikir keras.
"Siapa kau? Siapa yang kau maksud pengkhianat?" tanya Wang Tian Sin geram.
Qu Bo membuka penutup wajahnya, memperlihatkan wajah pria paruh baya dengan bekas luka di pipi, mirip seperti Qin Huang. "Aku hanya tahu seorang pengguna tombak hebat di kekaisaran Yin bernama Wang Jiang. Apalagi pusaka tombak langit di tanganmu, dia adalah pengkhianat, pemberontak, kau anak seorang penjahat."
"Tombak langit ... kau tahu tombak langit?" ucap Wang Tian Sin
Qu Bo mengangguk, "Aku Qu Bo, aku tahu tombak itu dalam sekali lihat, tombak yang telah hilang dua puluh lima tahun lalu."
"Kau tahu siapa ayahku?" tanya Wang Tian Sin lagi.
Long Tian pernah menjelaskan kepadanya, jika Wang Tian Sin merupakan anak dari keluarga Wang yang hebat. Ayahnya mati di medan pertempuran, tak pernah membahas hal lainnya.
Qu Bo kembali mengangguk, "tentu saja aku tahu. Ayahmu Wang Jiang, mantan jendral kekaisaran Yin, pemberontak yang menghabisi utusan Song dan membuat keluarga Wang hancur. Ayahmu seorang pembawa sial."
"Kau!" teriak Wang Tian Sin dengan muka merah, merasa sangat marah. "Ayahku tidak akan seperti itu! Tidak akan!"
Wang Tian Sin menyerang Qu Bo dengan pedang, tetapi amarah sudah menguasai hatinya hingga gerakannya liar dan mudah terbaca.
"Anak pengkhianat, memiliki darah pengkhianat, tetaplah pengkhianat."
"Tidak!"
Jlep!
"Argh!"
Sebuah panah menembus paha Qu Bo. Qin Guan melompat mendekati Wang Tian Sin dengan wajah merah.
"Ayahku tak akan seperti itu!"
Note:
Saya masih sakit gigi, naskah ini tidak saya koreksi, jadi ada kemungkinan salah nama atau salah fatal lainnya. Jadi. saya hanya bisa minta maaf karena tidak bisa memberikan yang terbaik, tetapi hanya ini yang bisa saya berikan. Terima kasih.
__ADS_1
Oiya. Tetap sehat baik itu fisik mau pun mental.
Rana Semitha