Tombak Langit Dan Naga Bumi

Tombak Langit Dan Naga Bumi
Kondisi Qin Guan


__ADS_3

Pemandangan kota Qin dipenuhi oleh umbul-umbul kematian Gubernur Qin. Banyak pejabat dari kota-kota di Provinsi Qin yang datang beberapa hari setelah kabar kematiannya tersebar. Saat Qin Guan sedang menemui para tamunya di aula utama, tiba-tiba pemuda itu merasakan kedinginan yang luar biasa. Pemuda itu bahkan meminta mantel bulu dan tungku penghangat tambahan di dalam aula.


Ning Lei yang melihat jika pemimpinnya begitu pucat langsung mendekatinya dan berbisik, "Tuan, apa Anda baik-baik saja?"


Qin Guan mengangguk pelan, "Aku hanya merasa hari ini begitu dingin."


Hari ini memang memasuki bulan kedua musim dingin, tak heran jika udara lebih dingin dari biasanya. Tetapi Ning Lei sudah berteman dengan Qin Guan bertahun-tahun lamanya sehingga tau seharusnya Qin Guan tak selemah ini. Perbatasan timur menjadi salah satu tempat terdingin di kekaisaran Yin, dan berkali-kali menjaga tempat yang membekukan itu, Qin Guan dengan santainya hanya memakai jubah tipis dan zirah, tetapi di tempat ini, tempat yang menurut Ning Lei sudah cukup hangat, Qin Guan malah terlihat pucat.


"Tuan, sepertinya Anda terlalu lelah, sebaiknya Anda beristirahat terlebih dahulu," bisik Ning Lei.


Qin Guan menggeleng tak setuju, "masih banyak orang yang datang."


"Tuan tenang saja. Jendal Zhao sudah sampai dan akan menggantikan Anda sementara, Tuan Qin Yang juga sudah sampai, saya mohon," ucap Ning Lei.


Qin Guan tak menjawab ucapan Ning Lei. Pandangan pemuda itu beralih kepada seorang pria tua yang terlihat seumuran dengan Qin Huang, masuk ke dalam aula utama.


"Zhao Yun memberi salam kepada Tuan Qin Guan." Pria tua itu menakupkan kedua tangannya dan membungkuk hormat kepada Qin Guan. Qin Guan segera menggenggam kedua tangan orang itu yang masih bertaut dan memintanya untuk segera berdiri.


"Jendral Zhao, apa yang Anda lakukan? Anda tidak perlu membungkuk hormat pada saya," ucap Qin Guan kepada Zhao Yun.


Zhao Yun menggeleng kedua kali, pria itu menatap Qin Guan dengan penuh rasa bersalah. "Saya tidak bisa melindungi Tuan Besar Qin, harap Tuan Qin Guan menghukum saya."


Qin Guan menggeleng, saat pemuda itu hendak mengucapkan sesuatu, tiba-tiba tangan Qin Guan meremas dadanya dan mengerutkan kening seperti kesakitan. Orang-orang yang melihatnya langsung memburu Qin Guan dan menanyakan apa yang terjadi. Sebelum bisa menjawabnya, Qin Guan ambruk tak sadarkan diri.


Ning Lei segera meminta bantuan beberapa orang untuk membawa Qin Guan ke kamar. seorang penjaga juga pergi ke biro pengobatan Quanyu untuk mengundang tabib. Baru saja penjaga itu melangkah keluar kediaman, sebuah kereta dengan plakat Biro Pengobatan Quanyu datang ke kediaman Gubernur. Penjaga itu menghentikan langkah dan menunggu siapa yang keluar dari kereta tersebut.

__ADS_1


"Hormat kepada Guru Besar Yan," ucap Penjaga itu saat melihat sosok yang dikenalnya. Tabib Yan hanya mengangguk pelan untuk menjawabnya.


Tabib Yan sudah keluar dari kereta, pria tua berbaju coklat itu berjalan mendekati si penjaga. "Apa Qin Guan baik-baik saja?"


Penjaga tersebut membungkuk, "Tuan muda Qin jatuh tak sadarkan diri. Saya hendak memanggil tabin dari balai pengobatan Quanyu, tetapi melihat Anda datang, sepertinya itu tidak perlu."


Tabib Yan hanya menganggukan kepalanya beberapa kali seperti sudah memprediksi apa yang terjadi hari ini. "Antarkan aku kepadanya."


Si penjaga mengangguk dan berjalan masuk ke kediaman bersama Tabib Yan. Ning Lei melihat kedatangan penjaga itu terkejut. Bukan karena dia datang begitu cepat, tetapi dia membawa pendiri biro pengobatan Quanyu.


Ning Lei menghampiri Tabib Yan dengan tergesa dan membungkuk hormat. "Ning Lei memberi hormat pada Guru Besar Yan."


Tabib Yan meraih kedua lengan Ning Lei dan memintanya untuk berdiri. Ning Lei menunjuk sebuah ruangan tempat Qin Guan berada, tanpa menunggu perintah Tabib Yan mssuk dan melihat Qin Guan yang terbaring di atas ranjang.


"Kapan dia pingsan?" tanya Tabib Yan.


Tabib Yan mengangguk pelan, kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya, sebuah buntalan kecil dari kain. Begitu dibuka, terlihat sebuah Ginseng berwarna merah darah berukuran sebesar jempol orang dewasa.


Tabib Yan berjalan mendekati Qin Guan dan memeriksanya. Tak lam kemudian terlihat Tabib Yan mengembuskan napas lega. "Kondisinya tidak buruk. Racun yang ditubuhnya memang sudah keluar, tetapi dia butuh waktu beberapa hari dan istirahat total, tak melakukan banyak kegiatan berat."


"Apa Guru Besar Yan memiliki solusi?" tanya Ning Lei.


Tabib Yan mengangguk, "Aku akan membuatnya tidur selama beberapa hari. Dia tidak akan bangun sebelum kondisinya benar-benar stabil, tetapi saat bangun, dia akan menjadi Qin Guan yang dulu."


"Jika seperti itu, mohon lakukan yang terbaik untuk Tuan Muda," ucap Ning Lei.

__ADS_1


Tabib Yan mendengus, tersinggung dengan ucapan Ning Lei. "Tentu saja aku akan melakukan yang terbaik! Jauh-jauh ke kota Qin jika untuk iseng apa gunanya?"


"Saya tidak bermaksud menyinggung guru besar Yan. Mohon maafkan saya jika ucapan saya sudah menyinggung Anda." Mengetahui kecerobohannya, Ning Lei segera memohon maaf kepada Tabib Yan.


Tanpa menjawab ucapan Ning Lei, tabib Yan pergi dari ruangan Qin Guan. Ning Lei berniat mengejarnya, tetapi mengingat tabiat tabib tua itu membuat Ning Lei mengurungkan niatnya.


Beberapa waktu kemudian, Tabib Yan kembali dengan semangkuk obat di tangannya. Dia kemudian membantu Qin Guan yang masih belum sadar untuk meminum ramuan tersebut. Wajah pucat Qin Guan berangsur cerah, tak lama setelah itu Qin Guan membuka matanya.


"Tabib Yan ...." ucap Qin Guan lemah saat melihat pria di hadapannya.


"Guan'er, tenanglah ...."


Tabib Yan menurunkan selimut yang menutup tubuh Qin Guan dan membuka pakaian pemuda tersebut. Sebuah gulungan kain ia buka, terlihat sederet jarum berbagai ukuran yang terselip di kain tersebut.


"Apa separah itu?" tanya Qin Guan saat melihat Tabib Yan hendak menancapkan jarum di dadanya.


"Diamlah," ucap Tabib Yan dingin.


Qin Guan tak bisa membantah perkataan Tabib Yan dan hanya bisa pasrah ketika tabib tua itu menancapkan belasan jarum di tubuhnya.


"Ingin merasakan jari petirku?" ucap Tabib Yan saat melihat Qin Guan seperti gelisah.


Qin Guan kembali mengingat bagaimana Tabib Yan menotoknya hingga menyebabkan seluruh tubuhnya kebas, penuda itu kemudian menggeleng perlahan.


"Kali ini aku akan menuruti perkataan Tabib Yan, tetapi katakan apa yang terjadi?" ucap Qin Guan bernegosiasi.

__ADS_1


"Tidak ada hal buruk yang terjadi. Racun memang sudah dikeluarkan, tetapi kau tidak menjalani pemulihan dengan baik sehingga tubuhmu melemah. Beberapa hari ini kau merasakan kedinginan, benar kan?" ucap Tabib Yan.


Qin Guan mengangguk membenarkan. "Aku hanya berpikir jika ini karena menjelang puncak musim dingin."


__ADS_2