
Setelah menjatuhkan lawannya dengan sebuah kursi yang dia tendang, Wang Tian Sin kembali melanjutkan makannya yang tertunda. Seorang pemuda yang tadi masih berdiri di luar kedai kini menerobos masuk dan terkejut melihat lawannya menggeliat di lantai.
"Hao Zhe, apa yang terjadi?" tanya pemuda yang baru masuk.
"Pemuda itu ...." balas pemuda yang dipanggil Hao Zhe seraya menunjuk Wang Tian Sin yang sedang asik makan.
Wang Tian Sin menebak jika pemuda yang baru masuk ingin melawannya sepergi pemuda sebelumnya, tetapi dugaannya salah karena pemuda yang baru masuk malah membungkuk hormat dan meminta maaf, "Maaf karena telah mengganggu waktu bersantai senior. Saya Chen Zhi Bao, sedangkan yang telah lancang mengganggu senior sebelumnya adalah adik saya, Chen Hao Zhe. Sekali lagi maaf karena kelancangan kami."
Mendengar nama Chen Zhi Bao dan Chen Hao Zhe, Wang Tian Sin teringat sebuah gelar yang disandang oleh dua orang pemuda. Wang Tian Sin kemudian meletakan sumpitnya di atas meja dan menatap kedua pemuda tersebut. "Apa kalian adalah pedang kembar Chen?"
Chen Zhi Bao mengangguk membenarkan, pemuda tersebut menyarungkan pedangnya dan berkata, "Senior benar. Jika boleh saya tahu, siapakah senior ini?"
Wang Tian Sin berdehem sebelum menjawab Chen Zhi Bao. Jika dilihat dari segi usia, Chen Zhi Bao lebih tua beberapa tahun dibanding Wang Tian Sin, jadi Wang Tian Sin merasa risih saat Chen Zhi Bao memanggilnya dengan kata senior. Tetapi, dipanggil senior oleh orang yang memiliki gelar juga terdengar mengagumkan. Akhirnya senyum licik terukir di bibir Wang Tian Sin.
"Aku ... aku adalah Wang Tian Sin, namaku tidaklah setenar kalian para pengembara yang sering saling menantang," jawab Wang Tian Sin dengan angkuh.
Chen Zhi Bao mengerutkan kening. Wang Tian Sin? Nama itu tidaklah asing bagi Chen Zhi Bao, tetapi juga dapat mengingatnya dengan jelas. Setelah mengamati Wang Tian Sin lebih dalam, Chen Zhi Bao menemukan sebuah tombak yang dibungkus dengan kain hitam. Sebuah gelar muncul di dalam otak Chen Zhi Bao.
"Apa ... apakah Senior adalah Wang Tian Sin murid dari Tuan Naga Langit? Pengelana yang terkenal dengan sebutan Tombak Langit dan Naga Bumi?" tanya Chen Zhi Bao dengan mata berbinar. Wang Tian Sin tersenyum tipis, kemudian mengangguk membenarkan ucapan Chen Zhi Bao.
Chen Hao Zhe kini berdiri di samping Chen Zhi Bao. Pedang yang tadi ia pegang sudah tersarung di pinggangnya dengan rapi. "Senior, maafkan saya."
"Ini semua hanya salah paham. Minum arak dan makan bersama bisa mengurai kesalahpahaman," ucap Wang Tian Sin. Pemuda itu mengedarkan pandangan mencari pelayan yang bersembunyi karena ketakutan. Setelah menemukannya, Wang Tian Sin kembali berteriak, "Pelayan! Ambilkan dua guci arak dan dua mangkok daging kecap!"
Pelayan tersebut tak menjawab perintah Wang Tian Sin, tetapi langkahnya langsung menuju dapur dan tangannya dengan cekatan menyiapkan segala macam pesanan Wang Tian Sin.
Beberapa saat berselang, Pelayan tadi kembali dengan dua guci arak, di belakangnya ada seorang gadis yang membawa nampan berisi dua mangkuk daging kecap yang terlihat mengepulkan asap putih. Sepertinya daging itu baru saja diangkat dari penggorengan.
__ADS_1
"Silakan," ucap Wang Tian Sin mempersilakan Pedang kembar Chen untuk makan.
Chen Zhi Bo membuka guci arak dan menuangkan isinya ke dalam cangkir arak. Chen Hao Zhe juga melakukan hal yang sama. Ketiga pemuda itu bersulang arak kemudian meminumnya bersamaan. Tawa riang terdengar setelah tiga pemuda itu meneguk arak masing-masing.
"Pedang kembar Chen, bagaimana aku memanggil kalian?" tanya Wang Tian Sin saat dia hendak memulai pembicaraan.
"Ah ... orang-orang yang mengenal kami biasanya memanggilku Da Chen," jawab Chen Zhi Bao.
"Orang-orang biasanya memanggilku Xiao Chen," imbuh Chen Hao Zhe sambil mengunyah daging kecap.
Wang Tian Sin mengangguk paham, tangannya menyumpit daging oseng di hadapannya dan memasukannya ke mulut.
"Apa aku boleh bertanya?" tanya Wang Tian Sin. Chen Zhi Bao mengangguk pelan dan menatap Wang Tian Sin saksama.
Setelah melihat persetujuan Chen Zhi Bao, Wang Tian Sin tersenyum tipis, senyum yang terkesan mengejek. "Jika dilihat dari usia dan wajah, kalian bukan saudara kembar. Benar?" Chen Zhi Bao kembali mengangguk membenarkan. "Lalu kenapa kalian mempunyai gelar pedang kembar? Kenapa bukan saudara?"
Chen Zhi Bao terkekeh mendengar ucapan Wang Tian Sin. Sikap pemuda itu sudah tidak sekaku sebelumnya karena Wang Tian Sin menegurnya agar lebih santai.
Di dunia persilatan, ketika seorang pendekar muncul tanpa menyebutkan gelarnya, maka orang-orang akan membuat opini mengenai siapa si pendekar tersebut dan lambat laun menyebar dari mulut ke mulut. Chen Zhi Bao dan Chen Hao Zhe tidak pernah tahu siapa sosok yang pertama kali memberi mereka gelar pedang kembar Chen. Karena gelar tersebut cukup bagus dan sesuai dengan mereka, maka baik Chen Zhi Bao mau pun Chen Hao Zhe tidak membantahnya.
Kasus ini sama seperti Wang Tian Sin yang diberi julukan Naga Bumi oleh beberapa orang. Alasannya adalah karena Wang Tian Sin merupakan murid satu-satunya Naga Langit Long Tian, maka gelar yang cocok untuk Wang Tian Sin adalah Naga Bumi. Wang Tian Sin juga tidak menolaknya ketika ada yang menyebutnya sebagai Tian Qiang Di Long-tombak langit dan naga bumi.
Setelah bercengkerama cukup lama dan menceritakan latar belakang masing-masing tanpa berlebih, akhirnya mereka saling menanyakan tujuan dan penyebab mereka ada di kota Lusai ini.
"Aku dalam perjalanan menuju gunung Long Hong. Sebenarnya aku ingin segera sampai, tetapi jika aku memaksakan, maka tungganganku tidak akan bertahan. Apalagi sekarang sedang musim dingin, tidak baik jika aku memaksanya, kalian sendiri sedang apa di kota ini?" jawab Wang Tian Sin sekaligus bertanya kepada Pedang Kembar Chen.
"Kami sedang menuju kota Lang. Kami mendapat kabar jika jendral Zhao Yun pergi meninggalkan perbatasan timur, Pangeran Rui yang biasanya membantu di perbatasan timur juga sedang di kekaisaran, jadi kami akan berjaga di perbatas timur hingga ada penanggung jawab baru di perbatasan timur," jawab Chen Zhi Bao.
__ADS_1
Wang Tian Sin terlihat sedang berpikir dan mengingat sesuatu, akhirnya setelah beberapa saat, pemuda itu berhasil mengingatnya. "Jendral Zho Yun ... bukankah dia satu dari belasan jendral besar pasukan Qin?"
Chen Hao Zhe yang dari tadi sibuk makan kali ini dia yang mengangguk, "Benar. Kami adalah bagian dari pasukan Qin, hanya saja kami lebih suka berkelana di dunia persilatan. Ayah kami juga tidak pernah melarangnya sehingga kami berdua berkelana bersama,"
"Apa kalian tahu jika Gubernur Qin meninggal?" tanya Wang Tian Sin. Raut ceria yang dari awal terlihat di wajah Chen Hao Zhe kini tergantikan dengan wajah penuh amarah.
"Apa katamu?" tanya Chen Hao Zhe dengan mata melotot.
"Empat hari lalu Gubernur Qinzhou, Qin Huang, meninggal dunia. Jendral Zhao Yun adalah sahabatnya, mungkin alasan Jendral Zhao pergi adalah karena ingin melihat Gubernur Qin untuk terakhir kali." Penjelasan Wang Tian Sin membuat Chen Zhi Bao dan Chen Hao Zhe terkejut sekaligus marah.
Wang Tian Sin melihat amarah di mata dua kakak beradik itu hanya diam. Amarah pun tak dapat membuat ayah atau gurunya kembali. Jika bisa, maka dia akan marah sepanjang hari untuk mengembalikan semua keluarganya yang telah mati.
"Jika benar, maka kita harus bergegas ke kota Lang. Perbatasan timur pasti genting karena tidak ada panglima di sana," ucap Chen Zhi Bao. Wang Tian Sin dan Chen Hao Zhe mengangguk setuju.
"Hari sudah malam, jika kalian berkuda besok pagi-pagi sekali tanpa henti, maka tengah malam kalian sudah bisa melihat kota Lang."
Author Note:
Da : Besar
Xiao : kecil
Jadi Chen Zhi Bao di sini selaku kakak, Chen Hao Zhe selaku adik.
Tian : Langit
Di : Bumi
__ADS_1
Long : Naga
Mao : Tombak