Tombak Langit Dan Naga Bumi

Tombak Langit Dan Naga Bumi
Giok Jangkrik


__ADS_3

Pertemuan kemarin malam membuka mata Wang Tian Sin, bahwa kekuatan pasukan Qin tidak sesederhana yang dia kira selama ini. Bagaimana tidak, biasanya seorang prajurit akan menjalankan misi atau tetap berada di kamp untuk berlatih dan memperkuat dirinya. Tetapi, Pedang Kembar Chen bisa berkelana bebas meninggalkan tanggung jawab mereka sebagai prajurit.


"Apa selama ini mereka menjadi mata-mata? Menjadi pendekar hanya kedok untuk mempermudah hidup di dunia persilatan?" gumam Wang Tian Sin saat mengingat jika Pedang kembar Chen adalah bagian dari pasukan Qin. "Aiya ... kenapa aku harus pusing? Toh mereka bukanlah lawan. Mau mereka mata-mata atau penyusup itu tidak penting, yang terpenting adalah mereka tidak mengkhianati negara dan teman seperjuangan."


Mungkin karena lelah berpikir, Wang Tian Sin yang sudah merebahkan diri di ranjang tertidur.


Jauh di selatan kota Lusai, tepatnya di kota Qin, kediaman Qin Guan yang hancur berantakan karena tragedi di malam kematian ayahnya membuat pemuda itu sementara waktu menghuni kediaman utama keluarga Qin. Mungkin kediaman lama Qin Guan akan dialih fungsi menjadi kamp militer tambahan atau sebagai tempat latihan pribadinya. Yang jelas tempat itu tidak akan ia tempati lagi sebagai kediaman pribadi.


Qin Guan saat ini menempati kamar lamanya, sedang duduk termenung saat Ning Lei mengetuk ruangannya, membuyarkan lamunan pemuda tersebut.


"Masuk," ucap Qin Guan mempersilakan orang kepercayaannya untuk masuk.


"Ning Lei memberi hormat pada Tuan Muda," ucap Ning Lei membungkuk hormat pada Qin Guan.


Qin Guan menoleh dan menatap Ning Lei, "Tidak usah banyak adat kalau hanya kita berdua," menarik napas dalam, Qin Guan kembali menatap Ning Lei, " ada apa?"


Ning Lei menyerahkan sebuah amplop surat, Qin Guan menerimanya dan membaca siapa si pengirim surat. "Surat untuk Qin Guan Gege?"


Qin Guan membuka amplop dan mulai membaca isi surat. Senyum tipis terbit di bibir pemuda itu, "kirimkan balasan ke Gunung Long Hong, 'iya, tentu saja.' Kita tidak tahu di mana keberadaan pasti Wang Tian Sin, tetapi yang jelas dalam beberapa hari dia akan tiba di tempat itu."


Ning Lei mengangguk, "Baik,"


Surat yang ditulis oleh Wang Tian Sin berisi permohonan agar Di Min Jie ditugaskan menjaga makam mendiang Qin Huang selama beberapa bulan dan juga pemberitahuan tentang pertemuan dunia persilatan yang diadakan di kediaman Xuanyuan. Wang Tian Sin berharap mereka bisa bertemu saat itu tiba.

__ADS_1


Qin Guan tersenyum karena menebak jika adiknya telah bertemu salah satu keluarga Xuanyuan tetapi tak berani menyinggung tentang perjodohannya. Sesungguhnya Qin Guan ingin mengatakan tentang perjodohan ini kepada Wang Tian Sin, tetapi hingga adiknya pergi Qin Guan belum menemukan waktu yang pas. Namun, Pada akhirnya Wang Tian Sin tahu walau tidak dari mulutnya langsung.


Qin Guan tersenyum dan kembali melipat surat tersebut dan menyimpannya di laci. Awalnya dia tidak ada niat untuk pergi ke gunung Hui, tetapi jika Wang Tian Sin pergi dan menginginkan kehadirannya, maka Qin Guan akan meluangkan waktu.


"Aih ... semoga saja tidak ada masalah besar ketika saat itu tiba," gumam Qin Guan.


Lidah api di tungku penghangat menari-nari saat angin dingin menggoyangnya. Qin Guan mendekatkan kedua tangannya ke tungku penghangat. Pemuda itu kembali mengingat perkataan Tabib Yan tentang kondisinya. Racun kelabang es memang sudah dikeluarkan, tetapi karena dia tidak beristirahat dengan baik menyebabkan kesehatannya menurun. Untung saja Tabib Yan datang dan mengobatinya sehingga kondisinya sudah jauh lebih baik.


Walau terkadang hawa dingin tiba-tiba menyergapnya, tetapi itu lebih baik daripada rasa sakit ketika jantungnya terasa sakit bercampur dingin seperti ditusuk oleh jarum-jarum es.


"Kenapa ketika aku mengingat pertemuan pertama dengan tabib Yan, aku malah ingat hukuman dari ayah? Tapi memang saat itu keterlaluan, dua ratus kali pukulan jika orang lain yang menerimanya kemungkinan besar mati atau setidaknya mengalami lumpuh," ucap Qin Guan saat mengingat kejadian sebelas tahun lalu, pemuda itu menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan, kembali larut dalam ingatannya, "Tetapi saat itu aku memang pantas mendapatkannya. Aku tahu betul jika Pangeran Rui bukan orang militer biasa, malah melupakan gelar pangerannya dan melesatkan patahan pedang. Untung saja kaisar Yin tidak memenggalku,"


Tak ada penyesalan dalam setiap kalimat yang terucap dari mulut Qin Guan. Masa lalu adalah masa lalu, lagipula dia sudah mendapat hukuman setimpal, hukuman yang membuat tongkat pengganjar milik ayahnya sampai retak.


Saat itu juga Qin Guan merasakan jari petir milik Tabib Yan menotok saraf di tulang belakangnya, satu hari penuh Qin Guan tidak bisa bergerak karena menahan sakit.


"Sepertinya aku memang anak nakal, buktinya jari petir Tabib Yan saja sudah lebih dari tiga kali aku rasakan," ucap Qin Guan bangga.


"Kenapa aku malah merasa jika kau senang merasakannya?" terdengar suara dengan nada dingin dari luar kamar Qin Guan. Pemuda itu menoleh dan mendapati Tabib Yan berdiri dengan sorot mata tajam.


"Tabib Yan? Kapan anda datang?" tanya Qin Guan gugup. Pemuda itu bergegas bangkit dan mempersilakan Tabib Yan masuk ke ruangannya.


"Kau ingin merasakan jari petir lagi?" ucap Tabib Yan dengan mata melotot. Qin Guan reflek melindungi dada dan ulu hatinya dengan kedua tangan untuk menghalau jika sewaktu-waktu tabib tua itu melayangkan serangan.

__ADS_1


"Huh ... takut tapi masih bertingkah," ucap Tabib Yan lagi. Qin Guan hanya meringis dan tidak menanggapi ucapan Tabib Yan.


Qin Guan mempersilakan Tabib Yan duduk, setelah Tabib Yan duduk, pemuda itu ikut duduk di sampingnya. "Tabib Yan, ini hampir tengah malam, kenapa Anda tidak istirahat?"


"Besok Pangeran Rui datang, kau pasti sudah mendengarnya, kan?" ucap Tabib Yan. Qin Guan mengangguk membenarkan. Tabib Yan kembali melanjutkan ucapannya, "Aku sedang malas bertemu dengan orang-orang dari istana. Saat di kota Qian aku bertemu dengan adikmu, aku ingin mengunjungi Gunung Long Hong dan berangkat pagi-pagi sekali. Takut tak bisa menemuimu saat pagi, aku ingin pamit dari sekarang,"


"Aku mengerti, Tabib Yan. Berhati-hatilah di perjalanan. Pastikan Anda membawa cukup orang dalam perjalanan," ucap Qin Guan tulus.


Pemuda itu mengeluarkan sebuah giok kecil dari dalam laci dan menyerahkannya pada Tabib Yan. "Ini giok peninggalan Ibu Yin Hua, aku harap Tabib Yan bisa menyerahkannya pada adik saat bertemu nanti. Minta dia menjaganya dengan nyawa,"


Tabib Yan menerima giok tersebut dan mengangguk pelan. "Dia belum tahu?"


"Belum. Belum saatnya dia tahu,"


Author Note:


Yin Hua: ibu Wang Tian Sin


karena hari ini gigi lagi ngga kumat, jadi sebelum kerja saya nulis lagi walau sedikit. Nah, karena besok pagi saya cukup sibuk, jika nanti malam tidak nulis, kemungkinan hari Senin Up malam.


Like dan Komen akan menaikan popularitas dan membantu novel ini saat proses kontrak. Jadi jangan segan untuk nagih up lewat komen.


Terima Kasih

__ADS_1


Rana Semitha


__ADS_2