Tombak Langit Dan Naga Bumi

Tombak Langit Dan Naga Bumi
Perjalanan Guru dan Murid 2


__ADS_3

Malam semakin larut, walau angin yang bertiup tak membuat tubuh menggigul, tetapi Wang Tian Sin tetap mempertahankan nyala api unggun dengan terus menambah ranting kering yang ia dapatkan beberapa waktu lalu.


Sementara itu, Xin Dong duduk di bawah pohon prem dengan posisi lotus dan mata terpejam. Beberapa waktu lalu, setelah menghabiskan satu guci penuh arak, Wu Jing melanjutkan perjalanan setelah menolak untuk melakukan perjalanan bersama. Xin Dong tak memaksa Wu Jing lebih jauh karena paham temperamen temannya dengan baik.


Setelah melemparkan ranting kering ke api unggun, Wang Tian Sin juga duduk dengan posisi lotus dan mencerna pengetahuan dari kitab naga bumi.


Angin berputar di sekitar tubuh Wang Tian Sin, bagaikan perisai yang melindungi dari bahaya. Angin tersebut semakin lama semakin kencang sehingga membuat Xin Dong yang larut dalam meditasinya kini mulai terganggu dan membuka matanya.


"Ini ... dia sedang mengelola Kitab Naga Bumi?" gumam Xin Dong ketika merasakan tekanan udara di sekitarnya menjadi lebih berat. "Aku merasakan kekuatan yang begitu besar, apa selama ini dia menyembunyikannya dariku?"


Xin Dong hanya bisa menghela napas pelan ketika melihat muridnya menjadi sosok yang terasa lain. Aura yang terpancar dari tubuhnya seperti seorang pemimpin yang menekan bawahannya. Saat ini, Xin Dong tak bisa lagi menganggap remeh Wang Tian Sin.


Ketika hari menjelang pagi, Wang Tian Sin membuka matanya perlahan. Mulutnya terbuka dan keluar asap berwarna putih dari mulutnya. Cukup aneh, karena saat ini hari tak terasa dingin sama sekali.


Wang Tian Sin meregangkan badannya, ketika pandangannya diedarkan, matanya menangkap sosok gurunya yang sedang duduk dan menatapnya dengan tatapan aneh.


"Guru," sapa Wang Tian Sin tenang, seperti tak ada apa-apa.


Xin Dong mengangguk pelan dan beranjak dari dudukannya. Tanpa mengatakan apa-apa, Xin Dong melepas tambatan kuda dan melompat ke atasnya.


Wang Tian Sin tak bertanya lebih jauh dan mengkitu gerakan gurunya.


Suara derap langkah kuda terdengar menderu diikuti dengan debu yang membumbung. Sepanjang perjalanan tak ada yang memulai pembicaraan, baik itu Xin Dong mau pun Wang Tian Sin. Setelah mereka bergerak ke selatan cukup jauh, mereka mulai mengubah arah dan bergerak ke arah timur.


Wilayah ini terlihat sangat makmur, di sepanjang jalan, di kiri dan kanan, hamparan sawah dengan padi yang telah menguning menggambarkan betapa makmurnya wilayah ini.


"Sepertinya musim dingin tahun ini kita tidak khawatir dengan bencana kelaparan." Itu adalah suara pria yang terdengar kuno dan sedikit serak, tepatnya Suara milik Xin Dong.


"Mengapa demikian, guru?" tanya Wang Tian Sin.

__ADS_1


Xin Dong mengembuskan napas pelan, mungkin muridnya memiliki bakat mengerikan dalam ilmu beladiri, tetapi pengetahuan umumnya begitu terbatas. Sekarang, dia hanya bisa bertanya-tanya, apakah Long Tian tidak mengajarinya pengetahuan umum dwngan baik? Namun, hal itu hanya ada dalam benaknya saja, tak pernah sekali pun dia memiliki niat untuk mengatakannya.


"Lihatlah di sekitarmu, muridku. Hamparan padi ini akan menghasilkan banyak beras, jika tak terjadi kecelakaan tiba-tiba, maka jumlah ini bisa untuk mengisi lumbung padi mereka. Ini hanya sebagian yang terlihat. Jauh ke utara sana, ada ladang gandum yang tak kalah melimpah dari padi-padi di sini."


"Sekarang murid paham," ucap Wang Tian Sin setelah mengangguk dua kali.


Selama beberapa tahun berkelana, Wang Tian Sin tak pernah memperhatikan hal ini. Mungkin ini disebabkan karena wilayah yang ia singgahi cukup makmur.


"Guru, apa bencana kelaparan sering terjadi?" tanya Wang Tian Sin penasaran.


Xin Dong menggeleng pelan, "Tidak sering, hanya beberapa kali, tapi itu cukup membuat orang-orang menderita. Ketika musim dingin tiba dan tak ada makanan, dua dari sepuluh orang bisa mati kelaparan. Memang terlihat sedikit jika kau melihat dari perbandingan itu. Tapi bayangkan, jika ada seratus orang, seribu, sepuluh ribu, berapa nyawa yang melayang?"


Wang Tian sin mengangguk dua kali sebelum menjawab, "Hm ... sama sekali bukan jumlah yang sedikit."


"Untung saja dalam lima tahun terakhir tak ada bencana seperti itu. Aku tak bisa membayangkan jika terjadi bencana kelaparan seperti dua puluh lima tahun lalu. Orang-orang bahkan saling membunuh demi makanan."


"Murid sangat bersyukur karena tak pernah mengalami kesulitan seperti itu sebelumnya," ucap Wang Tian Sin.


Wang Tian Sin mengangguk setuju. Setelah itu, tak ada lagi percakapan di antara keduanya.


Saat matahari berada tepat di atas kepala mereka, Wang Tian Sin melihat danau kecil dan mengajak Xin Dong untuk beristirahat. Seteleh menambatkan kuda, Wang Tian Sin mengambil beberapa kantung air yang telah kosong dan mengisinya dengan air danau.


Setelah mengisi dan menyimpan hampir semua kantong air, Wang Tian Sin menyisakan satu dan menyerahkannya pada Xin Dong. "Minumlah, Guru."


"Ng." Xin Dong menerima kantong air itu dan meminum hampir setengahnya. Sepasang guru dan murid itu duduk di tepi danau dan menyegarkan mata mereka.


Wang Tian Sin melihat keresahan dari mata Xin Dong, tanpa basa-basi langsung bertanya pada gurunya itu. "Apa ada hal yang mengganggu guru?"


"Tidak."

__ADS_1


Jawabannya memang tidak, tetapi tak ada sedikit pun keyakinan dalam satu kalimat tersebut.


"Guru, apa itu begitu rahasia sehingga murid tidak memiliki kualifikasi untuk mengetahuinya?" tanya Wang Tian Sin.


Xin Dong menatap wajah muridnya saksama, "Tidak juga."


"Lalu kenapa guru tidak ingin menyampaikannya padaku?" balas Wang Tian Sin.


"Karena percuma,"


Wang Tian Sin melebarkan matanya, "percuma?"


Xin Dong kembali mengangguk, "Iya, percuma. Kamu tidak akan bisa memberiku saran untuk masalah ini. Tidak ... kamu bisa, tetapi mungkin kamu tidak mau."


"Jika begitu, asal murid mampu, murid akan melakukannya."


"Ini tentang Lin Shen. Kenapa kau tidak mau ke Paviliyn Langit sekarang? Jika kau menemui Lin Shen dan bisa mengetahui siapa satu saudaramu darinya, kamu bisa mencari satu saudaramu yang lain dengan bantuannya," ucap Xin Dong.


"Ternyata tentang ini," Wang Tian Sin merasa lega di hatinya. "Jika masalahnya adalah ini, guru tidak usah khawatir, murid sudah memikirkan semuanya. Murid akan pergi ke paviliun langit setelah pertemuan. Walau tidak hadir dalam pertemuan, setidaknya murid harus sampai ke gunung Hui dan bertemu Guan gege di sana. Aku sudah berjanji padanya dan tidak mungkin mengingkarinya," ucap Wang Tian Sin.


"Jadi kau sudah merencanakan seluruhnya ... kalau begitu aku tidak akan khawatir."


Derap langkah kuda mendekat tertangkap pendengaran Wang Tian Sin dan Xin Dong yang tajam. Keduanya langsung menyiagakan senjata masing-masing dan melihat ke arah kedatanya.


Jika Wang Tian Sin tak salah menebak, setidaknya ada belasan kuda yang mendekat ke arah mereka.


"Pangeran Rui ...."


Ketika melihat rombongan kuda yang mendekat, Xin Dong langsung mengenali salah satu pria yang ada dalam rombongan.

__ADS_1


"Apa dia adalah Pangeran Tua Rui?" tanya Wang Tian Sin penasaran, sementara Xin Dong hanya mengangguk membenarkan.


"Xin Dong memberi salam pada Pangeran Rui,"


__ADS_2