Tombak Langit Dan Naga Bumi

Tombak Langit Dan Naga Bumi
Menjadi Saudara


__ADS_3

Puncak musim semi menjadi saksi bahwa Wang Tian Sin menjadi murid Xin Dong. Mulai hari ini, Wang Tian Sin telah resmi menjadi bagian dari Partai Perguruan istana pedang.


Setelah melakukan upacara peresmian, Xin Dong mengajak Wang Tian Sin menemui Xin Yue di kamarnya. Wang Tian Sin terlihat tertarik dengan beberapa pedang yang tergantung di dinding lorong, tetapi langkahnya tak bisa berhenti mengikuti Xin Dong.


Sebuah ruangan di bagian belakang pondok ini. Xin Dong menggeser pintu kayu dengan sebelah tangannya, tanpa menunggu lebih lama Xin Dong memasuki ruangan tersebut.


"Xin Yue ...." Wang Tian Sin tersenyum saat melihat Xin Yue bersandar di tempat tidurnya.


"Tian Sin, senang melihatmu di sini." Xin Yue mengembangkan senyumnya, mempersilakan ayah dan kawannya untuk duduk di dekatnya.


Wang Tian Sin mengangguk pelan dan duduk bersebelahan dengan Xin Dong. Xin Yue menatap ayahnya sebelum berkata, "Ayah, apa ayah sudah melakukan permintaanku?"


Tatapan mata Xin Dong yang biasanya dingin mulai menghangat, mengangguk pelan, Xin Dong menjelaskan pada putranya jika Wang Tian Sin resmi menjadi bagian dari istana pedang seperti keinginannya. Selain itu, Xin Dong juga meminta putranya agar menganggap Wang Tian Sin sebagai saudara.


"Aku memang berhutang nyawa pada Tian Sin dan menganggapnya sebagai saudara, tetapi seharusnya ayah tidak mengetahuinya. Apa yang membuat ayah memintanya?" tanya Xin Yue curiga.


Seperti biasa, anaknya selalu cerdas dan lugas. Xin Dong tersenyum sebelum mengatakan kalimat yang hanya bisa dipahami oleh Xin Yue, "dia anak yang selama ini ayah cari,"


Xin Yue melebarkan matanya karena terkejut. Bertahun-tahun lamanya dia melihat kerasnya perjuangan sang ayah untuk menemukan anak bungsu dari wanita yang pernah ia cintai karena ingin merawatnya, tetapi tak pernah membuahkan hasil. Saat ini, ketika ayahnya terlihat menyerah, nasib mengantarkan pemuda tersebut bahkan menjadi penolongnya.


Wang Tian Sin melihat Xin Dong dan Xin Yue saling tatap hanya bisa terbengong karena tak tahu apa yang sedang dilakukan oleh kedua orang itu.


Ehem ....


Wang Tian Sin berdehem, menyadarkan Xin Yue dan Xin Dong. "Maaf ... aku tak paham dengan apa yang kalian lakukan, bisakah kalian menjelaskannya?"


Xin Yue tersenyum tipis, "Tentu saja, aku akan menjelaskan semuanya, tetapi aku harus pulih terlebih dahulu. Kau bisa menunggu sampai saat itu tiba kan?"


"Tentu saja," balas Wang Tian Sin.

__ADS_1


Xin Dong terlihat ingin mengatakan sesuatu, tetapi seolah berat melakukannya. Wang Tian Sin tak menanyakannya lebih jauh karena tidak sopan. Melihat Wang Tian Sin menyadari kegelisahannya, Xin Dong mengalihkan topik pembicaraan.


"Tian Sin," panggil Xin Dong.


Wang Tian Sin menunduk hormat dan menjawab, "Saya, Guru."


"Aku tidak suka murid yang malas. Mulai besok kau mulai berlatih. Kita hanya memiliki waktu tiga bulan sebelum pertemuan dunia persilatan dimulai. Sebelum pertemuan dunia persilatan dimulai, setidaknya kau harus menguasai langkah bayangan, langkah pertama dalam seni gerak bulan air. Mengerti?" Xin Dong menjelaskannya dengan lugas, tak bertele-tele.


Wang Tian Sin sekali lagi menunduk, "murid mengerti."


Xin Dong mengangguk puas, "hari ini adalah hari terakhirmu bersantai. Mulai besok latihan keras akan dimulai. Lebih baik kalian mengobrol banyak sekarang karena aku takut kedepannya kalian tidak memiliki waktu untuk bertukar pikiran."


"Baik, Guru. Terima kasih."


"Baik, Ayah."


Xin Dong bangkit diikuti oleh Wang Tian Sin, ketika Xin Dong keluar dari ruangan Xin Yue, Wang Tian Sin mengantarnya hingga luar kamar dan kembali saat bayangan Xin Dong benar-benar telah menghilang.


"Tian Sin, aku akan mengatakannya saat ini juga, tak akan menunggu sampai aku pulih," ucap Xin Yue yang diangguki oleh Wang Tian Sin.


Cerita ini dimulai puluhan tahun lalu, ketika pertemuan dunia persilatan di gunung Long Hong.


Gunung Long Hong terletak di ujung utara kekaisaran Yin dan berbatasan langsung dengan kekaisaran Song Utara. Karena keberadaan Long Tian, tentara Song utara tidak banyak berulah di perbatasan sana dan lebih sering menyerang perbatasan timur. Namun, bukan berarti membuat perbatasan utara menjadi damai.


Saat terjadi pertemuan, perbatasan utara sedang dalam pergolakan api peperangan. Wang Jiang yang berpangkat letnan memimpin tiga ratus orang memutari gunung Long Hong menuju sayap pertahanan musuh untuk melakukan serangan mendadak. Walau berhasil menyingkirkan banyak prajurit lawan, tetapi di antara tiga ratus orang yang Wang Jiang bawa, tidak ada yang selamat. Namun, perjuangan mereka tidak sia-sia. Lima belas ribu prajurit elit musuh mati, menyisakan beberapa ribu orang yang terluka parah dan menggoyahkan semangat tempur prajurit Song yang ada di garis depan.


Menghadapi beberapa jendral musuh, Wang Jiang kembali dengan sejumlah luka yang membahayakan nyawanya.


Saat Wang Jiang sedang dalam masa kritisnya di kaki gunung Long Hong, Xin Wei dan Xin Dong melewati tempat tersebut karena menghadiri pertemuan dunia persilatan di gunung Long Hong.

__ADS_1


Tak memiliki obat-obatan yang cukup, Xin Wei memutuskan untuk membawa Wang Jiang ke puncak gunung dan meminta orang-orang dalam dunia persilatan untuk membantunya.


Saat itu Long Tian memiliki seorang murid yang berusia delapan belas tahun, memilikk darah kekaisaran yang mengalir dalam tubuhnya. Dia adalah Yin Hua.


Di sisi lain, Xin Dong sudah memiliki perasaan pada Yin Hua tetapi tak pernah berani mengatakannya karena dia hanya anak dari sebuah partai perguruan yang belum besar.


Seiring berjalannya waktu, kondisi Wang Jiang mulai membaik karena perawatan yang dilakukan oleh Yin Hua. Saat sadar, Wang Jiang dapat mengenali Yin Hua sebagai adik kaisar Yin Shi.


Awalnya tak terjadi apa-apa, setelah kondisi Wang Jiang hampir pulih, Xin Dong meminta izin ayahnya untuk mengantar Wang Jiang ke perbatasan utara dan melihat situasi di sana untuk beberapa waktu. Xin Wei langsung mengizinkan karena melihat watak tulus yang dimiliki Wang Jiang dan ketegasan yang membuat putranya tidak akan bertindak sembarangan.


Xin Dong walau bukan berasal dari keluarga militer, dirinya biasa hidup di dunia persilatan yang keras sehingga menjadi prajurit dadakan tidak menyulitkannya bahkan memberi kontribusi yang cukup besar.


Tepat enam bulan di perbatasan utara, Xin Wei mengirim surat pada Xin Dong untuk pulang karena ada pertemuan generasi muda dunia persilatan. Melihat kondisi perbatasan yang jauh lebih baik, Wang Jiang meminta Xin Dong untuk pulang dan menuruti surat ayahnya.


Sejak saat itu mereka menjadi sahabat dan sering bertukar surat. Dua tahun berlalu, saat sabit musim dingin berlangsung, serangan berantai yang terjadi di tiga perbatasan kekaisaran Yin, banyak tentara yang mati, tetapi Wang Jiang dengan gagah membawa pasukannya untuk mematahkan inti serangan. Sabit musim dingin pun hancur.


Karir militer Wang Jiang melesat, sementara Xin Dong juga mulai mengukir namanya di dunia persilatan.


Saat Xin Dong pergi ke gunung Long Hong berniat mempersunting Yin Hua, ternyata Wang Jiang sudah terlebih dulu melakukannya. Penyasalan langsung dia rasakan tapi tak ada yang bisa dia lakukan.


Saat mendengar Wang Jiang mati di medan perang, Xin Dong berusaha mencari keberadaan Yin Hua. Walau dia sudah memiliki Xin Yue sebagai anak, tetapi di hatinya masih ada Yin Hua yang selalu dicintainya.


Beberapa tahun lalu, genap dua puluh tahun pencarian yang sia-sia, Xin Dong sudah menyerah dan menyerahkan semuanya pada takdir.


"Jadi ... Guru mencintai ibuku?" tanya Wang Tian Sin. Xin Yue mengangguk.


"Ayah dan ibu menikah karena perjodohan. Perlahan-lahan ayah bisa menerima cinta ibuku dan membalasnya, tetapi aku lahir di dunia ini dan membawa bencana. Dia meninggal sesaat setelah aku lahir karena aku terlahir sungsang. Jika ibu tidak memaksa menyelamatkan nyawaku pada saat itu, mungkin dia masih hidup dan hidup dengan ayah sampai tua."


"Kau tidak membenciku?" tanya Wang Tian Sin.

__ADS_1


"Sama sekali tidak. Ayah selalu menjadi orang yang hangat pada anaknya walau terkesan dingin oada orang lain. Selama ayah menyayangiku, aku tidak masalah. Mungkin jika ibu ada di sini, dia akan meminta ayah untuk menikah dengan wanita lain, hidup tua bersama hingga mati."


__ADS_2