
Tabib Yan turun gunung setelah kondisi Xiao Lang benar-benar pulih. Dia akan kembali ke Weida dan berjanji menemani Wang Tian Sin ke Paviliun Langit di akhir musim gugur tahun ini.
Wang Tian Sin dan Xiao Lang mengantar kepergian Tabib Yan hingga kaki gunung Long Hong.
Satu bulan sebelum musim dingin berakhir, Xiao Lang mengajari dan memaksa Wang Tian Sin hingga menguasai langkah raja naga. Awalnya Wang Tian Sin kesulitan, tetapi setelah hampir dua bulan melatihnya, Wang Tian Sin berhasil menguasai langkah raja naga.
Di awal musim semi yang masih cukup dingin, di mana kuncup-kuncup bunga dan daun mulai bermunculan, Xiao Lang mengajak Wang Tian Sin berbicara.
Seraya menikmati seguci arak dan daging asap, mereka saling bercengkerama, "Tian Sin, aku ingin turun gunung dan menemui wanita yang telah menyelamatkanku. Kau juga mulailah berkelana dan ukir namamu di dunia persilatan. Tapi ingat, jangan membuat masalah dengan orang-orang dunia persilatan."
"Baik, Ge. Lalu setelah ini bagaimana kita berkomunikasi?" tanya Wang Tian Sin.
"Jangan khawatir, kau bawa satu elang, aku bawa satu. Mereka memiliki ikatan yang kuat, tidak akan sulit menemukan keberadaan satu sama lain," ucap Xiao Lang.
__ADS_1
Hari itu Xiao Lang dan Wang Tian Sin turun gunung dan menempuh jalan masing-masing. Xiao Lang berjalan ke selatan menuju kota Shui, menemui Xu Mei karena dia telah berjanji untuk menemuinya begitu urusan di gunung Long Hong.
Wang Tian Sin membawa tombak langit dan pedang naga bumi selama perjalanannya kali ini. Beberapa hari lalu dia telah memetik bunga inti es juga mengeringkannya.
Berlari menuju arah barat, melewati garis perbatasan antara Kekaisaran Yin dan Song Utara, Wang Tian Sin terus berlari ke barat hingga matahari tenggelam.
Sebuah gerbang kota terlihat, tergantung papan nama yang bertuliskan "Kota Xiang" menandakan Wang Tian Sin sampai di sebuah kota yang cukup besar walau tak sebesar Kota Qin, dipimpin oleh pendekar besar yang bernama Zheng Ping.
Wang Tian Sin mengurangi kecepatannya hingga sampai di gerbang kota. Pedang dan tombak ia bungkus dengan kain hitam agar tidak menarik perhatian orang-orang karena biasanya tiap orang hanya membawa satu jenis senjata saja.
Wang Tian Sin tak memberi tanggapan lebih jauh dan terus melangkah memasuki kota Xiang. Lentera-lentera cantik menghiasi malam yang indah di awal musim semi. Wang Tian Sin tersenyum melihat lentera yang tergantung di sepanjang jalan, menerangi gelapnya malam menggantikan rembulan yang bersembunyi.
Beberapa pedagang makanan kecil di pinggir jalan menarik perhatian Wang Tian Sin yang belum mengisi perut sehari penuh. Pemuda itu berjalan mendekati sebuah tenda kecil yang dijaga oleh wanita tua yang terlihat rapuh.
__ADS_1
Wang Tian Sin memasang senyum hangat dan bertanya, "Nek, apa yang nenek jual?"
Nenek tersebut memandang Wang Tian Sin sejenak kemudian membuka tutup pengukus, memperlihatkan beberapa makanan kecil yang terlihat menggugah selera, "Ada hakau ayam, hakau udang, hakau daging. Ada juga Tausa Pau, Bak Pao."
Nenek itu memperkenalkan menu yang dijualnya satu persatu pada Wang Tian Sin. Wang Tian Sin menunjuk beberapa makanan dan memberikan satu Tael perak kepada wanita tua itu, membuat si penerima uang terkejut karena jumlahnya terlalu banyak. "Maaf nek, aku tidak membawa koin perak. Tidak masalah, kan?"
"Nak, tapi ini sungguh terlalu banyak, aku tidak bisa menerimanya," ucap nenek itu.
Wang Tian Sin menggaruk kepalanya yang tak gatal kemudian berkata, "Begini saja, aku akan tinggal di sini beberapa waktu, aku akan ke sini untuk makan. Bagaimana?"
Wanita itu tersenyum dan mengangguk setuju. Wang Tian Sin mengambil bungkusannya dan pergi mencari penginapan.
Author Note:
__ADS_1
Saya masih nulis, mungkin tengah malam up lagi.