Tombak Langit Dan Naga Bumi

Tombak Langit Dan Naga Bumi
Lahirnya sang Naga Bumi


__ADS_3

Seorang cendekiawan pernah berkata, tidak ada orang hidup yang tidak takut kematian, setiap orang yang tidak takut mati maka hidupnya akan sunyi.


Wang Tian Sin memberikan penghormatan di makam Long Tian, sebelum pemuda itu beranjak pergi, sebuah kalimat yang dulunya Long Tian ajarkan kembali ia ulang. "Ketika seseorang mati dan yang hidup tidak memutusnya dengan urusan duniawi, maka arwahnya tidak akan sampai ke langit. Guru, di kehidupan yang akan datang aku berharap bisa menjadi cucumu, semoga lingkaran takdir dapat mengabulkannya. Aku juga berjanji, akan mencari tahu tentang kematianmu, aku sudah mengikis dendam dan kebencian di hatiku dan berusaha mengampuni dia yang ingin guru mati."


Pemuda itu lalu menunduk, mengembuskan napas dan kembali melihat batu nisan gurunya. "Guru benar, ketika aku sudah benar-benar mengikis dendamku, waktu yang kulewati lebih terasa damai. Aku bisa menikmati waktuku lagi."


Wang Tian Sin teringat sebuah surat yang diberikan oleh Tabib Yan padanya. Dia sudah sampai di gunung Long Hong, itu berarti sudah tiba saat yang tepat untuknya membuka surat tersebut. Pemuda itu merogoh balik jubahnya dan mendapati sebuah amplop yang sedikit lecek, dia kemudian membuka amplop tersebut.


Tak banyak kata yang tercatat dalam surat tersebut, hanya sebuah kalimat, "Hati selembut kapas hati begitu keras, naga bumi harus lahir kembali."


"Naga bumi harus lahir kembali ... Naga bumi harus lahir kembali...." Wang Tian Sin terus bergumam dan mencari makna dari sebaris kalimat yang ditulis oleh tabib Yan.


Naga Bumi adalah julukan yang Wang Tian Sin miliki di dunia persilatan, tetapi jika dia harus lahir kembali, maka artinya itu tidak ada sangkut pautnya dengan gelarnya selama ini. Wang Tian Sin memejamkan matanya, mencoba mengingat hal-hal yang berkaitan dengan naga bumi.


"Apa ... apa ini ada kaitannya dengan kitab naga bumi?" Setelah sekian lama berpikir, Wang Tian Sin teringat dengan kitab peninggalan keluarga Long yang kabarnya ada di tangan Long Tian. Kalau tidak salah kitab tersebut bernama Kitab Naga Bumi dan berisi beberapa jurus yang membuat penguasanya akan seteguh gunung dan tubuhnya kuat seperti dilapisi sisik naga.


"Pasti itu," ucap Wang Tian Sin yakin. Pemuda yang sedang berlutut itu kemudian bangkit dan berlari menuju sebuah rumah sederhana tak jauh dari tempatnya saat ini. Namun, setelah mengingat jika para prajurit Qin yang mengawalnya masih di tempat itu, Wang Tian Sin menghentikan langkahnya, "Sebaiknya aku menunggu hingga mereka pergi dari tempat ini."


Perjalanan dari kota Qin hingga gunung Long Hong tidaklah dekat, sehingga prajurit yang biasa maju di medan perang pun cukup kelelahan setelah melewati perjelanan tersebut. Begitu sampai di gunung Long Hong, Di Min Jie meminta Wang Tian Sin untuk mengizinkan dia dan para prajuritnya istirahat di tempat itu untuk satu malam. Tentu saja Wang Tian Sin langsung menyetujuinya. Tenda-tenda didirikan di halaman depan yang cukup luas dan landai.


Musim dingin sedang memasuki masa terdingin sehingga puncak gunung Long Hong tertutup salju sepenuhnya. Pohon-pohon gundul ditinggalkan daunnya saat musim gugur tiba dan ranting-rantingnya hanya tersisa kekosongan belaka.

__ADS_1


Butiran-butiran putih yang terasa dingin kembali turun, Wang Tian Sin berjalan ke rumahnya dengan santai tanpa beban. Saat pertama kali kakinya memasuki ruangan, matanya bisa melihat sosok Di Min Jie yang sedang duduk bersila dengan tangan yang menempel di tungku penghangat.


"Tuan muda," ucap Di Min Jie saat melihat Wang Tian Sin masuk, kemudian bergegas berdiri dan memberi hormat. Wang Tian Sin mempersilakan Di Min Jie untuk duduk kembali.


"Perwira Di, Anda pasti lelah. Kamarku ada di belakang, jika mau Anda bisa menggunakannya untuk berisitirahat. Walau sudah lama tidak dihuni, aku yakin tempat itu masih nyaman untuk berisitirahat," ucap Wang Tian Sin. Walau sudah tiga tahun dia tidak pulang, tetapi Xiao Lang pasti rutin membersihkan kamarnya seminggu sekali sebelum mereka pergi meninggalkan gunung Long Hong.


"Tuan Muda, tidak perlu terlalu repot. Tenda saya sedang dibuat, nanti saya akan istirahat di tenda saja," jawab Di Min Jie sopan.


"Aku di sini sendirian, aku tidak merasa takut sama sekali tetapi jika aku sendirian maka kenangan-kenangan menyakitkan itu kembali melintas dalam pikiranku. Untuk saat ini tinggalah di sini dan temani aku mengobrol. Ini perintah!" Wang Tian Sin sudah mengatakan demikian, Di Min Jie hanya bisa mengangguk pasrah.


Wang Tian Sin duduk di dekat tungku penghangat, mengusir hawa dingin yang mengelilingi dirinya hingga telapak tangannya keriout kedinginan.


Di Min Jie mengeluarkan sebuah gulungan kecil kertas seperti surat burung dan memberikannya pada Wang Tian Sin. "Tuan, saat Anda memberi penghormatan, ada merpati dari kota Qin membawa sebuah surat."


Senyum tipis terbit di bibir Wang Tian Sin, "Guan Gege setuju dengan permintaanku. Setelah dari tempat ini Anda bisa menjaga makam ayah, Perwira Di."


"Benarkah?" tanya Di Min Jie. Wang Tian Sin mengangguk membenarkan. Di Min Jie merasa begitu senang saat mendengar kabar tersebut, "Terima kasih, Tuan Muda. Terima kasih!"


Wang Tian Sin mengambil seguci arak dari tempat penyimpanan, begitu tutup guci itu dibuka, aroma harum langsung menguar memenuhi ruangan. Sama seperti laki-laki pada umumnya, Di Min Jie juga menyukai minuman ini dan sering menikmatinya di waktu senggang. Tetapi, sebagai orang yang sudah minum banyak jenis arak, tentunya Di Min Jie tahu jika arak ini bukan arak biasa sehingga perwira muda itu tidak berani memintanya.


"Temani aku minum," ucap Wang Tian Sin saat menuangkan arak ke dua cawan yang ia bawa. Dengan hati berbunga-bunga Di Min Jie mengangguk setuju. "Dan satu lagi, di sini kau tidak memiliki status militer, anggap saja seperti minum bersama teman baru. Aku sudah lelah berpura-pura sopan dari tadi."

__ADS_1


Mengangguk satu kali, Di Min Jie kemudian berkata, "Tentu saja Tuan Muda."


"Apa kata Tuan Muda bisa diganti dengan yang lain?" tany Wang Tian Sin.


Di Min Jie menggeleng, "Saya tidak berani. Jika ada yang tahu saya memanggil Anda hanya dengan nama, hukuman berat menanti saya."


Mendengar penuturan dari Di Min Jie, Wang Tian Sin hanya diam tak membantah. Wang Tian Sin mengajak Di Min Jie untuk bersulang dengannya, dua pemuda itu bersama mengangkat cawan dan bersulang.


Arak yang bagus tentu tidak boleh dinikmati dengam cara biasa. Di Min Jie menghirup aroma wangi dari arak yang sedang pegang, dengan perlahan pemuda itu menyesapnya hingga sepertiga cangkir. Matanya terpejam menikmati sensasi yang begitu nikmat saat arak yang enak dan aroma yang kuat bersatu di dalam mulutnya. Kenikmatan ini tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, tetapi Wang Tian Sin bisa melihat jika Di Min Jie begitu menyukainya.


"Kau suka?" tanya Wang Tian Sin.


"Ini adalaharak terbaik yang pernah aku minum," jawab Di Min Jie dengan mata berbinar.


"Kalau kau suka, aku bisa membawakan satu atau dua guci sebagai tanda terima kasih, jangan menolak!" tegas Wang Tian Sin.


Di Min Jie tak ingin menolak, tetapi arak ini terlalu berharga untuknya, "Tuan Muda, arak sebagus ini apa tidak sebaiknya anda simpan?"


"Arak ini ada cukup banyak. Aku akan pergi berkelana entah sampai kapan, memberikan beberapa guci untukmu dan Guan Gege tidak akan membuatku merana," ucap Wang Tian Sin.


"Kalau begitu, saya tidak akan segan."

__ADS_1


Author Note:


Kabar baik, karya ini resmi di kontrak, terima kasih untuk dukungan kalian semua.


__ADS_2