
Kekuatan, Ketahanan Dan Kepercayaan
Xiao Lang mengajak Qin Guan duduk di bawah pohon besar. Udara dingin nyatanya mampu membuat energi mereka cepat habis, sehingga mau tidak mau mereka harus makan untuk memulihkan energi.
Roti kering dan air minum dikeluarkan dari kantong perbekalan yang Xiao Lang bawa dari rumah Qin Guan. Tak ada percakapan berarti selama mereka duduk bersama, hanya sesekali melirik saling mencuri pandang.
Xiao Lang yang sudah menghabiskan tiga keping roti kering meneguk air dari kantong yang ia bawa dari kediaman Qin Guan. Tenggorokannya yang kering kembali segar setelah air dingin itu melewati kerongkongannya.
Qin Guan meminum air dari kantong miliknya dan kembali menyimpannya. Ia juga sudah menghabiskan tiga keping roti kering bahkan sebelum Xiao Lang makan.
Qin Guan kembali memperhatikan telapak kakinya yang terluka. Darah sudah berhenti mengalir beberapa saat lalu. Luka di kakinya tak begitu sakit, tetapi saat luka itu menginjak salju, rasanya akan sangat berbeda. Kakinya seakan-akan ditusuk ratusan jarum secara bersamaan dan itu membuat Qin Guan tak nyaman.
Xiao Lang mengeluarkan botol kecil dari jubahnya dan menarik kaki Qin Guan. Dengan hati-hati Xiao Lang menuang isi botol itu ke luka Qin Guan.
Perih langsung dirasakan oleh Qin Guan saat cairan berwarna coklat membasahi lukanya. Pria itu tak menyangka jika luka kecil bisa seperih ini.
"Pasti jarang terluka," gumam Xiao Lang saat melihat Qin Guan ingin menarik kakinya. Qin Guan melotot dan membalas perkataan Xiao Lang.
Qin Guan melotot menahan sakit sambil berkata. "Bagaimana aku terluka? Dalam pasukan Qin belum ada yang lebih hebat dariku. Kemampuan tempurku juga bagus sampai musuh tak bisa menyentuhku."
Xiao Lang menghela napas pelan, berusaha menenangkan hatinya. Terkadang sifat keras kepala Qin Guan membuatnya emosi padahal baru setengah hari bersama. "Gege ... sepertinya kau harus sering terluka dan terbiasa dengan rasa sakit. Dalam sebuah pertempuran, jika Gege tak dapat menguasai rasa sakit maka kemenangan ada di pihak lawan."
"Jika kau bisa mengajariku, maka aku tidak masalah," ujar Qin Guan.
Xiao Lang hanya tersenyum tipis dan menggeleng pelan. Pemuda itu mengambil sehelai kain dan membalut luka Qin Guan. Melihat lukanya sudah diobati dan dibalut, Qin Guan menarik kakinya perlahan dan meraih sepatunya.
Qin Guan melihat sepatu yang robek di bagian alasnya dan kembali mengenakannya. Setelah itu, dia mengikat bagian telapak kaki sepatu dengan kain sobekan jubah agar tidak ada salju yang masuk.
"Aku sudah selesi. Mari berangkat sekarang." Qin Guan berdiri dan membersihkan salju yang menempel di pakaiannya. Xiao Lang kembali mengemasi perbekalan dan menggendongnya.
Perjalanan kembali dilanjutkan. Mereka terus berlari ke arah barat menuju gunung tanpa batas. Dalam waktu satu jam, mereka berdua sampai di kaki gunung tanpa batas.
Tebing yang curang dengan kemiringan hampir 90 derajat membuat Qin Guan memikirkan cara untuk bisa sampai puncak. Tak kunjung menemukan cara, Qin Guan melirik Xiao Lang yang sedang menatap puncak gunung tanpa batas.
"Xiao Lang, kau memiliki ide?" tanya Qin Guan.
__ADS_1
Xiao Lang mengangguk dan mengeluarkan pedangnya. "Untuk bisa sampai di puncak, Tuan Long sudah memberi pesan padaku. Kita harus memiliiki kekuatan, ketahanan dan kepercayaan."
Qin Guan masih belum paham dengan ucapan Xiao Lang. "Jelaskan."
"Kekuatan, jelas sangat diperlukan karena kita akan memajat gunung yang sangat tinggi. Ketahanan, butuh mental yang kuat untuk bisa bertahan sampai puncak, karena entah apa yang akan terjadi di atas sana."
Qin Guan mengangguk pelan dan mulai paham. "Lalu ... kepercaan?"
Xiao Lang tersenyum tipis dan melanjutkan kalimatnya. "Sepanjang jalan kita akan saling membantu. Jika kita tidak saling percaya, maka hanya kematian yang kita dapat."
"Aku paham sekarang," balas Qin Guan dengan anggukan.
Dalam sebuah pertempuran, prajurit sejati harus percaya dengan temannya, saling mengandalkan, saling percaya, saling melindungi. Nyawa kawan lebih berharga dari nyawa sendiri.
Xiao Lang menarik pedang yang tersarung di pinggangnya, kemudian melihat celah yang terdapat pada tebing. Setelah menemukannya, Xiao Lang melompat dan menancapkan pedangnya di tebing batu. Tubuh Xiao Lang kini bergantung pada pedangnya.
"Gege! Lompat dan raih tanganku!" teriak Xiao Lang yang menggantung di pedang. Qin Guan mengangguk dan ikut menarik pedang.
Sebelum melompat, Qin Guan menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Setelah yakin dirinya bisa, Qin Guan melompat dan meraih tangan Xiao Lang.
"Gege ... aku akan melemparmu! Sekarang kau lihat celah yang bisa ditembus pedang namun kuat!" teriak Xiao Lang. Qin Guan mengarahkan pandangannya pada tebing batu di atas Xiao Lang. Sebuah celah kecil tertangkap mata Qin Guan. "Aku sudah menemukannya. Lempar aku!"
Xiao Lang mengangguk. Setelah memberi aba-aba pada Qin Guan, Xiao Lang mengayunkan tangan kirinya ke atas dan melempar Qin Guan. Qin Guan menyalurkan tenaga dalam ke pedangnya dan menusuk tebing batu hingga pedangnya tertancap kuat di sana.
"Naiklah!" teriak Qin Guan. Xiao Lang memijak tebing dan melontarkan tubuh sembari menarik pedang yang tertancap di tebing.
Qin Guan menangkap tangan Xiao Lang dan memegangnya erat. Mereka terus bergantian saling melempar dan menangkap satu sama lain hingga berhasil mencapai separuh jalan.
Matahari mulai turun, gelap mulai merayap sehingga membuat jarak pandang Xiao Lang dan Qin Guan terbatas.
Xiao Lang melihat Qin Guan mulai kelelahan merasa iba. Pemuda itu memutuskan untuk beristirahat sejenak. Dua pedang ditancapkan dalam posisi sejajar sebagai tumpuan Xiao Lang dan Qin Guan berdiri.
"Gege ... kau baik-baik saja?" tanya Xiao Lang melihat Qin Guan yang pucat.
Qin Guan mengangguk tipis, "aku hanya kelelahan dan kedinginan. Setelah istirahat sejenak pasti akan membaik."
__ADS_1
Xiao Lang tidak percaya begitu saja. Dia menyentuh dahi Qin Guan dan menyimpulkan jika Qin Guan mengalami demam. "Guan Gege ... kau demam."
"Jika demam memang kenapa? Sekarang hanya ada dua pilihan. Sampai ke atas atau mati," jawab Qin Guan lemah.
Xiao Lang mengeluarkan air minum dan meminta Qin Guan untuk minum sebanyak mungkin. Jika kondisi Qin Guan tidak membaik, maka perjalanan akan semakin berat.
Qin Guan yang tidak ingin menjadi beban berusaha menguatkan diri. Dia adalah seorang pendekar dan juga prajurit. Dia tidak boleh menyerah begitu saja apalagi karena demam.
"Kita harus segera sampai. Udara semakin dingin. Jika kita tidak bergerak, maka akan mati kedinginan," ucap Qin Guan.
Xiao Lang menuruti perkataan Qin Guan yang menurutnya masuk akal. Mereka bersusah payah naik dengan tenaga yang hampir habis. Bahkan, mereka juga sempat tergelincir dan hampir jatuh. Untung saja mereka masih bisa saling menyelamatkan.
Saat menjelang tengah malam, Qin Guan dan Xiao Lang berhasil sampai ke puncak gunung tanpa batas. Xiao Lang bersorak saat dirinya menapakkan kaki di dataran tertinggi tempat itu.
"Ya! Kita berhasil!" teriak Xiao Lang penuh semangat. Energinya yang beberapa waktu lalu hampir habis seolah kembali penuh.
Qin Guan roboh di atas salju karena kelelahan. Sepertinya dia berhasil melampaui batasannya selama ini, membuatnya begitu bangga. Perih di telapak tangan dan kakinya bahkan seperti hilang karena kebanggan tersebut.
"Xiao Lang ... apa kau mau terus-terusan seperti itu? Duduklah. Aku lapar," ucap Qin Guan.
Menyadari sikapnya berlebihan, Xiao Lang kembali bersikap biasa dan mengeluarkan perbekalan. Salju masih turun dan udara sangat dingin menusuk tulang. Xiao Lang mengedarkan pandangannya dan melihat ranting pohon berserakan tak jauh dari tempatnya sekarang.
"Gege ... sepertinya hari terlalu dingin jika tidak menyalakan api. Aku akan mencari kayu bakar sebentar."
"Aku akan membantu," ucao Qin Guan dan langsung berdiri.
Xiao Lang mencegahnya dengan menarik tangan Qin Guan dan memintanya kembali duduk. "Kau tunggu di sini saja, Guan Gege. Buat tempat untuk menyalakan apinya saja."
Setelah mengatakan kalimat itu, Xiao Lang langsung pergi tanpa mempedulikan Qin Guan. Qin Guan hanya bisa menghela napas pelan dan menuruti perkataan Xiao Lang.
Qin Guan membuat lingkaran selebar satu kaki dan menggalinya dengan tangan. Saat salju sudah terkikis habis dan mulai menampakkan tanah, Qin Guan merasa sesuatu menggigit tangannya. Dingin yang menusuk mulai Qin Guan rasakan dari ujung jari hingga sikunya. Semakin lama rasa itu semakin kuat hingga Qin Guan tak kuasa menahan teriakannya.
"Argh!"
Jika ada typo saya mohon maaf. Kadang mata saya buram kalau liat tulisan sendiri
__ADS_1