Tombak Langit Dan Naga Bumi

Tombak Langit Dan Naga Bumi
Teknik Pedang Rahasia


__ADS_3

Sebuah suara yang mampu menggetarkan jiwa para pendengarnya, bahkan Wang Tian Sin sekalipun terkejut karena lama tak merasakan sensasi seperti ini.


Pemuda itu mengalihkan pandangannya oada Zhen Ping yang terlihat gelisah.


"Tuan Zhen, kenapa musuh Anda begitu banyak? Apa sepuluh besar pavikiun langit begitu populer?" ucap Wang Tian Sin sebal. Jika dirinya sudah diundang dalam masalah ini, pasti bukanlah masalah kecil yang bisa diselesaikan dengam kata-kata.


Ketika Zhen Ping dan Wang Tian Sin berniat keluar, dua bayangan manusia melesat ke arahnya. Tidak melesat, lebih tepatnya adalah mereka terlempar dengan keras.


Dengan sigap Wang Tian Sin menangkapnya sebelum jatuh dan mengalami cedera serius. Dua bayangan itu adalah Wei Jun dan Wei Jing yang sudah babak belur.


"Kalian baik-baik saja?" tanya Wang Tian Sin. Wei Jun dan Wei Jing mengangguk.


Tak lama berselang, terlihat seorang pria paruh baya yang mengenakan jubah hitam melangkah dengan arogan. Di tangannya terdapat sebuah pedang berwarna hitam dengan batu permata berwarna hitam menghiasi sarungnya.


Saat jarak antara pria tersebut dan Wang Tian Sin hanya sisa beberapa tombak, Wang Tian Sin membungkuk hormat memberi salamnya.


"Tian Sin memberi hormat pada senior Xin."


Masih dengan sifat arogannya, Xin Dong mengelus dagunya saat melihat pedang yang tersarung di pinggang pemuda itu, Pedang naga bumi milik Long Tian.


Xin Dong dapat memastikannya dengan sekali lihat karena lebih dari satu kali menghadapi Long Tian. "Apa hubunganmu dengan naga langit?"


Wang Tian Sin tersenyum tipis, tak menyangka tamu tak diundang ini mampu mengetahui latar belakangnya dalam beberapa tarikan napas saja. Wang Tian Sin mengangkat pedangnya dan menakupkan kedua tangannya, "junior tak pernah menyangka jika senior Xin mengenal guru dengan begitu baik."


"Zhen Ping ... aku hanya memiliki urusan denganmu, jangan melibatkan bocah yang tak tahu masalah kita." Xin Dong menarik pedang dari sarungnya. "Tarik pedangmu dan lawan aku!"


Wang Tian Sin berdiri di hadapan Zhen Ping, menghalanginya dari pandangan Xin Dong. "Senior, apa pun masalahmu, sepertinya tak bisa diselesaikan dalam waktu dekat. Senior Zhen Ping masih terluka karena pertarungan dengan Zhou Qinghou semalam."


"Omong kosong apa yang kau katakan? Bagaimana Zhou Qinghou bisa melukainya?" Xin Dong mendengus kesal. Pedang telah terhunus, tak mungkin ia menyarungkannya lagi.


"Senior, aku mohon. Jika memang harus bertarung, kembalilah tiga bulan lagi. Pada saat itu, aku tidak akan melarang senior Xin mau pun senior Zhen. Bagaimana?" Wang Tian Sin memelas pada Xin Dong.


Lagi-lagi Xin Dong mendengus, "apa hubunganmu dengan Zhen Ping? Menantunya? Kenapa pemuda sepertimu bisa menikah dengan anaknya yang merepotkan?"

__ADS_1


"Kau!" Zhen Ping akan diam jika dirinya yang dihina. Namun, ketika keluarga terutama anaknya yang disinggung, Zhen Ping tak tinggal diam.


Ditariknya pedang yang tergeletak di meja, melemparkan sarungnya ke sembarang tempat, Zhen Ping melompat ke halaman tempatnya berlatih. Xin Dong tersenyum dingin ketika melihat Zhen Ping termakan omongannya. Seperti biasa, pendekar aliran putih akan mudah diprovokasi dengan orang-orang terdekat mereka.


Xin Dong mengikuti ke mana Zhen Ping pergi. Wang Tian Sin mau tidak mau juga harus menjadi penonton dan penolong jika dibutuhkan.


Sejauh ini, permainan pedang Xin Dong merupakan yang terbaik di dalam urutan Paviliun langit.


Kategori pengurutan di Paviliun langit ada beberapa macam. Pemain pedang terbaik, pemain tombak terbaik, tuan muda, nona muda, keluarga terkaya, dan ahli beladiri.


Xin Dong walau permainan pedangnya hebat dan menduduki peringkat satu dalam kategori pemain pedang, tetapi dirinya tak masuk dalam sepuluh ahli beladiri terbaik. Alasannya sederhana, karena Xin Dong tak pernah mengalahkan satu pun dari mereka.


Sebelum meninggal, Long Tian berhasil menempati posisi kelima selama bertahun-tahun. Pencapaian tertingginya adalah menempati posisi tiga, tetapi itu sebelum Wang Tian Sin memasuki kehidupannya.


Wang Tian Sim berdiri di sisi taman, jarak yang aman untuk menjadi penonton karena tak terlalu jauh atau dekat.


Xin Dong memegang pedangnya dengan tangan kanan, kedua kakinya melebar dan melakukan kuda-kuda. Tatapan matanya yang arogan, kini mengandung hawa kematian layaknya burung gagak. Wajahnya tenang bagaikan bulan mati.


Zhen Ping mengangkat pedang dengan sebelah tangan, memposisikannya lurus dengan tangan. Tatapannya tenang namun memberi kesan menusuk lawan.


Saat serangan datang, Zhen Ping tak banyak melakukan gerakan, tetapi saat pedang Xin Dong sudah di samping kepalanya, dengan sigap Zhen Ping mengangkat pedang dan menangkisnya.


Mundur dua langkah demi menjaga jarak, Zhen Ping melihat Xin Dong tak berniat memberi jeda. Tusukan dan sabetan pedang gagak hitam milik Xin Dong terus berlanjut, memaksa Zhen Ping dalam posisi bertahan.


Bruk!


Zhen Ping terlempar beberapa tombak dan menabrak pot hingga hancur. Seteguk darah keluar dari mulutnya, tangan kirinya memegang dadanya yang kembali sakit, bekas pertarungan semalam. Keringat mulai membasahi kening Zhen Ping, napasnya memburu dan wajahnya berubah cemas.


Xin Dong menatap Zhen Ping dingin, tetapi tak menurunkan kewaspadaan. Melihat musuhnya tak kunjung berdiri, selangkah demi selangkah Xin Dong mendekatinya.


"Sejak kapan kau jadi selemah ini, Zhen Ping?"


Di sisi lain, Wang Tian Sin merasa gusar saat melihat Zhen Ping di ambang kekalahan. Jika Xin Dong terua memburu dan menekannya dalam pertarungan serius, maka kemungkinan terburuk yang diperoleh Zhen Ping adalah kematian. Saat melihat Xin Dong mendekati Zhen Ping dengan tatapan kematian, Wang Tian Sin berusaha mencegahnya membunuh Zhen Ping.

__ADS_1


"Senior Xin, Anda sudah melihatnya, 'kan? Senior Zhen sedang terluka. Berikan dia waktu," ucap Wang Tian Sin. Pemuda itu kini berdiri di antara Xin Dong dan Zhen Ping.


Xin Dong menolak dengan menggelengkan kepalanya, "aku harus membunuhnya," ucap Xin Dong.


"Kenapa senior sangat bernafsu membunuh senior Zhen? Anda sudah peringkat satu, selama tak ada yang mengalahkan Senior dalam duel, maka senior tetap di posisi satu," balas Wang Tian Sin.


Xin Dong mendengus, "bocah sepertimu tak tahu apa-apa,"


"Maka beritahu aku, senior."


"Rupanya kau minta pelajaran, ya. Baik! Aku akan mengajarimu bagaimana rasa sakit."


Wang Tian Sin menarik pedang dan menyerang Xin Dong tanpa ragu. Dia tak dapat menggunakan teknik pedang pembelah gunung karena keberadaan Zhen Ping dan juga arena yang sempit. Jika memaksa, maka beberapa sudut kediaman ini pasti hancur.


Jika Xin Dong tak menggunakan gerakan bulan air, maka Wang Tian Sin yakin bisa bertahan dari serangan-serangan Xin Dong.


"Teknik paviliun langit?"


Xin Dong langsung mengenali gerakan lincah yang sedang dilakukan oleh pemuda di hadapannya. Selama ini hanya teknik dari paviliun langit yang bisa menahan serangannya.


"Kalau aku tak menguasai teknik ini, sehebat apa pun permainan pedang yang aku miliki, tetap saja tak bisa melawan senior," ucap Wang Tian Sin di sela pertarungan.


Xin Dong merasa penasaran, bagaimana Wang Tian Sin mempelajari teknik rahasia ini, sedangkan yang mengetahuinya hanyalah segelintir orang. Akhirnya Xin Dong mundur beberapa langkah dan memasang kuda-kuda. Kedua tangannya menyilang di depan dada, sementar kaki kanannya menyapu tanah setengah lingkaran.


Saat ini Wang Tian Sin sedang mengumpat dalam hati dan mengumpati dirinya sendiri karena menggunakan teknik paviliun langit yang menyebabkan Xin Dong menggunakan gerakan bulan air.


Hal yang ditakutkan Wang Tian Sin terjadi, dirinya saat ini tak dapat melihat dengan jelas keberadaan Xin Dong karena kecepatan gerak pria itu, di tambah dengan bayangan-bayangan Xin Dong yang tertinggal di tempat, membuatnya seakan ada di mana-mana.


Wang Tian Sin melihat serangan di samping kepala, mundur dan menangkisnya. Sesaat kemudian, angin dingin terasa dari belakang, membuat Wang Tian Sin menunduk dan bergulingan di tanah. Saat Wang Tian Sin berdiri dan mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Xin Dong, sebuah besi dingin menembus jubah di bagian perut dan menggores kulitnya. Wang Tian Sin menahan napas karena merasa Xin Dong bisa saja sewaktu-waktu bisa menusukannya lebih dalam.


"Kau hebat, tetapi aku lebih berpengalaman." Xin Dong menarik pedang dan berbalik, meninggalkan Wang Tian Sin yang menatapnya penuh tanda tanya.


Pemuda itu tersadar dan melihat pakaiannya yang berlubang. Ada setitik darah yang keluar tapi bukan masalah besar.

__ADS_1


Zhen Ping khawatir bukan main saat melihat Xin Dong menggunakan gerakan bulan air pada Wang Tian Sin. Walau dia melihat kehebatan Wang Tian Sin dalam bermain pedang, tetapi tetap saja merasa ragu pemuda itu bisa menahan serangan-serangan Xin Dong.


__ADS_2