Tombak Langit Dan Naga Bumi

Tombak Langit Dan Naga Bumi
Amarah Sang Jendral


__ADS_3

Kota Lan terbagi menjadi dua, yaitu Lan utara dan Lan selatan. Lan utara digunakan sebagai tembok pertahanan Provinsi Qin bagian utara, berbatasan langsung dengan wilayah laut timur. Sementara Lan selatan, tempat itu dihuni oleh warga sipil dan sebagian prajurit Qin.


Prajurit Ji Feng milik kekaisaran Yin yang menjaga perbatasan timur kekaisaran Yin berada di kota Ming.


Sebelum Qin Guan turun dari posisi jendral muda, pasukan Ji Feng berjaga di kota Lan bersama sebagian prajurit Qin, sementara kota Ming hanya dijaga oleh belasan ribu prajurit Ji Feng.


Namun, dua bulan lalu, jendral Huaihuang mendapat dekrit dari kaisar Yin Shi yang berisi perintah untuk mengubah pertahanan di garis timur. Kota Lan akan menjadi tugas utama pasukan Qin, sementara seluruh prajurit Ji Feng ditarik ke kota Ming.


Awalnya Qin Guan keberatan karena itu akan membuat prajurit Qin berhadapan langsung dengan musuh jika laut timur melakukan serangan sementara pasukan utama kekaisaran malah menjadi pasukan bantuan.


Namun, penolakan Qin Guan tak ada artinya di mata kaisar. Dengan dikeluarkannya medali militer tertinggi yang dimiliki kaisar, maka Jendral Huaihuang hanya bisa mengangguk dan menjalankan tugasnya sementara Qin Guan hanya bisa pasrah menerima nasib.


Sepulangnya Qin Guan dari kota Weida, dia dilantik menjadi gubernur yang baru dan mulai menjalankan tugasnya. Beberapa hal yang menyangkut ekonomi dia limpahkan pada pejabatnya yang setia sementara dirinya memperkuat sisi militer bersama Jendral Zhao.


Setelah perekrutan prajurit Qin ditutup bertahun-tahun lalu, kini Qin Guan kembali merekrut anggota baru dan menambah jumlah prajurit Qin sebanyak lima puluh ribu personel, dengan kata lain, jumlah prajurit Qin saat ini hampir dua kali lipat yang dimiliki oleh kekaisaran Yin.


Seluruh prajurit kekaisaran berjumlah dua ratus dua puluh ribu personel, tujuh puluh ribu di antaranya berada di kota kekaisaran. Sementara sisanya menyebar di perbatasan.


Walau setiap daerah memiliki prajurit lokal, tetapu kemampuannya tak akan sebanding dengan prajurit Qin. Hitung saja setiap satu provinsi ada sepuluh ribu prajurit, tetapi mereka semua tak jauh berbeda dengan orang biasa karena minimnya pengalaman bertempur. Berbeda dengan prajurit Qin yang sering digunakan sebagai pasukan bantuan dan melewati banyak pintu kematian.


Jendral Chen menulis surat untuk jendral Huaihuang di kota Ming, meminta prajurit Ji Feng untuk berhati-hati dan lebih waspada terhadap setiap gerakan sekecil apa pun. Dengan kurir terbaik yang dia miliki, surat tersebut sampai di kota Ming dalam satu hari.


Brak!

__ADS_1


Sebuah meja kayu terbelah menjadi dua akibat amukan jendral Huaihuang. Pria paruh baya itu mengamuk setelah membaca surat dari Jendral Chen. Wajahnya membesi serta napasnya memburu seperti badai di tengah gurun tak berpenghuni.


"Bagaimana bisa?"


Apa yang tidak bisa?


Orang-orang di luar tenda tampak kebingungan saat mendengar atasan mereka mengamuk. Walau kondisi hatinya sedang tidak baik belakangan ini tetapu Jendral Huaihuang merupakan orang yang pandai mengontrol diri.


Di dalam tenda, Jendral Huang duduk dengan tatapan menyala seperti kilat, tangannya mencengkram pegangan kursi hingga kukunya terpatri meninggalkan bekas.


"Anak itu ... anak itu sungguh kurang ajar!" geram Jendral Huaihuang. "Bagaimana dia bisa menuliskan omong kosong seperti itu? Aku di sini siang dan malam selalu waspada, tak melihat apa-apa, bagaimana mungkin dia yang duduk di balik meja bisa mengetahui semuanya? Apa dia pikir dia adalah Tuan Muda Paviliun Langit yang mengetahui semuanya?


Saat Jendral Huaihuang sedang berusaha menenangkan dirinya yang sedang kalut, terdengar suara yang sangat familiar baginya, suara orang yang sudah bertempur bersama belasan tahun lamanya. Liu Qing, remaja yang terlihat biasa saja beberapa tahun lalu kini tumbuh menjadi pria dewasa yang perkasa dan berwibawa.


"Biarkan dia masuk!" teriak Jendral Huaihuang dari dalan tenda. Mendengara suara Liu Qing membuatnya sedikit tenang tapi juga khawatir.


Tirai tersingkap, muncul sosok pria berusia awal tiga puluh tahun, menggunakan zirah perak dengan pelindung kepala yang diapit di ketiaknya. Rumbai merah di pelindung kepala itu menari-nari ketika terpaan angin hangat membelainya.


"Liu Qing ingin melapor pada Jendral Huaihuang!" Liu Qing mengepalkan tangannya di depan dada dan tubuhnha sedikit membungkuk.


Jendral Huaihuang mengangguk dan meminta Liu Qing segera menjelaskan apa yang ingin dia katakan.


"Beberapa saat lalu, dari tembok barat terlihat pergerakan dari Song Utara, jumlah barisan depan pasukan lawan berjumlah sekitar sekitar sepuluh ribu orang dan semuanya adalah prajurit kavaleri (penunggang kuda). Ada sejumlah pasukan besar di belakangnya, sekitar tujuh puluh sampai sembilan puluh ribu pasukan. Mohon Jendral Huaihuang memberi arahan!"

__ADS_1


Jendral Huaihuang yang baru merasa tenang kini jantungnya berdetak jauh lebih cepat. Walau firasatnya tak terlalu baik saat mendengar kedatangan Liu Qing, tetapi ia tidak menyangka jika kabar yang Liu Qing sampaikan jauh lebih buruk dari yang ia bayangkan.


Tanpa menjawab satu kata pun, Jendral Huaihuang meraih tombak dan helmnya sebelum mengajak Liu Qing pergi ke tembok kota.


Kota Ming yang biasanya damai, kini terlihat begitu sibuk. Para penduduk yang tinggal di bagian barat segera mengungsi karena khawatir mereka menjadi target salah sasaran.


Para prajurit bersiap menggunakan pakaian bertempur, mulai mengumpulkan batu dan menumpuknya di atas tembok kota, sekitar dua ribu prajurit Ji Feng yang tidak berada di tembok kota segera menyusuri rumah penduduk di bagian barat yang telah ditinggalkan oleh para penduduknya untuk mengambil persediaan minyak sebagai senjata tambahan.


Karena jumlah batu yang dikumpulkan di tembok barat masih kurang, maka Liu Qing sebagai komandan lapangan meminta beberapa prajurit untuk merobohkan tembok pembatas kediaman.


Setengah jam berlalu, prajurit yang berjaga di titik tertinggi tembok kota berteriak, menyadarkan kawan-kawannya yang sedang sibuk melakukan persiapan.


"Lima ratus kaki lagi!"


Ratusan pemanah segera naik ke tembok kota dengan busur besi dan keranjang anak panah yang terisi penuh, disusul oleh prajurit berperisai dengan jumlah yang sama menyusul di belakangnya.


Jendral Huaihuang duduk dan mengawasi seluruh pergerakan baik di pihak lawan mau pun pihaknya. Tugas lapangan ia serahkan pada Liu Qing yang sedang berlari ke sana kemari bagaikan angin puyuh di gurun pasir.


Prajurit bertombak juga naik ke tembok kota, menyusul prajurit pemanah dan pelindung.


Gerbang kota sudah ditutup rapat, dengan balok tebal sebagai kunci tambahan. Pendobrak biasa tak akan mampu menghancurkannya kecuali pihak lawan memiliki meriam batu penghancur.


Meriam batu penghancur, senjata berat yang bisa menghancurkan tembok batu kokoh jika mereka memiliki jumlah batu yang cukup sebagai peluru.

__ADS_1


__ADS_2