
Di jalanan kota Xiang yang ramai, seorang gadis berjalan dengan cepat, meninggalkan dua irang pemuda yang sedang mengejarnya. Wajah gadis itu nampak muram, bahkan bibir tipis si gadis tampak maju karena cemberut.
Di belakangnya, dua orang pemuda yang mengejarnya terus mengikuti ke mana pun gadis itu melangkah walau berulangkali gadis itu mengusir mereka.
Saat tiba di jalanan sepi, gadis yang tak lain adalah Zhen Dong menghentikan langkah, berbalik dan menatap tajam dua pemuda yang ikut berhenti. Mereka kini saling berhadapan satu sama lain. "Da Wei, Xiao Wei! Kalian terus saja mengikutiku!"
"Nona, kami mohon maafkan kami. Kami tidak akan mengulangi kesalahan yang sama ke depannya walau nyawa sebagai taruhannya." Pemuda yang terlihat lebih tua berlutut dan mengatakannya dengan memohon.
Zhen Dong adalah putri kesayangan Zhen Ping, penguasa kota Xiang. Hal yang membuat pemuda tersebut terus memohon bukanlah jabatan Zhen Ping, melainkan jasa yang pernah Zhen Ping berikan pada keluarga Wei.
Pemuda yang lebih muda ikut berlutut dan memohon kepada Zhen Dong.
Menghela napas perlahan, Zhen Dong mengangguk dan meminta Wei bersaudara berdiri.
Wei Jun, putra pertama keluarga Wei, tak berbakat dalam beladiri tapi kejujuran dan kesetiaan dalam dirinya membuat Zhen Ping bersedia mengangkatnya sebagai murid. Sementara sang adik Wei Jing, walau lebih berbakat, tetapi dia tidak seberani Wei Jun dalam bertindak.
Zhen Dong yang merupakan putri kesayangan Zhen Ping, menolak untuk dikawal oleh orang-orang kepercayaan ayahnya. Sebagai gantinya, Zhen Dong meminta Wei Jun dan Wei Jing menjadi pengawalnya. Wei bersaudara sejak awal sudah mengagumi Zhen Dong, ketika gadis itu meminta demikian maka tidak ada alasan untuk menolaknya.
Setelah memaafkan kesalahan Wei bersaudara, Zhen Dong kembali berbalik dan melangkahkan kaki jenjangnya menuju sebuah tempat yang tak lain adalah kediamannya. Beberapa penjaga di gerbang utama membungkuk hormat saat melihat kedatangan Zhen Dong. Seperti biasa, gadis itu hanya mengangguk pelan sambil berlalu tanpa menoleh sedikitpun.
Ketika Wei Jun dan Wei Jing lewat, seorang penjaga menarik lengan Wei Jing dan berbisik, "Apa yang terjadi? Kenapa Nona Zhen terluka?"
"Ada masalah kecil saat di jalan. Kami akan memberi penjelasan pada Tuan Zhen terlebih dahulu," jawab Wei Jing. Penjaga itu mengangguk dan melepaskan cengkramannya dari lengan Wei Jing, membiarkan mereka berdua masuk.
Zhen Dong berjalan menyusuri griya luar, setelah melewati taman kecil, gadis itu sampai di griya dalam, tempat keluarga utama Zhen tinggal.
"Dongdong."
__ADS_1
Zhen Dong berhenti saat mendengar seseorang memanggilnya dari arah samping, mendapati ayahnya berdiri dengan senyum hangat di seberang sana, Zhen Dong menakupkan kedua tangannya, memberi hormat pada sang ayah. "Dongdong memberi salam pada Ayah,"
"Wei Jun memberi salam pada Guru,"
"Wei Jing memberi salam pada Guru,"
Zhen Ping mengibaskan lengan jubahnya, "berdirilah,"
"Terima kasih, Ayah!"
"Terima kasih, Guru!"
Bertahun-tahun menjadi pemimpin di kota Xiang tak membuat Zhen Ping bersifat arogan. Dia tetaplah seorang pria yang suka dengan kedamaian dan kebebasan. Namun, sifat itu tak akan bertahan ketika melihat keluarganya tersakiti, seperti saat ini, ketika dia melihat bekas cengkraman di leher putrinya, Zhen Ping dengan sigap menyibak rambut putrinya dan mengamatinya lebih jauh.
"Siapa yang melakukannya?" Zhen Ping mengatakannya dengan perlahan, dengan nada yang datar bahkan terkesan cuek, tetapi hal ini berhasil membuat jantung Zhen Dong berdetak lebih cepat dari biasanya.
Wei Jun dan Wei Jing yang ditatap oleh Zhen Ping, bersujud memohon ampun karena merasa lalai menjaga Zhen Dong yang dipercayakan pada mereka.
"Mohon hukum kami, Guru! Kami bersalah karena lalai menjaga Nona Dong," ucap Wei Jun dan Wei Jing kompak.
Zhen Ping menggertakan giginya, menunjuk dua muridnya dengan geram sebelum berkata, "Sejak kapan aku mengajari kalian seperti ini? Lelaki sejati tak boleh tunduk pada laki-laki lain dengan mudah. Sekarang bangun atau kubuat kalian tak dapat bangun selamanya!"
"Guru ...." panggil Wei bersaudara.
Menghela napas perlahan, Zhen Ping menurunkan amarahnya yang sempat memuncak dan meluap. Tatapan marah yang tadi di wajahnya, kembali berganti dengan tatapan sendu seorang Zhen Ping.
"Sekarang katakan, apa yang terjadi? Seluruh penduduk kota Xiang mengenal Dongdong, tidak mungkin ada warga yang berani menyerang atau sekedar adu mulut dengannya. Jadi ... siapa yang telah menyakiti putriku?" tanya Zhen Ping.
__ADS_1
Wei Jing menatap Wei Jun sejenak, menganggukan kepala dan menjelaskan kejadian yang menimpa mereka bertiga beberapa waktu lalu. Dimulai dari mereka yang ingin berjalan-jalan di kota, bertemu seorang gadis yang sedang mengamuk dan berusaha ditenangkan oleh Zhen Dong, pertikaian dimulai hingga kedatangan pemuda berjubah hitam kekasih si wanita yang mencekik Zhen Dong.
"Pria itu melompat dari lantai tiga penginapan 1001 malam, guru."
Zhen Ping mengelus dagunya yang tak gatal kemudian mengangguk pelan, menelaah setiap kata yang diucapkan oleh muridnya.
"Apa wanita itu begitu kuat hingga kalian tak berkutik?" tanya Zhen Ping menatap Wei Jun.
"Maaf, Guru. Sebenarnya bukan wanita itu yang terlalu kuat, tapi kami mengingat ucapan guru untuk tidak menindas wanita," timpal Wei Jun yang diangguki Wei Jing. Zhen Ping tersedak napasnya sendiri ketika mendengar kalimat terakhir Wei Jun.
Memang benar jika Zhen Ping melarang Wei bersaudara menyakiti atau menindas wanita, tetapi jika kondisi sudah terdesak maka dia tidak akan melarangnya. Entah muridnya yang terlalu bodoh atau dirinya yang terlalu dalam menanam ajaran di kepala Wei bersaudara.
Di sisi lain, Zhen Dong mengutuki kebodohan Wei Jun dan Wei Jing. Jika apa yang di katakan dua pemuda itu mereka lakukan dan Pemuda berjubah hitam tak datang menolong, kemungkinan besar dia akan mati di tangan wanita gila tadi.
***
Wang Tian Sin dan Ji Hua tak keluar dari kamar sejak kejadian penyerangan yang dilakukan Ji Hua kepada Zhen Dong karena Wang Tian Sin khawatir Zhen Ping akan mengutus orang untuk menghadapnya, meminta pertanggung jawaban karena putrinya terluka.
Ji Hua yang ingin menikmati pemandangan kota Xiang menjadi gusar saat Wang Tian Sin melarangnya pergi. "Kau bodoh atau polos? Ini adalah dunia persilatan, yang kuat yang berkuasa?"
"Tapi kau melukai putri si pembuat kedamaian," balas Wang Tian Sin, pemuda itu kembali berkata "jika masalah ini sudah tuntas hingga akar, kau bebas ke mana pun."
Ji Hua mengerutkan keningnya, "Tuntas hingga akar? Kau berniat membunuh Zhen Ping?"
Wang Tian Sin berdecak pelan, apakah melakukan pembunuhan sudah mengalir dalam aliran darah Ji Hua, kenapa gadis ini begitu senang mengaitkannya dengan pembunuhan. "Apa di pikiranmu hanya ada membunuh?"
"Tentu saja. Jika tidak membunuh Zhen Ping maka membunuhmu juga tidak masalah."
__ADS_1